Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua
Keesokan harinya.
Jake membuka kedua matanya dan tangan kanannya meraba ranjang di sebelahnya. Dia mengambil ponselnya dan melihat adakah pesan masuk atau tidak. Namun beberapa kali ia melihatnya tetap tidak ada pesan masuk. "Kemana dia? Apa begini caranya memperlakukan suaminya?" Geram Jake. Ia membasuh muka dengan terburu-bur dan mengambil jasnya yang berada di sofa.
Brak
Jake menghubungi Caroline hingga berkali-kali.
"Hallo Jake." Sapa Caroline dari seberang sana. Ia baru saja bangun tidur setelah semalaman bersenang-senang dengan teman-temannya di bar. "Ada apa?" Tanya Caroline.
Selama ini Jake tidak pernah menghubungi. Dan ia yang selalu menghubungi Jake dengan khawatir. Dan malam ini, malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke 3 tahun. Dengan bodohnya ia selama tiga tahun mencintai jake
Jake mengernyitkan dahinya. Suara Caroline terlihat aneh. "Kau, kau kemana saja?"
Caroline menggertakkan giginya. "Jake kalau kau hanya menanyakan hal yang tidak penting. Aku sibuk, jadi jangan mengganggu ku."
Bip
Caroline memutuskan pembicaraannya. Sudah cukup baginya mengemis pada Jake dan Tommy.
"Hallo Caroline!" Teriak Jake beberapa kali. Dia melemparkan ponselnya ke kursi di sampingnya karena kesal dengan sikap Caroline. Ia menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di mansion.
Drt
Jake melihat ponselnya ternyata Tommy menghubungi. Sudah pasti ada hal penting.
"Kakak, Aurora terjatuh di kamar mandi dan kakinya terkilir," ucap Tommy menjelaskan.
Jake yang ingin fokus pun menepikan mobilnya. "Aku akan mengatur penerbangan ku." Setelah pernikahannya, Aurora ke Luar Negeri. Kini dia berada di Swedia.
"Baiklah Kak. Aku menunggu mu."
Tak terasa siang telah berganti malam. Caroline memilih menyibukkan dirinya diluar agar pikiran menyampingkan ulang tahun malam pernikahannya. Kini ia sudah sampai di mansion dengan beberapa paper bagh di kedua tangannya.
"Nyonya muda, tuan muda pulang dan menunggu Nyonya," ucap seorang pelayan. Dia mengambil paper bagh.
Caroline menaikkan sebelah alisnya. Entah ada angin apa Jake berada di mansion. Ia ingat, malam ini ulang tahun pernikahannya.
"Heh, dia masih tau kalau di sini tempatnya?" Ejeknya sambil menggelengkan kepalanya.
Caroline membuka pintu kamarnya dan melihat Jake yang duduk di sofa. Kedua netra Jake seakan ingin membidiknya. "Untuk apa kau di sini?"
Jake berdiri, ia tidak percaya dengan ucapan Caroline. Bukankah wanita di hadapannya jelas menunggu kedatangannya. "Kau lupa malam ini?"
Caroline diam, walaupun ia tau. Ia lebih memilih tidak tau. Ia menaikkan kedua bahunya. "Aku tidak tau. Memangnya malam apa? Apa perlu aku mengingatnya?"
Ucapan Caroline terdengar menjengkelkan. Sia-sia kedatangannya malam ini. "Kau." Tunjuknya. "Dimana pikiran mu Caroline. Seharusnya kau ingat bahwa malam ini ulang tahun pernikahan kita. Kau ingin membuat aku malu di hadapan keluarga ku. Mereka menunggu kita."
Caroline membalikkan tubuhnya. Ia sudah menghubungi kakek dan nenek Jake bahwa malam ini ia tidak merayakan pernikahannya. Di kehidupan dulu, ia selalu datang sendirian. Jake selalu mempermalukan dirinya hingga ia menyadari bahwa Jake bersama dengan adik tirinya itu.
"Kau tidak sibuk? Biasanya kau selalu mengatakan sibuk. Aku sudah menghubungi keluarga utama agar mereka tidak merayakan pernikahan kita."
Jake terdiam, ia merasakan perubahan dalam diri Caroline. "Caroline apa kau sadar dengan ucapan mu. Aku sibuk hanya untuk bekerja."
Caroline muak dengan ucapan Jake yang selalu membohonginya. Ia menuju ke arah laci dan mengambil sebuah kertas. Di dalam kertas itu ada sebuah ikatan yang akan putus. Dulu ia tidak mau menandatanganinya namun sekarang ia akan menandatangani surat itu.
