Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Baru
Pagi itu, meja makan di mansion keluarga Theodore terasa lebih hidup dari biasanya. Sinar matahari Helsinki menyelinap masuk, memantul pada porselen mahal dan aroma kopi yang mengepul. Namun, yang lebih hangat dari kopi pagi itu adalah suasana di meja makan.
Kaylee turun dengan langkah ragu, wajahnya masih sedikit sembap namun berseri. Di belakangnya, Atlas mengikuti dengan santai, tangannya tanpa ragu merangkul pinggang Kaylee, menariknya mendekat seolah mereka adalah dua kutub magnet yang tak bisa dipisahkan.
Langkah mereka terhenti saat melihat pemandangan di meja makan. Bukan hanya Mommy yang ada di sana, tapi juga Ayah dan Mama Atlas yang duduk manis sambil menikmati sarapan mereka.
"Wah, lihat siapa yang turun sambil menempel seperti lem," goda Mama Atlas sambil meletakkan cangkir tehnya. Matanya berbinar jenaka menatap tangan Atlas yang masih posesif di pinggang Kaylee.
Atlas tidak melepaskan rangkulannya, malah ia menarik kursi untuk Kaylee dan duduk tepat di sampingnya, sangat rapat.
"Pagi, Pa, Ma. Pagi, Mom," sapa Atlas dengan suara bariton yang terdengar sangat segar.
Mommy menyesap kopinya, matanya melirik ke arah leher Kaylee yang berusaha ditutupi oleh kerah kausnya. "Gimana tidur kalian semalam? Sepertinya ada yang habis diskusi panjang soal masa depan sampai matanya sedikit bengkak gitu?"
Wajah Kaylee seketika memerah padam. "Mommy!"
Ayah Atlas tertawa terbahak-bahak, suara beratnya memenuhi ruangan. "Sudahlah. Jangan digoda terus. Kasihan Kaylee, wajahnya sudah semerah stroberi di atas pancake itu. Atlas, Papa dengar kamu sudah membaca surat itu. Gimana? Masih mau bilang kita cuma saudara?"
Atlas terkekeh, ia mengambil sepotong roti dan menyuapkannya langsung ke mulut Kaylee, sebuah tindakan yang biasanya mereka lakukan, tapi kali ini terasa seribu kali lebih intim.
"Maafin Atlas, Pa. Dulu Atlas emang bego," jawab Atlas jujur sambil menatap Kaylee dengan tatapan yang membuat siapa pun yang melihatnya tahu bahwa ia sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya. "Tapi mulai semalam, Atlas sudah mutusin buat nggak jadi saudara lagi. Atlas mau jadi suami yang paling protektif buat Kaylee."
Mama Atlas tersenyum puas. "Kami sudah menunggu momen ini selama dua puluh tahun, At. Kalian saja yang terlalu sibuk dengan drama sahabat kalian sampai tidak sadar kalau cara kalian saling menatap itu sudah lebih dari sekadar teman."
"Jadi," Mommy memotong sambil menopang dagu, menatap pasangan baru itu dengan tatapan mengintimidasi namun sayang. "Kapan kita mulai merencanakan pertunangan resminya? Mama nggak mau ya, kalau di kampus masih ada cewek-cewek macam Angel yang berani deketin Atlas karena status kalian yang nggak jelas."
Kaylee hampir tersedak jus jeruknya. "Mom, kami baru saja... maksudku, baru semalam kami bicara jujur."
"Nggak ada kata terlalu cepat untuk hal baik, Ay," potong Atlas. Ia meraih tangan Kaylee di bawah meja, menautkan jemari mereka dengan erat dan mengangkatnya ke atas meja agar semua orang bisa melihat. "Minggu depan juga boleh, Mom. Biar semua orang di kampus tahu kalau Mr. Jelek ini sudah ada yang punya."
Tawa kembali pecah di meja makan itu. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi sandiwara. Yang ada hanyalah restu yang mengalir deras dan dua hati yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Suasana ceria di dalam mobil mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa. Atlas yang tadinya hanya fokus menatap Kaylee sambil menggoda calon tunangannya itu, tiba-tiba menginjak rem dengan sangat mendalam hingga ban mobil berdecit keras di atas aspal.
Citttt!
"Atlas! Kucing!" teriak Kaylee histeris.
Mereka berdua segera keluar dari mobil dengan wajah pucat. Di depan kap mobil mewah Atlas, seekor anak kucing abu-abu kecil tampak gemetar ketakutan, meski syukurlah tidak tertabrak secara langsung. Kaylee segera berlutut, menggendong makhluk mungil itu ke dalam pelukannya.
"Ya ampun, kamu nggak apa-apa sayang?" bisik Kaylee dengan suara bergetar.
Saat itulah, dari ujung jalan, seorang pria berlari dengan napas terengah-engah. Langkahnya berhenti tepat di depan mereka. "Milo! Oh, syukurlah dia selamat."
Kaylee dan Atlas mendongak. Mata Atlas langsung menyipit tajam saat mengenali wajah pria itu. Itu adalah Aadzey, pria dari Lapland yang pernah mencoba mencuri pandang pada Kaylee.
"Lo lagi?" gumam Atlas, suaranya berubah dingin dalam sekejap. Ia langsung berdiri tegak, memasang badan di depan Kaylee seolah-olah Aadzey adalah ancaman besar.
Aadzey tampak terkejut melihat mereka, namun tatapannya segera tertuju pada Kaylee yang masih mengelus anak kucing itu. "Kita bertemu lagi. Terima kasih sudah menyelamatkan kucingku. Dia melompat dari keranjang saat aku baru pindah ke apartemen di area ini."
Aadzey melangkah mendekat untuk mengambil kucingnya, namun Atlas selangkah lebih cepat. Ia mengambil kucing itu dari tangan Kaylee dengan kasar dan menyerahkannya pada Aadzey agar jarak antara pria itu dan Kaylee tidak semakin dekat.
"Ini kucing lo. Lain kali jaga yang bener. Jangan biarin dia lari ke tengah jalan kalau nggak mau kucing ini mati," ucap Atlas dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.
Aadzey tersenyum tipis, matanya beralih ke tangan Kaylee yang masih sedikit gemetar. "Maafkan aku, Kaylee. Kamu kelihatannya syok sekali. Apa kamu butuh minum? Apartemenku tepat di gedung depan itu."
Rahang Atlas mengeras. Ia tidak memberikan celah bagi Kaylee untuk menjawab. Tanpa ragu, Atlas menarik Kaylee ke dalam dekapannya, melingkarkan lengan berototnya di pundak gadis itu dan mencium pelipisnya dengan sangat posesif di depan Aadzey.
"Dia nggak butuh apa-apa dari lo," potong Atlas ketus. "Dia punya gue buat jagain dia. Dan asal lo tahu, mulai hari ini, jalanan ini bukan cuma tempat dia lewat, tapi dia adalah tunangan gue. Jadi, mending lo fokus sama kucing lo dan jangan pernah nawarin minum lagi ke dia."
Aadzey tertegun, melihat perubahan status yang begitu cepat di antara mereka. "Tunangan?."
"Bukan urusan lo," balas Atlas tajam. Ia menuntun Kaylee kembali ke kursi penumpang mobilnya. "Ayo, Ay. Kita hampir telat masuk kelas."
Sebelum menutup pintu mobil, Atlas sengaja menatap Aadzey dengan tatapan kemenangan yang mematikan, seolah ingin menegaskan bahwa di Helsinki maupun di Lapland, Kaylee adalah wilayah kekuasaannya yang mutlak.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