Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Buruk
Setelah Satu Bulan yang penuh gairah dan petualangan di New York, mobil hitam milik keluarga ndalem akhirnya memasuki gerbang besar Pondok Pesantren Al-Azhar. Udara dingin Manhattan berganti dengan aroma tanah basah dan suara riuh santri yang sedang mengaji sore.
Abigail turun dari mobil dengan aura yang sangat berbeda. Ia terlihat lebih dewasa dan anggun dalam balutan gamis modern yang ia beli di Fifth Avenue, namun tetap syar'i. Di sampingnya, Zayn melangkah dengan wibawa yang semakin kuat, tangannya tetap protektif merangkul pinggang istrinya.
Umi Khadizah dan Abi Rahman sudah menunggu di depan pintu ndalem. Senyum lebar terpancar dari wajah mereka saat melihat menantu kesayangannya kembali dalam keadaan sehat, meskipun Abigail terlihat sedikit lebih berisi dan wajahnya tampak berseri-seri.
"Gus Zayn! Aunty Abby!" Khalid, si kecil yang sudah sangat rindu, berlari kencang dan langsung memeluk kaki Zayn.
Abigail mencoba membungkuk untuk menggendong Khalid, namun Zayn dengan cepat menahan bahu istrinya. "Jangan, Abby. Kamu masih butuh banyak istirahat," bisik Zayn sambil mengedipkan sebelah mata, mengingatkan Abigail bahwa stamina istrinya itu belum pulih benar setelah maraton malam terakhir mereka di hotel New York.
Zayn yang akhirnya mengangkat Khalid ke dalam gendongannya. Ustadzah Aisyah yang memperhatikan dari teras rumah langsung menggoda adiknya.
"Duh, yang baru pulang dari New York, auranya kok beda ya? Lebih cerah, atau lebih lelah karena tidak tidur seminggu?" ledek Aisyah sambil tertawa.
Zayn hanya tersenyum tipis. "New York itu kota yang tidak pernah tidur, Mbak. Jadi wajar kalau kami juga ikut tidak tidur."
Malamnya, suasana di ruang tengah ndalem sangat hangat. Abigail membagikan oleh-oleh berupa parfum dan sajadah berkualitas tinggi yang ia beli di Amerika. Ia bercerita tentang betapa bangganya ia saat melihat Zayn tetap teguh dengan jati dirinya sebagai seorang Gus di tengah keramaian Times Square.
Namun, saat semua orang mulai kembali ke kamar masing-masing, Zayn menarik tangan Abigail menuju kamar mereka yang sudah sangat ia rindukan. Begitu pintu tertutup, suasana pesantren yang tenang langsung berubah menjadi penuh gairah di dalam kamar itu.
Zayn mengunci pintu dan langsung menyudutkan Abigail ke dinding, mencium aroma leher istrinya yang sangat ia sukai. "Akhirnya... hanya kita berdua lagi, tanpa gangguan suara bising Manhattan."
Abigail melingkarkan tangannya di leher Zayn. "Aku pikir kamu akan lelah setelah penerbangan panjang."
Zayn terkekeh, suara rendahnya membuat bulu kuduk Abigail meremang. "Untukmu, aku tidak pernah punya kata lelah, Abigail. Di New York kita punya kenangan, tapi di kamar ini, kita punya masa depan."
Malam itu, di tengah kesunyian pesantren, Zayn kembali menunjukkan pada Abigail bahwa meskipun mereka telah kembali ke lingkungan yang religius, hasratnya sebagai seorang suami tetaplah membara, membuktikan sekali lagi bahwa ia adalah milik Abigail seutuhnya.
Dipagi Harinya, Berita itu meledak seperti bom di tengah ketenangan pesantren. Sebuah portal berita gosip mengunggah foto lama Zayn saat SMA, dengan rambut sedikit panjang dan anting di telinganya, dan bersanding dengan foto seorang wanita bernama Anis yang menggendong seorang anak laki-laki. Anis mengklaim bahwa Zayn adalah ayah biologis dari anaknya dan menuntut tanggung jawab sekarang.
Dunia Abigail seolah runtuh. Kabar ini bukan sekadar bisik-bisik santri, tapi sudah masuk ke media nasional.
Abigail terduduk lemas di tepi ranjang, ponselnya terjatuh ke lantai. Matanya sembab. Bayangan Zayn yang begitu suci dan taat seketika terbentur dengan berita kotor dari masa lalu.
Zayn masuk ke kamar dengan wajah tegang namun penuh kecemasan. Melihat istrinya hancur, ia langsung berlutut di depan Abigail, menggenggam kedua tangan yang dingin itu.
"Abby, lihat aku. Demi Allah, berita itu fitnah," suara Zayn bergetar, namun tegas.
"Sepuluh tahun, Zayn... kenapa dia baru muncul sekarang? Media bilang kamu lari dari tanggung jawab," isak Abigail, mencoba menarik tangannya.
Zayn mengeratkan genggamannya. Ia tidak akan membiarkan Abigail ragu. "Listen to me. Aku memang mengenal Anis. Dia adalah pacar sahabatku dulu, anggota geng motor yang sama denganku. Kami memang sering ke klub malam bersama, tapi hanya sebatas teman nongkrong. Aku tidak pernah menyentuhnya, apalagi tidur dengannya!"
Zayn menangkup wajah Abigail, memaksa istrinya menatap matanya yang jujur. "Kamu sendiri yang tanya padaku tempo hari, kan? Aku sudah bilang, sedalam apa pun aku jatuh dulu, aku selalu menjaga diriku untuk istriku kelak. Dan itu adalah kamu, Abigail. Hanya kamu."
Zayn tidak tinggal diam. Sisi bad boy yang cerdas dan berani muncul kembali untuk melindungi keluarganya. Ia segera mengumpulkan bukti-bukti lama.
"Anis muncul sekarang karena dia tahu aku sudah jadi Gus besar dan dia butuh uang untuk membayar hutang-hutang pacar aslinya yang kabur," jelas Zayn pada Abi dan Umi di ruang tengah yang tegang.
Malam itu, di bawah tekanan media yang mengepung pesantren, Zayn tetap menjalankan perannya sebagai suami yang penuh kasih. Ia memeluk Abigail erat di bawah selimut, membisikkan ayat-ayat penenang.
"Dunia mungkin mencoba menjatuhkanku dengan masa laluku, tapi aku tidak peduli selama kamu tetap percaya padaku," bisik Zayn.
Abigail, yang melihat kesungguhan dan keberanian Zayn menghadapi fitnah ini, mulai merasakan kekuatannya kembali. Ia teringat bagaimana Zayn melindunginya di New York. Sekarang, giliran dia yang harus berdiri tegak di samping suaminya.
"Aku akan bersamamu, Zayn. Kita hadapi wanita itu bersama," tegas Abigail.
Zayn tersenyum, lalu mengecup kening Abigail lama. Gairahnya malam itu bukan lagi sekadar nafsu, tapi sebuah janji perlindungan yang mendalam. Ia membuktikan bahwa seorang pria sejati tidak hanya jago di atas ranjang, tapi juga jago menjaga kehormatan keluarganya dari badai fitnah.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍😍