Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.Meja Makan Baru
HAPPY READING
Lora dan Devon melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Gaun Lora bergoyang lembut mengikuti ayunan langkahnya, sementara Devon berjalan di sampingnya dengan ekspresi polos, menggenggam tangannya seolah ia benar-benar seorang raja kecil yang tengah dikawal ratunya.
Di dalam, kepala pelayan sedang mengarahkan para pengangkut barang. Suara gesekan furnitur dan langkah kaki memenuhi ruangan besar itu. Keributan tersebut membuat para penghuni rumah keluar dari kamar masing-masing, menatap dengan heran sekaligus tidak senang pada pemandangan yang tersaji di depan mata mereka.
“Singkirkan meja itu, dorong ke sudut atau ke mana pun asalkan jangan mengganggu letak titik estetika meja makanku bersama rajaku di sana. Aku ingin menyaksikan pemandangan yang indah dan tenang saat makan bersama dengan rajaku ini,” ucap Lora tegas.
Tanpa ragu, orang-orang suruhannya langsung menggeser meja makan besar yang sebelumnya berada tepat di depan jendela besar menghadap taman. Meja itu didorong menjauh, meninggalkan ruang kosong yang kini terasa lebih lapang.
Sebagai gantinya, mereka mengangkat sebuah meja makan baru—lebih kecil, namun jauh lebih elegan. Ukiran kayunya halus, permukaannya mengilap, dan desainnya tampak jauh lebih mahal dibandingkan meja lama yang sudah lama menghiasi ruangan itu. Empat kursi cantik mengelilinginya, cukup untuk dua orang yang ingin menikmati makan dengan tenang.
“Lora! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu seenaknya mengacaukan penataan ruangan ini? Cepat kembalikan ke tempat semula!” teriak Sinta tak terima.
Namun Lora sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus memberi instruksi pada kepala pelayan, mengarahkan posisi meja dengan teliti seolah sedang menata panggung untuk pertunjukan yang telah lama ia siapkan.
Orang-orang itu akhirnya meletakkan meja makan mewah tersebut tepat di dekat jendela besar yang menghadap taman hijau yang asri. Sinar matahari sore menyentuh permukaan meja, memantulkan cahaya yang menambah kesan eksklusif.
“Meja makan kecil yang begitu cantik dengan empat bangku sudah cukup untukku dan rajaku,” ucap Lora pelan, namun cukup keras untuk didengar semua orang.
Merasa diabaikan, Sinta melangkah cepat dan menarik tangan Lora dengan kasar, memaksanya menoleh.
“Apa kamu tidak dengar apa kataku barusan?” tanya Sinta tajam, tatapannya penuh amarah.
Lora menepis tangannya perlahan, lalu menatapnya dengan senyum tipis yang menusuk.
“Apa aku perlu mendengarkan kata-kata tidak penting darimu itu, Kakak?” tanya Lora dingin. “Apa perlu aku tegaskan kembali? Mansion ini adalah milik suamiku, jadi aku bebas mengatur apa pun yang aku mau sekarang. Karena apa? Karena suamiku adalah pewaris kekayaan Tuan Morrix,” ucap Lora tersenyum penuh kemenangan di hadapan Sinta.
Wajah Sinta memerah, antara marah dan terhina.
“Kamu bilang tidak ada tempat untukku dan suamiku di meja makan jelekmu itu, bukan? Jadi sekarang aku membeli meja makan baru yang jauh lebih bagus dibandingkan meja bekas yang sudah dikotori oleh para kuman parasit sepertimu,” ucap Lora dengan senyum manis yang bertolak belakang dengan isi ucapannya. “Tidak hanya itu, aku juga menyewa koki baru untuk membuatkan makanan khusus untukku dan suamiku yang tentunya hanya melayaniku dan suamiku saja.”
Velly yang berdiri tak jauh dari sana tampak membatu. Vino menatap Lora dengan rahang mengeras, sementara Sinta hampir kehilangan kendali.
“Kamu mulai berlagak di depanku, Lora. Kamu tidak tahu apa yang bisa aku perbuat denganmu. Aku bisa—”
“Bisa apa? Bisa menghancurkan hidupku?” potong Lora sambil tertawa kecil. “Hahaha, tidak lagi, Kakak. Aku jauh lebih kaya daripadamu sekarang. Pengendalian harta, aset, dan semuanya sepenuhnya dalam kendaliku karena aku adalah istri Devon Arkha Morrix.”
