NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: SURAT KUNING DI ATAS MEJA TUA

Matahari baru saja naik setinggi galah ketika debu tebal kembali mengepul di jalanan masuk Oetimu. Kali ini bukan suara motor Tuan Markus yang bising, melainkan deru mesin mobil operasional dengan pelat merah yang tampak asing bagi warga desa. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Pak Berto, menghalangi pandangan warga yang sedang asyik mengisi jerigen di sumur.

Jonatan, yang sedang mengoleskan sisa obat merah pada luka di bahunya, segera keluar. Ia melihat dua orang pria berseragam safari turun dari mobil, didampingi oleh Tuan Markus yang mengenakan kemeja batik rapi, tampak sangat berwibawa seolah-olah kejadian sabotase semalam tidak pernah terjadi.

"Saudara Jonatan? Dan Saudara Berto?" salah satu pria berseragam itu bertanya dengan nada dingin, tanpa basa-basi.

Pak Berto keluar dengan wajah cemas, tangannya yang gemetar disembunyikan di balik sarung. "Iya, Bapak. Ada apa ini?"

Pria itu mengeluarkan selembar kertas dengan kop resmi pemerintah kabupaten dan segel kuning yang mencolok. "Kami dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Berdasarkan laporan dan pengecekan administrasi lahan, sumur yang kalian gunakan dan alat yang dipasang di sana dianggap ilegal. Tanah ini masih dalam status sengketa jaminan, dan penggunaan air bawah tanah tanpa izin resmi merupakan pelanggaran hukum pidana."

Jonatan merasa darahnya mendidih. Ia mengambil kertas itu dan membacanya dengan cepat. Kalimat-kalimat birokrasi yang kaku itu terasa seperti jerat yang sengaja disiapkan untuk mencekik leher mereka.

"Ilegal?" Jonatan menatap Tuan Markus yang berdiri di belakang para petugas itu dengan senyum kecil yang sangat menyebalkan. "Sumur ini sudah ada sejak kakek saya masih hidup. Dan alat ini adalah proyek riset universitas yang didanai negara. Bagaimana mungkin ini disebut ilegal?"

"Status universitas tidak membuatmu kebal hukum, Dek," sahut petugas yang lain, sambil menunjuk ke arah sumur. "Tanah ini terdaftar sebagai jaminan hutang yang sah kepada Saudara Markus. Secara hukum, hak pakai tanah ini ada di tangan pemegang jaminan. Pemasangan alat berat—meskipun kau menyebutnya panel surya—tanpa izin pemilik jaminan adalah perusakan properti."

"Ini bukan properti Tuan Markus! Ini tanah keluarga kami!" sela Pak Berto dengan suara yang meninggi karena marah.

Tuan Markus melangkah maju, ia melepaskan kacamata hitamnya. "Berto, kau sudah gagal membayar cicilan tiga bulan berturut-turut. Sesuai perjanjian di atas materai yang kau tanda tangani, lahan sumur dan ladang di sekitarnya sudah jatuh ke tanganku. Aku sudah cukup sabar. Sekarang, petugas akan melakukan penyegelan."

Petugas itu mengeluarkan gulungan pita kuning—garis batas dilarang melintas. Beberapa warga desa yang melihat itu mulai berkumpul. Suasana yang tadinya penuh syukur berubah menjadi tegang dan mencekam.

"Jangan segel air kami!" teriak seorang ibu sambil memeluk jerigen kosongnya. "Anak-anak kami butuh minum! Ladang kami sudah hampir mati!"

"Aturan tetap aturan, Bu. Silakan protes ke kabupaten," jawab petugas itu tanpa menoleh.

Jonatan berdiri di depan pintu pagar sumur, menghalangi petugas yang hendak memasang pita segel. "Tunggu! Kalian tidak bisa melakukan ini tanpa sidang perdata. Ini masalah sengketa lahan, bukan tindak pidana murni!"

"Kami punya surat perintah pengosongan lahan sementara untuk penyelidikan dampak lingkungan bawah tanah," petugas itu mendorong bahu Jonatan dengan kasar. "Minggir, atau kami panggil aparat keamanan untuk mengangkutmu."

Jonatan menatap Tuan Markus. Pria itu mendekat, berbisik tepat di telinga Jonatan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Kau pikir otak sarjanamu bisa menang melawan uangku di kabupaten? Di sini, hukum itu bisa dibeli seperti jagung di pasar, Jonatan. Besok, aku akan bongkar besi-besimu itu dan kujadikan pagar kandang sapiku."

Rasa ingin menghantam wajah Tuan Markus begitu kuat, namun Jonatan menahan diri. Ia tahu, satu pukulan saja akan membuatnya masuk penjara dan proyek ini akan mati selamanya. Ia teringat Pak Johan. Ia butuh bantuan hukum yang nyata, bukan sekadar otot.

"Bapak, biar mereka segel dulu," ucap Jonatan dengan suara rendah, menenangkan ayahnya yang sudah memegang kayu.

"Tapi Jon, airnya..."

