NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ijasah bisa dibeli

...​"Ijazah Bisa Dibeli, Kursi Sekretaris Bisa Diduduki, Tapi Aura Minyak Kukang Tak Bisa Diganti."...

......................

"Aku kangen sekali!" Broto mengerang, suaranya parau, pecah oleh kerinduan yang seolah mencekik kerongkongannya selama mereka terpisah.

​Malam kelima itu berakhir dengan napas yang sisa satu-satu, berat dan memburu di ceruk leher Syifa. Broto tersungkur, membenamkan wajahnya di dada Syifa seolah-olah seluruh dunianya hanya ada di sana. Ia memeluk pinggang gadis itu dengan dekapan yang menyakitkan—begitu posesif, begitu rapuh—seolah jika ia melonggarkan pegangannya sedetik saja, nyawanya akan ikut melayang.

​Ruangan mewah itu masih dipenuhi uap panas dan aroma mistis Minyak Kukang yang menguar hebat dari keringat mereka. Bagi Broto, aroma itu adalah candu paling memabukkan yang pernah ia rasakan, namun di alam gaib, itu adalah wangi tumbal yang sedang dipersiapkan.

​Di tengah keheningan pasca-badai yang begitu intim, ponsel Broto bergetar di atas karpet bulu. Di layarnya, wajah seorang wanita cantik berpakaian elegan muncul dengan nama: "My Wife."

​Syifa melirik ponsel itu dengan tatapan dingin, jemarinya perlahan menyisir rambut Broto yang basah. "Istrimu," bisiknya lirih, suaranya bergetar antara cemburu dan rasa kuasa.

​Broto bahkan tidak sudi melirik. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di kulit Syifa yang harum. Dengan gerakan buta, ia meraih ponsel itu dan mematikannya tanpa sisa, lalu melemparnya sembarang arah. Fokusnya hanya satu: menghirup aroma Syifa yang seolah memberikan nyawa buatan baginya.

​"Jangan bahas dia. Aku hanya mau kamu," desis Broto, suaranya serak oleh gairah yang tak kunjung padam meski tubuhnya sudah di ambang batas.

Ponsel di atas karpet bulu itu kembali berteriak, menggetarkan lantai apartemen yang sunyi. Layarnya menyala terang, memamerkan panggilan video dari sang istri yang tak menyerah, seolah-olah wanita di seberang sana bisa merasakan ada sesuatu yang sedang merampas suaminya secara perlahan.

​Broto bahkan tidak menoleh ke arah ponselnya. Dengan gerakan malas yang penuh pengabaian, ia meraih perangkat itu hanya untuk mematikan dayanya setelah sebelumnya mengirim pesan singkat dingin yang sudah ia siapkan: "Masih rapat direksi. Jangan ganggu." Baginya, wanita di balik layar ponsel itu hanyalah bayangan masa lalu yang tak lagi memiliki warna.

​"Sayang, apa kamu nggak kangen istri? Sudah dua bulan lho kamu nggak pulang. Pasti dia menangis mencarimu terus," pancing Syifa. Suaranya terdengar lembut dan seolah peduli, padahal di balik itu, hatinya sedang menari-nari penuh kemenangan melihat pria ningrat ini benar-benar telah menjadi budak di bawah kakinya.

​"Persetan dengan dia. Aku bahkan sudah lupa bagaimana wajahnya," jawab Broto mutlak tanpa keraguan sedikit pun. Matanya yang sayu, yang kini tampak semakin cekung namun berkilat liar, menatap Syifa dengan pemujaan yang hampir terlihat seperti kegilaan. "Aku lebih milih dicariin kamu sampai gila, daripada harus pulang ke rumah itu. Kamu adalah satu-satunya candu yang aku punya, Syifa."

​Syifa tersenyum lebar, sebuah senyum kemenangan yang dingin. Di dalam dekapan mewah ini, ia hampir benar-benar melupakan peringatan Nenek Lamiang bahwa hubungan ini memiliki batas yang mematikan. Logikanya telah tertutup rapat oleh tumpukan tas branded yang berjejer, saldo rekening yang angkanya tak masuk akal, dan kuasa penuh untuk mengendalikan pria paling berpengaruh di Jakarta.

​Siapa yang peduli pada malam ketujuh dan segala kutukannya, kalau di malam kelima saja aku sudah bisa membuat raja menjadi hamba? batinnya sombong. Ia merasa telah memenangkan permainan hidup, tanpa menyadari bahwa Minyak Kukang di atas nakas sedang berdenyut kencang, seolah sedang menertawakan kenaifannya.

