NovelToon NovelToon
GERBANG COSMIC

GERBANG COSMIC

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Sistem / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsyTamp

akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 – Jeda yang Mencekam

Kota belum sepenuhnya pulih dari kekacauan.

Asap masih mengepul dari beberapa bangunan yang rusak. Jalan utama ditutup garis kuning polisi, sementara kendaraan darurat lalu-lalang tanpa henti. Wajah-wajah panik terlihat di mana-mana—orang-orang yang baru beberapa jam lalu hidup normal, kini harus menerima kenyataan bahwa monster benar-benar ada.

Rey berdiri di pinggir jalan bersama Leoni, memperhatikan petugas mengevakuasi warga yang terluka.

“Rasanya kayak mimpi buruk yang belum selesai,” gumam Leoni.

Rey mengangguk pelan.

“Ini baru awal.”

Di kehidupan sebelumnya, setelah monster pertama muncul, selalu ada jeda. Jeda yang terasa seperti ketenangan palsu. Dunia seakan diberi waktu singkat untuk bernapas sebelum dihantam gelombang berikutnya.

Dan jeda itu… justru yang paling menakutkan dimana orang-orang mulai membuat keributan.

Sebuah kendaraan militer berhenti di depan mereka. Seorang pria berseragam turun dan mendekat.

“Kalian yang melawan monster tadi?”

Leoni hendak menjawab, tetapi Rey lebih dulu mengangguk.

“Iya.”

“Kami dari unit tanggap khusus. Pemerintah ingin mendata semua orang yang membangkitkan kemampuan.”

Rey menghela napas dalam hati.

Akhirnya sampai juga ke tahap ini…

Mereka dibawa ke sebuah gedung darurat yang dijadikan pusat komando sementara. Di dalamnya, sudah ada puluhan orang lain dengan wajah kebingungan dan ketakutan. Beberapa terlihat menatap layar transparan di depan mata mereka dengan panik, perubahan sangat cepat terjadi.

“Kayaknya kita dikumpulin buat jadi eksperimen,” bisik Leoni.

“Tenang. Selama kita kooperatif, mereka nggak akan bertindak sembarangan,” jawab Rey pelan.

Namun di dalam pikirannya, Rey sudah membuat keputusan.

Mereka boleh tahu soal tameng.

Tapi tidak boleh tahu soal ruang dimensi.

Ia tidak akan membiarkan kekuatan terbesarnya jatuh ke tangan pemerintah atau pihak mana pun.

Seorang petugas mendekat membawa tablet.

“Nama?”

“Rey.”

“Kemampuan?”

Rey mengangkat tangannya. Tameng transparan muncul tipis di udara.

“Tameng energi. Jarak maksimal sepuluh meter.”

Beberapa orang di ruangan itu langsung menoleh.

“Pertahanan murni?” gumam seseorang.

Petugas itu terlihat tertarik.

“Kemampuan seperti ini sangat penting. Kamu mungkin akan dimasukkan ke unit pertahanan kota.”

Rey hanya mengangguk.

Tidak ada satu pun kata tentang ruang dimensi.

Menyusul Leoni juga ditanyain.

"Nama?"

"Leoni"

"Kemampuan? "

Leoni menunjukan busur energi kepada petugas.

"Ini Busur otomatis"

Petugas itu juga terlihat tertarik.

"Kemampuan jarak jauh ya, ini sangat bagus, kamu mungkin akan dimasukan ke unit penyerang"

Leoni tersenyum tipis.

Sementara itu, di sudut ruangan, seorang pemuda bertubuh tegap berdiri sambil menyandarkan diri ke dinding. Kepalanya botak mengilap, kulitnya sedikit gelap karena terbakar matahari, dan wajahnya dihiasi senyum santai yang kontras dengan suasana tegang di sekitarnya.

Ia mengenakan jaket hitam tanpa lengan, memperlihatkan otot lengannya yang padat.

Pemuda itu memperhatikan Rey dan Leoni dari jauh.

“Oi,” katanya tiba-tiba sambil berjalan mendekat. “Kalian yang melawan monster tadi, kan?”

Rey menoleh waspada.

“Iya.”

Pemuda itu tersenyum lebar.

“Nama gue Boy. Tentara bayaran. Umur dua puluh satu.”

Leoni mengerjap.

“Tentara… bayaran?”

