NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dosa yang Makin Dalam

Dua minggu setelah kunjungan Rizky ke Balikpapan, kehidupan berjalan seperti biasa di permukaan. Tapi di bawahnya, arus bawah yang deras menggerogoti fondasi dua rumah tangga.

Di Jakarta, Sasha semakin sering menghabiskan waktu dengan ponselnya. Setiap kali Rizky pulang kerja, ia selalu menemukan istrinya duduk di sofa sambil tersenyum menatap layar. Awalnya Rizky mengira Sasha hanya scrolling media sosial seperti biasa. Tapi lama-lama, ada yang janggal.

"Kamu lagi chat sama siapa?" tanya Rizky suatu malam, berusaha terdengar santai.

Sasha tersentak, refleks mematikan layar. "Eh, nggak ada. Cuma baca artikel parenting."

Rizky mengangguk, tak mau curiga. Tapi di dalam hatinya, ada ganjalan.

Malam itu, saat Sasha tidur, Rizky membuka ponselnya. Ia buka aplikasi pesan, scroll percakapan dengan Ima. Pesan terakhir mereka masih dari seminggu lalu setelah insiden di Balikpapan. Ima mengirim foto Rakha dengan caption: "Lucu ya? Kadang Ima mikir, andai ini anak kita."

Rizky belum membalasnya. Ia tak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan baru dari Ima.

"Rizky, Ima kangen. Kapan bisa ketemu lagi?"

Rizky membaca pesan itu berulang kali. Jari-jarinya gemetar. Ia ingin membalas, tapi di sisi lain, ia ingat Sasha yang sedang tidur di kamar dengan perut besar. Istrinya. Yang setia menunggunya.

Tapi tangannya bergerak sendiri.

"Ima juga kangen, Ima. Tapi kita harus hati-hati."

Balasan Ima cepat: "Wira lagi dinas ke Banjarmasin seminggu. Kamu bisa ke sini?"

Rizky menelan ludah. Kesempatan. Tapi juga jebakan.

"Aku usahain."

Ia mematikan ponsel, merebahkan diri di sofa. Kepalanya pusing memikirkan semua ini.

---

Di kamar, Sasha sebenarnya tidak tidur. Ia hanya berpura-pura. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Rizky sibuk dengan ponsel. Wajah suaminya tegang, fokus pada sesuatu—atau seseorang.

Sasha menggigit bibir. Ada yang tidak beres. Tapi ia tak berani bertanya. Takut jawabannya akan menghancurkan segalanya.

Ia membuka ponselnya, membaca percakapan terakhir dengan Wira.

"Sasha, aku mikirin lo terus. Ini gila, tapi aku nggak bisa berhenti."

"Wira, jangan. Kita udah nikah."

"Aku tahu. Tapi aku juga tahu perasaan kamu. juga ngerasa hal yang sama, kan?"

Sasha tak membalas pesan itu. Tapi ia juga tak bisa menyangkal. Ia memang merasakan hal yang sama.

Malam itu, dua pasang suami istri tidur dalam satu rumah—tapi hati mereka melayang pada orang lain.

---

Tiga hari kemudian, Rizky terbang ke Balikpapan lagi. Alasan yang sama: tugas kantor. Sasha hanya mengangguk pasrah. Ia sudah lelah mencurigai, lelah bertanya, lelah berpura-pura tidak tahu.

Di Balikpapan, Ima sudah menunggu di hotel yang sama. Begitu Rizky masuk, mereka langsung berpelukan. Ciuman panjang yang penuh hasrat, juga penuh rasa bersalah.

"Aku kangen banget," bisik Ima.

Rizky tak menjawab. Ia hanya mencium Ima lebih dalam, membawanya ke ranjang.

Sore itu, mereka bercinta dengan liar. Seperti ingin melupakan semua tanggung jawab, semua ikatan, semua dosa.

---

Selesai bercinta, mereka berbaring di ranjang. Ima mengusap dada Rizky dengan jari-jarinya.

"Rizky, Ima mau tanya sesuatu."

"Apa?"

"Kamu sayang nggak sama Ima?"

Rizky menghela napas. "Kamu tahu jawabannya."

"Tapi kamu juga sayang Sasha?"

Rizky diam. Pertanyaan itu selalu sulit dijawab.

"Ima, aku bingung. Jujur. Aku sayang kamu, tapi aku juga punya tanggung jawab sama Sasha. Apalagi dia lagi hamil anak aku."

Ima menunduk. "Ima ngerti. Ima egois."

"Bukan egois. Tapi ini rumit."

Mereka diam cukup lama. Suara AC berdengung pelan di kamar itu.

"Rizky, Ima mau usul." Ima menatapnya. " Gimana kalau kita... kabur aja?"

Rizky terkejut. "Apa?"

"Kabur. Tinggalin semuanya. Mulai hidup baru di tempat yang nggak ada yang kenal kita."

Rizky duduk, menatap Ima tak percaya. "Lo serius?"

"Ima serius. Ima capek bohong. Capek takut-takut. Capek hidup dengan dua wajah."

"Terus Wira? Rakha? Sasha? Anak yang lagi dikandung Sasha?"

Ima diam. Ia tak punya jawaban.

---

Malam itu, mereka tak bisa tidur. Hanya berbaring, saling memeluk, dengan pikiran masing-masing.

