Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Di Balik Keceriaan
Matahari Yogyakarta mulai naik, menghangatkan udara pagi yang semula dingin. Sambil menunggu instruksi dari Bu Ratna untuk masuk ke bus, Gery mengajak Vanya berjalan santai mengitari halaman hotel yang asri. Langkah mereka terhenti tepat di sisi lapangan basket, tempat beberapa jam lalu Gery dan Sammy bertarung sengit memperebutkan bola.
Gery menatap ring basket yang masih diam membisu, lalu menoleh ke arah Vanya. Kejujuran Adrian di kamar tadi pagi masih mengganjal di hatinya. Ia merasa perlu mendengar sisi itu langsung dari orangnya, bukan karena ingin ikut campur, tapi karena ia ingin tahu seberapa berat beban yang dipikul gadis di sampingnya ini.
"Van," panggil Gery pelan. "Tadi pagi pas gue olahraga sama Sammy, Adrian cerita sedikit. Dia cerita soal... kejadian lo sama mantan lo di rumah. Soal keributan di depan kompleks."
Vanya tertegun sejenak. Ia menatap ke arah lantai semen lapangan basket, seolah sedang memutar kembali memori yang sebenarnya ingin ia kubur. Gery melanjutkan dengan hati-hati, "Adrian bilang dia sering denger kalian berantem, dan dia tahu soal bokap lo juga."
Vanya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Alih-alih menghindar atau terlihat marah, ia justru menoleh ke Gery dengan senyum tipis yang terlihat sangat tulus.
"Cerita Adrian itu bener, Ger," ucap Vanya tanpa nada sedu sedan. "Mantan gue emang gitu. Dia pikir dengan bersikap keras dan overprotektif, dia bisa jaga gue. Padahal, yang dia lakuin cuma bikin gue ngerasa makin kecil. Terus soal bokap... ya, dia emang pergi. Itu alasan kenapa gue sering ngerasa kosong, dan kenapa gue kadang bersikap berlebihan buat nyari perhatian."
Vanya bercerita dengan mengalir, mengungkapkan satu per satu lapisan lukanya secara perlahan. Gery melihat keberanian yang luar biasa di mata Vanya. Ia segera mengulurkan tangannya, menepuk bahu Vanya dengan lembut untuk memberikan ketenangan—sebuah isyarat bahwa Vanya tidak lagi sendirian menanggung semua itu.
"Gue nggak sedih kok, Ger. Beneran," lanjut Vanya sambil menatap tangan Gery di bahunya. "Gue malah ngerasa lega karena lo udah tahu. Dari dulu, bahkan sebelum kita bikin perjanjian 'pacaran' ini, lo selalu jadi orang pertama yang nerima curhatan gue tanpa ngehakimi. Gue ngerasa aman cerita sama lo."
Gery tersenyum, hatinya merasa sedikit lebih ringan. "Gue bakal tetep jadi orang itu, Van. Lo nggak perlu akting jadi orang yang selalu ceria kalau emang lagi ngerasa hancur. Di depan gue, lo boleh jadi Vanya yang apa adanya."
Vanya mengangguk, lalu dengan manja ia merapatkan dirinya ke sisi Gery. "Makasih ya, Ger. Lo emang pengganti 'sosok' yang selama ini gue cari."
Percakapan di tepi lapangan basket itu seolah menjadi fondasi baru bagi hubungan mereka. Jika sebelumnya hubungan mereka terasa seperti permainan untuk menutupi luka, kini ada rasa saling memiliki yang lebih nyata. Gery sadar bahwa di Yogyakarta ini, misinya bukan lagi sekadar mengikuti study tour, tapi juga memastikan bahwa senyum Vanya benar-benar berasal dari hatinya, bukan sekadar topeng.
Tepat saat itu, suara peluit Bu Ratna terdengar dari kejauhan, menandakan bus sudah siap berangkat untuk kunjungan industri. Mereka berdua berjalan kembali menuju rombongan dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan siap menghadapi sisa perjalanan di Kota Gudeg ini.
Teriakan para wali kelas terdengar bersahutan dari arah parkiran, memanggil para siswa untuk segera naik ke bus. Gery dan Vanya mempercepat langkah mereka, memotong jalan melalui sebuah taman kecil di sudut hotel yang dikelilingi rimbunnya tanaman hias untuk mencapai area bus.
Namun, langkah Vanya mendadak terhenti. Matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali sedang duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon perindang.
"Nad? Nadia?" gumam Vanya pelan.
Nadia duduk tertunduk, bahunya berguncang hebat. Suara isakannya yang tertahan pecah begitu ia menyadari kehadiran Vanya dan Gery. Wajahnya yang biasanya ceria dan segar kini sembap, dengan sisa-sisa air mata yang masih mengalir di pipinya.
Sontak, Vanya melepaskan gandengan tangannya pada Gery dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Nadia langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Vanya, menumpahkan segala kesedihannya di bahu gadis itu.
