⚠️MC NON MANUSIAWI‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kematian 5 : Avatar Dewi
Tekanan atmosfer yang disebabkan oleh dua pria besar keturunan Lu itu perlahan menurun, Lu Huang untuk pertama kalinya dalam hidupnya mengalah pada adiknya.
Ini juga merupakan satu kemenangan besar Lu Daimeng, karena berhasil membuat Lu Huang hanya bisa diam setelah diserang.
Namun, di dunia kultivasi, papan catur manusia sering kali dihancurkan oleh meja yang digulingkan oleh langit.
Tepat ketika ketegangan antar keluarga selesai, sebuah suara aneh bergema.
Krrrrkkkk... SRAAAT!
Itu bukan suara monster. Itu adalah suara kanvas realitas yang dirobek.
Langit merah di atas Lembah Kematian tiba-tiba terbelah. Sebuah retakan spasial, hitam pekat dengan kilatan petir dimensi, terbuka lebar seperti luka menganga di langit.
Dari dalam retakan itu, sebuah suara berbicara. Bahasanya tidak bisa dipahami oleh telinga manusia mana pun. Terdengar seperti gesekan antara gunung es yang saling bertabrakan, sebuah frekuensi kuno yang membuat gendang telinga berdenging dan perut mual.
Semua orang, termasuk Lu Daimeng, Qin Chen, Lei Zuan dan Lu Huang, mendongak. Naluriah kultivator mereka menjerit secara bersamaan. Bahaya. Bahaya sangat tinggi dan mematikan.
Sesosok makhluk melangkah keluar dari retakan tersebut, berjalan di udara hampa seolah memijak tangga pualam.
Itu adalah sesosok Iblis. Ras Iblis Es, klan dewa musim dingin.
Namanya adalah Bing Shan.
Penampilannya menipu mata. Dia tidak berbentuk raksasa menyeramkan berlendir. Sebaliknya, dia sangat proporsional, dengan tinggi sekitar dua meter. Kulitnya berwarna putih porselen yang sempurna, nyaris transparan. Rambutnya berwarna biru muda, berkibar lambat tertiup angin dimensi. Di dahinya, tumbuh dua tanduk kecil melengkung yang terbuat dari es biru yang jernih. Matanya... matanya adalah dua samudra biru yang mati, tanpa pupil, tanpa emosi.
Namun, bukan penampilannya yang membuat ratusan elit dari tiga keluarga besar itu membeku.
Itu adalah Aura-nya.
Tekanan yang turun dari langit bukanlah sekadar tekanan Ranah Kuno seperti yang dipancarkan Pohon Darah Bodhi. Ini jauh lebih tinggi. Jauh lebih murni. Jauh lebih purba.
Ini adalah Ranah Primordial Suci (Saint Primordial Realm).
Satu tingkat utuh di atas Ranah Kuno. Dua tingkat mutlak di atas Ranah Roh. Bagi para kultivator di bawah sana, perbedaan ini sama seperti semut rumah yang menatap ledakan supernova. Tidak ada ruang untuk melawan. Tidak ada ruang untuk berpikir.
Bing Shan melayang di udara, menatap ke bawah ke arah hutan merah, Pohon Bodhi, dan gerombolan manusia dengan ketidakpedulian yang mutlak. Dia mencari sesuatu, dan manusia hanyalah debu di karpet baginya.
Bing Shan tidak mengucapkan mantra. Dia tidak menggerakkan jarinya untuk mengeluarkan jurus. Dia hanya menghela napas.
Napas yang keluar dari hidungnya berubah menjadi kabut biru yang sangat tipis.
Dalam waktu seperseribu detik, kabut biru itu meluas.
Seketika, hampir lima puluh juta kilometer persegi (seluas benua asia) dari Lembah Kematian dan hutan di sekitarnya... membeku.
Bukan beku biasa. Ini adalah penghentian termodinamika secara instan. Suhu turun hingga mencapai nol mutlak. Waktu terasa membeku bersama dengan ruang.
Pohon-pohon merah raksasa berubah menjadi patung kristal es. Burung-burung darah yang sedang terbang di kejauhan jatuh dan pecah berkeping-keping.
Di bawahnya, ketiga keluarga besar terkena dampaknya secara langsung.
Kubah pertahanan Qi yang mereka bangun secara refleks hancur seketika, rapuh seperti kaca tipis.
Para kultivator di bawah langsung berubah menjadi patung es. Wajah mereka membeku dalam ekspresi terkejut. Sebagian dari mereka mati tanpa merasakan sakit; jiwa mereka membeku sebelum saraf mereka sempat mengirimkan sinyal rasa sakit.
Lu Huang, Qin Chen, Lei Zuan, dan Lu Zhuxin—berkat perlindungan kultivasi Ranah Roh mereka—masih bisa mempertahankan sedikit kehangatan Dantian. Namun, mereka lumpuh. Mata mereka masih bisa berputar, menyaksikan kengerian ini, tapi pita suara mereka telah membatu.
Lu Daimeng, yang tidak memiliki Qi untuk melindungi diri, harusnya mati pertama kali.
Namun, di dalam perutnya, formasi Bintang Biduk dari tujuh Singularitas Anti-Dao berputar dengan kecepatan gila. Dark Null adalah kekosongan absolut. 0 tidak memiliki suhu. Lu Daimeng melapisi seluruh organ vital, darah, dan jantung naganya dengan darknull, mencoba menekan hawa dingin yang membuat kulitnya melepuh dengan rasa sakit yang amat mengerikan.
Secara fisik, es telah membungkus seluruh kulit luarnya, membuatnya tampak seperti patung. Namun di dalam, otaknya masih beroperasi. Keenam pupil matanya yang tersembunyi di balik lapisan es tipis masih bisa melihat.
"Kekuatan apa ini?" analisis rasional Lu Daimeng mencoba memproses anomali di depannya. "Tidak ada taktik yang bisa mengalahkan celah kekuatan absolut. Jika dia menoleh, kita semua debu."
Namun, Bing Shan, Sang Iblis Es Ranah Primordial Suci, tidak menatap mereka. Perhatiannya tiba-tiba tertuju ke arah yang sama sekali berbeda. Ke arah Pohon Darah Bodhi.
Entitas Ranah Kuno (Pohon Bodhi) tampaknya memicu mekanisme pertahanan tersembunyi setelah merasakan intrusi eksistensi tingkat Primordial.
Tanah di sekitar pohon itu meledak.
Dari dalam kedalaman bumi yang membeku, sebuah lesatan cahaya keemasan meluncur dengan kecepatan yang mengoyak konsep ruang dan waktu. Lesatan itu memotong udara, menabrak area tempat para kultivator membeku, lurus menuju Bing Shan di langit.
Slaaaaasssshhh!
Lesatan energi itu sangat presisi, tapi gelombang kejut spasial yang dihasilkannya tak kenal ampun.
Gelombang itu menyapu barisan Keluarga Lei dan Keluarga Lu. Patung-patung es dari beberapa tetua Ranah Jiwa yang sudah membeku sebelumnya, langsung hancur berkeping-keping akibat getaran sonik tersebut. Hancur menjadi debu es yang bertebaran ditiup angin. Kematian mereka seperti kawanan semut yang tidak sengaja terinjak.
Di langit, di atas Pohon Darah Bodhi, ruang terdistorsi hebat. Cahaya keemasan itu memadat.
Sebuah visual proyeksi Avatar yang ukurannya melampaui logika mortal muncul.
Ini bukan avatar rendahan milik Lu Daimeng. Ini bukan manifestasi roh seperti kura-kura empat meter milik Lu Huang.
Ini adalah visualisasi sesosok entitas setinggi ratusan juta kilometer. Tubuhnya menembus atmosfer, menembus lapisan awan Lembah Kematian, hampir menyentuh bulan.
Gunung-gunung tertinggi di sekitar lembah, yang puncaknya menyentuh awan, kini terlihat hanya sebesar tumit dari proyeksi raksasa tersebut.
Wujudnya adalah seorang wanita. Mengenakan jubah yang terbuat dari galaksi dan nebula. Wajahnya samar, tertutup oleh cadar cahaya ilahi, namun kecantikannya yang absolut memancarkan belas kasih yang mengerikan.
Di dunia kultivasi tinggi, legenda menjulukinya: Avatar dari Dewi Penghubung Langit. Entitas yang menjaga keseimbangan alam ini. Ranah kultivasinya berada di luar konsep kata-kata yang bisa dipahami oleh manusia di dunia ini.
Saat avatar dewi itu membuka matanya yang samar, seluruh alam semesta seolah menahan napas.
Hanya dengan kehadirannya, suhu absolut dari Iblis Es itu diusir. Seketika, es biru yang membekukan jutaan kilometer persegi mencair menjadi uap hangat.
Kaki Lu Huang, Qin Chen, Lei Zuan, Lu Daimeng dan beberapa orang tetua yang tersisa dari ketiga keluarga terbebas dari jerat es. Mereka jatuh ke tanah berbatu, terbatuk-batuk, muntah air, mencoba menghirup udara yang kembali normal dengan rakus.
Di angkasa, Bing Shan sang Iblis Primordial Suci, yang beberapa detik lalu menguasai hidup dan mati jutaan makhluk di lembah kematian... menoleh ke arah raksasa wanita tersebut.
Mata birunya yang sebelumnya tanpa emosi kini membelalak dalam teror yang murni dan primal. Sang Iblis Primordial mencoba mundur, mencoba merobek ruang untuk melarikan diri dari hadapan eksistensi yang melampauinya.