"Jake aku sudah menandatanganinya. Tinggal kau yang belum menandatanganinya." Ia berbalik lalu menaruh kertas itu di atas kasur.
Kedua mata Jake menatap lekat surat perceraian itu. Sungguh ia terkejut dengan kertas itu dan melihat Caroline sudah membubuhkan tanda tangan. Ia langsung melemparkan surat itu ke atas kasur. "Caroline kau jangan main-main dengan surat ini," ucapnya dengan nada menekan.
Caroline mengangkat bahunya. "Aku sudah melepaskan apa yang aku lepaskan," ucapnya dengan wajah enteng. "Aku juga tidak mau berurusan dengan mu lagi."
Jake menatap sengit ke arah Caroline. "Kau ingin bercerai?" Tanya Jake memastikan. Ia tidak akan melepaskan Caroline begitu saja. "Dalam mimpi mu pun aku tidak akan menyetujuinya."
Caroline terkekeh kecil, ia tidak perduli jika Jake tidak mau, tapi ia bisa menemukan caranya. "Baiklah, kalau kau tidak mau." Dengan Tommy yang menyamar ia pasti bisa membuatnya tanda tangan. "Kita lihat saja Jake."
Jake menahan lengan Caroline. Wanita itu ingin pergi. Ia menariknya dengan cepat dan bibir mereka langsung bersentuhan.
Caroline membulatkan kedua matanya. Ia meronta dengan memukul dada Jake.
Jake tidak ingin melepaskannya begitu saja. Akhirnya ia menggigit bibir Jake.
Caroline tidak terima. Jika dulu ia dengan mudahnya mempercayai mereka.
Plak
"Kau pikir aku Caroline yang dulu yang akan menurut pada mu Jake?"
Ia ingat, dulu dengan mudahnya ia do bodohi. Ia digilir oleh pria kembar di hadapannya. "Aku membenci mu Jake."
Jake membiarkan Caroline pergi meninggalkannya. Pipinya terasa sakit dan panas. Padahal selama ini Caroline selalu menurutinya dan menuruti perkataan Tommy.
Jake melihat ponselnya dan sebuah pesan masuk.
Kakak aku sudah pulang. Pergilah biar aku yang berada di mansion mu.
Jake mengambil kunci mobilnya dan menemui Tommy di apartemenntanya itu.
"Kakak," sapa Tommy. "Kenapa kau menunda penerbangan mu. Aku kasihan pada Angel. Dia sangat ingin bertemu dengan mu."
Jake mengambil sebuah rokok lalu menyulut ujungnya. Asap mengepul berhamburan di udara. Hatinya masih jengkel dan marah.
"Kakak."
"Tommy apa kau bisa diam? Aku tidak bisa menemui Aurora."
Tommy mengepalkan kedua tangannya. "Apa maksud mu Kak? Kau ingin membuat Aurora sedih. Kau harus menemaninya."
Jake semakin marah, Tommy seolah mengaturnya dan memperkejakannya. "Kau mengatur ku. Kau menyukainya Aurora."
Tommy langsung menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak. Ia tidak mungkin mengaku bahwa ia menyukainya Aurora.
"Aurora wanita yang baik. Dia di sakiti oleh Caroline. Sudah sepatutnya kita membalas semua perbuatannya."
Sebaiknya aku ke mansion saja menjadi kakak. Dengan begitu kakak pasti menemui Aurora batin Tommy.
"Kak, aku pergi dulu."
Tommy langsung menancapkan gas mobilnya ke arah mansion. Dia pun keluar dan banyak pelayan mansion yang menunduk hormat padanya.
"Dimana Nyonya?" Tanya Tommy pada seorang pelayan.
"Nyonya sedang keluar Tuan."
"Kemana Caroline? Tidak biasanya dia keluar tanpa izin. Apa kakak tidak tau?"
Tommy menghubungi Caroline namun wanita itu tidak mengangkat panggilannya. "Sebaiknya aku mencarinya."
Sementara itu, Caroline sedang berada di rumah sahabatnya. Ia menuangkan anggur yang di berikan sahabatnya itu.
"Caroline kau sepertinya ada masalah? Kau bertengkar dengan Jake? Eeemm Jake memang pria dingin, tapi sepertinya dia mencintai mu."
Caroline terkekeh, siapa pun yang melihatnya pasti akan membuat para wanita cemburu. Membuat mereka meyakini bahwa dirinya wanita yang paling beruntung.
"Aku tidak seberuntung mereka. Bagaimana kalau selama ini semuanya hanyalah kebohongan? Dia tidak mau bercerai pasti ingin mempermainkan ku" pikir Caroline.