Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
"Jangan biarkan dia menyentuh barang pecah belah dan jangan biarkan papa menginterogasinya seperti tawanan perang. Aku hanya pergi dua jam," ucap Luca pada Ava sambil merapikan letak sarung pistol di balik jasnya.
Bobby yang sudah berdiri di dekat pintu mobil hanya bisa memberikan jempol ragu. "Ayo, Luc. Sean Harley tidak akan menunggu kita selesai berpamitan."
Luca melirik Queen yang tengah duduk di sofa raksasa, kakinya yang pendek berayun-ayun di udara. "Ingat, Queen. Jangan nakal."
"Iya, Luca, iya! Pergi saja sana!" sahut Queen sambil melambaikan tangan mungilnya dengan semangat yang mencurigakan.
Begitu deru mesin mobil Luca menghilang di kejauhan, suasana aula Villa Milan mendadak berubah. Edgar Frederick berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menatap Queen dengan pandangan sedingin es.
Di sampingnya, Ava tampak lebih lembut, namun matanya yang jeli tetap mengawasi setiap gerak-gerik bocah itu.
"Jadi... Sean Harley tidak mungkin mengirimkan beban tanpa alasan. Katakan padaku, Bocah. Apa yang pamanmu perintahkan? Menanam penyadap? Atau meracuni minuman kami?" Edgar membuka suara.
Alena dalam tubuh Queen menghentikan ayunan kakinya. Ia menatap Edgar datar. Pria ini benar-benar tipe mafia kuno yang penuh curiga, batinnya.
"Queen bukan mata-mata, Tuan Besar. Dan paman jahat itu tidak memerintah Queen, dia mengejar Queen. Ada perbedaan besar di sana," jawab Queen dengan nada bicara yang terlalu tertata untuk anak seusianya.
Edgar menaikkan sebelah alisnya. "Tuan Besar? Panggilan yang menarik. Tapi kata-kata manis tidak berlaku di sini. Aku tidak percaya pada kebetulan."
Ava menyentuh lengan suaminya. "Edgar, sudahlah. Dia hanya anak kecil. Lihat pipinya, dia bahkan kesulitan memegang gelas susu itu dengan benar."
"Bisa jadi dia hanya berpura-pura, sayang," balas Edgar tajam. Ia kemudian beralih ke meja kerja di sudut ruangan dan mengambil sebuah laptop.
"Luca bilang kau punya otak yang cerdas. Jika kau memang bukan mata-mata, buktikan kegunaanmu. Jika tidak, aku akan mengirimmu ke panti asuhan di Siberia malam ini juga," lanjut Edgar.
Queen turun dari sofa dengan anggun. Setidaknya seanggun yang bisa dilakukan tubuh bocah lima tahun. Ia berjalan menuju meja kerja.
"Apa yang harus Queen lakukan? Menghitung jumlah semut di kebunmu?"
"Jangan sombong, bocah!" Edgar membuka sebuah program yang sangat rumit di layar laptop. "Ini adalah sistem logistik pelabuhan yang sedang mengalami bug sejak pagi tadi. Tim IT-ku butuh waktu tiga jam dan belum selesai. Jika kau memang jenius, temukan celahnya dalam sepuluh menit."
Ava mendekat dengan wajahnya cemas. Takut jika terjadi sesuatu pada Queen karena terlalu berpikir berat.
"Edgar, itu soal untuk insinyur tingkat atas! Jangan keterlaluan!" serunya.
Queen tidak menjawab. Ia menarik kursi kerja yang terlalu tinggi itu, lalu memanjatnya dengan susah payah. Begitu duduk di depan layar, aura bocah itu berubah total. Matanya yang bulat tidak lagi terlihat polos.
"Cih, enkripsi tingkat menengah begini saja sampai membuat tim IT-mu pusing? Dasar payah," batin Alena.
Jari-jari mungil Queen mulai menari di atas keyboard.
Tak-tak-tak-tak!
Suara ketikan yang cepat memenuhi ruangan itu. Edgar dan Ava terpaku. Mereka melihat barisan kode hijau di layar bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Queen tidak menggunakan mouse, ia menggunakan perintah terminal langsung, sebuah teknik yang hanya dikuasai oleh peretas tingkat elit.
"Sayang, apa kau melihat itu," bisik Edgar, matanya tak lepas dari jemari mungil Queen yang seolah menari.
"Dia... dia bahkan tidak berhenti untuk berpikir?" Ava menutup mulutnya dengan takjub.
Menit kelima, Queen menekan tombol Enter dengan keras menggunakan telapak tangannya.
"Selesai," ucap Queen. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sedikit terengah-engah. Tubuh kecilnya mulai merasa lelah karena sinkronisasi otak yang terlalu cepat. "Ada virus tipe lama yang bersembunyi di balik database inventaris. Mereka tidak menemukannya karena mereka mencari di jalur protokol, bukan di kernel. Dasar amatir."
Edgar segera menyambar laptop itu, memeriksa hasil pekerjaan Queen. Matanya membelalak. Sistem kembali normal. Semua data yang tadinya terkunci kini terbuka sempurna.
Bahkan, Queen menambahkan lapisan keamanan baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Bagaimana mungkin?" Edgar menatap Queen dengan tatapan ngeri sekaligus kagum. "Kau baru berusia lima tahun. Dari mana kau belajar algoritma kernel?"
"Belajar? Itu kan mudah, seperti menyusun balok lego. Hanya saja legonya tidak bisa dipegang," balas Queen sembari menjulurkan lidahnya.
Ava langsung menghampiri Queen dan memeluknya erat, menciumi pipi gembul bocah itu dengan gemas.
"Ya Tuhan! Kau benar-benar ajaib! Edgar, lihat! Luca tidak bohong! Anak ini adalah permata!"
Edgar berdehem, mencoba menjaga wibawanya yang baru saja runtuh oleh seorang bocah berbaju pink.
"Yah, lumayan. Setidaknya kau membuktikan kau bukan beban yang hanya bisa makan ayam goreng."
"Queen mau gaun baru kalau begitu," sahut Queen tiba-tiba.
"Gaun ini sudah bau keringat. Dan Queen mau laptop sendiri. Yang warna pink."
Ava tertawa renyah. "Tentu, Sayang! Kita akan belanja besar-besaran sore ini! Edgar, kau harus membayar semua tagihannya sebagai permintaan maaf karena sudah mencurigai jenius kecil ini!"
Edgar hanya bisa menghela napas seraya menyembunyikan senyum tipis di balik rahang tegasnya.
"Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika Luca pingsan saat melihat tagihan kartu kreditnya nanti."
Queen tersenyum puas. Langkah pertama selesai.
"Aku sudah mengamankan posisi di dalam keluarga Frederick. Sekarang, tinggal menunggu Luca pulang dan menunjukkan padanya siapa bos yang sebenarnya di rumah ini," batinnya.
Namun, di balik kegembiraannya, Queen merasakan denyut di kepalanya kembali datang. Menggunakan kapasitas otak Alena dalam tubuh Queen ternyata benar-benar menguras energi fisiknya.
"Nyonya cantik," bisik Queen sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ava.
"Ya, Sayang?"
"Queen mau tidur, apa boleh? Kepala Queen rasanya mau meledak."
"Tidurlah, Jenius Kecil. Kau sudah bekerja sangat keras. Ava segera menggendong Queen dengan penuh kasih sayang tanpa bertanya lagi.
Edgar memperhatikan mereka dari jauh, ia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Siapkan tim perlindungan tambahan di Villa Milan. Dan katakan pada Luca, dia hebat karena sudah berhasil menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh emas di dunia bawah tanah!"
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