Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Sekar," ucap dokter Rayyan diikuti Suster Intan, mereka berhenti melangkah, kaget melihat kedekatan Sekar dengan Arka.
Sekar hanya tersenyum menatap dokter Rayyan lalu minta untuk memeriksa Arka. Namun, Arka justru merangkul erat tubuh Sekar seolah takut wanita yang ia panggil mama itu pergi. "Mau sama Mama saja..." ucap Arka manja.
Dokter dan Intan saling pandang, merasa aneh dan bingung, baru kali ini ada pasien manja dengan perawat terlebih Arka anak kecil biasanya paling sulit didekati selain ibunya.
"Ada yang dikhawatirkan, Sekar?" Tanya Rayyan yang sempat khawatir ketika Sekar menghubunginya agar cepat kembali ke ruangan. Tetapi begitu melihat Arka yang tampak nyaman di pangkuan Sekar, ia merasa lega. Dokter Rayyan maju lalu membungkuk memeriksa luka di dahi Arka yang masih di perban.
"Tidak Dok, tapi saya takut Arka linglung akibat benturan di kepalanya. Masa... Dia menganggap saya mamanya," Sekar takut jika sikap Arka seperti itu faktor gegar otak.
"Mama..." Arkan menarik wajahnya dari dada Sekar, menatap Sekar sendu, rupanya anak itu sudah cukup mengerti apa yang diadukan Sekar kepada dokter.
"Iya... anak Mama," Sekar akhirnya mengalah. "Sebentar sayang... Pak dokter mau periksa dulu, oke," ucap Sekar membujuknya dengan lembut. Setelah Arka mengangguk pasrah, Sekar baringkan di tempat periksa.
"Alhamdulillah... sudah stabil, Sekar..." ucap Rayyan lalu minta Suster Intan untuk mencatat perkembangan Arka.
"Berarti Arka tidak mengalami gangguan kognitif, Dok?" Tanya Sekar berharap akan seperti itu.
"Kita lihat perkembangan Arka beberapa hari lagi, Sekar," jawab dokter. Di saat mereka membahas kesehatan Arka, anak itu pun tidur pulas.
"Mungkin saja Arka sudah tidak punya Ibu, makanya menganggapmu seperti itu Sekar," Intan punya pandangan sendiri.
"Tidak, In. Menurut Nenek Arka, orang tuanya di luar negeri," papar Sekar seperti yang nenek Arka katakan.
"Banyak kemungkinan, mungkin saja orang tua Arka terlalu sibuk," sela dokter Rayyan. Dia berpikir jika Arka kurang kasih sayang.
Sekar mengangguk, ia sepemikiran dengan Rayyan.
"Sebaiknya kamu panggil keluarga Arka, Intan," titah dokter Rayyan agar keluarga Arka menjaganya, dan Sekar pun bisa istirahat. Rayyan memang selalu perhatian terhadap Sekar.
"Baik Dok," Jawab Sekar dan Intan, memandangi Rayyan yang sudah keluar meninggalkan mereka.
"Sekar, jangan-jangan Papa Arka duda, kalau sampai Arka tidak mau pisah sama kamu, siap-siap jadi istri duda. Hihihi..."
"Ah, jangan ngaco kamu, panggil nenek gih," Sekar tidak mau mendengarkan Intan yang memang selalu menjodoh-jodohkan. Kemarin dokter Rayyan, sekarang Papa Arka, besok entah siapa lagi. Sekar pun beranjak.
"Kamu kan suruh istirahat sama Dokter Rayyan, Sekar," Intan geleng-geleng, sahabatnya itu tak pernah lelah.
Tetapi Sekar bukan istirahat justru pamit Intan ingin membuat minuman hangat ke pantri. Sekar duduk bersandar di kursi koridor dengan wajah yang masih sedikit pucat. Ia menyesap teh manis hangat yang diberikan rekan kerjanya untuk memulihkan tenaganya. Saat itulah, seorang wanita lansia dengan langkah gemetar mendekatinya.
Wanita itu adalah nenek dari anak Arka. Dengan mata yang sembab dan tangan yang masih gemetar karena syok, ia langsung menggenggam tangan Sekar erat.
"Suster... terima kasih," ucap sang nenek dengan suara parau yang sarat akan kelegaan. "Dokter baru saja memberi tahu saya. Suster bukan hanya merawat cucu saya, tapi suster juga memberikan darah suster sendiri untuknya," nenek pun tergugu pilu.
Sekar tersenyum tulus, meskipun ia merasa sedikit pening saat mencoba duduk tegak. "Sudah tugas saya, Nyonya," Yang penting cucu Nyonya sekarang sudah melewati masa kritisnya."
