Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima
Pagi itu di Queenstown, langit tampak biru cerah, namun bagi Hazel, udara Selandia Baru terasa lebih tajam dari biasanya.
Di balik wajahnya yang tenang dan senyum manis yang ia tunjukkan pada orang tuanya saat sarapan, Hazel Bellvania Cavanaugh yang baru telah lahir.
Gadis yang selama ini menelan tuntutan orang tuanya untuk menjadi anak baik dan gadis suci kini telah mati, digantikan oleh Hazel yang penuh amarah dingin.
Ia berangkat ke sekolah dengan seragam yang rapi, menyapa guru dengan sopan, dan membiarkan James mengecup keningnya di depan loker seolah tidak ada yang terjadi.
James, dengan kesombongan yang meluap, tidak menyadari bahwa gadis di depannya sedang menghitung detik-detik kehancurannya.
Hazel tahu, untuk menghancurkan monster seperti James, ia butuh bantuan iblis yang lebih besar. Dan iblis itu adalah Kenneth Karl Graciano.
Sepulang sekolah, Hazel tidak menuju tempat latihan basket James. Ia justru melajukan mobilnya menuju kawasan pribadi di pinggiran danau, tempat di mana mansion keluarga Graciano berdiri kokoh seperti benteng. Ia tahu Kenneth biasanya berada di sana, menyendiri dari keramaian gengnya.
Hazel menemukan Kenneth sedang berdiri di balkon luas yang menghadap langsung ke Danau Wakatipu.
Pria itu tampak tenang dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menyesap kopi sambil menatap hamparan air yang biru.
"Kau tidak sekejam yang kubayangkan jika kau membiarkanku mendengar semuanya semalam, Ken," suara Hazel memecah kesunyian.
Suaranya tidak gemetar. Tidak ada tangisan. Hanya ada nada dingin yang menusuk.
Kenneth tidak terkejut. Ia bahkan tidak menoleh saat menjawab, "Aku hanya tidak suka melihat orang membuang-buang waktu untuk ilusi yang murahan."
Hazel berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Kenneth. Ia menatap profil samping pria yang paling ditakuti di sekolah itu.
"Kau tahu semuanya. Kau tahu James meniduri banyak wanita, kau tahu dia berbohong tentang jari konyolnya itu, dan kau diam saja selama enam minggu."
Hazel berbalik sepenuhnya menghadap Kenneth, matanya berkilat menuntut jawaban. "Kenapa? Kenapa kau tidak jujur padaku sejak awal? Kenapa membiarkanku terlihat seperti orang bodoh di depan teman-temanmu yang brengsek itu?"
Kenneth perlahan menurunkan cangkirnya. Ia memutar tubuhnya, menunduk sedikit sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Hazel.
Aura dominasinya begitu kuat hingga membuat napas Hazel tertahan sebentar.
"Jika aku memberitahumu di hari pertama, kau hanya akan menganggap ku pria jahat yang ingin merusak hubunganmu," bisik Kenneth, suaranya parau dan berbahaya.
"Aku butuh kau melihatnya sendiri. Aku butuh kau muak hingga ke tulang sumsum mu, Hazel."
Kenneth mengamati wajah Hazel, mencari sisa-sisa gadis manis yang kemarin ia lihat.
"Sekarang katakan padaku, gadis manis yang pura-pura baik... apa yang ingin kau lakukan pada James Patrick?"
Hazel menyunggingkan senyum tipis yang belum pernah dilihat siapa pun senyum yang penuh dengan racun. "Aku ingin dia kehilangan segalanya. Reputasinya, masa depannya, dan harga dirinya. Dan aku tahu, hanya kau yang punya kekuasaan untuk membantuku melakukannya."
Kenneth terdiam sejenak, lalu tangannya yang dingin menyentuh dagu Hazel, mengangkatnya agar mata mereka beradu. "Bantuan dariku tidak pernah gratis, Hazel. Kau tahu itu, kan?"
Malam itu, di bawah langit Queenstown yang pekat, kesepakatan gelap terjalin di balik dinding mansion Graciano yang kedap suara.
Hazel, yang sudah mati rasa akibat pengkhianatan James, melepaskan seluruh topeng gadis manis-nya. Ia memberikan dirinya bukan karena cinta, melainkan sebagai tumbal untuk sebuah balas dendam yang sempurna.
Kenneth tidak membuang waktu. Pria yang selama ini menahan diri dalam diam itu akhirnya melepaskan sisi predatornya.
Saat mereka berada di atas ranjang luas yang menghadap ke pegunungan salju, Kenneth langsung mengklaim Hazel dengan intensitas yang mengerikan.
Ketika Kenneth membungkam inti pertahanan Hazel dengan milik-nya, Hazel tersentak hebat. Rasa sesak dan perih menyergap tubuhnya yang masih murni, sebuah kontras yang menyakitkan dibandingkan dengan janji-janji palsu James yang hanya berani bermain di permukaan.
Hazel mencengkeram bahu kokoh Kenneth, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sakit, Ken..." rintih Hazel dengan napas tersenggal.
Kenneth berhenti sejenak, menatap Hazel dengan tatapan yang sangat dalam tatapan yang Hazel anggap sebagai nafsu, padahal itu adalah obsesi dan rasa memiliki yang telah lama ia pendam.
Kenneth mengecup kening Hazel dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan sentakan kasar yang ia berikan setelahnya.
"Tahan, Hazel. Ini adalah rasa sakit terakhir yang akan kau terima karena seorang pria," bisik Kenneth rendah.
Setelah rasa sakit awal itu memudar, yang tersisa hanyalah gairah yang membakar. Hazel, yang didorong oleh dendam dan keinginan untuk menghapus setiap jejak James dari ingatannya, membiarkan dirinya hanyut. Ia berteriak nikmat, memenuhi ruangan itu dengan suara yang tidak akan pernah James dengar.
