Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Rengganis duduk dengan punggung tegak dan tangan bersedekap.
Di balik wajahnya yang tenang dan profesional, otaknya sedang menyusun skenario yang jauh dari kata romantis.
Ia sedang membayangkan bagaimana jadinya jika tangannya yang terbiasa memegang pisau bedah itu berpindah ke leher suaminya yang menyebalkan ini.
Sedikit tekanan pada arteri karotis, dan pria berisik di sampingnya ini pasti akan diam.
Pluk!
Sebuah tepukan ringan di pundak membuyarkan fantasi gelapnya.
Rengganis tersentak, hampir saja ia melayangkan tas tangannya ke arah Permadi.
"Tante ngelamun apa?" tanya Permadi tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, namun seringai nakal itu kembali muncul.
"Jangan-jangan Tante lagi ngelamun malam pertama, ya?"
Rengganis memutar bola matanya, mendengus keras.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku cuma sedang berpikir, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai kamu bosan dengan permainan konyol ini."
Permadi melirik sekilas, lalu tiba-tiba melepaskan tawa yang menggema di seluruh ruang mobil.
"Duh, Tante. Jangan tegang-tegang amat. Ingat ya, anak ingusan ini belum siap kalau Tante agresif di malam pertama," ucap Permadi sambil terus tertawa terbahak-bahak, seolah kata-katanya adalah lelucon paling lucu di dunia.
"Sabar, Tante. Tenaga saya memang masih banyak, tapi saya juga tahu diri kalau Tante sudah umur segini butuh banyak istirahat."
"Permadi! Berhenti memanggilku Tante dan berhenti membicarakan hal-hal mesum! Aku ini istrimu, bukan pasien psikiatri!"
"Lho, tadi katanya aku anak ingusan? Jadi wajar dong aku panggil Tante," sahut Permadi dengan nada tanpa dosa.
Ia memutar kemudi dengan lincah, memasuki kawasan perumahan elit dengan gerbang yang dijaga ketat.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang sangat megah.
Arsitekturnya penuh dengan kaca besar, memancarkan kesan maskulin namun sangat elegan dan menggambarkan kepribadian pemiliknya.
Permadi mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Rengganis.
"Kita sudah sampai di 'kandang' saya, Dokter Rengganis. Di sini, tidak ada perawat Dina, tidak ada Papa Baskoro, dan tidak ada pasien. Cuma ada kamu dan aku suamimu yang paling tampan ini."
Rengganis menelan salivanya saat mendengar perkataan dari suaminya.
Ia merasa seperti baru saja masuk ke sarang serigala yang berkedok anak domba.
Rengganis melangkah masuk ke dalam rumah modern itu dengan langkah kaku.
Begitu pintu tertutup, ia langsung mencari meja terdekat, mengambil secarik kertas dan pulpen dari tasnya.
Dengan gerakan cepat dan emosional, ia menuliskan beberapa poin 'perjanjian batasan' agar hidupnya tetap aman dari jangkauan pria muda ini.
"Ini," ucap Rengganis ketus sambil menyodorkan kertas itu ke dada Permadi.
"Baca dan patuhi. Tidak ada kontak fisik tanpa izin, kamar terpisah, dan—"
Sret! Sret!
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Permadi sudah merobek kertas itu menjadi serpihan kecil di depan matanya.
Potongan kertas itu jatuh ke lantai seperti konfeti yang mengejek.
"Peraturanmu membosankan, Tante," ujar Permadi dengan nada rendah yang berbahaya.
Kemudian ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah map dokumen yang jauh lebih tebal.
"Sekarang, pakai peraturanku." ucap Permadi sambil melemparkan dokumen itu ke meja.
"Cepat tanda tangani kontrak ini, atau aku akan langsung menagih hak asasi suamiku malam ini juga."
Rengganis mendengus remeh. "Kamu mengancamku? Kamu pikir aku ta—"
Kalimat Rengganis terhenti seketika saat ia melihat Permadi mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.
Bukan dengan cara yang elegan, melainkan dengan gerakan konyol sekaligus provokatif—semacam joget erotis amatir yang sangat menyebalkan namun entah bagaimana membuat Rengganis salah tingkah.
"Satu kancing lepas, dua kancing lepas. Tante mau lihat kelanjutannya?" goda Permadi sambil menggoyangkan bahunya, memamerkan otot dadanya yang mulai terlihat di balik kemeja yang terbuka.
"Permadi! Berhenti! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Rengganis dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
Ia tidak menyangka "anak ingusan" ini akan senekat itu untuk mengerjainya.
