Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh
Jam istirahat kantor baru saja dimulai ketika Aris melirik jam tangannya dan tersenyum pada Fela yang tengah menyesap es kopi di mejanya.
"Fel, ikut aku sebentar, yuk. Aku mau kenalin kamu ke seseorang." ujarnya.
Fela langsung menoleh.
"Ke siapa?"
"Ibuku." jawab Aris dengan suara mantap.
"Pas banget. Aku tadi telpon, katanya Shafira lagi keluar. Ini momen yang pas."
Raut wajah Fela langsung berubah, antara gugup dan senang.
"Serius, Mas?"
Aris mengangguk.
"Aku nggak main-main, Fel. Kamu itu istimewa."
Tak lama kemudian, motor Aris sudah terparkir di halaman rumah. Dari dalam, Bu Ratna sudah keluar sambil merapikan pakaiannya. Melihat siapa yang datang, senyumnya langsung merekah.
"Ini yang kamu ceritain, ya? Fela?" sambutnya dengan ramah.
"Iya, Bu. Saya Fela." jawab Fela sambil menyalami Bu Ratna dengan sopan.
Bu Ratna langsung menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.
"Aduh, cantik banget. Pintar pula. Cocok banget sama anak Ibu. Ayo, duduk dulu, ya."
Sementara itu, Aris duduk sambil bersandar dengan senyum lebar, melihat ibunya menyukai Fela. Mereka berbincang tentang banyak hal, dari pekerjaan Fela di kantor, hobi memasak, sampai selera makan Aris yang katanya susah ditebak.
"Aris itu cocoknya sama perempuan kayak kamu, Fel. Lembut, kerja juga. Nggak kayak yang satu itu..." Bu Ratna melirik ke arah pintu.
"Lagi keluar juga, untungnya. Kalau ada, pasti udah pasang wajah jutek."
Aris hanya terkekeh. Ia merasa langkahnya semakin mulus. Dukungan ibunya adalah segalanya.
Namun yang ia tidak tahu, di kejauhan, dari balik gerbang kecil di ujung gang, Shafira melihat semuanya.
Tanpa air mata, tanpa drama. Ia hanya mengangkat ponsel, mengambil gambar secara diam-diam.
Satu bukti lagi, setelah itu ia berbalik dan pergi begitu saja.
Usai pertemuan dengan ibunya, Aris dan Fela kembali ke kantor dengan perasaan yang berbeda.
Fela terlihat senang bukan main.
"Ibunya Mas Aris baik banget, ya. Aku nggak nyangka bakal disambut sehangat itu."
"Dari awal aku udah yakin Ibu bakal suka sama kamu. Kamu beda sama Shafira."
Fela menoleh cepat, penasaran.
"Emang kenapa Shafira?"
"Mulutnya pedas. Di rumah bawaannya ngelawan terus. Apalagi kalau udah ngobrol sama Ibu, bisa jadi ajang debat nasional. Tapi ya, entah kenapa... dia tuh tetap bikin aku kangen kalau lagi nggak ada." ujar Aris tanpa sadar, sambil tertawa.
Fela memiringkan kepalanya, jelas tidak suka dengan ucapan Aris.
"Mas masih cinta, ya?"
Aris terdiam sebentar.
"Cinta sih, iya. Tapi capek. Makanya aku mikir, kenapa nggak punya dua istri? Shafira tetap istri dirumah, dan kamu jadi pelengkap hidup aku."
Fela mengernyit.
"Aku nggak mau jadi istri kedua, Mas. Aku maunya jadi satu-satunya."
Aris terkekeh, mencoba mencairkan suasana.
"Ya udah jalanin dulu aja. Nanti kita pikirin bareng-bareng."
Beberapa hari setelahnya, Aris dan Fela makin sering bertemu di luar kantor. Mereka makan siang bareng, kadang nonton film di jam lembur yang sengaja dibuat-buat. Tapi Aris tetap menjaga jarak.
Ia masih takut. Suatu malam, Fela mengajaknya mampir lagi ke kosannya.
"Anggap aja ini hadiah karena kamu berani ngenalin aku ke ibumu." ucap Fela genit, sambil memegang lengan Aris.
Namun Aris langsung canggung.
"Fel... Mas nggak bisa." ucapnya dengan suara pelan.
