(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia yang tidak pernah menuntut
Milan 00.35 PM
Sudah dua hari Marco pergi dan Rania tidak tau Marco pergi kemana, kini Rania sadar bahwa mungkin perasaan nya pada Marco telah berubah sepenuhnya, Marco yang posesif. Marco yang lembut meski bicara nya dingin. Marco yang tidak pernah melihat kekurangan nya. Marco yang tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuhnya dan berat badan nya. Marco yang tidak pernah menuntut nya menjadi siapapun dan apapun.
Tadi setelah selesai mandi Rania memakai kemeja putih milik Marco, kemeja itu sengaja ia sembunyikan dua hari lalu saat Marry masuk kekamar nya untuk mengambil pakaian kotor. Bukan jorok tapi di kemeja itu ada aroma tubuh Marco yang masih melekat karna pria itu memakai nya.
Kemeja itu besar hampir menutupi setengah tubuhnya hanya saja terlalu ketat dibagian dada Rania, jadinya kemeja itu sengaja tidak Rania kancing.
Rania kini sedang berdiri di balkon kamarnya membiarkan angin malam menerpa wajah nya, Rania memejamkan matanya sejenak ia kembali membuka nya saat mendengar suara mesin mobil, dan Rania melihat mobil Marco memasuki gerbang mansion.
Marco yang baru tiba langsung keluar dari mobil nya, saat ia mendongak ia melihat Rania berdiri di balkon kamarnya, Marco menahan nafas melihat bagaimana kemeja nya yang dipakai Rania, dan empat kancing atas yang sengaja tidak dikancing.
"Damnt!" umpat nya.
Marco berjalan masuk kedalam Mansion dengan terburu-buru, ia langsung melangkahi dua anak tangga sekaligus karna kaki panjang nya membuat langkah nya lebih lebar.
Rania juga langsung masuk kedalam kamar, tepat saat ia hendak membuka pintu, pintu sudah dibuka dari luar.
Marco langsung menyambar bibir Rania tanpa bicara tangan nya menangkup kedua wajah Rania. Rania sendiri langsung mengalungkan tangannya di leher Marco membalas ciuman pria.
Dengan mudah Marco mengangkat Rania kedalam gendongan nya, ia menggendong Rania ala koala, punggung Rania bersandar di dinding, kaki nya melingkar di pinggang Marco, ciuman mereka tidak lepas sama sekali, kedua tangan Marco memegang bokong Rania menahan tubuh Rania agar tidak terjatuh.
Rania melepaskan ciumannya terlebih dahulu karna kehabisan nafas, Rania menunduk menatap Marco karna posisinya lebih tinggi karna digendong Marco, tangannya menyentuh wajah Marco, wajah pria yang dua hari ini membuat nya gelisah dan rindu berat.
Kali ini Rania sendiri yang memulai ia mencium bibir Marco terlebih dahulu, lembut dan dalam. Marco sempat terdiam sejenak namun tetap membalas ciuman Rania dengan ritme yang sama.
Marco berjalan mundur ke arah ranjang, begitu kaki nya menyentuh ujung ranjang Marco mendudukkan dirinya masih dengan Rania digendong nya dan ciuman yang tidak lepas, ranjang itu langsung berderit karna berat tubuh kedua orang.
Ciuman terus berlanjut tanpa ada yang mau berhenti, tangan Rania membuka satu persatu kancing kemeja Marco. Ciuman Marco terlepas turun keleher Rania lalu kedada Rania.
Rania mengerang pelan saat merasakan sesuatu yang keras menggesek bokong nya, ia mendorong bahu Marco hingga pria itu berbaring terlentang, Rania menatap tubuh Marco yang kekar, tangan nya mengusap dada bidang Marco perlahan membuat Marco mendesis pelan, Rania menggertakkan sedikit bokong nya menggesek celana kain Marco yang sudah mengetat membuat desahan lolos dari bibir pria itu.
"aaahhh damnt babyhh" erang Marco tangan nya meremas bokong Rania.
Marco membuka matanya menatap Rania yang mengenakan kemejanya sambil menyeringai nakal.
"Mis me Baby?" ujar Marco menyeringai nakal.
Rania menatap Marco lalu mengangguk, Rania ini tipe yang bujur arus, ia tidak mengerti bagaimana menyembunyikan perasaan suka nya pada seseorang atau perasaan ketergantungan, karna itu meski dulu sering disiksa oleh mantan suaminya Rania hanya menerima karna ia dibutakan oleh cinta nya.
