NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Luna segera mengakhiri percakapannya dengan Dirga sebelum pria itu bertanya lebih jauh.

"Maaf, Pak Dirga, jam mengajar saya sudah dimulai. Saya permisi dulu," ucap Luna sambil melangkah cepat menuju gedung sekolah.

'Ya Allah, semoga Pak Dirga tidak bicara apa-apa pada siapa pun, apalagi kalau sampai dia tahu aku sudah menikah dengan Mas Pratama.' ucap Luna dalam hati.

Tepat saat itu, bel berbunyi nyaring. Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali jiwa kepemimpinannya. Namun, kali ini yang ia hadapi bukan direksi perusahaan berjas rapi, melainkan puluhan balita dengan energi yang meluap-luap.

"Anak-anak, ayo berbaris yang rapi ya! Kita masuk kelas!" seru Luna dengan nada yang dibuat seceria mungkin.

Begitu sampai di dalam kelas, kekacauan yang sesungguhnya dimulai.

Luna duduk di depan sambil membawa absen, mencoba memanggil nama murid satu per satu. Namun, baru saja ia membuka mulutnya, tiba-tiba keributan pun terjadi.

"Ibu Lunaaa! Nindi mau ke kamar mandi, sudah di ujung!" teriak seorang anak perempuan sambil melonjak-lonjak.

"Ibu Luna, Raga nakal! Penghapusku diambil terus dibuang ke tempat sampah!" lapor anak laki-laki lain dengan mata berkaca-kaca.

Belum sempat Luna menanggapi Raga, murid lain di pojok ruangan mengangkat tangan tinggi-tinggi.

"Ibu Luna, aku juga mau ke kamar mandi! Bareng Nindi!"

Luna merasa kepalanya mulai berdenyut. Di kantor, satu tatapan tajam darinya cukup untuk membuat seluruh ruang rapat senyap. Namun di kelas A, tatapan tajamnya justru dibalas dengan tawa dan rengekan.

"Satu-satu ya, Nak. Nindi dulu, lalu..."

"Ibuuu! Raga pukul aku!"

Suasana kelas menjadi sangat riuh. Ada yang mengejar teman, ada yang menangis karena pensilnya patah, dan ada yang menarik-narik ujung seragam batik Luna.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Luna Jati merasa ingin menangis. Menghadapi klien paling keras kepala di meja negosiasi jutaan dolar ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi sepuluh anak TK yang sedang berebut mainan.

'Ternyata jadi guru TK itu berat sekali... Mas Pratama, aku butuh bantuanmu sekarang juga,' batin Luna sambil berusaha memisahkan dua anak yang mulai saling tarik rambut.

Setelah perjuangan bolak-balik ke kamar mandi yang cukup menguras keringat, Luna akhirnya berhasil menenangkan suasana kelas. Ia teringat tips dari Arini semalam bahwa anak-anak harus dialihkan fokusnya dengan gerakan dan suara.

"Anak-anak, ayo kita berdiri semua! Kita bernyanyi dulu ya supaya semangat!" seru Luna sambil bertepuk tangan ritmis.

Luna mulai memimpin dengan gerakan yang sedikit canggung namun penuh usaha. "Tangan di atas... tangan di kepala... tangan di pinggang, lalu bergoyang! Tepuk tangan bersuka ria!"

Melihat anak-anak tertawa dan mengikuti gerakannya, rasa lelah Luna sedikit terobati.

Ternyata, melihat tawa tulus mereka memberikan kepuasan yang berbeda dari sekadar melihat angka keuntungan di laporan keuangan.

"Nah, sekarang semuanya duduk yang rapi. Ibu punya sesuatu," ucap Luna sambil membagikan potongan-potongan kertas lipat berwarna oranye dan hijau yang sudah disiapkan pihak sekolah.

"Ayo, sekarang waktunya kita menempel. Kita akan membuat bentuk buah."

Luna mengangkat sebuah pola gambar bulat di depan kelas.

"Ada yang tahu, ini buah apa namanya?"

"JERUKKK!" teriak anak-anak serempak dengan suara melengking yang menggemaskan.

"Pintar semuanya! Ayo, sekarang tempelkan kertas oranyenya di dalam lingkaran ini ya. Hati-hati, jangan sampai keluar garis," instruksi Luna dengan lembut.

Ia mulai berkeliling meja, membantu jemari kecil murid-muridnya yang masih belepotan lem.

Saat melihat konsentrasi anak-anak itu, Luna tersenyum sendiri.

Ia jadi membayangkan, suatu saat nanti, apakah ia akan memiliki anak bersama Pratama yang juga akan bersekolah seperti mereka.

Pikiran itu membuat pipinya merona. Di tengah kesibukan menempel kertas jeruk, Luna melirik jam dinding.

Sebentar lagi jam pulang, dan ia tahu Pratama pasti sudah bersiap menjemputnya dengan motor butut kesayangan mereka.

