NovelToon NovelToon
Di Balik Darah Yang Kucinta

Di Balik Darah Yang Kucinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Sci-Fi
Popularitas:994
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.

Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.

Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.

Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi Natal yang seharusnya membawa kedamaian dan kehangatan justru menjadi saksi bisu atas runtuhnya sisa-sisa harapan yang masih tersisa di laboratorium bawah tanah itu. Di atas meja, sebuah mikroskop fase-kontras jatuh tergeletak menyamping, lensa objektifnya retak menjadi serpihan kecil yang memantulkan cahaya neon pucat dari langit-langit seperti permata yang hancur.

"Gagal. Lagi-lagi gagal!"

Suara Axel pecah di tengah ruangan yang sunyi, lebih mirip raungan binatang yang terluka daripada suara manusia yang terkontrol. Dengan tangan yang penuh amarah dan keputusasaan, ia menyapu semua peralatan yang ada di hadapannya, semua terbang ke udara sebelum jatuh dengan keras ke lantai. Tabung reaksi kaca tipis pecah berantakan di atas ubin, cairan berwarna biru kehijauan dan kuning kemerahan yang hasil dari eksperimen ke-100 yang ia lakukan sepanjang malam, bercampur menjadi noda keruh yang merayap lambat di sela-sela celah ubin. Bunyi kaca yang hancur bergema dengan suara menyakitkan di ruangan kedap suara itu, bergema berulang kali seolah ingin mengingatkan setiap orang yang ada di sana tentang kegagalan yang tidak bisa dihindari.

Axel tidak berhenti pada situasi itu saja. Tubuhnya tiba-tiba melompat dari kursinya, menyambar sebuah kursi besi. Ia menghancurkannya dengan keras ke arah mesin sentrifugasi yang berdiri di sudut ruangan, membuat mesin itu bergoyang hebat dan mengeluarkan percikan api kecil dari bagian belakangnya sebelum mati total. Napasnya memburu dan tidak teratur, dada naik turun dengan cepat seolah paru-parunya seolah terbakar oleh amarah yang ia tujukan pada kecerdasannya sendiri yang kini tampak tidak berguna sama sekali.

Ratusan jam yang dihabiskan di depan meja kerja, ribuan formula yang dicoba dan diubah berkali-kali, dan pengorbanan martabatnya sebagai dokter yang telah bersumpah untuk menjaga kehidupan—semuanya berakhir pada deretan angka nol yang terpampang jelas di layar monitor yang masih menyala.

"Aku tidak bisa menyelamatkannya!" teriak Axel sambil menjambak rambutnya sendiri.

Ia jatuh terduduk dengan keras di tengah hamparan pecahan kaca yang berserakan di lantai, tubuhnya membungkuk ke depan dan mengabaikan tajamnya serpihan yang merobek bagian bawah celananya dan menusuk telapak tangannya yang terbuka. Darah merah pekat mulai menetes perlahan, bercampur dengan cairan kimia yang ada di lantai hingga menghasilkan warna yang aneh dan mengerikan.

"Aku hanya pecundang yang sok tahu segalanya, bermain menjadi Tuhan dengan hidup orang lain!"

Ana, yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan membawa nampan makanan yang sudah dipanaskan, berdiri terpaku di ambang pintu laboratorium. Matanya membelalak tidak percaya melihat kekacauan yang terjadi di depan matanya, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan bisa dilakukan oleh seorang dokter yang biasanya sangat terkontrol dan rapi dalam bekerja.

Ia meletakkan nampan itu dengan hati-hati di atas rak sepatu yang terletak di luar ruangan dengan tangan gemetar. Setelah itu, ia melangkah perlahan ke dalam ruangan, matanya dengan hati-hati menghindari pecahan kaca yang menyebar di mana-mana saat mendekati pria yang kini tampak seperti rongsokan manusia yang terbaring di lantai.

"Dokter Bahng..." bisik Ana dengan suara sangat pelan, takut membuat Axel semakin marah.

