Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 DELLA NIKAH
Suasana pagi itu berubah menjadi lebih ramai
Ada canda kecil
Ada senyum yang tertahan
Ada tatapan yang sesekali saling bertemu lalu cepat menghindar
Dan di antara aroma nasi hangat dan teh manis, Nadira mulai merasa—
Mungkin… pulang bukan keputusan yang salah
Suasana meja makan perlahan kembali tenang setelah semua selesai sarapan
Mama terlihat lebih segar pagi itu
Wajahnya tidak sepucat beberapa hari lalu
Raka membantu mengangkat piring ke dapur
“Tidak usah” kata Nadira cepat
“Tidak apa-apa” jawab Raka santai “Biar cepat selesai”
Abah memperhatikan dari kursinya
“Kalau setiap hari begini, Abah tidak keberatan” gumamnya pelan
“Bah” Nadira langsung melotot
Mama tersenyum tipis
Setelah dapur kembali rapi, Raka berdiri di teras bersama Nadira
Angin pagi kampung berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan
“Kamu hari ini ada rencana” tanya Raka
Nadira menggeleng
“Tidak. Mau di rumah saja. Kenapa”
Raka memasukkan tangan ke saku celananya
“Kalau Mama sudah istirahat dan Abah ada di rumah… mau lihat proyek sekolah yang kemarin”
Nadira terdiam sejenak
Ia menoleh ke dalam rumah
Mama sedang duduk santai membaca doa, Abah di sampingnya
“Jauh” tanya Nadira
“Tidak. Lima belas menit dari sini”
Nadira berpikir beberapa detik
“Sebentar saja” katanya akhirnya
Raka tersenyum kecil
“Baik”
Nadira masuk kembali ke dalam rumah
“Mah, Bah… Dira keluar sebentar”
Mama langsung menoleh
“Sama siapa”
“…Sama Raka”
Abah pura-pura batuk kecil
“Mau ke mana” tanya Mama
“Lihat proyek sekolahnya”
Mama saling pandang dengan Abah
“Pergi saja” kata Abah santai “Mama sudah lebih baik”
“Tapi jangan lama-lama” tambah Mama
“Iya, Mah”
Entah kenapa Nadira merasa seperti anak SMA yang izin pergi
Nadira duduk di jok belakang motor Raka
Sudah lama ia tidak dibonceng seperti ini
Di Jakarta ia selalu naik ojek online atau kendaraan umum
“Pegang saja kalau takut” kata Raka tanpa menoleh
“Tidak takut”
Motor melaju pelan menyusuri jalan desa
Sawah membentang di kiri kanan
Langit biru terang
Anak-anak kecil bersepeda sambil tertawa
Angin membuat rambut Nadira sedikit berantakan
Entah kenapa suasana itu terasa… ringan
Motor berhenti di depan bangunan dua lantai yang masih baru
Catnya putih bersih dengan garis biru muda
Halamannya luas
“Ini” tanya Nadira
“Iya”
Nadira turun dan menatap bangunan itu
“Bagus”
Raka tersenyum tipis
“Masih finishing”
Mereka masuk ke dalam
Beberapa pekerja masih mengecat bagian tangga
Ruang kelasnya terang, jendelanya besar
Udara terasa sejuk
Nadira berjalan pelan menyusuri koridor
“Kamu yang desain semua ini”
“Tim” jawab Raka “Tapi konsep utamanya dari saya”
“Apa konsepnya”
Raka berhenti di depan salah satu kelas
“Sekolah desa seringkali minim cahaya dan ventilasi. Saya ingin anak-anak di sini merasa nyaman. Supaya mereka betah belajar”
Nadira menatap jendela besar itu
“Kenapa kamu peduli sekali”
Raka terdiam sebentar
“Karena dulu sekolah saya juga sederhana. Tapi guru-gurunya baik. Saya ingin tempat ini bisa jadi awal masa depan mereka”
Nadira menoleh menatapnya
Tidak ada nada pamer
Tidak ada kesombongan
Hanya ketulusan
“Kamu selalu seserius ini” tanya Nadira pelan
Raka tersenyum kecil
“Tidak juga”
“Kenapa waktu di rumah kamu lebih banyak diam”
“Saya sedang mengamati”
“Mengamati apa”
“Kamu”
Nadira terdiam
“Kenapa”
Raka menatapnya langsung
“Kamu terlihat kuat. Tapi juga seperti sedang menahan sesuatu”
Jantung Nadira berdetak lebih cepat
“Kamu baru kenal saya”
“Tidak sepenuhnya” jawab Raka pelan “Saya sudah dengar cerita tentang kamu dari Tante dan Om”
Nadira menghela napas
“Cerita yang bagus atau yang menyebalkan”
“Campur”
Mereka tertawa kecil
Mereka masih duduk di bangku kelas ketika Raka tiba-tiba berdiri
“Sudah siang” katanya pelan sambil melihat jam tangannya
Nadira ikut berdiri
“Kita pulang”
Raka tampak ragu sesaat
“Kalau… kamu tidak keberatan, saya mau ajak kamu ke satu tempat lagi”
Nadira mengerutkan kening
“Ke mana”
Nadira masuk ke dalam rumah lebih dulu, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat.
Di ruang tengah, Raka duduk sebentar di ruang tamu. Abah ikut duduk di hadapannya.
“Nah, bagaimana proyeknya?” tanya Abah.
“Alhamdulillah, hampir selesai.”
Nadira keluar dari dapur membawa air minum.