Sentakan Kenneth begitu presisi, begitu penuh kuasa, seolah-olah ia sedang memahat namanya di setiap sel tubuh Hazel.
Hazel tidak menyadari bahwa bagi Kenneth, malam ini bukan sekadar transaksi.
Setiap desah napas dan teriakan Hazel adalah kemenangan bagi Kenneth yang sudah mencintai gadis ini dari kejauhan.
Kenneth memberikan segalanya, ketahanan, kekuatan, dan dominasinya untuk memastikan Hazel tahu bedanya antara seorang pecundang seperti James dan seorang penguasa seperti dirinya.
Keesokan paginya, Hazel terbangun dengan tubuh yang lelah namun pikiran yang sangat jernih. Di sampingnya, Kenneth sudah berpakaian rapi, duduk di kursi berlengan sambil memperhatikan Hazel yang tertutup selimut sutra.
"Sudah bangun?" tanya Kenneth dengan suara serak khas pria yang baru saja melewati malam yang panjang.
Hazel duduk, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi bahunya yang penuh tanda kemerahan.
"Kapan kita mulai menghancurkannya?"
Kenneth menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan beberapa rekaman CCTV tersembunyi dari ruang musik dan gudang olahraga yang menampilkan aksi binal James dengan berbagai wanita.
"Semua ini akan tersebar di layar besar aula saat pengumuman kapten basket nanti malam," ujar Kenneth tenang.
"Dan setelah dia hancur secara sosial, aku akan memastikan ayahnya kehilangan kontrak kerja dengan perusahaan Graciano.
James tidak akan punya tempat untuk lari di seluruh New Zealand."
Hazel menatap layar itu dengan dingin. "Bagus. Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa gadis suci-nya adalah orang yang menarik pelatuknya."
Kenneth berdiri, berjalan menghampiri Hazel dan mengecup bibirnya dengan penuh kepemilikan. "Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi, Hazel. Mulai sekarang, kau berada di bawah perlindunganku."
Hazel menyunggingkan senyum licik yang membuat Kenneth terdiam sejenak. Ia merapikan selimut yang menutupi tubuh polosnya, lalu menatap Kenneth dengan binar mata yang kini jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
"Ubah rencananya, Ken," ucap Hazel tenang, suaranya terdengar seperti melodi yang mematikan. "Jangan hancurkan dia malam ini. Terlalu cepat. Aku ingin melihat dia terus berakting sebagai pria suci, sementara aku menyimpan rahasia yang jauh lebih besar darinya."
Kenneth menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Kau ingin bermain-main, Hazel?"
"Ya," Hazel bangkit dan berjalan perlahan menuju Kenneth, tidak peduli dengan jejak merah di kulitnya yang menunjukkan betapa kerasnya Kenneth memilikinya semalam.
Ia melingkarkan tangannya di leher Kenneth, menatap pria itu dalam-dalam. "Biarkan James merasa menang. Biarkan dia pikir aku masih si gadis bodoh yang bisa dia tipu. Aku ingin melihat wajahnya saat dia mencium keningku, tanpa dia tahu bahwa beberapa jam sebelumnya, aku baru saja mendesah di bawah kekuasaan sahabatnya sendiri."
Hazel mencium rahang Kenneth dengan posesif. "Tidur denganmu di belakang James... ide itu jauh lebih menggairahkan daripada sekadar mempermalukannya di depan aula. Aku ingin menghancurkan mentalnya perlahan-lahan, sampai dia benar-benar gila karena tidak tahu apa yang sedang terjadi."
Kenneth terkekeh rendah, suara yang dalam dan penuh kepuasan. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Hazel, menarik gadis itu kembali ke pelukannya. Ia tidak menyangka gadis manis ini bisa berubah menjadi begitu kejam dalam semalam.
"Kau benar-benar licik, Hazel. Dan aku menyukainya," bisik Kenneth. "Jadi, kita akan menjadi rahasia di balik punggung James. Aku akan membiarkan dia meminjam status sebagai pacarmu, sementara aku yang benar-benar memilikimu di kegelapan."
Sore harinya di sekolah...
Hazel kembali mengenakan topengnya. Ia berdiri di pinggir lapangan basket, menyambut James yang baru saja selesai latihan.
James berlari menghampirinya, berkeringat dan penuh senyum kemenangan.
"Hai, Sayang! Maaf ya kemarin aku agak telat di ruang musik," ucap James bohong tanpa berkedip, tangannya hendak mengusap pipi Hazel.
Hazel tidak menghindar. Ia tersenyum manis, senyum paling tulus yang pernah ia berikan, padahal di dalam hatinya ia merasa jijik. "Enggak apa-apa, James. Aku tahu kamu sibuk latihan."
James mencium kening Hazel dengan lembut, sebuah gerakan yang dulu membuat Hazel merasa dihargai, tapi sekarang terasa sangat hambar. James tidak tahu bahwa di kejauhan, di atas tribun yang gelap, Kenneth sedang memperhatikan mereka.
Kenneth menatap James dengan tatapan meremehkan. James merasa hebat karena menjaga Hazel, tanpa tahu bahwa kesucian yang ia banggakan itu sudah diserahkan Hazel sepenuhnya kepada Kenneth sebagai bentuk pengkhianatan yang paling utama.
"Malam ini kita jalan, ya?" ajak James.
"Boleh," jawab Hazel singkat. "Tapi aku harus pulang cepat, ada urusan keluarga."
Urusan keluarga yang dimaksud Hazel adalah kembali ke mansion Kenneth untuk melanjutkan permainan panas mereka yang belum usai.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰
terimakasih
ceritanya bagus