Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gencatan Senjata
Langit di atas Wuhan tampak tenang.
Itulah yang paling menakutkan.
Dua hari perang telah menguras qi tanah, mengeringkan darah menjadi lapisan hitam di bebatuan. Tidak ada teriakan. Tidak ada ledakan. Hanya kesunyian yang menekan dada, seolah dunia menahan napas menunggu sesuatu yang lebih buruk.
Ketua Aliansi Murim berdiri di tengah tenda komando darurat. Di sekelilingnya, para tetua yang tersisa duduk dengan wajah pucat, beberapa terluka parah, sebagian lain hanya bertahan karena obat penopang jiwa.
Pintu tenda terbuka.
Gu Shentian masuk tanpa suara.
Tidak ada aura dilepaskan, tidak ada tekanan. Namun semua orang di dalam tenda secara naluriah berdiri.
“Duduk,” kata Gu Shentian singkat.
Ketua Aliansi menelan ludah. “Senior Gu… apa kabar medan perang?”
“Jika dilanjutkan,” jawab Gu Shentian datar, “tidak akan ada medan perang lagi. Hanya akan ada kuburan kalian.”
Hening.
“Kau harus menawarkan gencatan senjata pada Kultus Demonic,” lanjutnya.
Beberapa tetua langsung bereaksi.
“Tidak mungkin!”
“Mereka pembantai!”
“Aliansi Murim tidak akan—”
Gu Shentian mengangkat satu jari.
Suara lenyap seketika.
“Kalian bukan sedang bernegosiasi dari posisi bermoral,” katanya. “Kalian bernegosiasi dari posisi diburu.”
Ketua Aliansi mengerutkan kening. “Diburu?”
Gu Shentian menatap ke arah utara, menembus tenda, menembus langit.
“Sekte Pedang Surgawi telah mengaktifkan garis pengejaran,” katanya. “Bagi mereka, perang kalian hanyalah gangguan kecil.”
Darah di wajah Ketua Aliansi menghilang. “Mereka… membidik siapa?”
“Siapa pun yang mengganggu keseimbangan,” jawab Gu Shentian. “Termasuk kalian. Termasuk Kultus Demonic.”
Beberapa tetua terdiam ketakutan.
“Kau ingin kami bekerja sama dengan iblis?” tanya Ketua Aliansi pelan.
“Aku ingin kalian bertahan hidup,” jawab Gu Shentian. “Gencatan senjata. Bukan damai. Hanya waktu.”
Ketua Aliansi menunduk lama.
Akhirnya, dia mengangguk. “Aku akan kirim utusan.”
“Sekarang,” kata Gu Shentian.
Wilayah Kultus Demonic tidak jauh lebih baik.
Aula batu hitam dipenuhi bau darah dan obat jiwa. Para tetua yang tersisa berdiri dengan postur waspada, beberapa kehilangan anggota tubuh, beberapa lainnya hanya bertahan karena qi gelap yang dipaksa beredar.
Pemimpin Kultus Demonic duduk di singgasana kasarnya, satu tangan bersandar di lutut, napasnya tidak stabil.
Utusan Aliansi Murim berlutut.
“Kami menawarkan gencatan senjata,” katanya tanpa basa-basi.
Aura pembunuh meledak.
“Berani!”
“Kita hancurkan mereka sekarang!”
Pemimpin Kultus mengangkat tangan.
Semua langsung diam.
“Alasan,” katanya dingin.
“Sekte Pedang Surgawi,” jawab utusan itu. “Mereka sudah bergerak.”
Mata Pemimpin Kultus menyipit.
Dia tertawa pelan—serak, tanpa kegembiraan.
“Jadi akhirnya mereka memutuskan turun tangan.”
Dia berdiri perlahan, menatap para tetuanya yang tersisa.
“Kita kehilangan lebih dari separuh kekuatan,” katanya. “Kalau perang ini diteruskan… kita akan punah sebelum mereka tiba.”
Hening pahit.
Pemimpin Kultus menoleh ke utusan. “Aku setuju.”
Utusan menghela napas lega.
