Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Lorong Sempit
Hujan deras yang mengguyur Kota Arcapura malam ini seolah menjadi tirai alami yang menyembunyikan ketakutan Elara Senja. Di dalam rumah persembunyian yang lembap dan berbau apek itu, ia duduk mematung di balik jendela yang tertutup rapat, mendengarkan ritme tetesan air yang menghantam atap seng dengan brutal. Namun, di antara gemuruh langit yang marah, telinganya yang terlatih menangkap suara lain yang lebih mengerikan: derap langkah sepatu bot militer yang menginjak genangan air di gang depan.
Pak Darto, yang sejak tadi sibuk memusnahkan dokumen-dokumen penting di dalam ember besi, tiba-tiba mematikan api dengan siraman air sisa minumnya. Asap putih mengepul sesaat sebelum hilang ditelan kegelapan ruangan, menyisakan aroma hangus yang menusuk hidung. Pria tua itu menatap Elara dengan sorot mata tajam, memberikan isyarat tanpa suara bahwa waktu mereka telah habis dan tamu tak diundang sudah tiba di ambang pintu.
"Mereka tidak datang untuk mengetuk pintu, Nona Elara," bisik Pak Darto dengan suara serak yang nyaris tertelan suara hujan.
Elara mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram tali tas ransel hingga buku-buku jarinya memutih karena tegang. Ia tahu orang-orang di luar sana bukanlah polisi biasa, melainkan tim keamanan swasta yang dibayar mahal oleh pihak rumah sakit untuk membungkam siapa saja yang terlalu banyak tahu. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya, mempersiapkan otot-ototnya untuk lari menembus malam yang dingin.
Suara kaca pecah terdengar dari ruang depan, diikuti oleh dentuman keras pintu kayu yang didobrak paksa hingga engselnya lepas. Cahaya senter taktis menyapu ruangan seperti mata predator yang mencari mangsa, membelah kegelapan dengan sinar putih yang menyilaukan. Elara dan Pak Darto segera merunduk, bergerak cepat menuju pintu belakang yang mengarah ke labirin gang-gang kumuh di belakang kompleks perumahan tua itu.
"Lewat sini, jangan menoleh ke belakang," perintah Pak Darto sambil menarik lengan Elara menuju kegelapan gang sempit.
Mereka berdua melompat keluar ke dalam hujan yang dingin, membiarkan tubuh mereka basah kuyup dalam hitungan detik. Gang-gang di distrik kumuh Arcapura ini adalah neraka bagi orang asing, tetapi surga bagi mereka yang ingin menghilang tanpa jejak. Dinding-dinding bata yang berlumut dan jemuran pakaian yang melintang semrawut menjadi rintangan sekaligus pelindung bagi pelarian mereka malam ini.
Langkah kaki pengejar mereka terdengar semakin dekat, disertai teriakan-teriakan komando yang tegas dan terkoordinasi. Elara terpeleset sedikit saat menginjak batu licin yang tertutup lumpur, namun tangan keriput namun kuat milik Pak Darto segera menahannya agar tidak jatuh. Mereka berlari zig-zag, memotong jalan melewati celah antar bangunan yang lebarnya tak lebih dari satu meter, menghindari jalan utama yang mungkin sudah diblokade.
"Mereka menggunakan drone termal, kita harus masuk ke gorong-gorong," desis Pak Darto sambil menunjuk sebuah lubang drainase besar di bawah jembatan beton.
Elara menatap lubang hitam yang menganga itu dengan rasa jijik dan ngeri yang bercampur aduk, membayangkan apa saja yang mungkin hidup di dalamnya. Namun, suara desingan baling-baling kecil di atas kepala mereka memaksanya untuk membuang segala keraguan dan mengikuti insting bertahan hidup. Tanpa membantah, ia mengikuti Pak Darto meluncur turun ke tepian sungai yang penuh sampah, menuju mulut gorong-gorong yang gelap gulita.
Bau busuk yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka begitu memasuki terowongan beton tersebut. Air limbah setinggi betis mengalir deras, membawa serta segala kotoran kota, namun setidaknya dinding beton tebal di atas mereka mampu menghalangi pandangan mata elektronik dari langit. Napas Elara terdengar memburu, bergema di dinding lengkung terowongan yang lembap dan penuh dengan sarang laba-laba.
"Dr. Arisandi benar-benar tidak main-main kali ini," gumam Elara sambil menyeka air hujan yang bercampur keringat dari dahinya.
Pak Darto berhenti sejenak untuk mendengarkan situasi di luar, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka masuk ke dalam saluran pembuangan. Wajah tua itu tampak grim dalam remang-remang cahaya yang masuk dari celah ventilasi di kejauhan. Ia tahu bahwa pelarian ini hanyalah solusi sementara, karena Arcapura adalah kota yang dikuasai oleh mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.
