Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
Mansion Malik Group bukan sekadar rumah; itu adalah istana dingin yang terbuat dari marmer dan kaca. Aira berjalan dengan kepala tertunduk, mengikuti langkah kaki Arkanza yang bergema di koridor luas.
"Berhenti di sini," titah Arkanza saat mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati setinggi tiga meter.
Pintu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari rumah petak Aira. Arkanza berbalik, menatap blus Aira yang robek dan bercak darah kering di keningnya dengan tatapan merendahkan.
"Kau terlihat menjijikkan," ucap Arkanza tanpa perasaan. "Bersihkan dirimu. Aku tidak sudi menyentuh wanita yang berbau keringat dan darah rentenir."
Aira menggigit bibirnya, menahan sakit hati. "Di mana... di mana kamar mandinya?"
Arkanza menunjuk sebuah pintu kaca buram di sudut ruangan. "Pelayan sudah menyiapkan segalanya di sana. Aku beri waktu lima belas menit. Jika kau telat satu detik saja, aku akan menganggap kontrak ini batal."
Aira segera berlari masuk. Di bawah guyuran air hangat, ia menangis pelan, mencoba menghapus semua jejak tangan kasar Broto dari kulitnya. Namun, ia tahu, ia harus bertahan. Jika ia keluar dari sini, ia akan membusuk di penjara.
Tepat lima belas belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan uap air yang mengepul.
Arkanza yang sedang menuang wine di sofa mewah menoleh dengan tatapan tidak sabar. Namun, gelas di tangannya tiba-tiba berhenti di udara.
Aira keluar hanya dengan balutan jubah mandi satin berwarna putih polos yang disediakan pelayan. Rambut panjangnya yang basah tergerai meneteskan sisa air di pundaknya yang putih bersih. Tanpa noda darah dan debu jalanan, kecantikan alami Aira terpancar begitu kuat. Wajahnya yang polos tanpa riasan, matanya yang besar dan jernih, serta bibir merah muda yang masih sedikit bergetar membuat jantung Arkanza berdetak tidak keruan.
Sial, kenapa dia terlihat berbeda? batin Arkanza. Ia berusaha keras menjaga wajah datarnya.
"Ke sini," suara Arkanza terdengar lebih rendah dari biasanya.
Aira melangkah pelan, jemari kakinya yang kecil tenggelam di karpet bulu yang tebal. Ia berhenti tepat di depan Arkanza. "Saya sudah selesai, Tuan."
Arkanza berdiri, meletakkan gelasnya. Ia berjalan mengitari Aira, menatap punggung gadis itu seolah sedang memeriksa kualitas sebuah barang. "Duduk di ranjang."
Aira tersentak. "T-Tuan, Anda bilang ini hanya kontrak..."
"Aku bilang duduk!" bentak Arkanza pelan namun tegas.
Aira duduk di tepi ranjang king size yang sangat empuk. Arkanza menyusul, duduk di sampingnya hingga Aira bisa mencium aroma sabun yang sama dari tubuh mereka.
"Sekarang, buka bagian atas jubahmu. Aku perlu memastikan ruamku tidak muncul saat bersentuhan dengan kulit pundakmu," perintah Arkanza dengan nada memerintah yang tak bisa dibantah.
"Apa?! Tuan, saya—"
"Jangan membuatku mengulanginya, Aira. Kau ingin aku melindungimu, bukan? Maka buktikan kalau kau memang penawarnya."
Dengan tangan gemetar hebat, Aira menurunkan sedikit kerah jubah mandinya, mengekspos pundak putihnya yang halus ke udara dingin kamar itu.
Arkanza mendekat. Ia tidak langsung menyentuh. Ia menatap kulit bening itu dengan saksama. Tangannya yang besar perlahan terangkat, ujung jarinya menyentuh permukaan pundak Aira dengan sangat hati-hati, seolah-olah Aira adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.
Satu detik... dua detik...
Tidak ada rasa terbakar. Tidak ada sesak napas. Yang ada hanyalah rasa sejuk yang menjalar ke seluruh saraf Arkanza, diikuti oleh desiran aneh di dadanya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ajaib..." bisik Arkanza tanpa sadar. Matanya yang tajam kini beralih menatap wajah Aira yang jaraknya hanya beberapa inci.
Aira menahan napas, matanya terpejam erat, menunggu reaksi buruk dari pria itu. "Apa... apa Anda merasa sakit, Tuan?"
"Tidak," Arkanza justru semakin mendekat, tangannya kini beralih mencengkeram rahang Aira dengan lembut namun posesif. "Aku tidak sakit. Tapi aku merasa... lapar."
Aira membuka matanya, terkejut melihat kilat gairah dan obsesi di mata Arkanza. "Tuan Arkan..."
"Diamlah, Oksigenku. Tes ini belum selesai."
Arkanza tiba-tiba menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya, membiarkan kulit mereka bersentuhan lebih luas. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma tubuh gadis itu yang wangi melati dan uap air.
"Tetaplah seperti ini selama sepuluh menit," gumam Arkanza dengan suara parau. "Jika dalam sepuluh menit aku tidak mati, maka besok kau akan menjadi wanita paling berkuasa di rumah ini."
Aira hanya bisa terpaku dalam pelukan pria dingin itu, merasakan detak jantung Arkanza yang liar—sama liarnya dengan detak jantungnya sendiri.