“Namun dengar baik-baik,” lanjut Pemimpin Kultus. “Gencatan ini bukan karena belas kasihan. Begitu Pedang Surgawi tersingkir… darah akan mengalir lagi.”
Utusan mengangguk. “Kami mengerti.”
Di tempat lain, jauh dari perundingan dan perang—
Mo Cil berlutut di tanah berbatu.
Lengan kirinya hilang hingga bahu. Darah kering membentuk pola gelap di perbannya. Napasnya berat, tapi matanya masih menyala oleh kebencian dan obsesi.
Langkah kaki terdengar.
Mo Cil mendongak.
Zhao Ming berdiri di hadapannya.
Tatapan Zhao Ming datar—namun ada sesuatu di baliknya. Kekecewaan.
“Zhao Ming…” suara Mo Cil serak. “Mengapa kau disini—”
“Untuk melihat seorang wanita yang cacat ,” potong Zhao Ming.
Mo Cil mengepalkan tangan kanannya. “Aku akan menghabisimu dan dia—”
“Belum cukup kuat,” kata Zhao Ming dingin.
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari pukulan.
“Apa maksudmu?” Mo Cil bertanya pelan.
“Kalau kau menyentuhnya sekarang,” jawab Zhao Ming, “kau hanya akan mati sia-sia. Dan aku tidak tertarik untuk mati ditangan seseorang yang kehilangan lengannya.”
Mo Cil menggertakkan gigi. “Kau serius Zhao Ming ingin memusuhiku?”
Zhao Ming menatap lengan yang hilang itu sekilas. “Itu pilihanmu.”
Dia berbalik. “Pergilah.”
Mo Cil membeku. “Kau—”
“Jika aku melihatmu di dekat Ci Lung lagi,” kata Zhao Ming tanpa menoleh, “aku yang akan menghabisimu.”
Keheningan menelan Mo Cil.
Akhirnya, dia menunduk.
Zhao Ming menghilang, meninggalkan Mo Cil sendirian—bukan sebagai ancaman, tapi sebagai sisa masa lalu.
Lembah Sunyi.
Ci Lung terbaring tak bergerak di atas dipan batu. Kulitnya pucat keabu-abuan, napasnya begitu tipis hingga nyaris tak terasa.
Yan Yu duduk di sampingnya sejak entah kapan.
Matanya merah. Tangannya gemetar.
Meja di sekelilingnya penuh dengan botol ramuan gagal, catatan kuno, dan bahan obat langka yang hampir menguras persediaan lembah.
“Bangunlah…” bisiknya. “Kau belum boleh mati.”
Sistem berkedip di kesadaran Ci Lung yang tenggelam.
[Status: Kritis]
[Kerusakan Meridian: Tinggi]
[Rekomendasi: Terobos Meridian Opening layer keempat]
[Risiko kematian: 46%]
Yan Yu tidak bisa melihat angka itu.
Yang dia lihat hanyalah gurunya yang tidak pernah tumbang—kini tergeletak tak berdaya.
“Aku tidak peduli teori,” katanya lirih sambil menyalakan api alkimia. “Aku tidak peduli risikonya.”
Dia memasukkan bahan terakhir—inti tanaman jiwa yang bahkan sekte besar akan ragu menggunakannya.
Uap pahit naik memenuhi ruangan.
Yan Yu menuangkan obat itu ke mulut Ci Lung, setetes demi setetes.
Qi obat menyebar kasar.
Tubuh Ci Lung kejang.
Meridian yang retak dipaksa terbuka lebih jauh—menyakitkan, brutal.
Sistem bereaksi.
[Opsi Darurat Aktif]
[Sinkronisasi paksa terdeteksi]
[Konfirmasi kenaikan layer?]
Tidak ada jawaban.
Namun di kedalaman kesadaran yang gelap, Ci Lung merasakan dorongan—bukan dari sistem, bukan dari dunia luar.
Dari dalam dirinya sendiri.
Qi bergerak.
Meridian ketiga yang nyaris hancur mulai membuka jalan ke sesuatu yang lebih luas… dan lebih berbahaya.