Ia berlutut di lantai beberapa langkah dari Axel, menjaga jarak aman agar tidak terkena pecahan kaca yang masih bisa menyebabkan cidera serius. Matanya penuh dengan kesedihan dan keprihatinan, melihat bagaimana sosok pria yang selalu tampil kuat dan percaya diri kini terpuruk dalam kesedihan yang mendalam.

"Pergilah, Ana! Pergi dari sini!" Axel membentak tanpa mendongak atau melihat ke arahnya.

"Jangan lihat aku dalam keadaan seperti ini. Aku sudah menghancurkan segalanya yang kita bangunkan selama ini. Aku berjanji padanya... aku berjanji akan membawanya kembali seperti sedia kala. Tapi lihatlah apa yang kulakukan! Aku bahkan tidak bisa menstabilkan sel-selnya selama satu jam saja!"

Ana tidak pergi seperti yang diperintahkan. Sebagai perawat yang telah bekerja selama lebih dari sepuluh tahun dan terbiasa menangani pasien yang berada di ambang kematian serta keluarga mereka yang sedang mengalami kesusahan besar, ia tahu bahwa saat ini Axel bukan sedang membutuhkan seorang asisten yang akan mengikuti perintahnya. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia tinggal dan menjadi pendengar yang sabar tanpa perlu memberikan nasihat yang tidak diinginkan.

Ia perlahan duduk di lantai, melipat kakinya di bawah tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Axel namun juga tidak terlalu jauh, lalu menatapnya dengan sorot mata yang teduh seperti seseorang yang sedang menghadapi pasien yang dalam kondisi kritis.

"Dokter. Seratus kali gagal bukan berarti dunia ini akan berakhir begitu saja. Anda sudah melangkah lebih jauh dari siapa pun di planet ini untuk menyelamatkan satu nyawa saja. Banyak orang yang akan menyerah setelah percobaan ke-5 atau bahkan ke-10, namun Anda tetap bertahan hingga sekarang."

Axel akhirnya mendongak, wajahnya yang kuyu dan pucat tampak lebih parah dengan bekas air mata yang mengering di pipinya dan keringat yang masih menetes di dahinya. Ia melihat ke arah Ana dengan mata penuh dengan rasa sakit dan kebingungan, seolah tidak bisa memahami mengapa orang lain masih bisa melihat harapan dalam keadaan yang sudah tampak tidak ada jalan keluarnya.

"Apa gunanya pergi jauh jika akhirnya tetap berhenti di tepi jurang yang dalam, Ana? Tubuhnya menolak semua jenis darah yang bukan darah manusia. Dia butuh darah manusia segar yang mengalir langsung dari tubuh sumbernya. Dan aku..." Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah. "...aku mulai berpikir untuk mencari donor paksa. Beberapa kali aku sudah berada di ambang keputusan itu. Aku hampir kehilangan akal sehatku hanya untuk melihatnya tidak lagi menderita."

Ana terdiam sejenak mendengar pengakuan mengerikan itu, merasa dada nya terasa sesak dan ingin muntah. Namun ia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut yang sebenarnya ia rasakan. Ia meraih selembar kain bersih yang selalu ada di dalam saku baju perawatnya, lalu perlahan mendekat dan menarik tangan Axel yang masih berdarah karena terkena tusukan pecahan kaca. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai membersihkan luka gores di telapak tangan dan jari-jari Axel dengan sangat telaten, hati-hati menghilangkan serpihan kaca kecil yang masih menancap di dalam kulitnya.

"Jangan lakukan itu, Dokter." Ia melihat langsung ke dalam mata Axel saat membersihkan luka-lukanya, menyampaikan keyakinan yang kuat melalui tatapannya.

"Jika Anda menjadi pembunuh atau bahkan hanya menyakiti orang lain tidak bersalah demi menyelamatkannya, maka saat Nona Lusy bangun nanti dan mengetahui apa yang telah Anda lakukan, dia tidak akan melihat tunangannya yang dicintainya lagi. Dia hanya akan melihat monster lain yang lebih mengerikan dari bentuk dirinya yang kini sedang berjuang melawan mutasi itu."