"Tanda tangan sekarang, atau kemeja ini melayang ke lantai dalam hitungan ketiga!"
Permadi mulai memutar-mutar kemejanya di udara seolah sedang berada di atas panggung klub malam.
Rengganis yang panik, malu, dan tidak sanggup melihat pemandangan "absurd" di depannya itu langsung menyambar pulpen.
Tanpa membaca satu kata pun dalam dokumen setebal sepuluh halaman itu, ia membubuhkan tanda tangannya dengan tangan gemetar.
"Sudah! Diam dan pakai baju kamu!" seru Rengganis sambil membanting pulpen itu.
Permadi seketika berhenti berjoget dan kembali memakai kemejanya dengan senyum kemenangan yang paling lebar.
Ia mengambil dokumen itu, memeluknya di dada seolah-olah itu adalah harta karun.
"Pilihan yang cerdas, Istriku," bisik Permadi sambil mengerling nakal.
"Tante baru saja menandatangani kesepakatan untuk liburan berdua ke Labuan Bajo dan janji untuk tidak mengusirku dari kamar utama."
Rengganis tertegun. "Apa? Kamu curang! Aku belum baca!"
"Salah sendiri Tante lebih milih tanda tangan daripada lihat aku striptease," tawa Permadi meledak, meninggalkan Rengganis yang hanya bisa berdiri mematung sambil merutuki keputusannya yang impulsif.
Permadi dengan sigap menghindar, melompat ke balik sofa ruang tamu sambil melambaikan kertas kontrak itu tinggi-tinggi di udara.
Wajahnya yang tampan terlihat sangat puas melihat dokter spesialis yang biasanya dingin dan kaku itu kini tampak seperti remaja yang sedang meledak amarahnya.
"Sabar, Tante! Jangan lari-lari, nanti asam uratnya kambuh lho!" ejek Permadi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sini kamu, anak ingusan! Sobek kertas itu sekarang juga!" teriak Rengganis.
Ia tidak peduli lagi dengan keanggunan kebayanya.
Ia mengangkat sedikit kain bawahnya agar bisa melangkah lebih lebar, mengejar Permadi yang lincah berpindah dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya.
Permadi berhenti sejenak, membuka halaman kedua dengan dramatis.
"Ayo dengarkan poin nomor lima, Tante! 'Pihak Kedua alias Rengganis, wajib mencium pipi Pihak Kesatu setiap kali Pihak Kesatu pulang kerja sebagai asupan vitamin supaya tidak tipes.'"
"GILA! Aku ini dokter, bukan suster pribadi kamu!" Rengganis melemparkan bantal sofa ke arah Permadi, namun dengan gesit pria itu menghindar.
"Lanjut poin nomor delapan!"
Permadi berteriak sambil berlari menuju tangga, " 'Pihak Kedua dilarang memanggil Pihak Kesatu dengan sebutan 'Dek', 'Berondong', atau 'Bocah', melainkan harus memanggil dengan sebutan 'Sayang' atau 'Mas Suami Tampan'. Jika melanggar, denda satu kali pelukan durasi tiga puluh detik!'"
"PERMADIIIIII! SINI KAMU!"
Rengganis benar-benar hilang kendali dan berlari menaiki tangga mengejar Permadi.
Suara derap langkah kaki mereka bergema di seluruh rumah mewah itu.
Rengganis yang biasanya memegang kendali penuh di ruang operasi, kini justru dipermainkan oleh suaminya sendiri.
Sial bagi Rengganis, kakinya tersangkut ujung kain kebayanya sendiri di anak tangga terakhir.
"Aaah!"
Dalam sekejap, Permadi yang tadinya berada beberapa langkah di depan, langsung berbalik dan menangkap tubuh Rengganis sebelum jatuh tersungkur.
Kekuatan fisik Permadi bukan main-main, ia langsung menahan pinggang Rengganis dengan satu lengan yang kokoh, membuat jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Napas Rengganis tersenggal-senggal, dadanya naik turun karena emosi dan kelelahan.
Permadi menatapnya, tidak lagi tertawa, namun dengan tatapan yang sangat intens dan hangat.
"Tuh kan, baru saja dibilang jangan lari-lari," bisik Permadi rendah.
"Kenapa Tante berambisi sekali mengejar aku? Segitu cintanya ya sampai mau menangkap saya secepat ini?"
Rengganis mematung sampai jantungnya berdegup kencang, dan kali ini ia tidak yakin apakah itu karena habis berlari atau karena tatapan pria yang baru saja ia nikahi ini.