Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 20 — Bukan Kebetulan Biasa
Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya, seolah malam kemarin hanyalah bayangan yang belum sepenuhnya hilang. Elizabeth melangkah keluar dari rumah dengan tas kerja tersampir di bahunya. Pikirannya masih dipenuhi kejadian di gang sempit semalam dan pria asing yang terlalu percaya diri menganggap dirinya sebagai penyelamat.
Ia baru saja menutup pintu ketika sebuah suara terdengar di sampingnya.
“Selamat pagi.”
Elizabeth menoleh cepat.
Pria itu berdiri santai beberapa langkah dari rumahnya, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Senyum tipis terukir di wajahnya, seolah pertemuan semalam hanyalah kebetulan kecil yang menggelikan.
Elizabeth mengenalinya dalam sekejap pria asing yang menariknya ke gang sempit itu. Rasa terkejut melintas di wajahnya sebelum ia berhasil menyembunyikannya. Matanya langsung memicing curiga. Ia menelisik penampilan pria itu dari atas hingga ke bawah, kemeja gelap yang digulung sampai siku, sepatu yang masih tampak bersih, rambut yang tertata rapi.
Sekilas, pria itu tidak terlihat seperti penguntit jalanan. Tidak pula seperti pria yang bergerak tanpa tujuan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dingin.
Pria itu tersenyum lebih lebar. “Keluar rumah, sama sepertimu. Apakah kau mau pergi bekerja?” tanyanya pelan.
Elizabeth memicingkan mata. “Untuk apa kau mengikutiku? Dan bagaimana kau tahu di mana aku tinggal?”
Nada suaranya tajam, tanpa basa-basi. Ia tidak suka wilayah pribadinya disentuh, apalagi oleh orang yang baru ia kenal semalam dalam situasi mencurigakan.
Pria itu tertawa pelan, suara tawanya ringan namun terasa seperti ejekan tipis. “Kau terlalu percaya diri, Nona.”
Elizabeth mengernyit. Kesal mulai merambat di dadanya.
Sebelum ia sempat membalas, pria itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah rumah di sebelahnya.
“Rumahku di sana,” ujarnya santai.
Elizabeth mengikuti arah telunjuknya. Rumah di sampingnya.
Pintu depannya masih tertutup, tirainya sedikit terbuka, tampak jelas sebagai hunian yang telah ditempati. Bukan bangunan kosong ataupun properti tak berpenghuni.
Ia terdiam sesaat.
“Namaku Sullivan,” lanjut pria itu, kini tanpa nada mengejek. “Kita adalah tetangga. Setidaknya bersikaplah ramah terhadap tetanggamu sendiri.”
Elizabeth kembali menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Otaknya bekerja cepat, mencoba mengingat apakah rumah itu memang sudah lama berpenghuni atau baru saja ditempati seseorang. Ia jarang memperhatikan lingkungan sekitar kecuali jika benar-benar diperlukan.
“Oh,” gumamnya singkat, meski jelas ia tidak merasa tertarik sama sekali.
Sullivan memperhatikan reaksinya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Kau terlihat kecewa saat tahu aku adalah tetanggamu,” kata Sullivan mengejek.
“Aku terlalu sibuk untuk berbasa-basi,” balas Elizabeth datar.
Ia tidak ingin memperpanjang percakapan. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah melewati Sullivan dan berjalan menuju jalan utama. Tumit sepatunya mengetuk trotoar dengan ritme tegas.
Namun baru beberapa langkah, suara Sullivan terdengar cukup keras di belakangnya.
“Hei, Elijah!”
Ia berhenti sejenak, bukan karena terkejut, melainkan karena tidak menyukai nada panggilan itu. Ia menoleh setengah badan.
Sullivan berdiri di depan pagar rumahnya, ekspresinya kini berbeda dari tadi. Senyum tipis itu menghilang, digantikan tatapan serius.
“Selalu berhati-hatilah,” katanya. “Tidak semua orang yang mengikutimu punya niat baik.”
Elizabeth menatapnya beberapa detik lebih lama. Ucapan itu terdengar seperti peringatan atau ancaman yang dibungkus kepedulian. Ia tidak bisa memastikan tepatnya.
Namun satu hal yang pasti, ia tidak suka cara pria itu berbicara seolah tahu lebih banyak dari yang seharusnya.
Elizabeth memalingkan wajahnya tanpa membalas, lalu kembali melangkah pergi. Ia memilih untuk tidak memedulikannya, meskipun pikirannya tidak sepenuhnya tenang.
Bertemu sekali bisa disebut kebetulan. Bertemu dua kali, tepat di depan rumahnya sendiri, terasa seperti awal sesuatu yang lain. Angin pagi berembus pelan ketika Elizabeth berjalan semakin jauh. Ia tidak menoleh lagi, tetapi ia bisa merasakan tatapan Sullivan masih melekat di punggungnya.
