NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Di Antara Bahagia dan Takut Kehilangan

Malam itu terasa berbeda di dua tempat yang terpisah, namun dipenuhi kegelisahan yang sama.

---

🏢 Rumah Keluarga De Luca

Di ruang keluarga rumah mewah mereka di Manhattan, lampu-lampu redup menyinari wajah lelah Isabella Conti De Luca. Ia duduk di sofa, masih mengenakan mantel yang belum sempat ia lepaskan sepenuhnya.

Di hadapannya, Vincenzo Salvatore De Luca berdiri membelakanginya, menatap perapian yang menyala kecil.

“Enzo…” suara Isabella lirih.

Vincenzo menoleh pelan.

“Ada yang ingin kau ceritakan?”

Isabella mengangguk. Tangannya saling menggenggam, seolah mencoba menahan getaran di dadanya.

“Aku bertemu ibu Valeria di kantin tadi. Namanya Sofía.”

Vincenzo terdiam.

“Kami tidak sengaja bertabrakan. Kami saling meminta maaf… lalu berbicara. Awalnya hanya percakapan biasa. Tapi saat ia menyebut nama putrinya… dan bagaimana mereka menemukannya dua puluh tahun lalu…”

Suara Isabella bergetar.

“Bayi perempuan. Tanpa identitas. Ditinggalkan. Usianya… sama seperti Valentina.”

Ruangan itu mendadak terasa sesak.

Vincenzo menutup mata sesaat.

“Wajahnya, Enzo…” bisik Isabella. “Ada kemiripan. Aku merasakannya sejak pertama melihatnya di ICU. Bukan hanya perasaan seorang ibu yang putus asa. Ada sesuatu yang nyata.”

Vincenzo berjalan mendekat, duduk di samping istrinya.

“Eduardo juga melihat kejanggalan dalam datanya,” ujarnya pelan.

Isabella menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Apakah mungkin… Valeria adalah Valentina kita?”

Nama itu menggantung di udara.

Alessandra Valentina De Luca.

Putri kecil yang direnggut dua puluh tahun lalu.

“Donor darah Daniel dan aku cocok,” lanjut Vincenzo hati-hati. “Tapi itu belum cukup. Banyak orang bisa memiliki kecocokan golongan darah.”

Isabella mengangguk cepat.

“Kita butuh bukti. Tes DNA.”

Keduanya terdiam.

Harapan adalah pedang bermata dua.

Jika benar—maka mukjizat terjadi.

Jika salah—maka mereka akan kehilangan Valeria… untuk kedua kalinya.

“Aku tidak ingin melukai Sofía dan Miguel,” bisik Isabella. “Aku melihat bagaimana ia mencintai gadis itu. Ia ibu yang tulus.”

Vincenzo menggenggam tangan istrinya erat.

“Jika Valeria memang putri kita… maka ia tetap putri mereka juga. Mereka yang membesarkannya. Mereka yang memberinya cinta.”

Air mata akhirnya jatuh di pipi Isabella.

“Enzo… untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun… aku berani berharap lagi.”

---

🌃 Apartemen Alexander

Di tempat lain, suasana tak kalah berat.

Sofía Hernández duduk di tepi ranjang apartemen tamu. Wajahnya pucat, namun matanya tak bisa terpejam.

Di sampingnya, Miguel Hernández menatap istrinya dengan cemas.

“Kau memikirkan pertemuanmu dengan wanita itu?” tanyanya lembut.

Sofía mengangguk.

“Namanya Isabella. Ia datang setiap tahun ke rumah sakit itu… untuk memperingati ulang tahun putrinya yang hilang.”

Miguel terdiam.

“Dan usia putrinya… sama dengan usia Valeria.”

Kalimat itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke dalam danau tenang.

Miguel menarik napas panjang.

“Apa kau berpikir…?”

Sofía menunduk. Tangannya bergetar.

“Aku tidak tahu harus berharap atau takut.”

Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Aku takut kehilangan Valeria. Dia segalanya bagi kita, Miguel. Kita membesarkannya. Kita menyuapinya saat sakit. Kita mengajarinya berjalan. Kita memeluknya saat ia menangis.”

Miguel memeluk istrinya erat.

“Tapi jika benar ia adalah anak mereka…” lanjut Sofía dengan suara patah, “…bukankah kita juga harus bahagia? Ia hampir menemukan orang tua kandungnya. Ia akan tahu dari mana asalnya.”

Itu kalimat paling berat yang pernah ia ucapkan sebagai seorang ibu.

Miguel memejamkan mata.

“Kita tidak akan kehilangan dia,” katanya pelan namun tegas. “Apa pun hasilnya. Cinta tidak dihapus oleh darah.”

Sofía mengangguk, meski hatinya tetap gemetar.

Di dua tempat berbeda, dua pasangan orang tua memeluk harapan yang sama.

Namun juga ketakutan yang sama besar.

Di ICU, Valeria masih terbaring lemah.

Tanpa ia sadari—

Di luar sana, hidupnya bukan hanya sedang diperjuangkan oleh dokter.

Tetapi juga sedang diperebutkan oleh takdir.

Dan jawaban dari semua pertanyaan itu…

Akan ditentukan oleh satu hal kecil namun menentukan—

Tes DNA.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!