Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Kenzo Malendra.
Andre segera pamit dari tempat itu setelah urusannya dengan Ivan selesai. Sebelum pergi, dia sempat melihat isi dari laporan yang telah dibuat oleh Rania. Dia membacanya dengan teliti dan menambahkan beberapa poin yang harus dilaporkan sesuai dengan apa yang wanita itu ceritakan.
"Padahal urusan kantor belum selesai, tapi kenapa tuan muda menyuruhku untuk mengurus wanita itu?" gumam Andre, dia mendessah frustasi, tidak mengerti apa yang sedang atasannya lakukan.
Kemudian Andre masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Mobilnya melaju kencang di jalanan menuju perusahaan di mana Damian sudah menunggu di sana, dia juga harus segera membuat janji pada seseorang untuk melaporkan segala perbuatan suami Rania pada Komisi Perlindungan Anak dan Komnas perempuan.
"Dasar bodoh! Dia menggali lubang kehancurannya sendiri," ucap Andre dengan tidak habis pikir dengan apa yang suami Rania lakukan. "Mentang-mentang wanita itu tidak punya kendali, tidak punya kuasa apapun, jadi dia melakukan semuanya sesuka hati. Ah, tapi iya sih, dengan uang semua bisa dilakukan." Dia berdecak, menyadari jika uang adalah segala-galanya.
Namun, sedetik kemudian Andre menyeringai. Jika Rania melawan suaminya sendirian, maka sudah jelas bahwa suaminya itu pasti akan memenangkan segala gugatan walau dengan cara kotor. Apalagi keluarga Sanjaya termasuk keluarga yang dihormati dan punya kuasa, Rania tidak akan bisa melawan mereka, apalagi mendapatkan hak asuh atas putranya.
Akan tetapi, lain hal jika Kenzo ikut campur dalam urusan Rania. Sudah pasti wanita itu bisa memenangkan semuanya, dan bisa dipastikan juga kehancuran untuk keluarga Sanjaya.
"Mereka pasti akan sangat terkejut," gumam Andre.
Keluarga Sanjaya pasti akan sangat syok saat mengetahui jika Rania dibantu oleh seorang Kenzo Malendra, putra kedua dari Arsenio Malendra—pengusaha sukses dan ternama yang berhasil mencapai puncak dunia, melebarkan sayapnya hingga tidak ada satu pun orang dalam dunia bisnis yang tidak mengenal namanya.
Berbagai kalangan mencoba untuk mendekati keluarga Malendra, mulai dari pengusaha, pejabat pemerintahan, bahkan sampai para mafia juga berlomba-lomba mencari perhatian mereka.
Namun, keluarga Malendra terkenal sangat misterius. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan mereka, orang-orang hanya mengenal nama dan kerajaan bisnis mereka saja.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Rania dan Kenzo sudah berada di sebuah apartemen. Rania tampak memperhatikan tempat mewah itu, lalu melirik ke arah Kenzo yang sedang duduk di sofa sambil memperhatikan ponsel.
"I-ini apartemenmu?" tanya Rania, dia mendekat ke arah Kenzo lalu duduk di hadapannya.
Kenzo mengangkat pandangan, kemudian menganggukkan kepala. "Pakai saja, aku sudah tidak tinggal di sini." katanya datar.
Rania mengangguk-anggukkan kepala, lalu kembali memperhatikan sekitar tempat itu. Apartemen yang cukup mewah, hampir sama dengan apartemen Vita.
"Kalau gitu, berapa uang sewanya?" tanya Rania, dia pasti harus membayar mahal untuk tinggal di tempat ini.
Kenzo terdiam, matanya kembali fokus menatap ponsel tanpa menjawab pertanyaan Rania, tentu saja hal itu membuat Rania mengerutkan kening sebal.
"Aku harus pergi," ucap Kenzo setelah beberapa saat terdiam. Dia beranjak dari sofa membuat Rania juga ikut berdiri.
"Ka-kalau gitu bagaimana dengan uang-"
"Ambil ini," potong Kenzo membuat ucapan Rania terhenti, dia memberikan kartu namanya pada wanita itu. "Hubungi aku." sambungnya setelah Rania menerima kartu nama itu.
Rania menunduk, memperhatikan kartu nama yang Kenzo berikan padanya. Tertulis jelas nama dan perusahaan tempat di mana laki-laki itu bekerja. "Sky grup?" Dia mengernyit kening saat merasa tidak asing dengan nama perusahaan itu.
"Ka-kau bekerja di Sky grup?" tanya Rania, dia sudah ingat jika pernah mendengar nama perusahaan itu saat masih bekerja dulu.
Kenzo diam sejenak, memperhatikan raut wajah Rania, lalu kepalanya mengangguk. "Benar." jawabnya datar.
