"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Ke esokan harinya, di kantin sekolah.
Rena menggebrak meja kantin dengan semangat. Sementara itu, Keyla hanya menopang dagu dengan malas. Pikirannya masih tertinggal di halte bus kemarin sore.
"Gue bilang juga apa, dia itu bukan level kita, Key! Lo lihat nggak sih gimana mewah mobilnya? Itu harganya bisa buat beli satu perumahan subsidi!" ucap Rena.
"Justru itu, Re. Itu namanya investasi masa depan," sahut Keyla santai. "Daripada gue sama cowok seumuran yang kalau kencan makannya di pinggir jalan terus bayarnya patungan? Ogah!"
"Tapi dia dingin banget, Key. Lo denger sendiri kan, lo disuruh pulang buat belajar? Dia anggep lo bocah!"
Keyla tersenyum miring, sebuah senyum penuh rencana. "Semua es itu bakal cair kalau kena matahari. Dan gue... adalah matahari paling terik buat Om Arlan."
"Sinting," gumam Rena sambil menyuap baksonya. "Terus sekarang rencana lo apa? Lo bahkan nggak tau nama belakangnya, kerjanya di mana, atau dia beneran duda apa cuma pria simpanan tante-tante kaya."
Keyla menegakkan punggungnya. Ia merogoh saku roknya dan mengeluarkan secarik kertas kecil yang sedikit lecek. "Gue sempet foto plat nomor mobilnya kemarin pas dia pergi. Meski blur karena hujan, gue punya kenalan di bengkel modifikasi punya sepupu gue. Gue bakal cari tau siapa pemilik mobil itu."
"Key, lo udah kayak stalker kriminal tau nggak?"
"Ini namanya usaha, Rena sayang!"
Tiba-tiba, seorang cowok dengan seragam basket yang basah oleh keringat menghampiri meja mereka. Itu Gery, kapten tim basket yang sudah setahun ini mengejar Keyla tapi selalu berakhir di zona nyaman.
"Key, nanti pulang sekolah ada tanding persahabatan. Lo nonton kan? Gue butuh semangat nih," ucap Gery sambil mengedipkan sebelah mata.
Keyla melirik Gery dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menghela napas. "Gery, mending lo fokus masukin bola ke ring daripada fokus ke gue. Bau keringat lo bikin sel-sel cinta gue mati mendadak."
"Dih, galak amat. Biasanya juga lo suka sorak-sorak di pinggir lapangan."
"Itu dulu, Ger. Sekarang level gue udah beda. Gue lagi suka sama yang wangi parfum mahal dan pake jas, bukan yang bau matahari dan kaos kaki basah."
Gery mengernyit bingung, menoleh ke Rena. "Dia kenapa? Kerasukan jin penunggu perpustakaan?"
"Kerasukan jin duda kaya," jawab Rena singkat.
Setelah Gery pergi dengan wajah kecewa, Keyla kembali fokus pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sepupunya, Dio.
Dio: Plat nomor yang lo kasih... itu terdaftar atas nama PT. Arlan Dirgantara Group. Pemiliknya Arlan Dirgantara. Dia CEO, Key. Dan iya, gosipnya dia emang duda tanpa anak. Baru cerai setahun lalu. Tapi ati-ati, dia orangnya tertutup banget.
Mata Keyla membulat sempurna. Ia nyaris melompat dari kursi kantin. "RENA! GUE DAPET!"
"Dapet apa?! Lo hamil?!" pekik Rena yang langsung mendapat pelototan dari meja guru di pojok kantin.
"Sembarangan! Namanya Arlan Dirgantara. CEO, Re! CEO! Dan dia duda! Beneran duda!" Keyla mengguncang bahu Rena dengan histeris. "Gue nggak salah pilih! Feeling gue emang tajam kalau soal cowok berkualitas."
"Arlan Dirgantara Group? Itu kan perusahaan properti raksasa yang kantor pusatnya di kawasan SCBD?" Rena mulai tampak tertarik. "Key, lo sadar nggak? Kantor itu penjagaannya ketat banget. Lo mau masuk ke sana pake seragam SMA begini? Yang ada lo diusir satpam sebelum sempet bilang hai."
Keyla terdiam sejenak. Ia melihat seragam putih abu-abunya. Benar juga. Ia tidak mungkin menerobos kantor elit dengan dandanan seperti ini. Pikirnya.
"Gue punya ide," ucap Keyla dengan mata berbinar licik.
"Ide apa lagi? Jangan bilang lo mau nyamar jadi tukang bersih-bersih?"
"Lebih dari itu. Besok kan hari Sabtu, sekolah kita libur karena ada rapat guru. Gue bakal dandan dewasa, pake dress punya kakak gue, dan gue bakal kirim hadiah ke kantornya."
"Hadiah apa?" tanya Rena penasaran.
"Diri gue sendiri." jawab Keyla, dengan senyum liciknya.
"Keyla! Lo gila ya!"
"Maksud gue, gue bakal kirim makan siang ke sana. Atas nama seseorang dari masa lalu. Dia pasti penasaran dan bakal izinin gue masuk."
"Terus kalau dia marah gimana? Om-om model gitu biasanya nggak suka privasinya diganggu."
"Marah itu tandanya ada perasaan, Re. Daripada diabaikan? Itu lebih sakit. Gue bakal bikin dia tau kalau Keyla itu nyata, bukan cuma bocah di halte bus kemarin."
Sore harinya, Keyla benar-benar mempersiapkan segalanya. Ia membongkar lemari kakaknya yang sudah bekerja. Sebuah dress minimalis warna hitam ia coba di depan cermin. Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis, mencoba menyembunyikan kesan kekanak-kanakannya.
"Oke, Key. Target sudah dikunci. Arlan Dirgantara, bersiaplah. Karena badai Keyla bakal segera menghantam kantor lo yang kaku itu," gumamnya pada bayangan di cermin.
Keyla mengambil parfum mawar milik ibu tirinya, lalu menyemprotkannya ke udara dan membiarkan aroma itu menempel di tubuhnya. Ia membayangkan reaksi Arlan saat melihatnya nanti. Apakah pria itu akan tetap dingin? Ataukah ia akan terpesona dengan transformasi bocah halte yang menjadi gadis remaja yang menawan?
"Duda dingin ya?" Keyla tersenyum nakal. "Kita lihat, seberapa lama es itu bisa bertahan di bawah sinar matahari gue."
Tanpa Keyla sadari, di sebuah ruangan kantor yang luas dengan pemandangan kota dari lantai 45, Arlan Abraham baru saja bersin. Ia mengusap hidungnya, lalu kembali fokus pada tumpukan berkas di depannya. Pikirannya sempat terlintas pada wajah seorang gadis SMA yang sangat berisik kemarin sore, namun ia segera menepisnya.
"Gadis aneh,"