Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Baju Tidur
"Yo sama toh, Run." Jawab Ningsih secara lugas dan to the point.
"Hah, ja_di sema_lam a_bang ba_has itu nya?" cicit Seruni tergagap. Suaranya terasa cekat di kerongkongannya.
"Gimana sih kamu, Run? Itu namanya kode-kode pria dewasa yang pengin begituan. Makanya kamu jangan hafal kode pramuka aja dulu di sekolah. Padahal banyak laki-laki yang udah kasih kode cinta tapi gak kamu gubris!" tutur Ningsih.
Seruni mendadak didera rasa bersalah. Ternyata semalam Bastian sedang memberi kode padanya tentang keinginan melakukan malam pertama. Tapi sayang, ia sebagai istri tak mampu mencerna dan memahami maksud suaminya tersebut dengan baik.
Satu jam kemudian, mereka berempat begitu lahap makan bersama di pondok.
"Rencananya lahan-lahan itu mau ditanam bibit apa aja, Run?" tanya Bastian di sela waktu santap siang mereka.
"Padi dan jagung, Bang." Jawab Seruni.
"Gak coba tanam sayuran?" tanya Bastian.
"Sayuran udah lumayan banyak tumbuh di sekitar rumah kita. Jadi lahan yang di sini buat padi dan jagung saja," jawab Seruni.
Ya, sekitar bilik pengasingan mereka sudah ada ladang sayuran yang bertumbuh seperti sawi pahit, daun balang atau daun domba, daun singkong, kecombrang, cabai, tomat dan masih banyak sayuran liar yang bisa dikonsumsi.
"Berapa lama kita bisa panen?" tanya Bastian.
"Kalau padi biasanya 3-4 bulan, Bang. Kalau jagung 2-3 bulan bisa dipanen," jawab Seruni.
Selesai makan siang, mereka berempat kembali bekerja yakni menabur benih padi dan jagung di lahan berbeda, namun berdekatan.
Senja mulai datang, mereka berjalan kembali ke bikin pengasingan. Tak lama, Mamat dan Ningsih berpamitan untuk pulang.
"Oh ya, Mbak. Generator dari rumah Apak sudah aku taruh di samping," ucap Mamat.
"Makasih, Mat."
"Iya, Mbak."
Lalu, Bastian sejenak memanggil Mamat untuk mengajarkan cara kerja dan penggunaan generator yang dibawa nya tadi dari rumah Pak Tono. Mamat pun dengan telaten mengajarkan Bastian tentang genset tersebut.
Ningsih menarik sejenak lengan Seruni. Dua wanita ini sedikit menjauh dari Bastian dan Mamat.
"Jangan lupa nanti malam kamu ajak Bang Bul begituan. Kalau nunggu lama-lama, takutnya ada cewek lain yang gaet suamimu."
"Hah, siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Rasti si anak pela_kor!" jawab Ningsih dengan nada geramnya.
"Rasti pengin deketin suamiku?"
"Iya, Run. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tadi pagi aku datang ke rumah bapakmu. Aku kan janjian berangkat sama Mamat dari sana. Mamat masih sibuk di belakang. Eh, aku denger Rasti lagi ribut sama Ardi."
"Hubungan keributan mereka sama mendekati abang, apa?"
"Aku gak tau pasti masalah yang terjadi antara mereka. Ardi langsung balik pulang dengan wajah masam. Rasti ngomel gak jelas. Tapi aku denger pembicaraan dia sama emaknya yang sama-sama tukang la_kor!"
"Mereka bicara apa?"
"Emak tiri kau itu dan Rasti bilang kalau suamimu kelihatannya orang kaya. Rasti pengin deketin suamimu. Apalagi dari segi ketampanan dan fisik, suamimu jauh lebih unggul ketimbang Ardi."
"Apa kamu yakin Ning?"
"Sumpah, Run. Aku beneran gak terima kalau mereka melukai hatimu lagi atau mengganggu rumah tanggamu. Cukup Ardi, jangan sampai ke Bang Bul. Aku beneran gak ikhlas, gak ridho dunia akhirat mereka nyakitin kamu terus!" geram Ningsih.
"Apa salahku sama mereka? Kenapa mereka tega begitu padaku, Ning?"
"Mereka emang bukan manusia, Run! Turunan jin dasim, iya!" sungut Ningsih. "Pokoknya kamu harus bisa rebut hati dan cinta Bang Bul biar gak kegoda anak se_tan!"
☘️☘️
Malam hari pun tiba. Jam menunjukkan pukul delapan malam.
Fisik yang cukup lelah setelah seharian nugal di ladang, membuat sepasang pengantin baru itu memutuskan merebahkan tubuh mereka di atas kasur lebih cepat.
Kipas angin menyala dan jendela kamar sengaja dibiarkan oleh Bastian sedikit terbuka agar udara malam yang sejuk bisa masuk ke kamar mereka.
Bastian tak lagi bertelan_jang da_da. Ia memakai celana pendek dan kaos tipis.
Pandangan mata Bastian cukup heran melihat perubahan Seruni malam ini. Di mana istrinya itu terlihat memakai baju cukup terbuka ketika hendak naik ke atas peraduan mereka. Walaupun bukan linge_rie atau baju dinas malam yang se_xy.
Malam ini Seruni memakai baju tidur kado pernikahannya dari Ningsih. Baju tidur berwarna putih dengan motif gambar lope-lope alias hati warna pink. Berbahan katun lembut dan dingin. Tipe lengan terbuka yang terlihat bagian ke_tiaknya dengan panjang selutut lebih sedikit.
Beberapa hari menjadi suami Seruni, Bastian cukup memahami karakter sang istri terutama mengenai cara berpakaian wanita berhijab tersebut.
""Tumben kamu pakai baju begitu buat tidur?" tanya Bastian membuka pillow talk malam ini.
"Ehm, lagi pengin saja." Jawab Seruni memberanikan diri. Seruni mati-matian berusaha membuang rasa canggung dan lemah yang ada dalam dirinya.
Ia sering dijajah, sering ditindas bahkan diremehkan terutama oleh Dewi dan Rasti. Sampai-sampai ia sering mengalah hingga akhirnya Rasti menikung dirinya yakni merebut Ardi dengan cara kotor.
Ucapan Ningsih tadi sore, membuat hati dan pikiran Seruni cukup meradang. Didera rasa cemas dan dihantui ketakutan mendalam seperti trauma masa lalu.
Kali ini Seruni bertekad tak akan mau mengalah. Ia akan berusaha mempertahankan Bastian di sisinya sebagai suami.
Alhasil Seruni menekan rasa malunya. Toh seperti kata Ningsih, Bastian adalah suaminya saat ini. Pria yang sah dan berhak menggaulinya.
Seruni ingin mendapat pahala sebagai istri yang baik dan salehah. Jadi, tak akan masalah jika dia yang meminta duluan hal itu pada Bastian malam ini.
"Apa abang suka?" tanya Seruni ingin tau pendapat Bastian tentang penampilannya sekarang ini.
"Suka," jawab Bastian singkat.
Keduanya saling berhadapan satu sama lain dan berpandangan.
"Malam ini apa boleh ading meminta sesuatu?"
"Katakan saja. Jika aku sanggup, pasti akan ku kabulkan."
"Sudah beberapa hari kita menikah, malam ini apa bisa kita melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Malam pertama kita,"
Deg...
Bersambung...
🍁🍁🍁
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,