Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *21
"Apa salahnya. Jika kamu mau ikut, mungkin bisa ikut untuk mendengarkan."
"Enggak ah. Entar aku jadi pusat perhatian datang ngekori kamu. Jadi obrolan lagi besok."
Karena keputusan Rin yang tidak ingin ikut, Bayu pun tidak memaksa. Malam harinya, Bayu berangkat ke balai desa setelah waktu isya. Rin pun menunggu di rumah sendirian.
Suasana terasa sangat sunyi saat Bayu pergi. Rin pun sudah mencoba mengisi waktu dengan membereskan pakaian atau menulis beberapa kata di atas buku catatan. Kesunyian itu membuat pikiran-pikiran datang menyapa.
Rin mengalihkan posisi duduknya. Dia terdiam di depan cermin saat ini. Dia tatap wajahnya dengan tatapan lekat.
Ingatan demi ingatan akhirnya datang secara perlahan. Sebuah rasa yang pernah dia pertanyakan akhirnya mendapatkan jawaban.
Apa yang selama ini dia cari. Apa yang selama ini dia tunggu. Apalagi yang harus dia lakukan. Begitulah, pertanyaan demi pertanyaan. Satu persatu jawaban dia temukan.
Waktu berjalan perlahan. Rin yang duduk di depan cermin perlahan menggerakkan tangan. Dia lepas ikat rambut yang ada di kepala. Perlahan, dia sisir rambut hitam bergelombang yang dia punya.
Rambut itu dia gerai. Lalu, wanita itu bergerak ke lemari, di mana pakaian yang sebelumnya baru saja ia rapikan berada. Tangan Rin mengeluarkan pasangan piyama tidur yang dia bawa dari kota. Pakaian yang sebelumnya tidak pernah dia pakai satu kali pun selama dia ada di tempat tersebut.
Kenyataanya, piyama itu sama sekali bukan Rin yang ingin membawa. Hanya saja, entah bagaimana caranya, pasangan piyama itu bisa ada di koper, Rin sendiri tidak ingat akan hal tersebut.
Rin menatap piyama merah jambu tua itu dengan seksama. Piyama tidur kain satin dengan tali kecil mirip linghri. Jika dipakai tanpa pasangannya, piyama itu terlalu seksi. Tapi, jika dipakai dengan pasangan, piyama itu cukup wajar untuk ia kenakan.
"Aku .... "
Pada akhirnya, dia mencoba untuk mengenakan piyama itu sekarang. Cantik. Seperti biasa, dia memang cantik saat memakai pakaian apapun.
Gadis kota itu akhirnya membulatkan tekat malam ini. Dia menunggu Bayu pulang dengan jantung yang berdebar tidak beraturan sejak lebih dari satu jam yang lalu. Akhirnya, yang di tunggu datang juga.
Bayu masuk ke kamar setelah mencuci mukanya di belakang. Saat dia melihat Rin yang sedang duduk di atas ranjang dengan tampilan yang berbeda, Bayu yang ada di ambang pintu terdiam seketika.
"Rin."
Rin langsung menoleh. Jantungnya berdetak semakin tak beraturan. Mata mereka beradu.
"B-- Bayu. Kamu sudah pulang?"
Pria itu tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Hanya bisa memberikan anggukan pelan saja. Maklum, tampilan Rin malam ini sangat jauh berbeda dari biasanya.
Memang, mereka memang sudah lebih dari satu minggu tidur bersama. Hanya saja, hubungan suami istri itu masih belum pernah terjadi. Mereka hanya tidur, tidak biasa.
Selama menikah pun, Rin tidak pernah memakai pakaian yang tidak pantas. Wanita itu selalu berpakaian yang rapi, tertutup. Seperti, hanya pakai kaos pendek. Tapi celana yang Rin gunakan pasti celana panjang.
Sampai malam ini, ini adalah kali pertama Bayu melihat betis Rin. Ini adalah kali pertama Rin menunjukkan bagian yang selalu dia tutupi dari pria tersebut.
"Bayu."
"Airin. Kamu ... belum tidur?"
Rin menggelengkan kepala. "Belum."
"Kok, belum tidur?"
"Aku nungguin kamu."
