"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukanlah menjadi dokter, pengusaha, atau profesi mentereng lainnya. Impian terbesarnya hanya satu, menikah di usia muda. Sayangnya, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu menembus selera tingginya.
Hingga suatu sore, hujan deras menahannya di sebuah halte bus. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Arlan—pria berusia 28 tahun berpenampilan klimis dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan suasana. Bagi Keyla, Arlan adalah definisi nyata dari kematangan, kemewahan, dan pria idaman yang selama ini ia cari. Cukup satu kali lirik, keputusan Keyla sudah bulat, Om Duda berkarisma ini harus jadi miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Misi Intelijen Kelas Putih-Abu
Senin pagi yang cerah seharusnya diisi dengan kantuk yang membuncah saat upacara bendera, tetapi tidak bagi Keyla. Selama tiga puluh menit berdiri di lapangan sekolah, pikirannya tidak tertuju pada pidato Kepala Sekolah yang membosankan. Wajah tegas Arlan, aroma jas mahalnya, dan suara baritonnya yang ketus terus menari-nari di kepala Keyla seperti kaset rusak.
"Lu kesambet setan halte kemarin ya, Key?" bisik Rara pelan saat barisan mereka dibubarkan untuk menuju kelas. "Dari tadi lu senyam-senyum sendiri kaya orang gila."
Keyla merangkul lengan Rara santai. "Bukan kesambet setan, Ra, tapi kesambet cinta. Gue nggak bisa tidur semalaman mikirin Om Arlan. Muka gantengnya itu lho... unreal banget!"
"Duh, mending lu sadar deh," Rara menepuk paha Keyla saat mereka sudah duduk di bangku kelas. "Lu bahkan nggak tahu itu om-om siapa, kerjanya di mana, udah punya anak berapa, atau jangan-jangan dia udah punya istri yang siap ngelabrak lu!"
"Makanya, hari ini misi resmi kita dimulai," jawab Keyla penuh semangat. Ia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar dengan lincah. "Misi Pencarian Identitas calon suami gue."
Keyla membuka aplikasi mesin pencari dan mengetikkan kata kunci. Arlan Lexus hitam. Karena hasilnya terlalu umum, ia mengingat detail kecil dari obrolan kemarin. Sopir itu memanggilnya Pak Arlan, berpakaian jas sangat rapi, dan ada di kawasan bisnis Sudirman jam lima sore.
"Lu ingat nggak logo di plat nomor atau stiker di kaca mobilnya kemarin?" tanya Keyla membuyarkan lamunan Rara.
"Mana gue tahu! Gue kemarin sibuk nahan malu gara-gara lu ngajak nikah orang asing!" seru Rara.
"Bentar." Keyla memicingkan mata. "Kemarin pas dia buka pintu, gue sempat liat stiker valet parking warna emas di kaca depan. Tulisan huruf depannya G. Group? Grand?"
Keyla mulai mengetikkan nama-nama pengusaha muda sukses di Indonesia bernama Arlan. Setelah melewati belasan laman pencarian dan akun media sosial, mata Keyla tiba-tiba membelalak lebar.
"Dapat!" jerit Keyla hingga membuat beberapa teman kelasnya menoleh.
"Mana? Siapa?" Rara ikut penasaran dan menempelkan wajahnya ke layar ponsel Keyla.
Di layar ponsel itu terpampang sebuah artikel majalah bisnis digital terkemuka. Arlan Pratama Adhitama (28 Tahun), CEO Adhitama Group yang Dingin dan Misterius: Sukses Memimpin Ekspansi Bisnis Properti & Otomotif."
Foto yang terpasang di artikel tersebut adalah sosok yang sama persis dengan pria di halte kemarin. Arlan berdiri tegap dengan jas hitam, menatap kamera tanpa senyuman sedikit pun.
"Tuh kan, Ra! Namanya Arlan Pratama Adhitama! Umurnya 28 tahun, CEO Adhitama Group!" seru Keyla dengan mata berbinar-binar. "Gila, tajir melintir, ganteng, matang... ini sih jackpot!"
"Tunggu, tunggu, lu baca kolom di bawahnya nih," Rara menunjuk bagian profil pribadi di artikel tersebut.
Keyla membaca kalimat itu pelan-pelan. "Status Duda (Bercerai 2 tahun lalu). Tidak memiliki anak."
"Gila... dia beneran duda, Key!" Rara menutup mulutnya kaget. "Tapi wait, umur 28 tahun udah duda? Penasaran banget kenapa dia cerai."
