persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Tentang Hujan yang Salah Alamat dan Buku-Buku yang Menunggu
Minggu pagi di Bandung biasanya adalah waktu yang paling adil. Langit tidak memihak siapa pun, dia hanya memberikan udara dingin yang sama bagi mereka yang sedang jatuh cinta maupun bagi mereka yang sedang berusaha menambal hatinya dengan kegiatan-kegiatan yang dipaksakan. Saya terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih lapang, meskipun ada sisa-sisa mimpi tentang motor merah yang mengejar saya di tengah padang rumput.
Saya memutuskan untuk membersihkan Si Kumbang. Motor tua ini sudah terlalu banyak berjasa menampung beban pikiran saya yang beratnya melebihi muatan maksimal mesinnya. Sambil menyiram air ke spakbor yang mulai berkarat, saya bersiul kecil, mencoba meniru melodi lagu yang sering diputar Ayah di radio tuanya.
Bumi! Ada tamu di depan! teriak Ibu dari dalam rumah.
Saya mengernyitkan dahi. Siapa yang bertamu sepagi ini? Togar biasanya baru bangun jam sepuluh, dan Kayla... ah, saya tidak mau berharap. Saya mengelap tangan yang basah ke celana pendek, lalu berjalan menuju pagar depan.
Di sana, berdiri seorang gadis dengan sepeda keranjang berwarna biru langit. Dia memakai kaos putih polos dan celana jins, rambutnya dikuncir kuda dengan rapi. Bukan Kayla. Itu Dara.
Dara? Ngapain ke sini? Tahu rumah saya dari mana? tanya saya heran.
Dari data absen kelas yang saya foto diam-diam kemarin. Dan saya ke sini bukan mau minta sumbangan, Bumi, jawab Dara datar. Dia menyodorkan sebuah kantong kresek kecil. Ini, Ibu saya bikin donat kentang kebanyakan. Katanya kasih ke teman yang mukanya paling suram di kelas.
Saya tertawa. Jadi menurut kamu muka saya yang paling suram?
Bukan menurut saya, tapi menurut statistik, jawab Dara sambil menyandarkan sepedanya di pagar. Mau saya bantu cuci motor? Kelihatannya kamu lebih banyak menyiram tanah daripada menyiram motornya.
Kami akhirnya duduk di teras, ditemani dua gelas teh hangat dan donat kentang yang rasanya—jujur saja—jauh lebih enak daripada martabak di kafe semalam. Dara memperhatikan Si Kumbang dengan tatapan menyelidik.
Motor ini sudah tua sekali, Bumi. Kenapa tidak minta ganti sama Ayahmu? tanya Dara.
Karena motor ini punya sejarah, Dara. Dia yang antar saya ke sekolah pertama kali, dia yang tahu jalan-jalan rahasia di Bandung, dan dia tidak pernah pamer kalau sedang lewat di depan orang, kata saya sambil menggigit donat.
Dara mengangguk kecil. Kamu memang suka hal-hal yang punya sejarah ya? Makanya kamu susah melepaskan Kayla, karena dia adalah bagian dari sejarahmu.
Saya terdiam. Dara ini kalau bicara selalu tepat sasaran, seperti panah yang dilepaskan oleh atlet profesional.
Melepaskan itu tidak seperti menghapus tulisan di papan tulis, Dara. Ada bekasnya. Ada debu kapur yang tertinggal, kata saya pelan.
Tapi kalau papan tulisnya tidak dibersihkan, kamu tidak bisa menulis materi baru, kan? Dara menatap saya dengan matanya yang jernih. Hari ini ada pameran buku bekas di Braga. Kamu mau ikut? Saya butuh orang buat bawain buku-buku yang berat.
Saya menimbang sejenak. Pergi ke Braga terdengar lebih baik daripada berdiam diri di kamar sambil membayangkan apa yang sedang dilakukan Kayla dan Arkan di hari Minggu yang cerah ini.
Boleh. Tapi saya yang bawa Si Kumbang ya? Kamu berani naik motor tua ini? tanya saya.
Selama dia punya dua roda dan tidak meledak di tengah jalan, saya berani, jawab Dara.
Satu jam kemudian, kami sudah membelah kemacetan jalanan menuju Braga. Dara duduk di belakang saya dengan sangat tenang. Dia tidak memegang pinggang saya seperti yang biasa dilakukan Kayla, tapi dia memegang besi pegangan di belakang motor dengan erat. Angin Bandung menerpa wajah kami, membawa aroma kopi dari kedai-kedai tua yang kami lewati.