"Hanya sementara, Bapak. Percaya padaku."

Warga desa menonton dengan hati hancur ketika pita kuning itu melilit tiang-tiang panel surya yang kemarin mereka banggakan. Pompa air dimatikan. Suara gemericik yang indah itu berhenti, digantikan oleh kesunyian yang menyakitkan. Tuan Markus dan para petugas itu pergi dengan tawa kemenangan, meninggalkan Oetimu dalam debu yang kembali terasa pahit.

Malam itu, rumah Pak Berto menjadi pusat kemarahan warga.

"Kita bakar saja rumah Tuan Markus!" teriak salah satu pemuda yang kepalanya masih terbalut perban akibat perkelahian semalam.

"Sonde boleh begitu!" cegah Pak Berto. "Kita akan masuk penjara semua."

Jonatan duduk di pojok ruangan, di bawah temaram lampu pelita, sibuk dengan ponselnya. Sinyal di Oetimu sangat buruk, ia harus menaikkan ponselnya tinggi-tinggi ke arah lubang angin untuk mendapatkan koneksi internet yang stabil. Ia mengirimkan foto surat segel kuning itu kepada Sarah dan Pak Johan.

Dua jam kemudian, sebuah balasan masuk dari Sarah: "Jon, Pak Johan sudah melihatnya. Dia marah besar. Dia sedang menghubungi rekan hukumnya di tingkat provinsi. Jangan menyerah. Kita akan lawan lewat jalur hukum administrasi. Besok pagi, akan ada pengacara yang datang ke Oetimu."

Jonatan mengembuskan napas lega. Ia berdiri di tengah kerumunan warga yang sedang berdebat.

"Bapak-bapak, Mama-mama semua... dengar saya," suara Jonatan membuat ruangan seketika hening. "Tuan Markus menggunakan hukum untuk menindas kita. Dia pikir kita bodoh. Tapi dia lupa, saya tidak sekolah di Jawa hanya untuk belajar mesin. Saya belajar bahwa kebenaran itu punya jalannya sendiri."

Ia menatap satu per satu wajah lelah di depannya. "Jangan ada yang melakukan kekerasan. Jangan ada yang membakar apa pun. Besok, bantuan hukum akan datang. Kita akan tuntut balik Tuan Markus atas sabotase dan penyalahgunaan wewenang petugas kabupaten. Tetap tenang, jaga sumur itu jangan sampai mereka berani membongkarnya sebelum sidang."

Keesokan paginya, sebuah mobil sedan hitam yang tampak sangat mewah untuk ukuran jalanan Oetimu berhenti di depan rumah. Seorang pria berkacamata dengan tas jinjing kulit turun. Ia adalah utusan Pak Johan.

Perang ini kini berpindah dari lapangan ke atas meja hijau. Selama beberapa hari berikutnya, Jonatan sibuk mengumpulkan bukti-bukti pembayaran ayahnya yang selama ini sengaja digelapkan oleh Tuan Markus, serta surat izin riset universitas yang sah.

Ternyata, Pak Johan bukan orang sembarangan. Ia memiliki jaringan alumni yang tersebar di birokrasi tertinggi. Surat segel kuning itu ternyata diterbitkan oleh oknum dinas yang menerima suap dari Tuan Markus tanpa sepengetahuan Kepala Dinas yang asli.

Puncaknya, pada hari kelima, sebuah surat pembatalan segel datang langsung dari provinsi. Tidak hanya itu, tim inspektorat datang untuk memeriksa oknum petugas yang kemarin mendatangi rumah Jonatan. Tuan Markus tidak lagi bisa tersenyum. Ia dipanggil oleh pihak berwajib untuk memberikan keterangan terkait dugaan pungutan liar dan manipulasi hutang piutang warga.

Pita kuning itu akhirnya dipotong. Bukan oleh petugas, tapi oleh Pak Berto di hadapan seluruh warga desa yang bersorak-sorai. Saat Jonatan menyalakan kembali sakelar pompa, dan air pertama kembali muncrat keluar, ia merasa seolah-olah ia baru saja memenangkan perang dunia.

Ia melihat ke arah jalan raya. Mobil Tuan Markus terlihat terparkir jauh, tidak berani mendekat. Pria itu telah kehilangan taringnya di Oetimu. Warga kini sadar bahwa Tuan Markus bukanlah tuhan yang harus ditakuti.

"Kita menang, Jon," Sarah menelponnya sore itu, suaranya terdengar bahagia.

"Belum, Sarah," jawab Jonatan sambil menatap kebun-kebun warga yang mulai hijau. "Ini baru satu desa. Masih banyak Oetimu-Oetimu lain di luar sana yang masih dijepit oleh orang-orang seperti Markus. Dan aku tidak akan berhenti di sini."

Jonatan menutup teleponnya. Ia tahu, setelah ini ia harus kembali ke kota untuk menyelesaikan skripsinya. Tapi ia pergi dengan tenang, karena ia tahu, air di Oetimu akan terus mengalir, dan warga desa tidak akan lagi memandang diri mereka dengan sebelah mata.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!