NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reruntuhan eden

Ledakan itu tidak datang dalam rupa api yang membubung ke langit, melainkan sebuah gelombang kejut elektromagnetik murni yang menyedot seluruh cahaya di dalam kubah "Eden II". Suara denging frekuensi tinggi yang menyakitkan memecah gendang telinga, saat virus reflektif yang ditanamkan Dahayu mulai mengoyak arsitektur digital Phoenix dari dalam ke luar.

Laboratorium yang tadinya steril dan tenang kini berubah menjadi neraka teknologi. Kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit mencambuk udara, mengeluarkan percikan listrik biru yang menyambar apa saja di dekatnya.

"Dahayu! Apa yang kau lakukan?!" teriak Dr. Eleanor di tengah guncangan hebat. Ia mencoba menghantam konsol utamanya, namun layar monitor justru menampilkan barisan kode merah yang saling memakan satu sama lain. "Data itu... itu sampah! Kau memberikan data sampah padaku?!"

Dahayu berdiri tegak di tengah lantai yang mulai retak. Wajahnya yang biasanya sedatar permukaan es kini menunjukkan kilatan kepuasan yang pahit. "Aku tidak memberikan sampah, Ibu. Aku memberikan cermin. Itu adalah virus reflektif. Semakin keras Phoenix mencoba mengonsumsi data itu, semakin cepat ia akan menghancurkan dirinya sendiri. Kau ingin kesempurnaan? Inilah kesempurnaan yang kau ciptakan: kehancuran mutlak."

Raka segera bergerak. Ia tidak peduli pada perdebatan filosofis ibu dan kakaknya. Dengan gerakan taktis, ia menendang meja kontrol hingga terguling, menciptakan barikade sementara. "Berhenti berpidato! Sistem pendingin reaktor di bawah kita sudah meledak. Pulau ini akan tenggelam dalam sistem pembuangan otomatis dalam hitungan menit!"

Di pusat anjungan, Bhanu masih mendekap Selena. Tubuh wanita itu bergetar hebat; aliran listrik yang tadinya membara di kulitnya mulai meredup, namun suhu tubuhnya merosot drastis. Selena bernapas pendek-pendek, matanya berputar ke belakang saat jiwanya bertarung melawan sisa-sisa kode yang mencoba menguasai syarafnya.

"Selena! Tetap bersamaku! Lihat aku!" Bhanu menangkup wajah Selena, mengabaikan sengatan listrik kecil yang masih melompat ke jemarinya. "Dahayu! Dia kehilangan denyut nadi!"

Dahayu berlari mendekat, ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil peninggalan kakek mereka—sebuah pemutus arus saraf manual. "Bhanu, pegang pundaknya! Aku harus memutuskan sambungan di pangkal lehernya sekarang, atau otaknya akan hangus bersama server ini!"

Dengan satu sentakan keras, Dahayu menghujamkan jarum perak itu ke titik biometrik Selena. Sebuah jeritan tertahan keluar dari mulut Selena sebelum tubuhnya jatuh lunglai sepenuhnya di pelukan Bhanu. Pendaran perak di iris matanya padam. Ia kembali menjadi manusia, namun dalam kondisi yang sangat rapuh.

"Jalur barat! Jalur darurat ke dermaga rahasia masih terbuka!" teriak Dahayu sambil memanggul tas datanya.

Namun, Eleanor tidak tinggal diam. Kehilangan ambisi seumur hidupnya dalam sekejap mata membuatnya kehilangan kewarasan. Ia merangkak di antara reruntuhan, mencabut sepucuk senjata jenis railgun pendek dari bawah konsol yang hancur. Wajahnya yang anggun kini penuh noda hitam dan kebencian.

"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada sejarah untuk kalian semua!" Eleanor mengarahkan senjata itu tepat ke punggung Bhanu yang sedang membopong Selena.

Duar!

Suara tembakan meletus, menggetarkan dinding laboratorium yang mulai runtuh. Namun, tembakan itu bukan berasal dari senjata Eleanor.

Raka telah lebih dulu melepaskan timah panas dari senapan serbunya ke arah bahu sang ibu. Eleanor terjerembap, senjatanya terlempar jauh ke dalam celah lantai yang terbuka. Raka berdiri di sana, berdiri di antara puing-puing, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara benci, muak, dan sisa-sisa cinta masa kecil yang terkubur dalam-dalam.

"Pergilah, Bhanu! Bawa dia keluar dari sini!" teriak Raka tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Sang Pencipta ini."

"Raka, jangan konyol! Tempat ini akan meledak!" seru Bhanu.

"Cepat pergi, brengsek!" Raka melepaskan satu rentetan tembakan ke langit-langit untuk menjatuhkan bongkahan beton, menutup jalan kembali agar Bhanu dan Dahayu terpaksa lari ke jalur evakuasi. "Aku tidak ingin kau melihat apa yang akan kulakukan pada wanita ini!"

Bhanu dan Dahayu terpaksa berlari menembus koridor yang mulai dipenuhi air laut yang masuk dari retakan dinding. Mereka melompat ke dalam pesawat amfibi yang tertambat di dermaga dalam gua tepat saat seluruh kompleks "Eden II" mengalami kolaps total.

Dari kejauhan, saat pesawat mulai lepas landas membelah ombak yang mengamuk, mereka melihat kubah raksasa di tengah pulau itu perlahan runtuh ke dalam tanah. Suara ledakan bawah tanah meredam segala suara lainnya, menciptakan pusaran air raksasa yang menelan seluruh laboratorium beserta ambisi Dr. Eleanor di dalamnya.

Raka muncul beberapa detik kemudian, ia terjun dari tebing pulau dan berenang sekuat tenaga sebelum akhirnya ditarik masuk ke kabin pesawat oleh Dahayu. Wajah Raka penuh luka sayatan kaca, namun ia hanya duduk diam, mengeluarkan sebatang rokok terakhirnya dan menyalakannya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Ibu?" tanya Dahayu pendek, suaranya parau.

Raka menghisap rokoknya dalam-dalam, menatap pulau yang kini hilang dari permukaan laut. "Dia memilih tinggal bersama ciptaannya. Dia bilang, seorang arsitek tidak boleh meninggalkan karyanya yang paling hancur."

Di dalam kabin yang sempit itu, keheningan menyelimuti mereka. Di tengah-tengah ketiga bersaudara Alka yang bersimbah darah dan luka, Selena terbaring pucat. Ia tidak lagi memiliki kekuatan dewa, tidak ada lagi kode di kepalanya. Hanya seorang wanita yang akhirnya bisa bernapas tanpa beban seluruh dunia di pundaknya

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!