Ia bangkit perlahan, tubuhnya meliuk seperti ular yang sangat cantik namun mematikan. Syifa berpindah posisi, duduk tepat di atas pangkuan Broto dengan keanggunan seorang ratu. Daster satin merahnya yang tipis meluncur di atas kulitnya yang berpendar, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan panas tubuh Broto yang membara. Dengan jari telunjuknya, ia mulai melukis pola lingkaran kecil di dada bidang pria itu—sebuah tarian jari yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun.

​"Tapi sayang... ada satu hal yang bikin aku sedih," Syifa memasang wajah murung yang dibuat-buat, kelopak matanya bergetar seolah menyimpan beban yang berat. "Aku merasa nggak pantas berdiri di sisi kamu. Teman-teman baru yang aku temui di mall kemarin semuanya sarjana. Mereka bicara soal bisnis dan gelar yang tinggi. Sementara aku? Aku cuma lulusan SMP. Wanita bodoh yang beruntung mendapatkanmu."

​Broto tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat berkuasa sekaligus meremehkan seluruh tatanan dunia pendidikan. "Gampang, sayang. Di dunia ini, segala sesuatu ada harganya jika kau tahu siapa yang harus dibayar. Kamu mau titel apa? Kamu mau ijazah S1? S2? Atau S3 dari luar negeri sekalipun? Besok pun bisa aku datangkan aslinya, lengkap dengan stempel dan tanda tangan rektornya di depan meja riasmu."

​Syifa mengerling nakal, matanya berkilat penuh tipu daya yang jahil. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Broto, membiarkan embusan napasnya yang hangat membakar saraf pria itu, lalu membisikkan sesuatu yang membuat mata Broto terbelalak sekaligus terhibur.

​"Kalau ijazah S4 ada nggak, Sayang?"

​"S4? Gelar apa itu?" Broto mengernyit heran, namun tangannya semakin erat memeluk pinggang Syifa.

​Syifa terkekeh, tangannya meremas pelan bibir Broto sebelum menjawab dengan suara yang sangat intim, "S4. Sekali Sentuh Seluruhnya Senang! Itu titel khusus yang hanya bisa kau dapatkan dariku."

​Tawa Broto pecah memenuhi ruangan Presidential Suite itu. Ia merasa Syifa adalah satu-satunya oksigen yang membuatnya bisa bernapas kembali di tengah kekakuan hidupnya yang penuh protokol.

​Benar saja. Hanya dalam satu malam, keajaiban kekuasaan bekerja lebih cepat dari logika. Satu keinginan Syifa terpenuhi lagi. Kini di atas meja marmernya, tergeletak map kulit berisi ijazah SMA, S1 Teknik Informatika dengan namanya yang tertulis indah. Tanpa harus menyentuh bangku kuliah, ia telah melompati kasta intelektual secara instan.

​Ponselnya berdering. Broto yang sedang berada di Singapura untuk urusan bisnis seolah tak sabar menanyakan apakah "hadiah" itu sudah mendarat di tangannya.

​"Sayang, sekarang ijazahmu sudah lengkap. Bagaimana kalau kau mulai bekerja?" suara Broto terdengar berat oleh rindu di seberang telepon.

​"Tapi kan aku cuma punya ijazah pura-pura saja, sayang. Aku bahkan tak tahu cara menyalakan laptop yang benar," Syifa terkekeh, jari-jarinya memainkan ujung rambutnya.

​"Kau akan bekerja menjadi sekretaris pribadiku. Tugasmu hanya satu: mengurusi diriku. Kau tidak perlu jago komputer beneran," desis Broto penuh arti.

​Syifa tertawa manja, suaranya seperti denting lonceng yang mematikan. "Jadi aku nggak perlu jago ngetik ya, Sayang? Tapi perlu aku yang hebat dalam urusan... hmm, gelitik-gelitik itu ya?"

​"Iya sayang, aku kangen sekali. Bisnisku tak bisa kutinggalkan, jadi membawamu sebagai sekretaris adalah satu-satunya jalan agar rindu ini tak menyiksa," sahut Broto mutlak.

​Syifa merasa di atas angin. Broto sudah benar-benar jatuh cinta, bahkan mulai berani membiarkan hubungan gelap mereka terungkap perlahan ke publik dengan dalih pekerjaan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; istrinya yang lulusan Amerika dengan ijazah asli sekalipun, ternyata tak mampu menandingi daya pikatnya yang "palsu" namun mematikan. Broto sudah terikat, bukan hanya oleh cinta, tapi oleh jerat Minyak Kukang yang kini menuntut untuk dibawa ke ranah yang lebih tinggi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!