"Dia panik, Nona, dan orang yang panik akan melakukan kesalahan fatal," jawab Pak Darto dengan nada tenang yang kontras dengan situasi mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri lorong bawah tanah itu, melangkah hati-hati agar tidak tergelincir di dasar yang licin. Suara gemericik air menjadi satu-satunya teman mereka, selain tikus-tikus got yang berlarian panik saat cahaya senter kecil Elara menyapu sarang mereka. Di kejauhan, Elara bisa melihat ujung terowongan yang mulai menampakkan cahaya lampu jalanan kota yang temaram.
Setelah berjalan hampir dua puluh menit, mereka akhirnya keluar di dekat area pasar tradisional yang sudah sepi ditinggal pedagang. Hujan mulai reda, menyisakan gerimis halus yang membuat aspal jalanan berkilau memantulkan cahaya neon dari papan reklame toko. Elara bersandar pada dinding toko yang tertutup rolling door, mencoba mengatur napasnya yang masih belum teratur.
"Kita tidak bisa terus berlari seperti ini, Pak," ucap Elara dengan nada frustrasi yang tak bisa disembunyikan.
Pak Darto mengangguk setuju, matanya memindai sekeliling dengan waspada, mencari tanda-tanda kehadiran musuh. Ia tahu bahwa bersembunyi hanya akan menunda kematian, dan satu-satunya cara untuk mengakhiri teror ini adalah dengan menghadapi sumbernya langsung. RSU Cakra Buana bukan sekadar rumah sakit, melainkan benteng yang menyimpan rahasia kelam di fondasinya.
"Benar, kita harus kembali ke tempat semuanya bermula," kata Pak Darto sambil menatap ke arah siluet gedung tua di kejauhan.
Elara terdiam, menatap arah pandang Pak Darto di mana menara jam RSU Cakra Buana berdiri angkuh menantang langit malam. Ide untuk kembali ke tempat terkutuk itu membuat bulu kuduknya meremang, namun ia sadar tidak ada pilihan lain. Kunci untuk menjatuhkan Dr. Arisandi dan sindikatnya terkubur di Basement Level 4, tempat di mana sains dan mistis berbaur menjadi satu.
"Tapi bagaimana caranya kita masuk? Penjagaan pasti diperketat dua kali lipat," tanya Elara ragu.
Pak Darto tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang jarang sekali ia perlihatkan selama mereka bersama. Ia merogoh saku jaketnya yang basah dan mengeluarkan sebuah kunci kuno berkarat dengan ukiran kepala naga di gagangnya. Benda itu terlihat tidak selaras dengan zaman modern, seolah berasal dari era ketika rumah sakit itu pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial.
"Rumah sakit itu memiliki 'nadi' yang tidak diketahui oleh arsitek modern, Nona," jelas Pak Darto sambil memutar kunci itu di jari-jarinya.
Elara menatap kunci itu dengan penuh tanda tanya, menyadari bahwa Pak Darto menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang ia duga. Pria tua ini bukan sekadar mantan satpam atau penjaga kamar jenazah biasa, ia adalah penjaga dari sesuatu yang jauh lebih tua. Malam ini, mereka tidak akan masuk sebagai pasien atau pengunjung, melainkan sebagai hantu yang menuntut balas.
"Jalur distribusi logistik lama, terhubung langsung ke sistem drainase kolonial," tambah Pak Darto.
Dengan tekad yang baru, mereka berdua meninggalkan area pasar dan bergerak menyusuri bayang-bayang kota menuju distrik kesehatan. Arcapura di malam hari adalah monster yang berbeda, penuh dengan bahaya yang mengintai di setiap sudut gelap. Namun bagi Elara, monster yang paling menakutkan bukanlah preman jalanan atau polisi korup, melainkan kebenaran yang menunggunya di ujung perjalanan ini.
Mereka tiba di pagar belakang kompleks rumah sakit satu jam kemudian, bersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Gedung RSU Cakra Buana menjulang tinggi seperti raksasa tidur, dengan jendela-jendela gelap yang tampak seperti mata kosong yang mengawasi kota. Hanya beberapa lampu sorot yang menyala, menyapu halaman parkir dan pintu masuk utama secara berkala.
"Siapkan mentalmu, Nona Elara, apa yang akan kita hadapi di dalam sana mungkin di luar nalar," peringat Pak Darto.
Elara menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan desinfektan yang terbawa angin. Ia meraba saku celananya, memastikan flash disk berisi data awal yang berhasil ia curi masih aman di sana. Malam ini adalah penentuan, apakah mereka akan menjadi pahlawan yang mengungkap kebusukan, atau menjadi korban berikutnya yang mengisi lemari pendingin kamar jenazah.
"Saya siap, Pak. Mari kita akhiri ini," jawab Elara mantap.
Pak Darto memimpin jalan menuju sebuah pintu besi tua yang tertutup tanaman merambat di sisi terjauh dinding pembatas. Dengan hati-hati, ia memasukkan kunci kuno itu ke lubang kunci yang sudah berkarat, memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi 'klik' yang berat. Pintu itu terbuka dengan derit engsel yang menyakitkan telinga, membuka jalan menuju kegelapan yang lebih pekat dari malam itu sendiri.