Avatar Sang Dewi Penghubung Langit tidak mengangkat jarinya. Dia tidak mengucapkan mantra. Dia bahkan tidak repot-repot menyentuh iblis itu.
Dia hanya memfokuskan tatapannya pada Bing Shan.
Vwoosh.
Di depan mata para elit tiga keluarga, ruang di sekitar Bing Shan melengkung hebat, melipat ke dalam dan membungkus tubuh iblis arogan itu dalam sebuah kubus dimensi absolut. Bing Shan meronta, namun kekuatannya yang mampu membekukan dunia menjadi tidak berarti di dalam kubus transparan tersebut.
Tanpa sentuhan fisik sama sekali, kubus dimensi yang berisi Bing Shan ditarik ke angkasa, melayang tak berdaya mendekati sosok raksasa sang Dewi, seperti serangga yang tertangkap dalam setetes getah. Bing Shan telah ditangkap hidup-hidup, ditundukkan hanya dengan sebuah tatapan.
Menyaksikan kiamat yang dibatalkan dan kekuatan yang memutarbalikkan logika alam, sisa-sisa pasukan dari ketiga keluarga besar kehilangan seluruh arogansi fana mereka.
Lu Huang yang angkuh, Qin Chen yang selalu tenang, Lei Zuan yang beringas, beserta seluruh tetua yang masih bernapas, seketika menyeret tubuh mereka yang basah dan bergetar. Secara serentak, tanpa ada yang memberi komando, mereka merangkak dan berlutut. Dahi mereka ditekan dalam-dalam ke tanah berbatu, bersujud menghadap proyeksi kosmik sang Dewi dengan rasa takut dan penghormatan yang absolut. Itu bukan etika kultivator, melainkan insting biologis makhluk rendahan yang dihadapkan pada sosok Avatar dari dewi pencipta.
Avatar Sang Dewi Penghubung Langit tidak menunduk untuk melihat semut-semut yang memujanya di bawah sana. Dia bahkan tidak melirik mereka.
Blip.
Dalam sekejap mata, proyeksi Avatar raksasa beserta kubus dimensi yang mengurung Bing Shan itu lenyap.
Tidak memudar secara perlahan. Tidak meninggalkan jejak cahaya atau partikel emas. Dia menghilang secara absolut dan instan, seolah-olah eksistensi setinggi ratusan juta kilometer itu tidak pernah ada di sana sedetik yang lalu. Langit merah berawan Lembah Kematian langsung menutup kembali, sunyi dan hampa layaknya kanvas kosong.
Pohon Darah Bodhi kembali diam, dedaunannya berdesir tertiup angin sepoi-sepoi.
Namun, di bawah sana, sisa-sisa pasukan dari tiga keluarga besar tidak berani bergerak. Lutut mereka masih terpaku di tanah, punggung mereka gemetar hebat. Mereka masih membeku dalam posisi bersujud selama bermenit-menit, jiwa mereka terguncang hingga ke akarnya.
Mereka diselamatkan. Jika saja Dewi itu tidak muncul, Iblis Es itu pasti sudah memusnahkan mereka semua.
Tapi mengapa? Pertanyaan itu merayap di benak Qin Chen, Lu Huang dan yang lainnya, membawa hawa dingin yang baru.
Kenapa mereka diselamatkan?
Di dunia kultivasi yang kejam ini, tidak ada hukum tentang kebaikan secara cuma-cuma. Seorang manusia tidak secara sukarela membelokkan langkahnya hanya untuk menghindari sekelompok semut. Dan dewa tidak turun tangan hanya untuk menyelamatkan fana yang lemah.
Lu Daimeng adalah satu-satunya yang tidak bersujud sepenuhnya. Dia menopang tubuhnya dengan pedang hitamnya, satu lututnya menempel di tanah untuk menahan beban gravitasi trauma yang tersisa. Jantung manusianya berdetak tidak beraturan, hampir gagal fungsi karena suhu ekstrem.
Namun, keenam pupilnya menatap lurus ke arah langit yang sudah kosong. Senyum tenangnya tidak kembali. Otaknya yang sangat perhitungan dan realistis mencari dan menemukan satu-satunya jawaban logis.
"Kenapa dia menyelamatkan kita," analisis Lu Daimeng dalam benaknya, sebuah kesimpulan dingin yang membuatnya lebih merinding daripada es Bing Shan. "Bagi entitas setinggi itu, kita bahkan tidak terdaftar dalam pandangannya. Dia hanya datang untuk mencabut rumput liar tingkat Primordial yang mengganggu kebunnya. Apa ini... hanyalah sebuah kebetulan."
Lembah Kematian kembali sunyi, menyisakan para kultivator yang baru saja menyadari betapa sangat kecilnya arti keberadaan mereka di alam semesta ini.
Bersambung...