Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Berkecamuk
Medan perang di luar Wuhan telah berubah menjadi lautan api.
Pasukan Aliansi Murim terdesak mundur langkah demi langkah. Aura gelap Kultus Demonic menekan seperti kabut beracun yang menelan langit.
“Bertahan!” teriak seorang komandan Aliansi. “Formasi ketiga, maju!”
“Tidak bisa maju lagi!” balas prajurit lain. “Mereka terlalu banyak!”
Ledakan energi meletus—BOOM!—sebuah garis pertahanan hancur. Tubuh-tubuh terlempar ke udara seperti daun kering.
Pemimpin Kultus Demonic melangkah di garis depan, suaranya menggema. “Hancurkan mereka! Jangan sisakan satu pun!”
Jeritan perang membelah udara.
Aliansi Murim mulai runtuh.
Jauh dari sana, Mo Cil berdiri berhadapan dengan pria berjubah sederhana—master Ci Lung.
Lengan Mo Cil dipenuhi benang cahaya tajam yang berputar seperti badai.
“Kau menghalangi jalanku,” katanya dingin.
“Kau terlalu dekat dengan muridku,” jawab sang master tenang.
Mo Cil tersenyum tipis. “Kalau begitu singkirkan aku.”
Dia menyerang.
Benang-benang cahaya menutup langit seperti jaring raksasa. Udara teriris—SHHHK!—ruang itu sendiri tampak terpotong.
Master Ci Lung melangkah satu kali.
Semua benang berhenti.
Mata Mo Cil melebar. “Apa—”
Telapak tangan sang master bergerak seperti bayangan.
CRAAACK!
Lengan kiri Mo Cil terlepas dalam semburan darah. Tubuhnya terhempas menghantam tanah, menciptakan kawah besar.
Jeritan tertahan keluar dari tenggorokannya.
“Dua puluh menit,” gumam sang master. “Kau bertahan lebih lama dari yang kuduga.”
Mo Cil terbatuk darah, matanya dipenuhi campuran amarah dan ketakutan. “Monster…”
Sang master menoleh ke arah Wuhan. Matanya menyipit.
“Aku sibuk,” katanya pelan.
Dia menghilang, meninggalkan Mo Cil yang gemetar di dalam kawah.
Medan perang Wuhan.
Pasukan Aliansi Murim tinggal separuh.
“Tarik mundur!” seseorang berteriak.
“Tidak ada tempat mundur!”
Energi gelap menghantam barisan depan—BOOOM!—tanah meledak, tubuh-tubuh hancur.
Tiba-tiba tekanan berat jatuh dari langit.
Semua orang membeku.
Sang master muncul di antara dua pasukan.
Pemimpin Kultus menyipitkan mata. “Siapa kau?”
“Orang yang tidak ingin dunia ini hancur karena salah paham,” jawabnya datar.
Dia mengangkat tangannya.
Gelombang energi menyapu medan perang—WHOOOM!—memisahkan kedua pasukan sejauh ratusan meter tanpa membunuh siapa pun
Para prajurit tertegun.
Pada saat yang sama, Ketua Aliansi Murim yang sedang berlari menuju medan perang berhenti mendadak. Sang master muncul di depannya.
“Kau?” Ketua itu terkejut.
“Tahan Kultus Demonic,” kata sang master singkat. “Jangan biarkan mereka masuk kota.”
“Bagaimana dengan—”
“Aku yang urus sisanya.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk debat.
Ketua Aliansi mengangguk keras. “Dimengerti.”
Dia berbalik dan memimpin pasukannya mencegat gelombang Kultus yang lain.
Pertempuran kembali meledak.
CLANG! BOOM! SHRAAANG!
Pedang bertabrakan. Energi bertubrukan seperti badai.
Seorang prajurit Aliansi berteriak sambil menyerang, “Untuk Aliansi Murim!”
Seorang kultivator Demonic menyeringai. “Mati!”
Sang master bergerak di tengah kekacauan seperti pusat badai. Setiap gerakannya meredam benturan terbesar, menahan kehancuran total yang bisa memusnahkan kota.
Pemimpin Kultus menyerangnya langsung.
“Kau ikut campur terlalu jauh!”
Tinju mereka bertabrakan—KRAAAAM!—gelombang kejut merobek awan.
“Kalian salah sasaran,” kata sang master dingin.
“Diam!” raung pemimpin Kultus.
Duel mereka mengguncang langit. Api hitam dan cahaya tenang saling melahap.
Di Lembah Sunyi, Ci Lung membuka mata dari meditasinya.
[Selamat. Pengguna mencapai Meridian Opening layer ketiga.]
Dia menghembuskan napas panjang. “Akhirnya…”
Tiba-tiba dia merasakan aura asing.
Ci Lung berlari keluar bangunan. Di halaman, Zhao Ming berdiri diam, menatapnya.
Udara menegang.
Tidak ada kata-kata.
Hanya dua pasang mata yang saling mengukur.
Qi di sekitar mereka bergetar pelan.
Yan Yu tidak terlihat.
Tangan Ci Lung bergerak perlahan ke gagang pedangnya.
Zhao Ming menyeringai tipis.
Langit di atas mereka bergemuruh jauh, gema perang yang masih berlangsung di benua lain.
Dan di antara keheningan itu, sebuah konfrontasi baru lahir.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