“Proyeknya bagus,” katanya singkat.
Mama langsung tersenyum penuh arti.
“Oh ya?”
“Iya, Mah. Ruang kelasnya terang. Banyak jendelanya.”
Raka menoleh padanya, sedikit terkejut karena Nadira memuji dengan tulus.
Abah mengangguk pelan.
“Itu penting. Anak-anak harus nyaman belajar.”
Suasana terasa hangat, tidak canggung seperti hari pertama.
Beberapa menit kemudian, Raka berdiri.
“Saya pamit dulu, Tante. Om.”
Mama mengangguk.
“Hati-hati di jalan.”
Raka menoleh pada Nadira.
“Sampai nanti.”
Nadira mengerutkan dahi.
“Nanti?”
“Saya biasanya sore lewat sini.”
Nadira belum sempat menjawab, Mama sudah lebih dulu berkata,
“Iya, nanti saja mampir lagi.”
“Mah…” bisik Nadira pelan.
Raka tersenyum tipis, lalu pergi.
Percakapan Setelahnya
Begitu motor Raka tak lagi terdengar, Mama langsung menatap Nadira.
“Bagaimana?”
“Mah, kok pertanyaannya itu terus?”
“Karena Mama ingin tahu.”
Nadira duduk di samping Mama.
“Dia baik.”
Abah tersenyum kecil.
“Baik saja?”
“Tenang,” tambah Nadira pelan.
Mama mengangguk pelan.
“Yang tenang biasanya kuat.”
Nadira terdiam.
“Dira belum tahu apa-apa ke depan,” katanya jujur.
“Tidak perlu tahu semuanya sekarang,” jawab Abah lembut. “Yang penting hatimu tidak lagi tertutup.”
Kalimat itu membuat Nadira berpikir. Ia melihat rumahnya. Melihat Mama yang kini terlihat lebih sehat. Melihat Abah yang duduk tenang.
Dan entah kenapa, bayangan masa depan tidak lagi terasa seperti tekanan.
Mungkin ia memang belum jatuh cinta. Tapi ada rasa nyaman yang tumbuh. Dan kenyamanan itu membuatnya tidak ingin buru-buru pergi lagi.
Sore itu, saat ia berdiri di dapur membantu Mama memotong sayur, ponselnya bergetar. Nama kantor di Jakarta muncul di layar. Nadira menatap layar itu cukup lama.
Mama memperhatikan dari jauh.
“Kamu tidak angkat?”
Nadira menarik napas pelan. Ia tahu—hidupnya belum benar-benar selesai di sana. Dan mungkin, pilihan besar sedang menunggunya.
Suasana rumah mulai tenang setelah sore berganti warna keemasan.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Brumm… lalu mesin dimatikan.
Nadira yang sedang menyusun piring di dapur menoleh.
“Siapa ya, Bah?”
Abah berdiri dan mengintip lewat jendela.
“Oh… itu Daniel.”
“Daniel siapa?” tanya Nadira sambil berjalan mendekat.
“Teman lama Abah. Dulu satu kantor.”
Belum lama, terdengar pintu mobil tertutup, lalu salam dari luar.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!” jawab Abah sambil membuka pintu.
Seorang pria seusia Abah masuk dengan langkah mantap. Kemeja rapi, wajah ramah. Di belakangnya, seorang wanita berkerudung lembut turun dari mobil sambil membawa tas kain dan satu kotak bingkisan sedang.
“Maaf ya tidak kabar-kabar dulu,” kata Daniel hangat.
Tante Lia tersenyum lembut.
“Kami bawa sedikit saja. Jangan dilihat dari isinya.”
Ia menyerahkan kotak kecil itu pada Mama.
“Ah, Lia… tidak perlu repot-repot,” kata Mama terharu.
“Bukan apa-apa, cuma buah dan sedikit kue. Untuk pemulihan,” jawab Tante Lia.
Nadira segera mengambil bingkisan itu.
“Terima kasih, Tante.”
Ia membawanya ke meja, lalu kembali berdiri agak canggung di ruang tengah.
“Adi! Sudah lama sekali!” seru Daniel sambil menepuk bahu Abah.
“Daniel! Kamu malah makin sehat,” balas Abah tertawa.
Tante Lia mendekat pada Mama.
“Assalamualaikum, Ayunika…”
“Waalaikumsalam, Lia… ya Allah, lama sekali,” jawab Mama sambil tersenyum.
Nadira berdiri agak canggung di dekat ruang tengah.
Abah menoleh padanya.
Lalu Abah tersenyum dan memberi isyarat agar Nadira mendekat.
“Nadira, sini. Kenalkan, ini Om Daniel dan Tante Lia. Teman lama Abah dan Mama.”
Nadira melangkah pelan, menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Om… Tante.”
“Waalaikumsalam,” jawab mereka hampir bersamaan.
Daniel memperhatikan Nadira beberapa detik, lalu tersenyum lebar.
“Ini Nadira? Sudah sebesar ini, ya. Dulu waktu terakhir saya ke sini, kamu masih SD, kan?”
Nadira tersipu. “Iya, Om.”
“Ini Nadira. Anak Abah yang dulu merantau itu.”
Daniel menatap Nadira dengan sorot penuh rasa ingin tahu.
“Oh ini yang di Jakarta itu? Yang kerja di perusahaan besar?”
Nadira tersenyum sopan.
“Iya, Om.”
Tante Lia mendekat sedikit.
“Cantik sekali. Mirip Mamanya.”
Mama tersenyum bangga.