"Bagus dong!" sahut Keyla makin bersemangat. "Berarti statusnya single, legal! Nggak ada istri yang bakal ngelabrak gue, dan nggak ada anak tiri yang bakal nolak gue jadi mamanya. Ini namanya takdir, Ra!"
"Tapi Key, dia itu CEO perusahaan raksasa! Lu cuma anak SMA yang nilai matematikanya sering remedi. Gimana caranya lu bisa ketemu dia lagi? Lu pikir gedung kantornya bisa dimasuki sembarangan?" ujar Rara.
Keyla menyenderkan badannya ke sandaran kursi sambil tersenyum misterius. "Gedung Adhitama Tower kan cuma dua blok dari tempat bimbel kita, Ra. Dan kebetulan, sepupu gue, Mas Yoga, kan kerja jadi staf IT di gedung daerah sana. Gue bisa minta bantuan dia."
"Lu bener-bener nekat ya, Keyla." cibir Rara sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Nekat itu nama tengah gue, Ra," jawab Keyla santai. "Kalau Om Arlan jual mahal, gue yang bakal beli borongan. Lihat aja, dalam seminggu ini, gue bakal bikin dia ingat nama Keyla!"
Sore harinya, tepat setelah bel sekolah berbunyi, Keyla tidak langsung pulang. Ia mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian kasual—celana jins dan kaos putih yang dipadukan dengan jaket denim gantung. Setelah memoles bibirnya dengan lip gloss tipis, Keyla berdiri di depan gedung pencakar langit megah bertuliskan ADHITAMA TOWER.
Keyla berdiri di seberang jalan, mengawasi pintu keluar utama gedung tersebut sambil memegang secangkir kopi dingin.
Setelah menunggu hampir empat puluh menit, sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Arlan keluar dari pintu kaca utama, didampingi seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat rapi dan sang sopir yang memegang payung. Arlan masih tampak gagah dan dominan, melangkah menuju mobil Lexus hitam yang sudah terparkir di lobby.
"Aksi fase satu dimulai," gumam Keyla pada dirinya sendiri.
Saat Arlan hendak melangkah masuk ke dalam mobil, Keyla sengaja berjalan agak cepat melintasi area lobby luar dan mendadak menjatuhkan gantungan kunci berbentuk boneka beruang berukuran cukup besar tepat di dekat kaki Arlan.
Sopir Arlan hendak memungutnya, tetapi Arlan menahan tangan sopirnya. "Tunggu."
Arlan membungkuk sedikit, memungut gantungan kunci beruang berwarna merah muda itu. Ia menatap punggung Keyla yang berjalan perlahan.
"Hei, Anak SMA," panggil Arlan dengan nada datar namun tegas.
Keyla menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan dengan raut wajah pura-pura kaget yang sangat natural, lalu mengukir senyuman paling manis.
"Eh? Om Arlan?" panggil Keyla dengan nada kaget yang dibuat-buat. "Kok kita bisa ketemu lagi di sini? Wah, jangan-jangan kita emang jodoh ya, Om?"
Arlan tidak terpengaruh dengan ucapan Keyla. Ia melangkah mendekat, lalu menyodorkan gantungan kunci tersebut dengan wajah dingin tanpa ekspresi. "Barang kamu jatuh. Dan stop panggil aku jodoh. Itu menggelikan," sahut Arlan tanpa basa-basi.
Keyla menerima gantungan kunci itu, lalu dengan sengaja menyentuh jemari Arlan selama beberapa detik.
"Makasih ya, Om Arlan yang ganteng," goda Keyla sambil memasukkan gantungan kunci ke tasnya. "Lagian Om kok tahu aku anak SMA? Oh... Om ketagihan mikirin aku ya dari kemarin?"
Arlan menghela napas berat, menatap Keyla dari atas ke bawah. "Aku ingat wajah kamu karena keberanian kamu yang tidak bersopan santun di halte kemarin. Dan sekali lagi aku ingatkan, ini kawasan kantor, bukan tempat main anak sekolah. Pulang."
"Aku nggak lagi main kok, Om. Aku cuma lagi memperjuangkan masa depan. Gimana kalau sebagai rasa terima kasih karena Om udah balikin barang aku, aku traktir Om minum kopi di kafe depan?"
"Aku sibuk. Jangan muncul di depanku lagi," tegas Arlan sebelum melangkah masuk ke dalam mobil Lexus-nya dan menutup pintu .
Mobil mewah itu melaju pergi meninggalkan area lobby. Namun, di balik kaca mobil yang gelap, Arlan sempat melirik dari spion samping. Gadis SMA itu masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyuman lebar tanpa ada rasa kapok sedikit pun.
"Gadis kecil yang aneh."