Ia harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika Pak Dirga masih ada di depan gerbang.

Bel berbunyi nyaring tepat pukul sembilan pagi, menandakan kelas A telah usai.

Setelah memastikan semua anak dijemput oleh wali muridnya masing-masing, Luna melangkah dengan bahu yang sedikit merosot menuju ruang guru.

"Mengajar ternyata jauh lebih melelahkan daripada memimpin meeting selama lima jam nonstop." gumam Luna.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Ibu Maryam, sang kepala sekolah, menyambutnya dengan tatapan penuh haru.

Beliau tahu siapa Luna sebenarnya—sang donatur besar di balik renovasi gedung sekolah ini.

"Bu Luna, saya benar-benar ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi. Berkat modal pembangunan yang Ibu berikan, sekolah ini sekarang punya atap yang tidak bocor dan ruang bermain yang layak bagi anak-anak," ucap Ibu Maryam sambil menggenggam tangan Luna.

Luna tersenyum tulus, namun ada gurat keraguan di wajahnya.

"Saya yang seharusnya berterima kasih sudah diizinkan 'menyamar' di sini, Bu. Saya hanya ingin menjadi orang biasa sejenak."

Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

"Maafkan saya, Bu, bukannya saya tidak mau jujur soal siapa saya dan apa pekerjaan saya yang sebenarnya kepada suami saya. Tapi saya sangat mencintainya. Saya takut jika dia tahu saya adalah pemilik Jati Grup, dia akan merasa rendah diri atau malu. Saya hanya ingin dia mencintai saya sebagai Luna, istrinya, bukan sebagai bos besar."

Ibu Maryam menganggukkan kepalanya perlahan, memahami dilema batin yang dialami wanita kaya raya di depannya ini.

"Saya mengerti, Bu Luna. Cinta memang butuh waktu dan cara yang tepat untuk mengungkap kebenaran. Rahasia Ibu aman bersama saya."

"Terima kasih, Bu," jawab Luna lega.

Luna kemudian merapikan tasnya, bersiap untuk menuju gerbang depan.

Ia tahu Pratama pasti sudah menunggunya. Di luar sana, ia harus kembali menjadi

"Luna si guru TK" yang sederhana, meninggalkan sejenak identitasnya sebagai konglomerat yang baru saja menyumbang ratusan juta untuk sekolah tersebut.

Luna berdiri di depan gerbang sekolah sambil sesekali menyapu pandangan ke jalan raya, menanti kedatangan Pratama.

Di tengah penantian itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Arini masuk:

"Bu, besok ada meeting darurat dengan investor di Bandung. Jadwalnya padat, kita harus menginap satu malam. Saya sudah siapkan semuanya."

Luna menghela napas panjang. Kepalanya mulai berputar mencari alasan yang masuk akal agar Pratama tidak curiga jika istri "guru TK"-nya ini harus pergi ke luar kota dan menginap.

Tepat pukul sebelas siang, suara deru mesin motor yang sangat ia kenal terdengar.

Pratama datang dengan senyum lebar, masih mengenakan kaos yang sedikit lembap oleh keringat sisa berjualan soto tadi pagi.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil mewah berhenti tepat di belakang motor Pratama.

Dirga turun dari mobilnya untuk menjemput putranya.

Dirga melangkah mendekati Luna, mengabaikan keberadaan Pratama sejenak.

Ia menyodorkan sebuah bungkusan plastik yang tampak eksklusif.

"Bu Luna, ini ada gado-gado dari restoran langganan saya untuk makan siang Ibu," ucap Dirga dengan nada perhatian. Namun, matanya kemudian beralih menatap tajam ke arah Pratama yang masih duduk di atas motor. "Dan... maaf, ini siapa, Bu?"

Lidah Luna terasa kelu sejenak, ia melirik Pratama yang tampak canggung melihat pria berjas rapi seperti Dirga, lalu ia memantapkan hatinya.

Luna melangkah mendekat ke arah Pratama dan menyentuh lengan suaminya dengan bangga.

"I-ini suami saya, Pak Dirga," ucap Luna dengan suara yang jelas dan tegas.

Mendengar kata "suami", raut wajah Dirga seketika berubah.

Senyum ramahnya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin dan rahang yang mengeras.

Dirga mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan gejolak amarah dan ketidak terimaan di dalam dadanya.

Ia tidak menyangka, wanita yang selama ini ia incar justru telah dimiliki oleh pria yang menurutnya hanya seorang rakyat jelata.

Pratama yang merasakan suasana menegang, hanya bisa mengangguk sopan.

"Pratama, Pak," ucapnya singkat.

Dirga tidak membalas jabatan tangan atau sapaan itu.

Ia hanya menatap Pratama dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan sebelum akhirnya berbalik menuju mobilnya tanpa pamit.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!