Pameran buku itu sangat ramai. Bau kertas tua yang lembap menyapa hidung saya begitu kami masuk ke area pameran. Dara seperti anak kecil yang masuk ke toko mainan. Dia bergerak dengan lincah dari satu rak ke rak lain, jarinya menelusuri punggung-punggung buku dengan penuh kasih sayang.
Lihat ini, Bumi! Ini cetakan pertama novel sastra yang sudah langka! seru Dara dengan nada bicara yang—untuk pertama kalinya—terdengar antusias.
Saya tersenyum melihatnya. Ternyata di balik wajah datarnya, Dara punya gairah yang sangat besar pada buku. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Saya membantu Dara membawa tumpukan buku yang beratnya mungkin sama dengan beban tugas Fisika selama satu semester.
Saat kami sedang beristirahat di sebuah bangku kayu di pinggir jalan Braga sambil minum es krim, tiba-tiba sebuah mobil sedan putih berhenti di depan kami. Kaca mobilnya turun.
Lho, Bumi? Dara?
Itu suara Kayla. Di dalam mobil itu, dia duduk di kursi penumpang. Dan di kursi pengemudi, Arkan tersenyum ke arah kami.
Kalian lagi ngapain di sini? tanya Kayla. Wajahnya tampak sangat terkejut melihat saya dan Dara sedang duduk berduaan dengan tumpukan buku di antara kami.
Lagi cari referensi buat hidup yang lebih baik, Kay, jawab saya sesantai mungkin.
Wah, rajin ya hari Minggu masih cari buku. Kita baru mau ke mal nih, ada film bagus yang baru rilis, Arkan menimpali. Tangannya tampak santai memegang kemudi mobil.
Oh, selamat menonton ya. Semoga filmnya tidak se-universal mading sekolah, kata saya dengan sedikit sindiran halus.
Kayla menatap saya lama. Ada kilat aneh di matanya. Cemburu? Entahlah. Mungkin dia cuma tidak suka melihat 'kursi tuanya' sedang diduduki oleh orang lain.
Ya sudah, kita duluan ya. Duluan, Dara! pamit Kayla. Mobil itu pun melesat pergi, meninggalkan debu yang hinggap di es krim saya.
Kenapa es krimmu tidak dimakan? tanya Dara.
Tiba-tiba rasanya jadi hambar, jawab saya sambil meletakkan cup es krim itu di samping.
Itu bukan hambar karena rasa, tapi karena kamu masih membiarkan mereka punya akses ke perasaanmu, Bumi, kata Dara. Dia mengambil sebuah buku dari tumpukan, lalu memberikannya kepada saya. Baca judulnya.
'Seni Mengabaikan Hal-Hal yang Tidak Penting', saya membacanya keras-keras.
Itu buat kamu. Gratis, kata Dara sambil berdiri. Ayo pulang. Awan sudah mulai gelap, saya tidak mau donat kentang Ibu saya kehujanan di dalam perut kamu.
Kami pulang saat gerimis mulai turun membasahi aspal Braga. Di atas Si Kumbang, saya memikirkan kejadian tadi. Untuk pertama kalinya, saya merasa tidak terlalu hancur saat melihat Kayla bersama Arkan. Mungkin karena ada Dara di samping saya, atau mungkin karena saya mulai menyadari bahwa dunia ini memang sangat luas, jauh lebih luas daripada sekadar urusan mading dan motor merah.
Sampai di depan rumah Dara, dia turun dari motor dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin.
Terima kasih buat hari ini, Bumi. Kamu ternyata pembawa buku yang cukup tangguh, kata Dara.
Sama-sama. Terima kasih buat donatnya, Dara. Sampaikan salam buat Ibu kamu, kata saya.
Dara mengangguk, lalu dia mendekat ke arah saya. Bumi, satu hal lagi. Matahari itu memang penting, tapi tanpa kegelapan malam, kita tidak akan pernah tahu kalau kita ini dikelilingi oleh miliaran bintang yang indah. Jangan takut pada kegelapan yang kamu rasakan sekarang.
Dara masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan saya yang terpaku di atas motor. Saya memacu Si Kumbang pulang dengan pikiran yang jauh lebih jernih.
Malam itu, saya duduk di meja belajar. Saya membuka buku pemberian Dara. Di halaman pertamanya, ada tulisan tangan Dara yang rapi: 'Untuk Bumi, agar dia tidak lupa cara berputar pada porosnya sendiri.'
Saya tersenyum. Nama saya Bumi. Dan malam ini, saya belajar bahwa saat satu orang mulai menjauh, semesta seringkali mengirimkan orang lain untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian.
suara hujan yang turun dengan deras di atap kamar saya, tapi kali ini, hujan itu tidak terasa seperti air mata. Hujan itu terasa seperti pembersihan, menyapu sisa-sisa debu kapur yang selama ini mengotori papan tulis hati saya.