Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Hadiah
Panel itu masih melayang di hadapannya, namun tak ada lagi suara penjelasan yang menyertai. Gerard tetap berdiri, kaku, tenggorokannya tercekat. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun—sejak awal, keajaiban aneh ini telah membantunya.
Akhirnya, dengan pikiran yang sedikit lebih jernih, ia menelan ludah. “Kamu… siapa sebenarnya?” tanyanya pelan. Suaranya tak mengandung ketakutan, hanya keingintahuan yang membara. Tapi jawaban tak kunjung datang. Gerard menghela napas, lalu memutuskan untuk kembali duduk.
Badannya bersandar pada batang pohon, pandangan tertuju pada aliran sungai yang tenang. Sesekali, siluet seperti ikan melintas lambat. Saat kerikil dilemparkan ke air, bayangan itu pun lenyap. Justru itulah yang meyakinkannya: ini bukan ilusi.
Bertahan semalam, ya? batinnya bergumam. Pikirannya berputar mencari penjelasan yang masuk akal, tetapi situasi ini menentang segala logika. Sudahlah. Hadiahnya lumayan… kalau ini memang nyata.
Setelah meyakinkan diri pada satu hal, Gerard bangkit perlahan. Ia menatap sekeliling—tempat ini gelap, sulit mencari tempat aman, apalagi makanan. Besok pun mungkin akan sama: perut kosong, dingin, dan sendiri.
“Hah…” desahnya pelan. “Satu malam saja, kan? Aku sudah biasa. Sudah lama bertahan begini.” Gumaman itu keluar lebih ringan saat ia kembali merebahkan diri di tanah.
Angin malam menyapu kulitnya, membawa perasaan menggigil. Secara refleks, lututnya ditarik mendekat ke dada, memberinya kehangatan tipis yang masih jauh dari cukup. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Selain dingin, nyamuk-nyamuk hutan juga tak henti mengganggu. Beberapa kali tidurnya tercabik oleh dengung yang sengaja mengintip di telinganya. Sesekali ia berhasil menepak mati satu dua, tapi serangan itu terus berlanjut hingga langit pelan-pelan mulai memutih.
*•*•*
Matahari masih malu-malu di ufuk timur, menghangatkan udara walau hanya sedikit meringankan rasa tak nyaman di tubuh Gerard. Di tepi sungai, ia berjongkok membasuh wajah, berharap sisa kantuk itu pergi.
Tapi tak ada kesegaran yang datang. Ekspresinya masam, matanya berat. Tidur di alam liar ternyata tak semudah yang dibayangkan—perlu pembiasaan yang ia tak punya waktu untuk mempelajarinya.
Ia berdiri lagi, menatap panel samar yang masih menggantung tak jauh darinya. Senyum tipis menguar. Setidaknya perjuangan semalam tak sia-sia.
[Bertahan Semalam]
[Status: Selesai]
[Hadiah: 100 juta + 1 unit rumah]
[Selamat! Misi pertama berhasil!]
[Bonus: 1 unit motor + Toko terbuka]
Rangkaian notifikasi itu muncul mendadak, menyapu buruknya suasana hati Gerard. Semua terasa nyata, sekaligus sulit dipercaya.
Yang paling meyakinkannya adalah: Fitur Toko. Cukup dengan perintah dalam pikiran, panel baru langsung muncul di sampingnya, menampilkan antarmuka yang berbeda. Di pojok kiri atas tertulis “Toko”, disertai saldo persis sesuai hadiah yang baru ia terima. Sayangnya, banyak kategori masih terkunci dengan alasan yang tak dijelaskan.
Satu bagian yang terbuka adalah “Perlengkapan”. Di dalamnya tersusun pakaian, sepatu, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
“Hmm…” Gerard mengelus dagu, matanya menyusuri setiap opsi. Jarinya kemudian menunjuk satu set pakaian sederhana lengkap dengan sepatu. “Warna terang tidak cocok. Hitam atau abu-abu lebih baik. Dan sepatu… harus nyaman untuk jalan jauh.”
Dengan perintah itu, panel "Toko" langsung merespons. Di samping setelan pakaian polos berwarna abu-abu tua dan sepasang sepatu sport berdesain sederhana, muncul angka dengan cepat:
+ Setelan Dasar (Kaos, Celana, Jaket) : 175.000
+ Sepatu Sport Tipe "Trek" : 220.000
─────────────────────
Total: 395.000
Saldo di pojok kiri atas berkedip sesaat, lalu berkurang dari 100.000.000 menjadi 99.605.000.
"Terjangkau," gumam Gerard lirih. Sebuah kotak ringan tiba-tiba muncul di tanah di depannya, terbungkus rapi. Ia membukanya dan langsung merasakan kain yang tebal dan nyaman, berbeda sama sekali dengan pakaian lapuk yang ia kenakan. Sepatunya terasa kokoh dan empuk di pegang.