Yan Yu menggenggam tangan gurunya erat-erat.
“Kalau dunia ini terlalu kejam,” katanya sambil menangis, “maka kau harus jadi lebih kejam darinya.”
Di luar lembah, kabar gencatan senjata menyebar.
Sekte Pedang Surgawi terus mendekat.
Zhao Ming mengamati dari jauh.
Gu Shentian menutup mata sejenak.
Dan Ci Lung—
berada di ambang perubahan yang tidak lagi bisa ditarik kembali.
Siap. Aku fokus 100% ke Ci Lung di ARC 30, masuk ke debat sistem, poin kultivasi, momen emosional Yan Yu, lalu bergeser natural ke Gu Shentian vs Zhao Ming dengan duel satu hari penuh. Gaya tetap serius, berat, tapi mengalir.
Gelap.
Namun kali ini, gelap itu tidak kosong.
Ci Lung merasakan dirinya tenggelam, tapi bukan jatuh. Lebih seperti berdiri di dasar danau, menatap ke atas, melihat cahaya beriak samar di permukaan.
Suara sistem terdengar.
[Kesadaran pengguna mulai pulih.]
[Status: Tidak stabil.]
Ci Lung membuka mata.
Langit-langit batu Lembah Sunyi tampak kabur. Dadanya terasa seperti dihantam palu dari dalam, napasnya berat, setiap tarikan udara menusuk meridian yang baru pulih setengah.
Dia mengerang pelan.
“Guru—!”
Wajah Yan Yu langsung muncul di atasnya, mata merah, air mata mengalir tanpa henti. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Ci Lung.
“Guru… kau bangun… kau benar-benar bangun…” suaranya pecah.
Ci Lung mencoba tersenyum, tapi hanya berhasil menarik sudut bibir sedikit. “Kenapa… menangis?”
Yan Yu tertawa sambil menangis. “Karena kau hidup!”
Tubuh Ci Lung masih terlalu lemah untuk bergerak. Namun kesadarannya mulai kembali sepenuhnya. Sistem muncul di sudut pandangannya, kali ini lebih… hati-hati.
[Selamat datang kembali.]
[Catatan: Kondisi pengguna masih kritis.]
Ci Lung menarik napas panjang dalam pikirannya.
“Status,” katanya pelan.
[Meridian Opening layer ketiga: Tidak stabil.]
[Kerusakan internal: 41%.]
[Rekomendasi lanjutan: Terobos ke Meridian Opening layer keempat.]
Ci Lung mengernyit.
“Kau bilang itu waktu aku sekarat,” katanya. “Sekarang aku sadar. Apa masih perlu?”
[Jawaban: Ya.]
[Catatan: Tanpa terobosan, probabilitas kemunduran permanen: 62%.]
Ci Lung terdiam beberapa saat.
“Berapa poin kultivasiku?”
[Total poin saat ini: 8.742.]
Ci Lung mendengus pelan. “Aku ingat pil Heavenly Secret.”
[Item ditemukan.]
[Heavenly Secret Pill — Harga: 10.000 poin.]
[Efek: Menstabilkan terobosan layer keempat, mengurangi risiko kematian hingga 9%.]
Ci Lung memejamkan mata.
“Jadi aku kurang sekitar seribu dua ratus poin,” gumamnya.
[Benar.]
“Kurangi poinku.”
[Permintaan tidak valid.]
Ci Lung membuka mata tajam. “Aku bilang kurangi.”
[Pengguna tidak memiliki poin yang cukup.]
“Kau punya fleksibilitas,” kata Ci Lung dingin. “Aku tahu itu. Kau sudah beberapa kali ‘menyesuaikan’ aturan demi bertahan hidupku.”
Sistem terdiam.
Beberapa detik berlalu.
[Pengguna meminta negosiasi.]
“Bukan,” jawab Ci Lung. “Aku menyatakan pilihan.”
Yan Yu menatapnya bingung. “Guru… kau bicara dengan siapa?”
“Dengan sesuatu yang terlalu perhitungan,” jawab Ci Lung lirih.