Ana menutup luka pada tangan Axel dengan perban steril yang ia dapatkan dari kantong baju perawatnya. "Keselamatan kita semua—termasuk Nona Lusy—tergantung pada kewarasan Anda yang masih tersisa. Jika Anda menyerah pada kegilaan itu dan memutuskan untuk mengambil jalan yang salah, kita semua akan berakhir di liang lahat atau di balik jeruji besi penjara. Aku yakin Nona Lusy mencintai seorang dokter yang penuh dengan integritas dan kasih sayang, bukan seorang jagal yang rela mengorbankan nyawa orang lain untuk memenuhi keinginannya sendiri."

Axel menatap tangannya yang sedang diobati dengan cermat oleh Ana, melihat bagaimana perban putih itu melilit erat pada telapak tangannya yang sudah mulai berhenti berdarah. Ucapan wanita itu terasa seperti siraman air es yang menyegarkan dan sekaligus mematikan api kegilaan yang telah mulai menyala di dalam dirinya sejenak. Ia merasa sedikit lebih tenang, meskipun rasa sakit dan keputusasaan masih tetap ada di dalam hatinya.

Ia menyandarkan kepalanya ke kaki meja kerja yang masih berdiri dengan kuat di sebelahnya, pandangannya menyelinap ke arah ruang isolasi yang terletak di ujung ruangan, di mana Lusy masih meringkuk dalam tidurnya yang tidak tenang dan terkadang masih disertai dengan gerakan tubuh yang tidak sadar. Janjinya yang pernah ia ucapkan dengan penuh keyakinan sekarang terasa hancur berkeping-keping seperti pecahan kaca di lantai, namun keberadaan Ana di sana, memberinya seutas tali tipis yang bisa ia pegang untuk tetap berpijak pada kemanusiaan yang masih tersisa di dalam dirinya.

"Aku takut, Ana. Aku sangat takut kehilangan dia. Tanpa dia, hidupku tidak ada makna lagi. Aku akan melakukan apa saja untuk melihatnya tersenyum lagi dan kembali menjadi dirinya yang asli."

"Kita semua takut, Dokter." Sahut Ana penuh dengan rasa pengertian. Ia berdiri perlahan dari lantai, hati-hati menghindari pecahan kaca yang masih berserakan di sekitarnya.

"Tapi takut bukan alasan untuk menjadi iblis yang menyakiti orang lain. Kadang kala kita harus belajar untuk menerima bahwa tidak semua masalah bisa kita pecahkan dengan cara yang kita inginkan. Namun itu tidak berarti kita harus berhenti berjuang dengan cara yang benar."

Ia mengambil nampan makanan yang telah ditinggalkannya di luar ruangan, lalu menghampirinya ke Axel dengan hati-hati. "Sekarang, tolong makan sedikit saja. Tubuh Anda perlu energi jika ingin terus berjuang untuk menyelamatkan Nona Lusy. Kegagalan bisa datang berkali-kali, tapi kita tidak bisa menyerah sebelum waktu yang sebenarnya tiba."

Axel menerima nampan dengan tangan masih sedikit gemetar, menatap makanan hangat yang ada di dalamnya dengan rasa syukur yang mendalam. Di balik kaca isolasi, monitor menunjukkan bahwa denyut jantung Lusy sedang dalam kondisi yang stabil untuk saat ini. Meskipun harapan masih sangat tipis seperti benang sutra, ia tahu bahwa ia tidak bisa menyerah begitu saja—not when someone still believed in him, not when the woman he loved was still fighting for her life on the other side of that glass wall.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
Phida Lee
Ajukan kontrak dan jangan lupa rajin promosi juga bang..
massie-masbro
mantap bang🔥 btw tutor novel bisa rame gimana bng aku masih pemula, ajukan kontrak kah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!