Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang Menyakitkan
Hujan semalam seperti pertanda.
Pagi itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Satpam berjaga lebih ketat.
CCTV terus menyala.
Kevin bahkan membatalkan dua meeting penting.
Ia memilih bekerja dari rumah.
Bukan karena takut.
Tapi karena firasatnya tidak enak.
Siang harinya, telepon Kevin berdering.
Nomor tak dikenal.
Kevin mengangkat tanpa ragu.
“Kalau kamu mau semuanya berhenti… datang sendiri.”
Suara di seberang terdengar tenang. Terlalu tenang.
“Lokasinya akan dikirim. Jangan bawa siapa pun.”
Telepon terputus.
Siska yang berdiri tak jauh langsung mendekat.
“Itu dia?”
Kevin mengangguk pelan.
“Kamu nggak boleh pergi sendiri,” tegas Siska.
Kevin terdiam beberapa detik.
Kalimat di telepon tadi jelas.
Datang sendiri.
Kalau tidak—
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sore itu, Kevin berdiri di depan pintu rumah.
Siska menahannya.
“Kita bisa lapor polisi.”
Kevin menggeleng.
“Kalau dia memang cuma mau bicara, polisi justru bisa memperkeruh.”
“Kalau itu jebakan?” suara Siska bergetar.
Kevin memegang kedua bahunya.
“Aku nggak akan gegabah.”
Cantika tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Papa mau ke mana?”
Kevin berlutut dan memeluknya erat.
“Papa cuma sebentar.”
“Jangan lama-lama,” ucap Cantika polos.
Kalimat sederhana itu seperti menusuk dada Kevin.
Lokasi yang dikirim ternyata gudang lama di pinggir kota.
Sepi.
Sunyi.
Dan terlalu tenang.
Kevin turun dari mobil sendirian.
Pintu gudang terbuka perlahan.
Pria itu berdiri di tengah ruangan.
Dalang semuanya.
“Kamu datang juga,” katanya santai.
Kevin menatapnya tanpa gentar.
“Permainanmu sudah cukup.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kamu tahu kenapa aku melakukan ini?”
Kevin diam.
“Karena kamu mengambil sesuatu yang seharusnya jadi milikku bertahun-tahun lalu.”
Kevin mengernyit.
“Aku menang secara sah.”
“Di dunia ini,” pria itu tersenyum dingin,
“yang kalah tidak peduli soal sah atau tidak.”
Tiba-tiba layar besar di belakang pria itu menyala.
Menampilkan rekaman CCTV rumah Kevin.
Siska dan Cantika terlihat di ruang tamu.
Darah Kevin langsung terasa membeku.
“Apa maumu?” suaranya berubah rendah.
“Aku mau kamu mundur.”
“Mundur dari perusahaan?”
“Bukan,” jawab pria itu pelan.
“Mundur dari semua ambisimu.”
Kevin menatap tajam.
“Kalau tidak?”
Pria itu mendekat.
“Aku akan pastikan kamu terus hidup dalam ketakutan.”
Di rumah, Siska merasa jantungnya tak tenang.
Ia mencoba menelepon Kevin.
Tidak aktif.
Rasa takut mulai menggerogoti.
Tiba-tiba listrik padam lagi.
Kali ini lebih lama.
Cantika memeluk Siska.
“Ma… kok gelap lagi?”
Siska menenangkan putrinya, tapi tangannya gemetar.
Di gudang, Kevin mengepalkan tangan.
“Kamu pikir dengan mengancam keluargaku aku akan menyerah?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Semua orang punya titik lemah.”
Kevin terdiam.
Benar.
Dulu titik lemahnya adalah ego.
Sekarang—
Keluarganya.
Tapi pria itu salah satu hal.
Kevin bukan lagi pria yang mudah dikendalikan oleh rasa takut.
“Aku akan mundur dari satu hal,” ucap Kevin tiba-tiba.
Pria itu tersenyum puas.
“Ambisiku untuk menghancurkanmu,” lanjut Kevin tajam.
Senyum pria itu memudar.
“Karena aku tidak perlu menghancurkanmu.”
Kevin mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan satu tombol.
Lampu gudang tiba-tiba menyala terang.
Beberapa orang masuk dari berbagai arah.
Tim keamanan pribadi Kevin.
Dan di belakang mereka—
Polisi.
Wajah pria itu berubah drastis.
“Kamu bilang datang sendiri,” katanya geram.
“Aku datang sendiri,” jawab Kevin tenang.
“Tapi aku tidak bilang aku bodoh.”
Di rumah, listrik menyala kembali.
Siska langsung menerima pesan dari Kevin.
Aku baik-baik saja. Tunggu aku.
Air mata Siska jatuh tanpa sadar.
Di gudang, pria itu diborgol.
Sebelum dibawa pergi, ia menatap Kevin penuh kebencian.
“Ini belum selesai.”
Kevin menatapnya datar.
“Justru ini akhirnya.”
Malam itu, Kevin pulang.
Begitu pintu terbuka, Siska langsung memeluknya erat.
“Jangan pernah bikin aku setakut ini lagi,” bisiknya.
Kevin memeluk balik.
“Aku janji.”
Cantika ikut memeluk dari samping.
“Papa menang?”
Kevin tersenyum lembut.
“Papa cuma pulang.”
Dan itu sudah cukup.
Untuk pertama kalinya setelah semua badai—
Kevin benar-benar merasa ancaman itu berakhir.
Tapi jauh di dalam hatinya…
Ia tahu satu hal.
Dunia tidak pernah sepenuhnya aman.
Yang membuatnya kuat bukanlah kekuasaan.
Bukan uang.
Tapi dua orang yang selalu menunggunya di rumah.
Dan selama mereka ada—
Ia tidak akan pernah benar-benar kalah.