Sekitar pukul dua dini hari, ponsel Rizky berdering. Sasha.

Rizky refleks menjawab. "Halo, Sayang?"

Suara Sasha di ujung sana terdengar panik. "Rizky... aku... air ketubanku pecah. Aku mau melahirkan."

Rizky membeku. "Apa?! Sekarang?"

"Iya. Aku sendiri di rumah. Kamu di mana? Cepet pulang!"

Rizky melihat Ima di sampingnya. Lalu ke luar ke balkon. "Sha, denger. Aku lagi di luar kota. Tugas kantor. Aku usahain pulang secepatnya. Kamu telepon ambulans, atau tetangga, siapa aja. Cepet!"

Sasha menangis. "Kamu tinggalin aku? Saat aku mau lahiran?"

"Bukan gitu, Sha. Aku di Balikpapan. Nggak bisa langsung—"

Telepon terputus. Rizky mencoba menghubungi lagi, tapi tak diangkat.

Ia panik. Masuk ke kamar, mulai berpakaian.

"Ada apa?" tanya Ima.

"Sasha mau lahiran. Aku harus pulang."

Ima diam. Ada rasa cemburu, juga rasa bersalah.

"Sekarang? Jam dua pagi?"

"Aku cari tiket pertama besok pagi. Tapi aku harus ke bandara dari sekarang."

Ima menghela napas. "Ima ngerti. Pergilah."

Rizky menatapnya. "Maaf, Ima."

Ima tersenyum getir. "Nggak usah minta maaf. Itu istri lo."

---

Rizky tiba di Jakarta siang harinya. Langsung ke rumah sakit. Sasha sudah di ruang bersalin, ditemani ibunya yang datang setelah dihubungi tetangga.

"Rizky!" ibu Sasha setengah berteriak. "Kamu dari mana aja? Sasha nangis-nangis tadi malam!"

Rizky menunduk. "Maaf, Bu. Saya di luar kota. Tugas kantor."

Ibu Sasha mendengus. "Tugas, tugas. Istri mau lahiran, masa ditinggal?"

Rizky tak menjawab. Ia masuk ke ruang bersalin setelah diizinkan perawat. Sasha terbaring di ranjang, wajahnya pucat, keringat membasahi dahi.

"Sayang..." Rizky meraih tangannya.

Sasha menoleh. Matanya merah. "Pulang?"

Rizky mengangguk. "Maaf. Aku nyoba yang terbaik buat pulang."

Sasha tak menjawab. Ia hanya menangis.

Proses persalinan berlangsung selama empat jam. Akhirnya, bayi perempuan lahir dengan selamat. Berat 3,1 kg. Panjang 48 cm.

Sasha menangis bahagia melihat bayinya. Rizky juga menangis—tapi entah karena bahagia, atau karena rasa bersalah.

"Kasih nama apa, Sayang?" tanya Rizky.

Sasha menatapnya lama. "Kirana. Seperti yang kita bicarakan dulu."

Rizky mengangguk. "Kirana. Cantik."

Tapi di mata Sasha, ada sesuatu yang berbeda. Ada kekecewaan. Ada jarak. Ada pertanyaan yang tak terucapkan: di mana kamu tadi malam?

---

Seminggu kemudian, Sasha pulang ke apartemen dengan bayi mungilnya. Rizky berusaha jadi suami dan ayah yang baik. Tapi ada dinding yang mulai terbangun di antara mereka.

Sasha jarang bicara. Lebih banyak diam, lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kirana. Ponselnya selalu dalam genggaman, tapi layarnya diputar agar Rizky tak bisa melihat.

Malam-malam, saat Rizky tidur, Sasha membuka chat dengan Wira.

"Kamu tahu, Wira? Aku baru melahirkan. Tapi yang ada di pikiranku malah kamu."

Balasan Wira: "aky juga mikirin kamu, Sha. Setiap hari. Setiap malam. Ima nggak tahu, tapi hati aky udah nggak di sini."

"Kita gila, Wir."

"Iya. Tapi aku nggak bisa berhenti."

Mereka terus berkirim pesan hingga larut. Saling menguatkan di tengah kekosongan yang mereka ciptakan sendiri.

---

Di Balikpapan, Ima juga mulai berubah. Wira merasakannya. Istrinya lebih sering melamun, lebih sering main ponsel, lebih jarang mengajaknya bicara.

"Ma, kamu kenapa akhir-akhir ini?" tanya Wira suatu malam.

Ima tersentak. "Nggak papa. Capek aja ngurus Rakha."

Wira mengangguk, tapi tak percaya. Ia melihat ponsel Ima yang selalu ia bawa ke mana-mana, bahkan ke kamar mandi.

Malam itu, saat Ima tidur, Wira membuka ponselnya. Ia tahu passwordnya—Ima pernah kasih tahu dulu, saat mereka masih pacaran.

Dengan tangan gemetar, ia buka aplikasi pesan. Scroll percakapan dengan Rizky.

Dan di sana, ia melihat semuanya.

Foto-foto mesra. Pesan-pesan cinta. Rencana pertemuan di hotel. Dan yang paling menyakitkan—pengakuan Ima: "Ima sayang kamu, Rizky. Bukan sama Wira."

Dunia Wira runtuh.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!