"Gue... gue putus, Van," ucap Nadia terbata-bata di tengah tangisnya. "Dia mutusin gue lewat telepon tadi... dia bilang nggak bisa lanjut lagi."
Vanya memeluk Nadia dengan sangat erat, mengelus punggungnya mencoba memberikan kekuatan. Gery berdiri terpaku beberapa langkah di depan mereka. Ia merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Hanya dalam hitungan jam, ia baru saja mendengar cerita tentang hancurnya keluarga Vanya, dan kini ia menyaksikan hancurnya hati Nadia—dua orang perempuan yang paling dekat dengannya di sekolah ini.
"Sstt... tenang, Nad. Ada gue di sini. Ada Gery juga," bisik Vanya lembut. Vanya menatap Gery dengan tatapan yang sangat dalam, seolah meminta dukungan tanpa kata-kata.
Gery melangkah mendekat, ia berdiri di samping mereka. Meskipun ia tahu statusnya sekarang adalah "pacar" Vanya, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Nadia adalah sahabat yang selalu ada untuknya. Gery mengulurkan tangannya, ragu sejenak, namun akhirnya ia menepuk bahu Nadia pelan.
"Sabar ya, Nad. Lo nggak sendirian. Kita semua ada buat lo," ucap Gery dengan suara rendah yang menenangkan.
Nadia mendongak, menatap Gery dan Vanya bergantian dengan mata merahnya. "Maaf ya... gue malah bikin kalian telat ke bus. Gue tadi bener-bener nggak kuat mau ketemu orang banyak di lobi."
Vanya menghapus air mata di pipi Nadia dengan jempolnya. "Jangan mikirin bus dulu. Lo jauh lebih penting sekarang. Ayo, hapus air matanya. Kita naik ke bus bareng-bareng. Jangan kasih liat ke cowok brengsek itu kalau lo hancur di sini."
Momen itu menciptakan kontras yang sangat kuat. Vanya, yang tadinya dianggap sebagai orang yang perlu "dilindungi" oleh Gery, kini justru menunjukkan sisi dewasanya dengan menjadi sandaran bagi Nadia. Gery hanya bisa terdiam melihat kekuatan persahabatan di depan matanya.
Perjalanan ke Yogyakarta ini benar-benar menguji kedewasaan mereka satu per satu. Bali mungkin tentang memulai cerita baru, tapi Yogyakarta tampaknya adalah tentang bagaimana mereka belajar menghadapi kehilangan dan luka yang muncul secara tiba-tiba.
"Ayo, kita jalan pelan-pelan," ajak Gery sambil membimbing kedua gadis itu menuju area parkir.
Mereka bertiga berjalan beriringan, meninggalkan taman kecil itu dengan membawa rahasia baru. Nadia berusaha menguatkan diri, Vanya tetap menggenggam tangan Nadia dengan posesif, dan Gery berjalan di samping mereka sebagai pelindung bagi keduanya. Di kejauhan, Bus 4 sudah siap berangkat, membawa mereka menuju destinasi berikutnya dengan suasana hati yang sudah berubah total.
Gery merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan kain miliknya yang masih bersih. Tanpa banyak bicara, ia memberikannya kepada Vanya, yang kemudian dengan sigap membantu Nadia menutupi wajahnya agar mata sembapnya tidak langsung menjadi pusat perhatian saat melewati kerumunan siswa lain.
Begitu mereka sampai di depan pintu Bus 4, suasana sudah sangat sibuk. Langkah mereka bertiga yang terburu-buru menarik perhatian beberapa kawan. Begitu naik ke bus, Vanya melihat Yola sudah duduk manis di bangkunya, siap untuk perjalanan kunjungan industri.
Vanya langsung menghampiri Yola dengan tatapan yang serius namun memohon. "Yol, tukar posisi ya? Lo duduk sama Gery dulu. Nadia lagi butuh gue," bisik Vanya pelan.
Yola, yang melihat Nadia di belakang Vanya sedang menempelkan sapu tangan Gery ke wajahnya dengan bahu yang masih sedikit gemetar, langsung mengerti. Tanpa banyak tanya, Yola segera bangkit dan mengemasi tasnya. Sebagai sahabat, ia tahu bahwa keceriaan Nadia yang mendadak hilang adalah pertanda ada badai besar yang baru saja lewat.
"Oke, oke. Sini Nad, duduk sama Vanya," ucap Yola lembut sambil menuntun Nadia masuk ke kursi bagian dalam.
Yola kemudian melangkah menuju kursi di samping Gery. Begitu bus mulai bergerak meninggalkan area hotel, suasana di barisan belakang itu terasa sangat berat. Yola menoleh ke arah Gery yang sejak tadi hanya menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sulit dibaca.
"Ger," panggil Yola pelan, nyaris berbisik. "Kenapa Nadia? Dia kenapa sampai segitunya?"