Boy mengangguk santai.

“Kerja serabutan di zona konflik luar negeri. Lagi pulang kampung, eh malah disambut monster.”

Ia mengangkat tangannya. Api kecil menyala di telapak tangannya, berwarna oranye terang.

“Kekuatan gue: api.”

Leoni membelalakkan mata.

“Keren…”

Boy tertawa kecil.

“Tapi belum bisa gede. Masih kayak korek gas.”

Rey memperhatikan Boy dengan lebih teliti. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah bertemu pria ini. Tapi dari sikapnya… Rey bisa merasakan sesuatu yang berbeda.

Tenang.

Percaya diri.

Dan tidak panik seperti yang lain.

“Kamu nggak takut?” tanya Rey.

Boy mengangkat bahu.

“Takut sih. Tapi kalau cuma takut doang, ya mati. Gue lebih milih siap.”

Jawaban itu membuat Rey sedikit terkejut.

“Kamu sendirian?”

Boy mengangguk.

“Orang tua gue di luar kota. Sinyal putus. Jadi… ya, sekarang gue sendirian.”

Leoni menatapnya dengan iba.

“Oh…”

Boy tersenyum lagi.

“Tapi sekarang kan ketemu kalian.”

Rey terdiam sejenak, lalu berkata,

“Monster berikutnya belum muncul.”

Boy menyipitkan mata.

“Belum?, maksudnya akan ada yang berikutnya?”

“Ini masih jeda.”

Boy bersiul pelan.

“Jadi kita kayak nunggu bom jatuh.”

“Kurang lebih.”

Malam mulai turun. Kota diterangi lampu darurat dan sorotan kendaraan militer. Namun tidak ada monster. Tidak ada suara auman. Tidak ada getaran tanah.

Hanya kesunyian yang terasa terlalu tebal.

Rey berdiri di atap gedung pusat komando, menatap langit.

Leoni berdiri di sampingnya, sementara Boy duduk di pagar atap sambil memainkan api kecil di jarinya.

“Sepi banget ya,” kata Leoni.

“Justru itu yang bikin nggak enak,” jawab Rey.

Boy memandang ke arah jalan kosong.

“Biasanya sebelum perang, juga gini. Sunyi.”

Leoni menoleh.

“Beneran tentara, ya kamu?”

Boy tersenyum tipis.

“Udah lihat banyak mayat. Monster atau manusia, rasanya nanti bakal sama aja.”

Rey mengepalkan tangannya.

“Monster berikutnya bukan yang kecil.”

Boy menoleh cepat.

“Kamu tahu?”

“Firasat.”

Leoni menatap Rey dengan ragu.

“Kadang aku mikir… kamu tahu terlalu banyak.”

Rey tidak menjawab.

Angin malam berembus membawa bau asap dan debu.

Di kejauhan, layar peringatan kota masih berkedip:

STATUS DARURAT: AKTIF

Boy melompat turun dari pagar dan berdiri di samping Rey.

“Kalau nanti monster datang lagi…”

Ia menatap Rey dengan mata serius.

“Gue mau bertarung bareng kalian.”

Leoni terkejut.

“Kita bahkan baru kenal.”

Boy tersenyum ramah.

“Di medan perang, yang penting bukan kenal lama. Tapi saling jaga.”

Rey menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Baik.”

Namun di dalam hatinya, Rey tetap waspada.

Tidak ada yang boleh tahu tentang ruang dimensi.

Termasuk Boy.

Itu adalah kartu truf terakhirnya.

Ia menatap langit yang mulai dipenuhi awan gelap.

Gelombang kedua akan datang…

Namun malam ini, monster belum muncul.

Yang ada hanya kota yang menunggu kehancuran berikutnya.

Dan tiga orang yang berdiri di tengah jeda sebelum bencana.

Kota masih berdiri,

monster belum kembali,

namun ketegangan terus menumpuk.

Rey mulai diperhatikan karena kekuatan pertahanannya begitupun Leoni dengan kekuatannya.

Boy, pengguna api, memasuki lingkaran mereka.

Dan ruang dimensi tetap menjadi rahasia.

1
Mahlubin Ali
itu itu aja dialognya🤣🤣🤣. Bab lalu sama bab sekarang dialog hampir sama. novel aneh
EsyTamp: thanks bang koreksi ny, akan lebih sy perhatikan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!