Perlahan, sensasi aneh menyebar di dadanya. Ini bukan sekadar transaksi. Ini adalah pengakuan—bahwa perjuangan semalam itu nyata, dan hari barunya benar-benar dimulai dengan sebuah awal yang konkret.
Memang, Gerard masih memendam pertanyaan besar tentang alasan di balik semua ini. Namun, ia merasa yakin—suara itu akan memberikan penjelasan ketika waktunya tepat. Sampai saat itu tiba, tak ada gunanya menolak kemurahan yang telah diberikan kepadanya.
Dengan keyakinan bahwa sekelilingnya benar-benar sepi dan tak mungkin ada orang, Gerard dengan gesit melepas pakaian lamanya, berusaha menghindari gigitan udara dingin. Kaus tipis yang telah compang-camping dengan cepat ia ganti dengan bahan yang lebih tebal dan menghangatkan tubuh. Begitu pula dengan celana baru—terasa nyaman, pas di badan, dan lentur untuk bergerak.
Sandal jepitnya yang nyaris lepas dari sol tak perlu lagi dibandingkan dengan sepatu sport yang kini ia kenakan. Desainnya simpel, hitam-putih, tak berlebihan namun terlihat elegan. Gerard mencoba melompat-lompat kecil, lalu berlari di tempat. Kakinya terasa ringan dan ditopang dengan sempurna—nyaman, kokoh, siap untuk melangkah lebih jauh.
Senyum itu merekah, lebar dan tulus. Sudah lama sekali, Gerard tak merasakan kenyamanan semacam ini. Meski kulitnya masih dipenuhi bentol-bentol bekas gigitan nyamuk dari semalam, rasa itu tak mampu mengikis bahagia yang mengisi dadanya. Hari ini bukan cuma spesial—ini hari teraneh, sekaligus terbaik, dalam hidupnya yang berbelok arah.
Dia menatap panel yang masih setia melayang di udara, dan kali ini, pandangannya tak lagi penuh kecurigaan atau kebingungan, tetapi sebuah penerimaan yang lapang.
"Aku nggak tahu siapa kamu, atau dari mana asalmu," bisiknya, suara parau namun ringan. "Yang penting… terima kasih untuk uangnya, untuk rumahnya, untuk semua ini."
Dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan, Gerard memfokuskan pandangannya kembali pada panel notifikasi. Seolah menangkap keinginannya, panel itu memperbarui tampilannya, menampilkan detail yang lebih spesifik tentang hadiah yang masih abstrak baginya.
[Detail Hadiah]
· Rumah: 1 unit rumah tipe 36 (lantai 1) di Perumahan Taman Melati, Cluster Angsana, Blok D7 No. 3. Status: siap huni. Kunci & dokumen tersimpan di [Inventori - Fitur Baru]. Lokasi dapat diakses melalui [Peta Navigasi - Fitur Baru].
· Motor: 1 unit skutik matic Vario 125cc, warna hitam doff. Posisi: terparkir di garasi rumah terkait. STNK tersimpan bersama dokumen rumah.
[Fitur Terkait Terbuka]
· Inventori: Ruang penyimpanan dimensi terbatas (4 slot) untuk barang yang diperoleh dari sistem. (Motor, kunci rumah & dokumen telah tersimpan di sini).
· Peta Navigasi: Tampilan peta interaktif dengan penanda lokasi penting. Dapat menampilkan rute.
Informasi itu muncul jelas, mengubah sesuatu yang samar menjadi sangat nyata. Sebuah alamat. Sebuah jenis kendaraan. Perumahan Taman Melati—ia pernah mendengar nama itu, sebuah kompleks sederhana namun terawat di pinggiran kota yang jauh dari hutan tempatnya berdiri sekarang.
"Jadi... bukan cuma angka di layar," gumamnya, suara parau berdesis pelan. Perasaan aneh merayap di dadanya, campur aduk antara rasa tidak percaya dan sebuah harapan kecil yang mulai bersinar. Rumah. Sebuah tempat untuk kembali, untuk berlindung, yang bukan sekadar tenda atau bawah jembatan.
Matanya beralih ke bagian [Peta Navigasi]. Dengan perintah dalam pikiran, sebuah peta semi-transparan terbentang. Sebuah penanda berkedip hijau di tepi kota, bertuliskan 'Rumah'. Jaraknya... masih jauh. Sangat jauh untuk ditempuh berjalan kaki.
Lalu pandangannya jatuh pada deskripsi motor di inventori. Vario 125cc. Cukup irit, tangguh, cocok untuk jarak jauh. Senyum tipis akhirnya merekah di wajahnya yang lelah. "Hari ini," katanya pada diri sendiri, suaranya lebih mantap, "tujuannya jelas."
Dengan pakaian baru yang hangat, sepatu yang nyaman, sebuah tujuan, dan kendaraan yang menunggu di inventori, beban di pundaknya terasa lebih ringan. Dinginnya pagi seakan tak lagi menggigit sampai ke tulang. Ia mengangkat kepala, menatap arah matahari yang kini mulai naik.