***
Kamar Jean masih menyisakan aroma parfum yang samar, bercampur dengan wangi kayu lemari yang sudah lama tak dibuka sepenuhnya. Tirai jendelanya setengah terbuka, membiarkan cahaya siang masuk dalam garis-garis tipis yang jatuh tepat di atas tempat tidur yang kini kosong.
Elizabeth berdiri di depan lemari pakaian, jemarinya menyentuh deretan kemeja yang tergantung rapi. Ia bergerak pelan, seolah benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Namun pikirannya tidak pernah benar-benar diam.
Ia baru saja menarik satu jaket dari gantungannya ketika suara pintu terbuka terdengar tanpa ketukan. Elizabeth menoleh cepat.
“Sedang apa kau?” tanya Isaac yang berdiri di ambang pintu. Kehadirannya begitu tiba-tiba hingga udara di dalam kamar terasa berubah.
Pria itu tidak langsung masuk. Ia hanya menatap Elizabeth dalam diam, sorot matanya menyapu wajah perempuan itu dengan intensitas yang tak biasa. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu, bukan sekadar penasaran, melainkan rasa curiga.
Elizabeth perlahan menutup pintu lemari dan berbalik sepenuhnya menghadapnya. Ia sempat hendak melanjutkan pekerjaannya, tetapi tatapan Isaac terlalu tajam untuk diabaikan.
Pria itu kemudian melangkah masuk. Isaac berjalan mendekati Elizabeth hingga jarak di antara mereka tak lagi terasa nyaman.
Elizabeth yang semula sedikit membungkuk untuk merapikan pakaian Jean kini berdiri tegak. Bahunya lurus. Dagunya terangkat sedikit. Ia menatap balik Isaac tanpa ragu.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyanya tenang.
Isaac tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala tipis, seolah sedang membandingkan wajah di hadapannya dengan bayangan yang tersimpan dalam ingatannya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya tiba-tiba, suaranya lantang dan tajam.
Pertanyaan itu menggema di dalam kamar yang sunyi.
Elizabeth tidak berkedip.
“Aku Elijah,” jawabnya jelas. “Perempuan yang sama yang sudah kau nodai dan lukai.”
Kata-katanya jatuh dengan dingin, tanpa getar, tanpa ragu.
Untuk sepersekian detik, wajah Isaac menegang. Namun ia segera menggeleng pelan.
“Tidak,” katanya tegas. “Kau bukan Elijah.”
Udara terasa semakin berat bersamaan dengan yang Elizabeth memicingkan mata.
“Bagaimana kau tahu aku bukan Elijah?” balas Elizabeth, balik menatap pria itu dengan berani.
Isaac mendekat satu langkah lagi, cukup untuk melihat detail wajahnya lebih jelas. “Elijah tidak pernah menatapku seperti ini,” ucapnya pelan namun pasti. “Ia tidak pernah berdiri setegak ini. Ia tidak pernah berbicara tanpa gemetar.”
Keheningan merayap di antara mereka.
Elizabeth tersenyum tipis, senyumnya hampir tak terlihat. “Orang bisa saja berubah,” balasnya ringan.
“Memang, tapi tidak secepat ini,” sahut Isaac. “Ada sesuatu dalam dirimu yang sangat berbeda dengan Elijah, dan aku langsung tahu, matamu mengatakan yang sebenarnya.
Elizabeth bisa melihat kebingungan bercampur keyakinan di mata pria itu. Isaac bukan sekadar menebak, ia benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak sesuai.
Beberapa detik berlalu sebelum Elizabeth akhirnya melontarkan pertanyaan balik, nadanya datar namun menusuk. “Memangnya kenapa jika aku bukan Elijah yang asli? Apakah hal itu membuatmu takut?”
Isaac terdiam. Pertanyaan itu bukan penyangkalan. Bukan pula pengakuan, melainkan sebuah tantangan baginya.
Sinar matahari yang masuk melalui tirai jatuh tepat di antara mereka, membelah ruangan menjadi dua sisi yang kontras, terang dan bayangan.
Isaac mengepalkan tangannya kuat. “Tidak. Siapa bilang aku takut? Aku hanya ingin memastikan saja,” katanya pelan.
Elizabeth tidak menjawab, tetapi mendengar nada suara Isaac yang tertahan, ia tahu jelas bahwa pria itu tengah gemetar, hanya saja terlalu pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya.
Elizabeth terus menatapnya, seolah menikmati ketegangan yang perlahan tumbuh di wajah Isaac. “Benarkah? Tapi sepertinya, kau takut.” Elizabeth tersenyum tipis
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