NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Rumah Mewah Baru

#

Tiga bulan setelah kejadian Faris mulai bertanya soal sholat, Zidan pulang sore dengan senyum lebar. Dia bawa map besar warna coklat. Masuk rumah sambil teriak.

"Naura! Faris! Sini! Ayah ada berita gembira!"

Naura keluar dari dapur sambil lap tangan. Faris lagi main lego di ruang tamu.

"Ada apa Mas? Kok excited banget?"

Zidan buka map itu. Keluarin beberapa lembar kertas. Foto foto. Brosur.

"Lihat ini! Ayah beli rumah baru!"

Naura melotot. "Apa? Rumah baru?"

"Iya! Rumah mewah! Di komplek elit Green Valley! Dua lantai! Lima kamar tidur! Tiga kamar mandi! Ada kolam renang pribadi! Ada taman luas! Ada garasi buat empat mobil! Luas tanah lima ratus meter! Luas bangunan tiga ratus meter!"

Zidan tunjukin foto foto rumah itu. Rumah megah dengan desain modern minimalis. Cat putih bersih. Jendela jendela besar. Pagar tinggi dengan pintu otomatis.

"Harganya tiga miliar! Ayah bayar cash! Ini kuncinya!" Dia keluarin kunci dari kantong. Lambaikan di depan wajah Naura.

Naura ngeliatin foto foto itu dengan perasaan campur aduk. Satu sisi dia kagum. Rumahnya bagus banget. Megah. Mewah. Tapi sisi lain dia sedih. Kenapa Zidan nggak diskusi dulu sama dia?

"Mas... kenapa Mas beli tanpa bilang bilang aku dulu?"

"Lho kenapa? Ini kan surprise! Ayah pikir kamu bakal seneng!"

"Aku... aku nggak bilang nggak seneng Mas. Cuma... cuma harusnya kita diskusi dulu. Ini keputusan besar. Tiga miliar. Itu uang banyak banget."

Zidan mukanya mulai berubah. Senyumnya mulai ilang. "Naura, ini uang Ayah. Hasil kerja keras Ayah. Ayah mau pake buat apa juga terserah Ayah kan?"

"Bukan gitu Mas. Aku cuma... cuma pikir kita harusnya ngobrol dulu. Rumah ini kan rumah keluarga kita. Harusnya kita putuskan bareng."

"Udah diputusin! Ayah yang putuskan! Dan kita pindah minggu depan!"

"Minggu depan? Secepat itu?"

"Iya! Kenapa? Ada masalah? Kamu nggak mau pindah ke rumah yang lebih bagus?"

Naura duduk di sofa. Ngeliatin ruang tamu rumah mereka sekarang. Rumah yang mereka beli empat tahun lalu. Rumah pertama mereka. Rumah yang penuh kenangan.

Di ruang tamu ini, mereka pernah sholat tahajud bareng sambil nangis bersyukur. Di dapur itu, Naura pernah masak buat Zidan yang pulang capek kerja. Di kamar itu, mereka pernah peluk pelukan sambil bermimpi tentang masa depan.

"Mas... rumah ini... rumah ini punya banyak kenangan indah. Kenangan waktu kita masih rukun. Masih saling sayang. Masih saling doa in."

Zidan ketawa sinis. "Rukun? Sayang? Naura, kita masih rukun sekarang! Kita masih sayang! Cuma karena Ayah sibuk kerja, kamu pikir kita nggak rukun?"

"Mas... kita udah berapa lama nggak sholat berjamaah? Udah berapa lama nggak ngobrol dengan tenang? Udah berapa lama nggak peluk pelukan tanpa ada pertengkaran dulu?"

"Itu karena kamu yang cerewet! Kamu yang selalu ngomel! Ngomel soal sholat! Ngomel soal bisnis! Ngomel soal ini itu! Capek Ayah!"

Faris yang dari tadi dengerin langsung tutup telinga pake tangan. "Ayah Ibu jangan berantem..."

Naura langsung sadar. Dia dekatin Faris. Peluk anaknya. "Maaf sayang. Ayah Ibu nggak berantem kok. Cuma ngobrol."

Zidan napas berat. "Pokoknya kita pindah minggu depan. Titik. Nggak ada tawar menawar."

"Tapi Mas... aku... aku sayang rumah ini. Di rumah ini aku ngerasa dekat sama Mas. Ngerasa keluarga kita masih utuh. Kalau kita pindah, aku takut..."

"Takut apa?"

"Takut kita makin jauh. Makin asing. Rumah besar tapi hati kita kosong."

Zidan jalan deket ke Naura. Tatap matanya tajam. "Kamu nggak bersyukur ya? Udah dikasih rumah mewah masih ngeluh. Kamu tau nggak berapa banyak orang yang pengen punya rumah kayak gitu? Tapi mereka nggak mampu. Kamu? Kamu dikasih gratis! Tanpa harus keluar uang sepeser pun! Tapi kamu malah sedih?"

"Bukan gitu Mas..."

"Terus gitu gimana? Kamu mau apa sih? Kamu mau balik ke kontrakan sempit? Mau balik makan nasi kecap? Mau balik hidup susah?"

"Kalau itu artinya kita bisa balik rukun kayak dulu, iya! Aku mau!"

PLAK!

Suara tamparan keras.

Naura jatuh terduduk di lantai sambil pegang pipi yang panas.

Faris teriak. "AYAH! KENAPA AYAH MUKUL IBU?"

Zidan berdiri dengan napas berat. Tangannya masih gemetar. Matanya melotot. "Kamu... kamu keterlaluan Naura. Ayah kerja keras buat keluarga ini. Banting tulang siang malam. Biar kamu dan Faris hidup enak. Tapi kamu bilang kamu mau balik hidup susah? Kamu nggak hargain usaha Ayah?"

Naura nangis sambil pegang pipi. Ini pertama kalinya Zidan mukul dia. Pertama kalinya dia ngerasa takut sama suaminya sendiri.

"Mas... maafin aku. Aku nggak bermaksud..."

"DIAM! Ayah nggak mau denger alesan! Minggu depan kita pindah! Dan kamu harus ikut! Nggak ada penolakan!"

Zidan ambil kunci mobilnya terus keluar rumah. Banting pintu keras.

BLAM!

Suara mobil ngebut keluar dari garasi.

Naura masih duduk di lantai sambil nangis. Faris langsung peluk Ibunya sambil ikut nangis.

"Ibu jangan nangis. Ayah jahat. Ayah mukul Ibu. Faris benci Ayah."

"Jangan sayang. Jangan benci Ayah. Ayah cuma... Ayah cuma lagi emosi. Nggak sengaja."

"Tapi Ibu sakit. Pipi Ibu merah. Faris takut."

Naura peluk Faris erat sambil nangis makin keras. "Maafin Ibu ya. Maafin Ibu nggak bisa kasih kamu keluarga yang harmonis. Maafin Ibu..."

Malam itu Zidan nggak pulang. Handphonenya dimatiin. Naura coba telpon berkali kali. Nggak diangkat.

Naura nggak bisa tidur. Dia duduk di sofa sambil ngeliatin ruang tamu yang sepi. Pipinya masih panas bekas tamparan.

"Ya Allah... suamiku sekarang udah berani mukul aku. Dulu dia nggak pernah. Bahkan waktu dia paling marah sekalipun, dia nggak pernah angkat tangan. Tapi sekarang... sekarang dia tampar aku di depan anak kami sendiri."

Dia nangis sambil peluk bantal.

"Rumah mewah. Uang banyak. Mobil mahal. Tapi kebahagiaan kami hilang. Cinta kami hilang. Keluarga kami hancur. Ini yang Mas mau? Ini yang Mas kejar selama ini?"

Dia ambil wudhu terus sholat di mushola. Sholat yang panjang. Penuh air mata.

"Ya Allah... aku nggak kuat lagi. Aku udah coba sabar. Udah coba lembut. Tapi hasilnya apa? Dia makin kasar. Makin jahat. Bahkan mukul aku. Ya Allah... tolong kasih aku petunjuk. Aku harus gimana? Aku harus bertahan atau... atau..."

Dia nggak sanggup ngelanjutin kalimatnya.

Karena di dalam hatinya, pertama kalinya, dia mikirin sesuatu yang nggak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Cerai.

Tapi dia langsung buang pikiran itu jauh jauh.

"Nggak. Aku nggak boleh mikir kayak gitu. Aku harus bertahan. Demi Faris. Demi keluarga kami. Aku harus kuat."

Pagi harinya, Zidan pulang. Wajahnya kusut. Baju acak acakan. Bau alkohol.

Naura lagi nyiapin sarapan. Begitu liat suaminya masuk, dia langsung deketin.

"Mas kemana semalam? Ibu khawatir. Handphone Mas dimatiin."

Zidan langsung jalan masuk kamar tanpa jawab.

Naura ikutin. "Mas, aku tanya. Mas kemana?"

"Bukan urusan lo." Zidan ganti baju.

"Mas... kemarin Mas mukul aku. Aku... aku sakit Mas. Bukan cuma fisik. Tapi hati aku juga sakit."

Zidan berhenti ganti baju. Ngeliatin Naura sekilas. Liat pipi istrinya yang masih agak merah.

Sekilas dia ngerasa bersalah. Tapi cuma sekilas.

"Lo yang nyebelin duluan. Lo yang nggak bersyukur."

"Mas... aku bersyukur. Tapi aku lebih pengen keluarga kita bahagia. Bukan cuma kaya."

"Kaya itu bahagia! Lo nggak ngerti karena lo nggak pernah ngrasain susah kayak gue!"

"Aku ngerasain Mas! Kita sama sama ngerasain susah dulu! Kita sama sama berjuang! Kenapa sekarang Mas bilang cuma Mas yang ngerasain?"

Zidan jalan deket ke Naura. Nunjuk nunjuk wajahnya. "LO DIEM DI RUMAH! MASAK! BERESIN RUMAH! ITU AJA! GUE? GUE KELILING SANA SINI! KETEMU ORANG BANYAK! MIKIR KERAS! BIAR DAPET UANG! JANGAN SAMAIN PERJUANGAN LO SAMA GUE!"

Naura mundur sedikit. Takut dimukul lagi.

Zidan ngeliat istrinya takut. Dia napas berat. "Pokoknya minggu depan kita pindah. Siap siap aja."

Dia keluar kamar. Keluar rumah lagi.

Naura duduk di kasur sambil nangis.

"Ya Allah... aku nggak kenal orang ini. Ini bukan suamiku. Ini bukan Zidan yang dulu peluk aku sambil bilang terima kasih udah mau nikah sama dia yang miskin. Ini orang lain. Orang asing yang pake wajah suamiku."

Dan minggu depannya, mereka pindah.

Pindah ke rumah mewah dua lantai.

Rumah yang besar.

Rumah yang kosong.

Kosong dari cinta.

Kosong dari kehangatan.

Kosong dari kebahagiaan.

Rumah yang jadi saksi bisu kehancuran keluarga mereka.

Kehancuran yang dimulai dari kesombongan.

Dari keserakahan.

Dari lupa diri.

Dan nggak ada yang bisa menghentikan.

Karena Zidan udah terlalu jauh.

Terlalu dalam.

Dan nggak mau balik.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya💪💪
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak... bantu support lewat komentarnya ya😊
total 1 replies
Risnawati
lanjut.jngan lama2.nanti lupa
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak aku lanjut
total 1 replies
Risnawati
lanjut lagi seru
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu nya
total 1 replies
Risnawati
lanjut.
Hj Nursidah
lanjutt
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu ya
total 1 replies
Hj Nursidah
lanjut dek
aa ge _ Andri Author Geje: oke kak.. bantu support lewat komentar nya ya
total 1 replies
Siti Yatmi
itu mah bodoh namanya ...
Umi Musringah: yg bikin ceritanya bodoh bikin di bodo tetap bertahan oon namanya
total 1 replies
Risnawati
lanjut kak
aa ge _ Andri Author Geje: ditunggu ya 😊
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
aa ge _ Andri Author Geje: di tunggu ya😊
total 1 replies
Risnawati
masih lanjut ya.penasaran
aa ge _ Andri Author Geje: masih kak
total 1 replies
Risnawati
lanjutan nya mno
EMA
Lanjut
checangel_
Wassalam sudah /Facepalm/
checangel_
Istighfar Author dan Reader ... maaf ya Kak dua Bab cerita Kakak aku skip cepat /Pray/
aa ge _ Andri Author Geje: oke siap kembali ke mode awal
dari mode sugiono
total 5 replies
checangel_
Definisi setia yang bukan sebenarnya 🤣
checangel_
Begitulah perasaan sebagai seorang anak 🤧/Sob/
checangel_
Bentak aja terus/Drowsy/
Siti Yatmi
detik2 kehancuran Zidan..kayanya...dehhhh..syg amat dikasih harta banyak di sia siain
aa ge _ Andri Author Geje: itu lah orang kak baru di kasih mereka dikit lupa cangkang
total 1 replies
Siti Yatmi
ya Allah.. emang terkadang kekayaan itu malah menghancurkan, jarang ada yg bener2 bisa membuat keluarga tentram,, godaan kekayaan emang banyak,,salah satunya kaya Zidan,,belum lagi tergoda wanita,,,hemmmm
aa ge _ Andri Author Geje: real kak... itulah ujian allah
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 🙏👍 teruntuk Author dan kisahnya
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!