Kara seorang artis cantik yang mengalami kecelakaan dan masuk ke dalam novel kebencian memerankan seorang wanita bernama Aleca seorang istri yang di nikahi suaminya karena sebuah dendam.
Dengan jiwa tangguh dan pengalaman hidupnya sebagai pabrik figur, dia mengubah takdir istri yang teraniaya itu dengan kekuatan baru.
Matanya yang dulu bercahaya kini membara, Dan suaranya yang dulu lembut kini tegas. Dia siap melawan suaminya yang menindasnya, dan mengambil kembali kendali kehidupan yang layak untuk sang istri yang lemah.
"Aku sudah siap bermain!” katanya dengan senyum dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Time traveler Juga
Di malam hari ini nyonya Shofia sengaja mengajak Meysa untuk kembali melakukan makan malam bersama nya. Kali ini semua menu lezat begitu lengkap tersedia di atas meja.
Meysa duduk di hadapan Nyonya Shofia, matanya sekilas memindai meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan mewah.mulai dari hidangan pembuka yang segar, hidangan utama dengan aroma menggugah selera, hingga berbagai macam pencuci mulut yang tampak sangat lezat. Meski perutnya masih terasa kenyang yang penting di moment makan malam kali ini ia bertemu lagi dengan Luiz.
“Tunggu sebentar lagi yah sayang, sebentar lagi Luiz akan turun untuk makan malam bersama kita.."
“Hmm paling nanti Luiz turun sama istrinya itu Tante.."Jawab Meysa dengan memasang wajah yang cemberut.
“Tidak, kamu tenang saja istri nya itu dari pagi pergi dari rumah dan sampai malam ini dia belum juga kembali. Yah semoga saja dia sadar diri dan tidak kembali lagi kerumah ini"
Mendengar jawaban Nyonya Shofia, wajah Meysa yang semula cemberut seketika tersenyum. “Jadi wanita itu pergi dari pagi dan belum kembali yah Tante?"
Nyonya Shofia menghela napas panjang, lalu mengambil segelas air dan menyesapnya pelan. Raut wajahnya terlihat kesal saat membahas menantunya itu. "Iya, Sayang. Kamu tahu kan betapa menyebalkannya wanita itu. Selalu saja bikin masalah di rumah ini. Kehadirannya di sini cuma bikin suasana jadi tidak enak, apalagi buat Luiz. tante sudah lama berharap mereka berpisah, dan kalau dia memang pergi dan tidak mau kembali, itu justru kabar baik buat kita semua."
Meysa mengulum senyumnya seraya menepikan pinggiran rambutnya kebelakang telinga.“Bagus deh Tante kalau istri nya itu pergi jadi kita tidak perlu melakukan rencana untuk memisahkan dia__
Belum sempat Meysa menjawab, suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar turun dari tangga. Meysa menoleh perlahan ke arah sumber suara, dan di sana, terlihat sosok tinggi tegap yang mulai muncul di pandangannya.Luiz, dengan penampilan yang rapi dan aura yang selalu membuat orang di sekitarnya merasa terpesona.
Meysa buru-buru merapikan penampilannya agar selalu terlihat cantik di mata Luiz.Tangan Meysa bergerak cepat merapikan ujung bajunya, menyisir rambutnya sedikit ke belakang dengan jari, dan membetulkan posisi duduknya agar terlihat lebih anggun. Dia bahkan sempat melirik sekilas ke cermin kecil yang ada di tasnya sebelum menyimpannya kembali, berharap tidak ada sedikit pun kekurangan pada penampilannya saat dilihat oleh Luiz.
Luiz melangkah mendekati meja makan, matanya sekilas menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di kursi singgasananya.Dia terlihat cuek tak ada senyuman yang terukir di bibirnya.
“Luiz apa yang kamu lakukan..kamu tidak menyapa Meysa...!"Ucap mamanya.
Luiz hanya mengangkat bahu acuh tak acuh tanpa menoleh sedikit pun ke arah Meysa. Dia duduk dengan tegap di kursinya, lalu langsung mengambil sendok dan garpu seolah kehadiran Meysa dan ibunya tidak ada artinya baginya saat ini. Wajahnya datar, tatapannya kosong tertuju pada piring di depannya, membuat suasana yang tadi hangat seketika menjadi dingin dan canggung.
Nyonya Shofia mengerutkan kening, jelas tidak senang dengan sikap putranya itu. "Hei, Luiz! Apa sikapmu ini. mama bilang kamu harus menyapa Meysa. Dia tamu kita, lho"
Meysa yang melihat reaksi Luiz senyum yang semula terukir di wajahnya perlahan memudar, dan dia buru-buru menunduk menyembunyikan kekecewaannya. Luiz selalu saja begitu, selalu cuek padanya.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki tegas seseorang melangkah mendekati ruang makan."Hay selamat malam Meysa...!"