Gery menarik napas panjang, melirik sekilas ke arah Vanya dan Nadia yang sudah mulai berbisik-bisik di kursi sebelah. "Nadia putus sama pacarnya, Yol," jawab Gery singkat. Ia tidak melanjutkan kalimatnya karena memang ia sendiri belum tahu detail duduk perkaranya.
Mendengar bisikan Gery, Dion dan Reno yang duduk tidak jauh dari sana serentak menoleh. Mereka berdua melirik Gery dengan tatapan tidak percaya. Sebagai kelompok yang selalu bersama sejak di Bali, berita ini seperti petir di siang bolong.
"Putus?" gumam Reno tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya.
Dion menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi bus. Sebagai ketua kelas, ia merasa atmosfer Bus 4 mendadak berubah. Yogyakarta yang seharusnya menjadi tempat bersenang-senang, kini justru dibuka dengan rentetan drama emosional; mulai dari luka masa lalu Vanya, cedera Sherly, hingga hancurnya hati Nadia.
"Gila ya... padahal kemarin di Bali dia yang paling semangat foto-fotoin kita," bisik Dion ke arah Gery.
Gery hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam bus yang melaju membelah jalanan kota Yogyakarta, Gery merasakan beban yang aneh. Ia berada di tengah-tengah dua perempuan yang sedang rapuh, dikelilingi sahabat-sahabat yang mulai cemas. Sapu tangan miliknya yang kini ada di tangan Nadia adalah simbol kecil bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar kunjungan industri, melainkan perjalanan untuk saling menguatkan satu sama lain.
Bus 4 akhirnya berhenti di depan sebuah gedung industri yang menjadi tujuan utama mereka di Yogyakarta. Mesin bus mati, dan satu per satu siswa mulai turun dengan membawa buku catatan dan pulpen. Namun, di pintu bus, sebuah permintaan tak terduga keluar dari mulut Vanya yang membuat suasana mendadak canggung.
Begitu kaki mereka berpijak di aspal parkiran, Vanya tiba-tiba melepaskan kaitan tangannya dari lengan Gery. Ia menatap Gery dengan serius, lalu melirik Nadia yang masih terlihat layu dengan mata sembapnya.
"Ger, lo temenin Nadia ya selama di dalam industri nanti. Gandeng dia, jagain dia," ucap Vanya tanpa ragu.
Gery tersentak. Matanya membelalak menatap Vanya, seolah sedang memastikan apakah telinganya salah dengar. Mengingat status mereka yang sudah "berpacaran" dan perasaan terpendam yang pernah (atau mungkin masih) Gery miliki untuk Nadia, permintaan ini terasa seperti jebakan Batman.
"Van... lo serius? Lo sehat kan?" Reno yang berdiri di samping mereka langsung menyambar dengan nada tak percaya. "Gila lo, Van. Mana ada pacar yang nyuruh cowoknya nemenin cewek lain, apalagi mantan gebetan!"
Dion ikut menimpali sambil menggelengkan kepalanya. "Asli, Van. Ini konsepnya gimana? Lo nggak cemburu apa?"
Vanya justru tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus namun misterius. "Buat sahabat gue apa sih yang enggak? Nadia lagi hancur banget, dan dia butuh sosok tenang kayak Gery buat sandaran saat ini. Gue tahu Gery bisa diandelin."
Reno mendengus ketus, wajahnya dibuat sebal yang mengundang tawa. "Halo? Kan ada gue yang jomblo di sini, Van! Gue siap kok jadi sandaran darurat buat Nadia!"
Dion tertawa geli mendengar protes Reno. "Duh, kalau jomblo jangan diumbar-umbar banget dong, Ren. Kelihatan banget haus perhatiannya."
Reno malah ikut tertawa, sama sekali tidak merasa terhina oleh ucapan Dion. Ia kemudian menepuk bahu Gery yang masih mematung bingung. "Udah, Ger. Temenin dulu si Nadia. Biar gue sama Dion yang 'jagain' Vanya di dalam nanti. Amanlah pokoknya."
Gery melirik Nadia yang berdiri agak jauh, tampak tidak enak hati namun memang terlihat sangat rapuh. Ia kemudian menatap Vanya kembali. Di mata Vanya, Gery tidak melihat keraguan atau kecemburuan, melainkan sebuah kedewasaan yang aneh—seolah Vanya sedang membayar utang kebaikan Nadia selama ini dengan memberikan "Gery" sebagai pelipur lara sementara.
"Ya udah kalau itu mau lo," ucap Gery akhirnya dengan suara rendah.
Gery pun melangkah mendekat ke arah Nadia. Nadia menatap Gery dengan tatapan serba salah, namun Gery hanya memberikan senyum tipis yang menenangkan. Sementara itu, Vanya berjalan di antara Reno dan Dion, masuk ke area industri dengan gaya santainya, seolah baru saja memberikan izin yang paling mustahil dalam sejarah percintaan remaja PH2.