Dalam kesadarannya, dia berdiri tegak menatap sistem.
“Kurangi seribu poin dariku sekarang,” katanya. “Sisanya akan kubayar nanti.”
[Resiko tinggi.]
“Aku sudah hidup di resiko sejak awal.”
Keheningan panjang.
Lalu—
[Otorisasi khusus diterapkan.]
[Poin kultivasi dikurangi: 1.000.]
[Sisa poin: 7.742.]
[Heavenly Secret Pill diperoleh.]
Ci Lung merasakan sesuatu muncul di dalam dirinya—bukan fisik, tapi sensasi padat, seperti janji yang berdenyut.
Yan Yu tersentak saat tubuh Ci Lung memanas pelan.
“Guru?” suaranya panik.
“Tenang,” kata Ci Lung. “Aku tidak pergi ke mana-mana.”
Dia menelan pil itu.
Rasa pahit menyebar, lalu berubah menjadi hangat yang stabil. Meridian yang sebelumnya seperti kaca retak kini terasa seperti baja yang dipaksa dibentuk ulang.
Sistem berkedip.
[Memulai terobosan: Meridian Opening layer keempat.]
[Sinkronisasi… berjalan.]
Yan Yu menggenggam tangannya erat, berdoa tanpa suara.
Qi di Lembah Sunyi bergerak lembut, tidak meledak, tidak liar. Berjam-jam berlalu tanpa gangguan.
Akhirnya—
Ci Lung membuka mata lagi.
Kali ini, pandangannya jernih.
Dia duduk perlahan. Tidak ada rasa sakit menusuk. Hanya kelelahan dalam, seperti setelah bertahan dari badai panjang.
Yan Yu menatapnya beberapa detik… lalu menangis lagi.
“Kau… kau benar-benar kembali,” katanya sambil tertawa.
Ci Lung mengangkat tangan dan mengusap kepalanya pelan. “Maaf membuatmu ketakutan.”
Yan Yu menggeleng keras. “Aku akan membuat obat lebih baik lagi. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi.”
Ci Lung tersenyum tipis.
Tidak lama setelah itu, Gu Shentian berdiri di luar Lembah Sunyi.
Dia menatap ke dalam, merasakan aura Ci Lung—lebih stabil, lebih dalam.
“Bagus,” gumamnya.
Tanpa masuk, dia berbalik.
“Sekarang… urusan yang lain.”
Di wilayah terpencil, dua sosok berdiri saling berhadapan.
Gu Shentian dan Zhao Ming.
“Jadi,” kata Gu Shentian tenang, “kau yang mematahkan muridku.”
Zhao Ming tidak menyangkal. “Aku mengajarinya.”
“Dengan cara membuatnya hampir mati.”
“Dia hidup,” jawab Zhao Ming. “Berarti berhasil.”
Gu Shentian menatapnya lama. “Kau satu layer di bawahku.”
Zhao Ming tersenyum tipis. “Dan kau tetap datang.”
Mereka bergerak bersamaan.
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada teknik mencolok. Tapi tanah retak perlahan, ruang bergetar pelan.
Pertarungan mereka berlangsung satu hari penuh.
Pedang tak kasat mata bertabrakan. Niat saling menekan. Langit berganti terang dan gelap.
Zhao Ming terdesak—perlahan tapi pasti.
Namun dia bertahan.
“Aku kalah satu layer,” katanya sambil terengah, darah mengalir di sudut bibir. “Tapi belum cukup untuk dijatuhkan.”
Gu Shentian menurunkan tangannya. “Kau menyentuh muridku lagi—”
“Aku tahu,” potong Zhao Ming. “Aku akan mati.”
Mereka berpisah tanpa pemenang mutlak.
Di Lembah Sunyi, Ci Lung berdiri menatap langit.
Dia merasakan dunia bergerak lebih berat… tapi juga lebih jelas.
“Harga seribu poin,” gumamnya.
Sistem muncul pelan.
[Catatan:]
[Investasi disetujui.]
Ci Lung mengepalkan tangan.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan memastikan itu tidak sia-sia.”
Langit jauh bergemuruh.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