"Kau dua ini kemana?" bisik Rania pelan, namun masih bisa didengar Marco.
Marco menyeringai menggerakkan tubuhnya untuk bangun dan duduk.
"aku pergi membereskan sampah" jawab Marco tidak sepenuhnya bohong.
Tangan Marco terulur mengusap pipi chubby Rania.
"Kau milikku sayang, jadi jangan pernah berfikir untuk lari dariku, dan aku mencintaimu" ujar Marco posesif dan tegas.
Rania menatap Marco lama, ia sendiri masih bingung apakah ia mencintai pria ini atau hanya sekedar rasa ketergantungan. Namun bibirnya menjawab lebih dulu.
"Aku juga" ujar Rania.
"Mungkin tanpa aku sadari, aku mulai terbiasa dengan kehadiran mu, sehingga saat kau tidak disini, aku merasa kesepian..." ujar Rania berbisik diakhir ucapannya namun teringat Marco cukup tajam sehingga ia menangkap apa yang Rania ucapkan.
Seringai di bibirnya memudar tergantikan dengan senyum posesif.
"baguslah sayang, kau memang harus bergantung padaku, karna semua yang ada dirimu adalah milikku, bahkan saat kau mati sekalipun kau tetap milikku" ujar Marco posesif.
Kini posisi berubah Marco dengan mudah membalik posisi dengan sekali sentakan kemeja Rania terbuka sepenuhnya memperlakukan lekukan tubuhnya yang indah Dimata Marco.
Malam itu kamar yang sudah hening selama dua hari itu kembali hangat dan berwarna, didalam kamar hanya dipenuhi suara desahan kedua nya yang saling bersautan, ranjang yang berderit udara yang panas meski AC sudah menyala sangat dingin....
Cahaya matahari pagi menerobos masuk kedalam kamar secara langsung karna jendela yang sengaja tidak di tutup.
Marco masih terlelap diatas ranjang tubuh telanjangnya yang tertutup selimut terasa berat dan seperti ditindih oleh sesuatu.
Perlahan Marco membuka matanya, dan dia sudah disambut dengan tawa Cantika, bayi kecil itu sudah duduk diatas dadanya, tangan kecil nya menepuk pipi Marco.
Marco tersenyum memegangi tubuh kecil itu agar tidak jatuh, ia menoleh kesamping,Rania sudah tidak ada disampingnya, lalu ia melihat Rania yang keluar dari walk in closet membawa pakaian santai nya.
Dan meletakkan diatas sofa, Rania berjalan mendekat, senyum malu menghiasi wajah cantiknya,pipi chubby nya merona memerah malu semakin cantik saat terkena sinar matahari pagi.
"Kau sudah bangun, mandilah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu" ujar Rania, mengambil Cantika dan menggendong nya.
"Ayo nak, Bunda mandikan" ujar Rania lembut pada putrinya.
Pemandangan pagi itu membuat dada Marco terasa hangat. Rania hendak berjalan keluar namun Marco menarik tangan nya.
"Morning kiss baby" ujar Marco serak habis bangun tidur.
Rania tersenyum malu lalu dengan cepat mengecup bibir Marco dan berjalan keluar dengan cepat membawa putrinya ke gendongan nya.
Marco menyeringai nakal, ia bangkit lalu keluar dari selimut hendak menuju kamar mandi. Air hangat menyapu tubuhnya Marco menatap dirinya dari pantulan cermin, wajah tampan nya yang dingin itu kini terlihat lebih bewarna.
Setelah beberapa menit Marco keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Rania yang masuk kedalam kamar, Rania langsung berbalik badan saat melihat Marco hanya mengenakan handuk di pinggang nya. Marco menyeringai nakal dan langsung menghampiri Rania, ia memeluk Rania dari belakang menyandarkan dagunya di bahu Rania.
"kenapa berbalik Baby, kau sudah melihat semua nya" ujar Marco menggoda Rania.
Rania sendiri menutup wajahnya dengan tangan karna malu, benar juga ia sudah sering melihat semuanya tapi kenapa rasanya masih memalukan.
"itu...itu..aku..." Rania gugup setengah mati sampai-sampai ia bingung mau bicara apa.
"Kamu, kamu ganti baju cepat lalu turun sarapan" ujar Rania mencoba melepaskan pelukan Marco namun pelukan itu malas semakin erat.
"Sayang, bagaimana kalau sarapan ku diganti kamu"
...Selfi dulu gak sih...
......sumb by: pinterest...
...