Suara itu terdengar renyah namun menyiratkan nada menantang, membuat semua orang di meja makan seketika menoleh ke belakang. di sana, berdiri sosok Aleca cantik dengan penampilan nya yang nampak elegan. rambutnya yang indah terlihat terkuncir rapi dan ada kilatan tajam di matanya saat menatap lurus ke arah Meysa.
Mata Meysa terbelalak tak percaya saat mengenali sosok yang berdiri di ambang pintu. "Aleca..." bisiknya pelan.
Nyonya Shofia langsung mengerutkan kening, wajahnya berubah masam seketika. "Kamu...Apa yang kamu lakukan di sini, Aleca!? Bukankah kamu sudah pergi sejak pagi!" Ucap nyonya Shofia Yang jelas dia tidak senang dengan kedatangan menantunya
Aleca melebarkan senyumnya lalu berjalan ke arah mereka.“Tapi setidaknya saya tidak bilang, tidak akan kembali ke rumah ini kan mama! buktinya saya kembali dan ingin bergabung untuk melakukan makan malam karena makan malam kali ini begitu spesial yang di mana mama mengundang artis terkenal...ets bukan terkenal lagi sih, lebih tepatnya karirnya hampir redup"Cibir Aleca sambil menyunggingkan senyum.
Wajah Nyonya Shofia terlihat marah kerena sindiran tajam Aleca. Dia menepuk meja dengan keras, l "Berani sekali kamu bicara begitu, Aleca! Jangan lupa tempatmu di rumah ini. Dan jangan pernah meremehkan Meysa, dia jauh lebih berharga daripada wanita yang cuma bikin masalah seperti kamu!" serunya dengan nada marah.
Meysa yang menjadi sasaran ejekan itu merasa hatinya tersayat, tapi dia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan kelemahannya di depan Aleca. Dia menatap balik wanita itu dengan tatapan tajam "Kamu pikir kamu siapa sampai berani menilai karir saya! Karir bisa naik dan turun, tapi setidaknya aku tidak punya noda hitam di masa laluku yang bikin orang lain jijik," balas Meysa tak kalah pedas, tanpa sengaja menyentuh topik sensitif tentang reputasi Aleca.
Aleca tertawa kecil, suara tawanya terdengar sinis dan menggema di ruangan itu. Dia menarik kursi di seberang Meysa dan duduk dengan santai, seolah dia adalah ratu di sana.“Hahaha Noda hitam seperti apa Meysa..?"
“kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu lah yang menyebabkan tunangan Luiz meninggal iya kan Aleca!?Tanya Meysa dengan nada menuntut.
Luiz yang sedari tadi diam lantas membuka suara.“cukup Meysa! kamu hanya orang asing jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain!"
“Luiz apa yang di katakan Meysa itu benar, kamu justru menikahi Aleca. itu karena kamu dendam kan dan kamu ingin membalaskan dendam kamu pada Aleca karena dialah yang sudah membunuh Ema!"
“Ma sudah cukup!"kali ini Luiz terlihat lebih tegas.“Aku baru sadar yang terjadi pada Ema itu adalah murni kecelakaan bukan salah ALeca"
Aleca terpaku pada Luiz, seolah pria yang ada di hadapannya ini bukanlah seorang Luiz yang sebenarnya.
“Jadi mohon sama mama stop membawa wanita lain ke rumah kita, aku masih memiliki istri ma.dan apa kata orang lain kalau mama berusaha menjodohkan aku dengan wanita lain di saat aku masih memiliki istri, bukan hanya nama baik kita yang hancur maka reputasi perusahaan juga akan hancur!"
Meysa tak tahan lagi pada akhirnya ia menjatuhkan air matanya.dan bangkit dari tempat duduknya.
"Tante, aku pamit pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malamnya," ucapnya singkat, lalu tanpa menunggu balasan siapa pun, dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
...****************...
Luiz masuk ke dalam kamarnya dan melihat ALeca sudah duduk duluan di tepi ranjang.Luiz menghela napas panjang, tapi dia tidak langsung mendekati istrinya, melainkan berdiri di dekat pintu sebentar, menatap punggung wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.“Di dunianya sebelum nya aku mengagumi mu sebagai Kara, dan sekarang aku tidak menyangka setelah kematian itu aku tiba-tiba masuk ke tubuh seorang pria beristri yang ternyata pria itu adalah suami dari Aleca seorang wanita yang wajahnya sama persis seperti Kara orang yang sangat aku cintai"