"Iya, ada masalah? Apa ada yang mau kamu bicarakan?" Bayu berucap sambil berjalan pelan masuk ke kamar lebih jauh.
"Mm ... iya. Sebenarnya, memang ada yang ingin aku bicarakan."
"Ba-- baiklah. Ayo kita duduk!" Untuk pertama kalinya, Bayu gagap karena gugup.
Iya. Bagaimanapun, Bayu juga manusia biasa. Pria itu adalah pria normal yang juga bisa tergoda sama lawan jenis. Apalagi, lawan jenis itu adalah pasangan yang dia nikahi secara sah di mata agama dan negara.
Sebenarnya, dia punya hak yang cukup besar atas diri Rin. Karena dia suami wanita tersebut. Namun, Bayu bukan pria mata keranjang yang tidak bisa menahan diri. Pria itu mampu mengawal napsu nya dengan sangat baik.
Setiap malam bersama Rin, bukan dia tidak tergoda. Hanya saja, dia sadar akan satu hal. Dia tidak bisa memaksakan keinginan. Bagi Bayu, istrinya ingin tetap tinggal di sisinya saja sudah berkah yang sangat luar biasa.
Pasangan anak manusia itupun akhirnya memilih untuk sama-sama duduk di atas ranjang. Saling berhadapan satu sama lain.
"Bayu. Aku ... mm ... aku ingin menjadi istrimu yang seutuhnya sekarang."
Ucapan itu langsung membuat Bayu menatap lekat wajah Rin. "Apa? Kamu ... yakin, Rin?"
Rin mengangguk. "Iya. Aku, yakin, Bay. Sangat yakin."
"Kamu sudah memikirkannya dengan sangat baik? Sudah mempertimbangkannya secara matang?"
"Bayu. Aku sudah memikirkannya. Aku sudah mempertimbangkannya berulang kali. Dan, aku sudah mengambil keputusan dengan sangat sadar. Aku, ingin membina rumah tangga dengan mu sebagai pasangan yang sesungguhnya. Aku sudah berpikir dengan masak."
Bayu tidak langsung menjawab. Dia terus menatap Rin dengan tatapan lekat. Bayu sedang berusaha mencari sisi yang lain. Sisi yang berbeda dari apa yang baru saja Rin ucapan. Sungguh, Bayu takut kalau ucapan itu hanyalah sebuah ilusi.
"Rin."
"Bay, kamu tidak ingin membina rumah tangga dengan ku?"
"Tidak. Bukan itu. Aku siap, Airin. Sangat siap."
"Tapi aku rasa, kamu-- "
"Tidak. Bukan aku. Tapi kamu. Aku ingin memastikan dengan sangat pasti, bahwa apa yang aku dengar itu bukan ilusi. Aku ingin melihat dengan sangat jelas, kalau apa yang kamu ucap itu sudah kamu pertimbangkan dengan sangat baik. Karena setelah kita sama-sama melangkah, aku pasti semakin enggan untuk melepaskan dirimu."
"Jangan lepaskan. Karena sekarang, hatiku ingin kamu mempertahankan diriku."
"Rin."
"Bayu, aku serius. Aku ingin menjalani rumah tangga yang sesungguhnya bersama kamu."
"Baiklah. Ayo kita jalani dengan baik. Aku siap jadi imam kamu sampai ajal memisahkan kita, Rin."
Rin mengangguk dengan tegas. "Aku juga siap jadi makmu mu. Aku siap jadi istrimu yang sesungguhnya mulai dari detik ini hingga maut memisahkan kita."
Keduanya saling tatap sekarang. Akhirnya, cinta mekar juga. Meskipun belum ada kata yang terucap sebagai pengakuan nyata, tapi pengakuan secara samar sudah terlihat. Dua anak manusia sudah mulai menyatukan hati mereka saat ini.
Beberapa saat hening, akhirnya Bayu memberanikan diri untuk menyentuh tangan Rin dengan lembut. Dia menyentuhnya pelan seolah Rin adalah barang yang paling berharga, yang bisa saja rusak jika di sentuh dengan gegabah.
"Rin. Malam ini ... apakah boleh, aku ... melakukan tugas ku? Ji-- jika kamu siap, aku ... izinkan aku," ucap Bayu pada akhirnya dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.