(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga besar Moretti
"Sayang, bagaimana kalau sarapan ku diganti kamu" ujar Marco berbisik di telinga Rania.
Rania mencubit perut Marco dan refleks Marco melepaskan pelukannya memegangi perutnya, itulah kesempatan Rania melarikan diri.
Rania berlari secepat nya ia segera menuruni tangga, dilantai bawah Marry dan maid lain nya sedang membersihkan rumah untuk kedatangan keluarga besar Moretti. Diruang tamu Jerry sedang menemani Cantik dan Vano.
Rania menoleh kebelakang ternyata Marco mengejarnya, Rania semakin cepat menuruni anak tangga namun Marco lebih cepat, ia sudah menangis tubuh Rania dan menggendong nya dibahu nya membuat Rania memeluk terkejut.
"Aakkk!" teriak Rania membuat semua orang yang sibuk bekerja menoleh kearah tangga.
Marco berjalan kembali menaiki tangga, dengan santainya menampar bokong Rania membuat wajah wanita itu memerah seperti kepiting rebus.
Wajah beberapa maid muda juga memerah melihat Marco, karna pria itu mengejar Rania tanpa memakai baju nya lebih dahulu hanya handuk nya yang masih melekat di pinggang nya membuat tubuh kekar nya terekspos dan membuat pikiran beberapa wanita muda itu berkerja liar.
Marry sendiri terkekeh melihat tuan nya yang Posesif pada istrinya lalu menatap Jerry.
"Cepatlah menikah agar kau tidak iri pada Tuan" ujar Marry terkekeh.
Jerry membuang muka cemberut.
"Awas saja kalo apa-apa cari aku" ujar nya cemberut.
Vika yang melihat nya tersenyum tipis melihat Jerry yang cemberut.
"Paman, Bunda kenapa teriak? Daddy mau pukul Bunda seperti ayah pukul Bunda?" tanya Vano menatap Jerry.
Jerry langsung menatap Vano dan tersenyum lalu menggeleng pelan.
"Tidak, Daddy mu sangat mencintai Bunda mu mana mungkin dia menyakiti nya_"
"mereka hanya sedang main kejar-kejaran" lanjut Jerry menjelaskan dengan lembut.
Vano tersenyum manis dan mengangguk ceria. "Syukurlah Bunda di cintai, aku pikir bunda akan dipukul lagi, bunda sering dipukul ayah sampai luka" ujar Vano lalu kembali membaca buku.
Jerry diam menatap dalam Vano, anak sekecil ini sudah dewasa sebelum usia nya, ini membuktikan betapa berat hidup yang ia jalani selama ini.
Matahari sudah naik sangat tinggi, didalam kamar Rania tertidur karna kelelahan, kepalanya bersandar didada bidang Marco, sendiri tidak tidur, ia hanya memandangi wajah Rania yang tertidur.
Tangan nya mengusap pipi Rania, lalu turun ke bibir nya, Marco tersenyum dan mengecup bibir Rania, sekali, dua kali lalu ia mencium nya membuat tidur Rania terganggu dan akhirnya terbangun.
Rania membuka matanya ia melihat Marco yang menatap nya dengan senyum nakal khas nya, Marco menggigit pipi chubby Rania.
Rania mendorong wajah Marco menjauh dari pipi nya, kini terlihat kemerahan pada pipinya karna gigitan Marco.
------
Mansion yang biasa nya sepi kini tampak ramai karna kehadiran keluarga besar Moretti, Rania duduk di sofa memanggil anak perempuan nya sementara Vano entah kenapa bocah yang biasanya santai itu tiba-tiba waspada dia duduk di samping Rania seolah sedang melindungi Ibunya.
Tuan besar Moretti atau Kakek Marco duduk di sofa single tangan nya memegang tongkat, paman bibi Marco juga duduk di sofa, Ayah ibu Marco juga duduk di sofa, sementara anak-anak baik itu sepupu Marco sedang duduk tak jauh dari mereka berbicara tentang bisnis mereka atau tentang hal lain.
"Jadi kamu istri Marco, kamu tau karna kamu Marco membatalkan pertunangan nya dengan keluarga Smith" ujar Tuan besar Moretti dingin.
Rania memeluk Putri semakin erat. Anna ibu Marco menatap tuan besar Moretti.
"Ayah, jangan bicara seperti itu" ujar Anna pada ayah mertua nya.
"Aku hanya membicarakan fakta. Marco memutuskan pertunangan dan aku kehilangan koneksiku pada keluarga Smith, dan yang ia nikahi hanyalah seorang janda anak dua, apa dia mampu menanggung resiko menjadi menantu keluarga Moretti!" ujar Tuan besar Moretti tegas.
Rania tidak menunduk, tidak takut, tidak marah. Rania sudah menduga ini akan terjadi, Rania sudah terbiasa dihina dan maki oleh mantan suaminya dulu dan berakhir pada pukulan. Rania bisa menerima asal mereka tidak melakukan anak-anak nya dengan buruk Rania akan diam,
Rania bisa menerima makian, hinaan ataupun pukulan dari mantan suaminya dulu ia akan diam dan tidak melawan. Namun jika menyangkut anak-anak nya Rania tidak pernah diam, mungkin dia bisa gagal sebagai istri namun ia tidak akan gagal untuk melindungi anak-anaknya.
Rania akan melawan jika mantan suaminya berani memukul anak nya, karna itu sejak dulu mantan suami hanya berani memukul anak mereka saat Rania tidak ada atau tidak melihat.
Cantika bergerak-gerak dipangkuan Rania, seperti nya gadis kecil itu ingin turun. Rania menurunkan Cantika. anak nya berjalan menghampiri Tuan besar Moretti ia berusaha memanjat kaki tuan besar Moretti, dan itu terlihat menggemaskan, Anna dan suaminya ingin sekali menggendong cucu sambung mereka itu, Paman dan Bibi Marco juga terlihat menahan gemas.
Tuan besar Moretti berdehem lalu mengangkat Cantika dan mendudukkan dipangkuan nya. Namun gadis kecil itu sepertinya tidak ingin duduk, ia berdiri dan memanjat tubuh tuan besar Moretti lalu menepuk-nepuk pipi tuan besar Moretti denga tangan kecilnya, seolah dia sedang memarahi tuan besar Moretti karna membuat Bunda nya sedih, mulut kecilnya bergerak mengomel dengan bahasanya sendiri.
Ppttfff!
Tawa hampir meledak diruang itu jika mereka tidak segera menahan nya karna tatapan tajam Tuan besar Moretti.
Tuan besar Moretti menatap Cantika yang memandang nya marah, alis kecil itu berkerut pertanda marah, sudut bibir tuan besar Moretti sedikit tertarik.
"Menarik" ujar nya dalam hatinya.
Karna dari semua cucu dan cicitnya tidak ada yang berani padanya jangankan memanjat dan memukul nya menatap matanya saja tidak berani, namun gadis kecil ini malah berani mengerutkan keningnya pada Tuan besar Moretti, lalu pandangan beralih ke Vano anak itu juga tidak terlihat takut ia lebih terlihat waspada, pemikiran nya terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"kedua anak ini menarik" batin Moretti.
Marco memperhatikan semua nya dari jauh, sudut bibirnya terangkat melihat Cantika yang memukul wajah kakek nya yang bahkan saat kecil ia sendiri selalu takut menatap mata kakeknya dulu.
"Good my Baby Girl" gumam Marco bangga pada Putri nya, iya putrinya kedua anak Rania adalah anak nya, Marco akan melindungi ketiga nya, bahkan jika harus mengorbankan nyawanya, akan dia lakukan dengan senang hati.