NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. White Roses for an Angel

Langit di atas pemakaman Greenwood seolah ikut berduka, tertutup mendung abu-abu yang menggantung rendah. Namun, pemandangan di bawahnya sungguh luar biasa. Ribuan orang berdiri dalam keheningan yang khidmat di sepanjang jalan menuju pusara. Mereka bukan datang untuk konser, melainkan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Leo.

Sesuai permintaan Julian di media sosial, para fans datang tanpa spanduk atau teriakan. Mereka semua membawa setangkai mawar putih. Lautan mawar putih itu memenuhi area pemakaman, melambangkan kesucian nyawa kecil yang menjadi korban ketamakan industri.

Julian berjalan perlahan di belakang peti kecil berwarna putih itu. Wajahnya tegar namun matanya menyimpan duka yang teramat dalam. Di sampingnya, ia merangkul Alice dengan sangat erat—nyaris posesif. Alice mengenakan gaun hitam panjang dengan kerudung tipis, tangannya terus mengusap perutnya secara instingtif.

"Tetap di dekatku, Al. Jangan lepas," bisik Julian setiap kali kerumunan itu bergeser sedikit.

"Aku di sini, Julian. Aku baik-baik saja," jawab Alice parau, meski langkahnya masih sedikit gontai akibat syok dan mual di awal kehamilannya.

Saat peti Leo perlahan diturunkan ke liang lahat, Julian melangkah maju. Ia memegang gitarnya untuk terakhir kalinya bagi Leo. Tanpa pelantang suara, hanya suaranya yang murni bergetar di udara terbuka.

"You’re safe now, little lion... no more shadows, no more pain. Sleep in the arms of the One who knows your name..."

Suara Julian pecah di ujung kalimat. Ia berlutut di tanah, mengambil segenggam tanah dan menaburkannya. Alice ikut berlutut di sampingnya, meletakkan boneka pesawat kecil milik Leo di atas peti.

"Terima kasih sudah datang ke hidup kami, Leo," bisik Alice. "Kau tidak akan pernah terlupakan."

Di barisan belakang, Samuel Vane berdiri dengan mata yang terus menyapu sekeliling. Di sekeliling pemakaman, puluhan pria berjas hitam dengan earpiece berjaga ketat. Samuel tidak hanya berduka; ia sedang dalam mode siaga penuh. Baginya, setiap orang di kerumunan itu berpotensi menjadi ancaman bagi cucu yang sedang dikandung Alice.

Setelah upacara selesai, Julian segera membimbing Alice menuju mobil antipeluru yang sudah menunggu. Ia bahkan tidak mengizinkan wartawan mendekat sejauh sepuluh meter.

Begitu pintu mobil tertutup, Julian langsung menyelimuti kaki Alice dan memberinya air hangat. "Kau pucat sekali, Al. Apa perutmu sakit lagi? Kita ke dokter sekarang?"

Alice tersenyum lemah, menyentuh tangan Julian yang gemetar. "Julian, tenanglah. Aku hanya sedikit lelah. Kau terlalu khawatir."

"Aku tidak bisa tidak khawatir, Al!" Julian menatapnya dengan tatapan yang nyaris putus asa. "Kita baru saja kehilangan Leo karena kelalaianku tidak menyadari pengkhianatan di panti itu. Aku tidak akan membiarkan seujung rambutmu pun disentuh oleh mereka. Bayi ini... dia adalah mukjizat terakhir kita. Aku akan membangun benteng di sekelilingmu jika perlu."

"Samuel sudah mengurus semuanya, Nak," sela Samuel yang duduk di kursi depan. "Identitas dokter kandungan Alice sudah dirahasiakan. Semua laporan medis dikunci di server pribadi kantorku. Dunia tahu kau berduka, tapi mereka tidak boleh tahu bahwa ada nyawa baru yang sedang tumbuh. Sisa-sisa Syndicate masih berkeliaran, dan mereka tahu pewaris Julian Reed adalah kartu as untuk menghancurkanmu lagi."

Sesampainya di rumah, Julian benar-benar menjadi pengawal pribadi Alice. Ia menuntun Alice ke tempat tidur, melepaskan sepatunya, dan bahkan menyiapkan makan malam sendiri. Ia tidak membiarkan Alice melakukan apa pun, bahkan hanya untuk mengambil buku di rak.

"Julian, aku hamil, bukan sakit parah," goda Alice saat Julian mencoba menyuapinya sup.

"Bagi pria yang pernah kehilangan segalanya sepertiku, kehamilanmu adalah hal paling rapuh di dunia ini," jawab Julian serius. Ia meletakkan mangkuk sup, lalu berlutut di samping tempat tidur, menempelkan telinganya di perut Alice yang masih rata.

"Hei, Nak..." bisik Julian pada perut Alice. "Di luar sana mungkin sedang badai, tapi di sini, Papa akan menjagamu. Kau tidak akan pernah merasa takut seperti Leo. Papa janji."

Alice mengusap rambut Julian, air mata haru jatuh di pipinya. Ia melihat transformasi Julian yang luar biasa. Dari seorang megabintang yang egois, menjadi pria religius yang berduka, dan kini menjadi calon ayah yang begitu protektif.

Namun, di tengah kehangatan itu, Elizabeth Vane masuk ke kamar dengan wajah cemas, memegang sebuah tablet. "Samuel... Julian... kalian harus lihat ini. Seseorang membocorkan foto Alice saat pingsan di rumah sakit kemarin ke forum gelap. Mereka mulai berspekulasi tentang alasan Alice pingsan. Ada yang menyebut tentang 'kehamilan' sebagai cara untuk menutupi kasus kematian Leo."

Julian berdiri, matanya berkilat tajam. "Siapa?"

"Akun anonim. Tapi pola penyebarannya... ini gaya kerja agensi lama," ujar Elizabeth.

Julian menatap Alice yang mulai tampak ketakutan lagi. Ia menggenggam tangan istrinya. "Biarkan mereka bicara. Kita akan menghilang lagi jika perlu. Tapi kali ini, aku tidak akan lari ke persembunyian yang lemah. Aku akan membawa kalian ke tempat di mana cahaya Tuhan selalu menyinari kita."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!