Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah biksu dari selatan
Pelayan itu sedikit memperhatikan kue itu kemudian menunduk dan mengambilnya dengan sumpit. Dia mengangkat jubahnya untuk menutupi mulutnya ketika makan. Setelah itu berterima kasih.
Tuan putri bertanya, “Jika ada racun di kue itu, maka kamu akan mati.”
Ekspresi pelayan itu sedikit cemas tapi dia butuh waktu beberapa saat untuk berkata, “Tapi aku selalu percaya dengan anda. Saya sudah lama menjadi pelayan dan apa yang saya tolak atau terima sudah melalui pengamatan yang panjang. Ibu saya berkata, menjadi pelayan seperti hidup di antara dua dunia.”
“Ibumu seperti sarjana saja.” Tuan putri menatap kue di kotak makan siangnya. Dia memotong salah satunya, menjadi dua dan memakan potongan kecil. “Aku suka cerita biksu selatan itu. Kamu pasti tahu juga bukan?”
“Yang mulia, maafkan saya.”
“Tidak apa-apa.”
Tuan putri menatap lembah lagi dan membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya. Dia lalu menatap kusir yang tidur mendengkur lalu menatap gadis di depannya yang sedang berdiri.
“Umur kita sama, tapi kamu menghormatiku. Mungkin inilah disebut dua biji yang tumbuh di tanah yang berbeda.”
“Yang mulia, anda tidak boleh seperti itu.”
“Kamu sepertinya benar. Baiklah, ini kisah tentang cinta dan kasih. Tentang seseorang gadis yang mencitai seorang biksu di salah satu kuil. Dia bertemu biksu itu sebulan sekali ketika menuruni bukit, berbicara dengannya dan memberinya sedekah yang banyak. Biksu itu senang dan selalu berterima kasih. Karena mereka sering bertemu, muncul perasaan cinta dari gadis itu. Dan seharusnya kamu tahu bagaimana kelanjutan, bukan?”
“Seorang biksu harus hidup sederhana, tidak berhubung sex atau asmara dan berdisiplin yang tinggi.”
“Begitulah. Tapi cinta gadis itu semakin besar dan lebih besar. Dia bahkan sering berkunjung ke kuil untuk menayakkan tentang hidup, tentang kesedihan para manusia yang membunuh demi mempertahankan diri, tentang bagaimana orang-orang mencapai kebahagiaannya. Pada suatu hari ketika bisku itu berdiam di bawah pohon persik dan melihat desa, gadis itu datang dan dengan penuh kesedihan berkata, ‘sayang sekali anda menjadi biksu.’ Dengan kata singkat itu biksu itu hanya mengangguk. Dia memahami bagaimana perasaannya tapi dia sudah menjadi bisku.”
“Itu cerita yang menyedihkan.”
“Sangat menyedihkan.” Tuan putri mulai mnegunyah lagi dan melanjutkan, “obsesi gadis itu semakin besar dan ingin menjauh tapi tidak bisa. Setiap hari dia selalu datang ke kuil untuk mengantarkan makanan. Tuan biksu sadar akan semuanya dan segera melarangnya datang lagi. Gadis itu patah hati dan dengan marah berseru, ‘anda seorang bisku yang dermawan dan menerima apa adanya. Mengapa anda menolak pemberian saya?’ sang biksu hanya punya sedikit alasan dan beberbalik, mengatakan jika dia harus menjalankan disiplinnya dan tidak boleh ternodai kehidupan duniawi. Gadis itu sedih dan air matanya jatuh. Dia keras kepala kemudian dengan nekat memeluk sang biksu dari belakang sembari menangis lalu menyatakan cintanya. Sang biksu hanya diam. Dia mendengar suara tangisan itu, perasaan itu dan kekecewaan itu lalu pada akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Sangat menyedihkan.”
Tuan putri mengangguk dan mulai mnegunyah lagi.
Matahari mulai tertutupi awan dan perlahan-lahan menjadi mendung. Udara menjadi sedikit lebih dingin.
“Lalu,” Tuan putri mulai bercerita lagi. “Gadis itu ingin melupakannya tapi dia tidak bisa dan segera terus mengunjungi sang bisku itu. Hari demi hari tapi biksu itu mulai menjaga jarak dengannya. Gadis itu semakin kecewa dan lebih kecewa. Di malam yang hujan dengan tubuhnya yang kedinginan dia mengeluarkan kemarahannya di depan kuil dengan berseru, ‘anda welas asih. Anda sangat penyayang, tapi anda tidak bisa menenagkan gadis yang jatuh cinta ini!’ biksu itu mendengar tapi berusaha tidak mempedulikannya. Lalu di pagi harinya ketika dia membuka pintu kuil, gadis itu tergeletak membiru dan darah menyebar dari tenggorokannya. Dia memegang sebuah pisau dan matanya terbuka dengan penuh kesedihan. Sang biksu menghela nafas, menggeleng dan mengusap wajahnya lalu dia bertanya dalam dirinya, apa dia salah? apa dia telah membunuh seseorang? Apa jalan hidupnya dari awal sudah tidak seharusnya? Akhirnya biksu itu masuk ke dalam kuil, berlutut di bawah patung budha dan terus melakukannya.”
“Ah, sayang sekali.”
“Benar sekali. Dan tuan biksu terus melakukannya selama satu minggu. Ketika seseorang datang ke kuil dia sudah tidak bernyawa lagi. Menurtmu, apa mereka akhirnya bersatu di dunia lain?”
“Saya tidak tahu, tapi saya harap seperti itu. Saya menyukai kisah seperti ini. Terima kasih.” Pelayan itu membungkuk sekali lagi.
Tuan putri segera menghabiskan makanannya, membuang sisa-sisanya lalu bergegas kembali masuk. Pelayan tadi segera membangunkan tuan kusir dan kerata akhirnya berjalan lagi.