"Kenapa? Mas nggak suka sama aku?" tanya Fela kecewa.
"Bukan gitu. Mas masih takut sama yang namanya dosa. Zina, Fel. Kita belum nikah. Aku tahu kamu pasti paham, kan."
Fela terdiam, lalu mengangguk pelan. Dalam hati Aris, ia tahu, jika ibunya tahu ia sampai melangkah terlalu jauh, meskipun ibunya mendukung selingkuhannya, pasti mulut ibunya bisa lebih tajam dari pisau dapur.
Ia suka Fela. Tapi belum siap kehilangan kendali.
Piring seafood platter di depannya masih mengepul, lengkap dengan saus mentega bawang putih yang menggoda. Shafira duduk tenang di sudut restoran yang biasa ia datangi.
Ia duduk sendiri di meja pojok, menyantap makan siangnya dengan tenang, mengenakan blouse putih sederhana dan celana jeans, tapi tetap anggun. Sesekali ia menyeruput minuman dinginnya sambil tersenyum kecil melihat layar ponselnya.
Di sana, folder tersembunyi bukti perselingkuhan suaminya sudah mulai padat.
Foto-foto saat Aris bersama Fela di taman belakang kantor. Video pendek saat mereka berdua berboncengan naik motor. Chat yang sempat discreenshot saat Fela terlalu PD mengirim pesan dengan kata-kata manja seperti.
Dan yang paling baru, foto Fela duduk di ruang tamu dirumah mertuanya, dengan ekspresi sok manis sambil digandeng oleh ibu mertuanya.
"Hebat." gumam Shafira sambil mengunyah udang goreng.
"Mainnya di rumah sendiri. Di mana aku tinggal. Gila!"
Tapi tidak ada air mata. Tidak ada dendam membara. Seakan hatinya sudah mati.
Shafira menutup galeri ponselnya, membuka catatan. Di sana, sudah tersusun langkah-langkah yang akan ia lakukan. Bukti, saksi, dan momen.
Ia tidak akan meledak seperti perempuan lain.
Ia tidak akan mengemis, menangis, atau mengamuk.
Ia ingin Aris yang nanti meminta maaf, tapi sudah tak akan diberi maaf. Ia ingin keluarga yang selama ini menganggapnya beban, menyaksikan sendiri siapa sebenarnya yang menghidupi siapa.
Ia ingin keluar dari rumah itu dengan kepala tegak, harga diri utuh, dan kemenangan yang tidak akan disangka-sangka oleh siapapun.
Pagi itu, aroma sambal goreng kentang dan tempe bacem menguar dari dapur. Shafira sibuk memasak, mengenakan daster bunga-bunga dan celemek yang mulai pudar warnanya. Sesekali ia mengusap peluh di dahi, lalu mencicipi kuah sayur lodeh yang mendidih pelan di atas kompor.
"Bu, sudah siap ya sarapannya. Nasi udah di magic com." ucapnya begitu Bu Ratna muncul di pintu dapur.
Bu Ratna hanya mengangguk singkat.
"Ya udah, bawa ke meja. Jangan kelamaan."
"Iya..."
Seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masih seperti biasa. Menyiapkan baju kerja Aris. Menyetrika pakaian satu rumah. Menyapu halaman. Mengurus dapur. Menjawab sapaan Pak Agus yang hanya mengangguk tanpa pernah ikut campur urusan rumah.
Dan Aris? Sudah dua minggu terakhir lebih sering pulang malam, seringkali membawa alasan lembur atau mengantar barang konveksi. Aris tidak tahu bahwa Shafira juga menyimpan salinan data absensi karyawan yang diam-diam dikirimkan seorang kenalan dari HRD.
Aris tidak tahu kalau senyuman lembut Shafira saat menyerahkan kopi sore hari itu bukan bentuk cinta, tapi bentuk kendali.
Shafira kini hidup dengan dua wajah. Satu wajah untuk rumah, wajah istri baik yang menuruti semuanya. Wajah yang membuat Aris tak curiga sedikit pun. Wajah yang membuat Bu Ratna menganggap Shafira kini sudah mulai jinak dan tunduk.
Dan satu wajah lain, tersembunyi, kuat, tenang, menunggu waktu yang tepat untuk menghantam semuanya dalam sekali serang.