"Waah... " Rania langsung menutup mulutnya karena spontan menganga lebar saat mendengar jawaban Kenzo. Tidak disangka laki-laki itu bekerja di perusahaan yang sangat terkenal, bahkan dia pernah mendengar jika sangat susah sekali untuk bekerja di perusahaan itu. Padahal kenyataannya Kenzo bukan hanya sekedar bekerja di sana, tetapi anak dari pemilik perusahaan terkenal itu.
Sudut bibir Kenzo terangkat membentuk sebuah seringai saat melihat reaksi Rania, apalagi kedua mata wanita itu tampak berbinar-binar seraya terus menatap kartu namanya.
"Tetap di sini dan jangan keluar ke manapun," ucap Kenzo membuat Rania seketika mendongakkan kepala. "Aku akan mengabarimu." sambungnya.
Rania mengangguk paham, kemudian dia mengikuti langkah Kenzo yang akan keluar dari apartemen itu. "Tapi, aku boleh keluar untuk belanja, 'kan?" tanyanya pelan, tidak mungkin dia hanya diam di dalam apartemen sambil menahan lapar.
Kenzo yang sudah berjalan sampai ke pintu menghentikan langkah, lalu berbalik menatap Rania. "Hubungi aku, aku akan datang." katanya dengan serius.
Rania mengernyitkan kening. "Aku hanya ingin belanja untuk membuat makanan, kok." jawabnya, dia tidak mengerti kenapa harus sampai menghubungi laki-laki itu hanya karena ingin belanja kebutuhan sehari-hari.
Kenzo terdiam, matanya menatap Rania dengan tajam membuat wanita itu merasa gugup dan tegang. "Lakukan itu bersamaku."
"H-hah?" Rania terkesiap, menatap Kenzo dengan tidak paham.
"Katakan apapun yang mau kau lakukan, aku akan melakukannya bersamamu," ucap Kenzo panjang lebar.
Rania tertegun, dadanya berdegup kencang mendengar ucapan Kenzo. Seketika wajahnya memerah, entah kenapa dia jadi merasa malu dan salah tingkah.
"Ba-baiklah," jawab Rania asal, merasa ingin cepat selesai.
Kenzo tersenyum tipis, lalu berbalik dan keluar dari unit apartemen itu meninggalkan Rania yang masih terdiam di tempat dengan debaran jantung semakin kuat.
"Dasar gila! Apa yang sedang aku lakukan?" Rania mendessah kesal dan frustasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba untuk menyadarkan diri sendiri. Bisa-bisanya dia merasa malu dengan jantung berdebar-debar saat mendengar ucapan Kenzo.
"Tidak, aku harus fokus, aku tidak boleh memikirkan apapun selain Dafa." Rania menggelengkan kepala, mencoba untuk menghilangkan segala sesuatu tidak penting yang bersarang di hati dan pikirannya.
Kemudian Rania berjalan ke arah kamar, terlihat tempat itu sangat bersih padahal tidak ditinggali oleh Kenzo. Apa ada yang rutin membersihkannya?
"Lebih baik aku segera mandi dan istirahat," gumam Rania. Dia lalu mengambil handuk dan berjalan masuk ke kamar mandi
***
Keesokan harinya, Kenzo datang ke apartemen Rania bersama dengan Andre dan juga Damian. Wanita itu menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Namun, kedua matanya membelalak lebar saat melihat barang bawaan yang ada di kedua tangan Andre dan juga Damian. Apalagi kedua lelaki itu memberikan semuanya pada Rania.
"I-ini untuk apa?" tanya Rania dengan heran, dia menatap Andre dan Damian secara bergantian.
"Tuan muda membelikan beberapa pakaian untuk Anda," jawab Damian. "Semoga cocok dengan selera Anda." sambungnya.
Rania langsung melirik ke arah Kenzo yang sudah duduk di atas sofa. "Tapi kenapa dia membeli sebanyak ini?" tanyanya bingung. "Aku bisa mengambil pakaian di rumah lamaku." katanya cepat.
Damian mengendikkan bahu dan melirik ke arah sang tuan seolah mengatakan jika Rania harus menanyakan secara langsung pada Kenzo. "Saya akan memasukkannya ke dalam kulkas." ucapnya seraya menunjuk ke arah bahan masakan yang tadi mereka beli juga membuat Andre juga mengikutinya.
Rania menghela napas kasar, lalu berjalan mendekati Kenzo karena ingin bertanya apa maksud laki-laki itu. Namun, belum sempat dia bicara, tiba-tiba Kenzo mengeluarkan suara.
"Nanti kau akan bertemu dengan beberapa orang, jadi aku membelinya untuk persiapan."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda