NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, sinar matahari Swiss yang menerobos masuk ke dalam kamar seolah ikut merayakan kembalinya energi sang Raja Kampus. Nickholes bangun dengan tubuh yang terasa ringan dan segar, seolah demam hebat kemarin hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat.

Begitu matanya terbuka dan melihat Nadine masih tertidur lelap di sampingnya, senyuman Nick langsung terkembang, sebuah senyum tulus yang tidak luntur sepanjang pagi.

Tanpa menunggu Nadine bangun, Nick langsung bergerak sigap. Dengan ketelitian seorang pelayan setia, ia membereskan tempat tidur mereka yang berantakan, merapikan bantal-bantal besar yang menyangga perut Nadine semalam, dan mengganti sprei dengan yang baru dan wangi lavender.

Saat Nadine akhirnya terjaga, Nick sudah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah berseri-seri. Tanpa banyak bicara dan mengabaikan protes kecil Nadine, Nick langsung menggendong wanita itu dengan sangat hati-hati menuju kamar mandi.

"Nick, aku bisa jalan sendiri..." gumam Nadine, meski ia tetap melingkarkan tangannya di leher Nick.

"Diamlah, Sayang. Tugasmu hanya menjadi cantik dan menjaga jagoan kita. Tugas menggendong, memandikan, dan mengurus segalanya adalah milikku," jawab Nick sambil mengecup kening Nadine.

Di dalam kamar mandi, Nick memandikan Nadine dengan sangat lembut. Ia mengusap punggung Nadine yang pegal dengan sabun aromaterapi, memijat kaki bengkak istrinya di bawah kucuran air hangat, dan mengeringkan tubuh Nadine dengan handuk selembut awan. Sepanjang waktu itu, bibir Nick tak henti-hentinya membisikkan kata-kata cinta dan sesekali bercanda dengan perut Nadine yang menyembul di balik air sabun.

"Lihat, Nak, Ibumu ini sangat keras kepala, tapi dia yang paling cantik di dunia, kan?" ucap Nick sambil mengedipkan mata ke arah perut Nadine.

Nadine hanya bisa terdiam, membiarkan dirinya dimanjakan. Meskipun ia masih berusaha mempertahankan sisa-sisa kemarahannya, melihat senyum Nick yang begitu cerah dan pengabdiannya yang tanpa lelah pagi itu, hatinya terasa sedikit lebih hangat. Nick benar-benar tampak seperti pria baru, seorang pria yang telah menemukan kembali dunianya dan bersumpah tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Pagi itu, suasana di kamar yang tenang mendadak pecah oleh desahan napas kesal. Nadine berdiri di depan cermin besar kamar mandi, masih mengenakan jubah mandi satin yang sedikit terbuka di bagian leher.

Matanya membelalak menatap pantulan dirinya. Di sana, di sepanjang garis leher hingga tulang selangka, terdapat jejak-jejak kemerahan yang sangat jelas, hasil dari terapi penyembuhan Nickholes semalam yang tampaknya terlalu bersemangat.

"Nickholes Teldford!" teriak Nadine, suaranya menggema di antara dinding marmer.

Nick, yang sedang asyik menata bantal-bantal di tempat tidur dengan senyum lebar yang tak kunjung surut, langsung berlari kecil menuju kamar mandi. Wajahnya tampak sangat bugar, pipinya kembali merona, dan matanya berkilat jenaka.

"Ya, Sayang? Ada apa? Apa Jagoan mau sarapan stroberi lagi?" tanya Nick dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah dia adalah pria paling tidak berdosa di dunia.

Nadine berbalik, menunjuk lehernya dengan jari gemetar. "Lihat ini! Apa yang kau lakukan semalam? Aku harus bertemu Ibu siang ini untuk minum teh, Nick! Bagaimana aku menjelaskan tanda-tanda ini? Kau benar-benar seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, tahu tidak!"

Nick melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Bukannya merasa bersalah, dia justru mencondongkan tubuhnya, menatap tanda merah itu dengan tatapan bangga, lalu memberikan kecupan singkat tepat di atas salah satu tanda tersebut.

"Itu namanya tanda kepemilikan, Nadine. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang semalam kalau aku boleh berkunjung?" Nick mengedipkan sebelah matanya. "Yah, namanya juga tamu jauh, tentu saja aku ingin meninggalkan jejak bahwa aku pernah singgah di sana."

"Nick! Aku sedang marah!" Nadine mencoba memasang wajah sedingin mungkin, meski hatinya sedikit berdesir melihat betapa tampannya Nick pagi itu dengan rambut yang sedikit berantakan.

"Oh, kau marah?" Nick tertawa kecil. Ia tiba-tiba berlutut di depan Nadine, sejajar dengan perut buncit kekasihnya itu.

"Nak, dengar tidak? Ibumu sedang pura-pura marah. Padahal semalam dia yang memeluk Ayah paling erat. Bilang pada Ibu, kalau dia terus cemberut begitu, nanti kau lahir dengan wajah yang suka protes seperti dia."

Nadine memutar bola matanya, namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengelus rambut Nick. "Berhenti mencuci otak anakku dengan kata-kata konyolmu itu."

Nick tidak membiarkan Nadine berjalan sendiri menuju meja makan di balkon. Ia bersikeras menggendongnya, mengabaikan fakta bahwa Nadine terus memukul bahunya pelan. Di balkon yang menghadap langsung ke keindahan Danau Jenewa, Nick telah menyiapkan sarapan sehat.

"Silakan duduk, Yang Mulia Ratu, dan Pangeran Kecil," ucap Nick sambil menarikkan kursi untuk Nadine.

Sepanjang sarapan, Nick tidak henti-hentinya menggoda Nadine. Setiap kali Nadine hendak menyuapkan potongan buah ke mulutnya, Nick akan menatapnya dengan pandangan intens yang membuat Nadine salah tingkah.

"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Nadine ketus.

"Aku hanya sedang berpikir," jawab Nick sambil menopang dagu. "Ternyata hamil membuatmu sepuluh kali lebih menggoda. Kalau aku tahu sejak dulu bahwa menjadi ayah akan membuatku merasa sekuat pahlawan super, aku mungkin sudah memintamu pindah ke Swiss bersamaku sejak tahun pertama kita pacaran."

"Tahun pertama kita pacaran kau masih sibuk dikelilingi pemandu sorak, Nick," sindir Nadine, mencoba mengingatkan dirinya sendiri pada rasa sakit masa lalu agar tidak terlalu cepat luluh.

Nick terdiam sejenak, senyumnya sedikit meredup berganti dengan tatapan yang sangat dalam. Ia meraih tangan Nadine di atas meja, mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Maafkan aku sayang, itu kesalahan terbesar dalam hidupku, Nadine. Menjadi populer adalah penjara, dan kau adalah satu-satunya pintu keluar yang bodohnya hampir ku kunci sendiri. Sekarang, biarkan aku menjadi pemandu sorak pribadimu. Aku bahkan rela memakai rok pendek jika itu bisa membuatmu tertawa."

Nadine nyaris menyemburkan jus jeruknya. "Jangan harap aku akan membiarkanmu merusak pemandangan Swiss dengan rok mini, Nick."

Siang harinya, Nick memaksa Nadine untuk berjalan-jalan kecil agar otot-ototnya tidak kaku. Namun, berjalan-jalan versi Nickholes adalah sebuah misi pengawalan tingkat tinggi. Ia membawa payung besar untuk menghalangi matahari, sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya, dan satu bantal kecil jaga-jaga kalau Nadine ingin duduk tiba-tiba.

"Nick, kita hanya ke taman belakang, bukan mendaki Alpen!" keluh Nadine saat Nick mencoba membetulkan letak syal di lehernya agar tanda merah tadi benar-benar tertutup.

"Keamanan nomor satu, Sayang," sahut Nick riang.

Saat mereka sampai di sebuah bangku kayu, Nick langsung memasang bantalnya. Begitu Nadine duduk, Nick kembali berlutut di rumput, mulai memijat pergelangan kaki Nadine yang sedikit membengkak.

"Nah, Jagoan, Ayah punya tebak-tebakan untukmu," ucap Nick sambil mengusap perut Nadine. "Kenapa Ayahmu ini dulu sangat bodoh sampai hampir kehilangan Ibu yang sehebat ini?"

Nadine menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Karena Ayahmu ini terlalu banyak makan protein bola football sampai otaknya bergeser ke otot," jawab Nick sendiri sambil tertawa. "Tapi untungnya, anak Ayah di dalam sini punya otak yang pintar seperti Ibunya, jadi kau pasti tahu kalau Ayah sekarang sudah bertaubat dan menjadi budak cinta nomor satu di dunia."

Nadine tertawa, kali ini benar-benar tertawa lepas. Ia tidak bisa lagi menahan topeng marahnya.

"Kau benar-benar tidak punya urat malu ya, Nickholes Teldford? Di mana kapten tim yang angkuh dan dingin itu?"

Nick mendongak, menatap Nadine dengan binaran mata yang menunjukkan bahwa ia telah menemukan kebahagiaannya kembali. "Dia sudah pensiun, Nadine. Sekarang yang ada hanya pria yang sangat ahli memijat kaki, sangat berbakat menyiapkan air mandi, dan sangat tidak sabar menunggu kelahiran anaknya."

Nick kemudian menempelkan telinganya ke perut Nadine, mendengarkan detak kehidupan di sana. "Dia menendang, Nadine. Dia bilang dia setuju kalau Ayahnya memang agak konyol."

Hari itu berlalu dengan penuh tawa dan godaan-godaan kecil yang sebenarnya sangat menghibur Nadine. Nick bahkan sempat mencoba meniru gaya yoga hamil yang dilihatnya di buku panduan Nadine, berakhir dengan dia yang hampir terjungkal ke belakang dan membuat Nadine tertawa sampai perutnya terasa kram ringan.

Saat matahari mulai terbenam dan warna langit berubah menjadi ungu keemasan, Nick membawa Nadine masuk kembali ke rumah. Ia membantu Nadine mengganti pakaian dengan baju katun yang longgar dan nyaman.

Saat mereka bersiap untuk istirahat sore, Nick kembali memeluk Nadine dari belakang saat mereka berdiri di depan jendela besar.

"Nadine," bisik Nick di telinganya. "Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah tidak benar-benar mengusirku meski aku tahu aku layak mendapatkannya."

Nadine bersandar pada dada bidang Nick, merasakan detak jantung pria itu yang tenang dan teratur, sangat berbeda dengan kegelisahan Nick seminggu yang lalu. Ia memegang tangan Nick yang melingkar di perutnya.

"Jangan buat aku menyesal telah mengizinkanmu tinggal, Nick," ucap Nadine pelan.

"Tidak akan. Aku bersumpah demi nama calon putra kita," jawab Nick tegas. Ia kemudian mengecup leher Nadine lagi, tepat di salah satu tanda merah yang masih tersisa. "Dan besok... sepertinya aku harus membuat tanda baru agar kau punya alasan untuk memarahiku lagi. Aku suka saat kau pura-pura marah, wajahmu jadi sangat menggemaskan."

"Nick! Berhenti atau kau tidur di gudang malam ini!"

"Gudang pun tak apa, asalkan kau yang mengantarku ke sana dengan ciuman," goda Nick lagi, yang dibalas dengan cubitan gemas di lengannya.

Hari itu, di tengah pegunungan Swiss, luka-luka di hati Nadine perlahan mulai tertutup oleh tawa. Meskipun masa depan masih penuh tantangan, terutama reaksi ibunya yang belum sepenuhnya menerima Nick, namun kehadiran Nick yang konyol, protektif, dan penuh kasih memberikan harapan baru.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!