Nenek itu menggeleng pelan, air matanya kembali jatuh. "Tidak, ini lebih dari sekadar tugas. Cucu saya adalah satu-satunya harta yang kami miliki. Jika bukan karena keikhlasan suster, saya tidak tahu bagaimana hidup saya tanpa dia."
Mendengar kata-kata itu, hati Sekar seperti teriris sekaligus terobati. Ia teringat bagaimana hancurnya tiga tahun yang lalu saat kehilangan bayinya, dan kini ia berhasil mencegah kehancuran yang sama terjadi pada wanita tua di hadapannya.
"Sama-sama, Nyonya, " ucap Sekar, padahal jika nenek tahu, setelah mendonorkan darah untuk Arka, ia merasakan kepuasan tersendiri.
"Jika Arka sudah mengerti nanti, saya akan menceritakan kepadanya, bahwa ada seorang malaikat berbaju perawat yang memberinya kesempatan kedua untuk hidup."
Sekar merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Genggaman tangan sang nenek seolah memberikan kekuatan baru baginya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Sekar merasa bahwa lubang di hatinya mulai tertutup oleh rasa syukur yang luar biasa. Ia menyadari walau tidak bisa menjadi ibu bagi bayinya sendiri, tapi bisa menjadi pelindung bagi anak-anak lain yang membutuhkan pertolongan darinya.
"Suster, boleh Nenek minta nomor rekening kamu?" Tanya nenek.
Sekar terkejut hingga tersedak. "Maaf Nyonya, saya menolong Arka tulus, bukan minta imbalan," jawab Sekar tegas. Sebenarnya ia tersinggung mendengar pertanyaan nenek.
"Maafkan saya, tidak bermaksud menyinggungmu. Nenek lalukan ini hanya sebagai ucapan terima kasih," Nenek merasa bersalah, melihat ketulusan Sekar.
"Saya mengerti, Nyonya."
**********
Beberapa hari kemudian, Arka dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Saat Sekar masuk ke kamar untuk mengecek suhu tubuhnya, mata bulat bocah itu langsung berbinar. Meskipun kepalanya masih dibalut perban, semangat hidupnya telah kembali.
Begitu melihat Sekar mendekat, Arka langsung merentangkan tangan kecilnya, meminta pelukan. "Suster cantik!" serunya dengan suara cadel yang menggemaskan.
Sekar terkekeh dan membungkuk untuk memeluknya dengan hati-hati agar tidak mengenai luka-lukanya. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat seluruh orang di ruangan itu terdiam. Arka menyandarkan kepalanya di bahu Sekar, menghirup aroma minyak kayu putih dan sabun khas rumah sakit yang menempel pada seragam Sekar, lalu berbisik manja.
"Mama... Mama Kecil," ucap Arka sambil mengeratkan pelukannya.
Sekar mematung, ternyata Arka hingga beberapa hari tidak merubah panggilan. Suster Intan yang berada di ruang itu senyum-senyum.
Sang nenek yang duduk di pojok ruangan tampak terkejut sekaligus terharu. "Maafkan Arka, Suster Sekar. Sepertinya dia merasa sangat nyaman dengan Suster. Mungkin karena darah Suster sekarang mengalir di tubuhnya, dia merasa ada ikatan batin," papar nenek panjang lebar.
"Tidak apa-apa, Nyonya," jawab Sekar, ia sebenarnya senang Arka memanggilnya seperti itu. Tetapi yang ia khawatirkan bagaimana jika sewaktu-waktu mama Arka datang bisa terjadi salah paham.
Arka tidak mau melepaskan genggamannya. Setiap kali Sekar hendak memeriksa infus, Arka akan merengek dan hanya mau tenang jika tangannya dipegang oleh Sekar. Bocah itu menolak disuapi oleh perawat lain, bahkan oleh neneknya sendiri, jika 'Mama' Kecilnya tidak ada di sana.
"Mama Kecil, jangan pergi... di sini saja," pinta Arka saat jam tugas Sekar hampir berakhir.
Sekar merasakan matanya memanas. Ia mengusap rambut Arka dengan penuh kasih sayang. Panggilan itu bukan lagi luka bagi Sekar, melainkan sebuah anugerah. Ia merasa Arka adalah jawaban dari doa-doanya selama ini. Meskipun bukan ibu kandungnya, Sekar merasa memiliki tanggung jawab jiwa untuk menjaga bocah yang kini memiliki darahnya itu.
Sejak hari itu, seluruh perawat di rumah sakit yang mengenal Sekar mulai menggodanya dengan sebutan "Mama Kecil" Sekarang semakin khawatir jika mama Arka datang.
Setelah beberapa hari di rawat, Arka akhirnya diperbolehkan pulang, tapi masih harus berobat jalan.
"Aku mau pulang, tapi Mama Kecil harus ikut," permintaan Arka kepada Sekar membuat nenek, dokter, dan Sekar sendiri tercengang
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....