Nama itu meluncur dari bibirnya dengan penuh penekanan.
Sinta mengepalkan tangannya erat, berniat melayangkan tamparan. Namun kalimat tentang aset dan seluruh kekayaan Morrix yang kini berada dalam kendali Lora membuatnya tertahan. Amarahnya tercekik oleh kenyataan.
“Oh ya, Kakak, aku juga sudah menarik semua rekening atas nama suamiku yang terhubung kepada kalian semua. Jadi mulai hari ini semua kekayaan suamiku hanyalah aku sendiri yang dapat menggunakannya. Pelayan dan semua koki yang melayani kalian itu bukan urusan suamiku lagi, jadi bayarlah semuanya dengan harta tidak seberapa kalian itu,” ucap Lora sambil tertawa puas.
Ia menikmati setiap perubahan ekspresi di wajah mereka—Sinta yang membeku, Vino yang menegang, Velly yang pucat.
Donni? Pria tua itu tidak terlihat di sana. Entah berada di kantor atau sengaja menghindar. Lora tidak peduli.
Di sampingnya, Devon tersenyum polos, memegang ujung gaun Lora seperti anak kecil yang bangga pada ibunya. Ia tidak mengerti permainan kekuasaan yang sedang berlangsung.
“Apa maksudmu? Sejak dulu semua gaji pelayan dan koki serta kebutuhan rumah ini semuanya ditanggung oleh kekayaan Papaku. Kamu tidak berhak mencabutnya begitu saja!”
Suara Sinta meninggi, sarat kemarahan dan rasa terancam. Ia berdiri dengan dada naik turun, seolah kekuasaan yang selama ini ia pegang perlahan dirampas di depan matanya.
“Benar, Lora. Kamu dan anak angkat sialan itu hanya pendatang di sini. Kamu tidak sepatutnya memperlakukan tuan rumah yang asli seperti ini. Harusnya sebagai pendatang kamu jauh lebih tahu diri terhadap kami,” ucap Vino akhirnya angkat bicara, nada suaranya penuh tekanan.
“Lora, sadarlah sebelum kamu mempermalukan dirimu sendiri. Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini,” saut Vely ikut menambahi, menatap Lora dengan tatapan meremehkan yang tak lagi setajam dulu.
Lora tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menyiratkan sesuatu yang lebih dalam—kesabaran yang sudah habis dan keberanian yang akhirnya tumbuh.
“Sepertinya kalian semua belum sadar, ya, siapa yang seharusnya disebut pendatang di keluarga ini.” Lora melangkah mendekat ke arah Vino, jaraknya kini hanya sejengkal. “Ingatlah kembali, Anak Manja, apa isi wasiat Papa tirimu itu. Dia tidak menyerahkan sepeser hartanya pun kepada kamu dan kakakmu,” ucap Lora penuh penekanan, setiap katanya seperti tamparan halus yang menyakitkan.
Ia lalu melirik Vely dengan tatapan rendah.
“Dan kamu, jalang murahan… sadarlah. Suamimu ini hanya menumpang di rumah suamiku, dan kamu pun juga sama. Jadi jangan sok mengingatkanku,” ucap Lora dingin.
Sinta tak lagi mampu menahan diri. Ia menyibakkan tangan Lora dengan kasar.
“Tutup mulutmu, perempuan rendahan, sebelum aku membungkam mulutmu dengan tamparanku!” ancam Sinta, muak mendengar Lora membanggakan Devon sebagai pewaris sah.
Namun Lora tak mundur sedikit pun. Ia justru membalas dengan mencengkeram pergelangan tangan Sinta kuat, membuat wanita itu meringis.
“Kamu yang seharusnya menutup mulutmu sebelum kamu dan adikmu ini aku tendang dari mansion ini. Tahu dirilah, Kakak, jika kamu dan para parasitmu ini masih ingin tinggal di sini!” ucap Lora, lalu melepas cengkeramannya dengan kasar.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Lagian yang numpang tau diri lah ya ini malah sok berkuasa juga ,Libas Lora orang- orang nggak tau diri gitu memang perlu di sadarkan walaupun capek harus ngulang2in terus😂
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