Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: KEJATUHAN SANG RAJA KECIL
Langit Oetimu pagi itu berwarna ungu kemerahan, sebuah fajar yang tenang namun menyimpan bobot sejarah yang besar. Di puncak bukit, Jonatan berdiri mematung, menyaksikan konvoi kendaraan kepolisian dari Kepolisian Daerah (Polda) NTT bergerak perlahan namun pasti menuju gerbang tinggi kediaman Tuan Markus. Tidak ada lagi teriakan massa, tidak ada lagi deru buldoser. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam, hanya dipecah oleh suara sirine yang dinyalakan singkat saat petugas mulai mengetuk pintu jati besar itu.
Di samping Jonatan, Sarah memegang erat sebuah map berisi salinan surat perintah penangkapan dan penyitaan aset. "Ini bukan hanya soal penganiayaan terhadap Bapa Berto, Jon," bisik Sarah, suaranya parau karena kurang tidur. "Hasil audit forensik kemarin mengungkap aliran dana pencucian uang dari PT Tirta Abadi yang melewati rekening pribadi Markus. Dia bukan lagi sekadar tuan tanah yang galak; dia adalah ujung tombak kejahatan korporasi."
Pintu besar itu akhirnya terbuka. Tuan Markus keluar bukan dengan helm proyek atau kacamata hitam yang angkuh, melainkan dengan sarung yang tersampir lunglai di bahunya. Wajahnya yang biasanya merah padam karena amarah, kini tampak pucat pasi, seperti tanah yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh hujan. Saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya, matanya sempat menyapu ke arah bukit—menemukan sosok Jonatan yang berdiri tegak di sana. Tidak ada lagi ancaman di mata itu, hanya kekosongan seorang penguasa yang baru saja menyadari bahwa singgasananya hanyalah tumpukan pasir yang hanyut disapu air.
"Dulu dia bilang, air adalah kekuasaan," Matheus bergumam, muncul dari balik rimbun pohon asam dengan mata yang berkaca-kaca. "Sekarang, air yang dia bendung justru yang menyeretnya ke penjara."
Kejatuhan Tuan Markus menjadi simbol runtuhnya tembok ketakutan di Oetimu. Namun, bagi Jonatan, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari beban yang lebih besar: mengelola kemerdekaan yang baru saja direbut.
Siang harinya, balai desa Oetimu penuh sesak. Kali ini, tidak ada lagi pembagian sembako gratis yang bersyarat. Di atas meja panjang, Jonatan membentangkan cetak biru besar. Bukan lagi sekadar skema pipa darurat dari gua, melainkan desain "Sistem Terintegrasi Oetimu Mandiri".
"Bapak dan Ibu," Jonatan membuka rapat koperasi terbesar sepanjang sejarah desa tersebut. "Tuan Markus sudah pergi, dan PT Tirta Abadi sudah dibekukan izinnya di tanah kita. Tapi kemerdekaan ini akan sia-sia jika kita tidak bisa mengelola air ini dengan adil. Koperasi kita sekarang memegang izin kelola penuh atas sumur utama dan Gua Nekmese."
Jonatan menunjuk ke arah diagram di meja. "Kita akan membangun sistem irigasi pintar yang menjangkau hingga ke lahan terjauh di Nekmese. Setiap tetes air yang keluar akan dicatat oleh sensor digital yang saya bangun. Bukan untuk membebani Bapak dan Ibu dengan tagihan mahal, tapi untuk memastikan tidak ada satu pun orang yang mengambil lebih banyak daripada yang dibutuhkan tanahnya. Ini adalah kedaulatan, di mana setiap dari kita adalah pemilik, bukan pelanggan."
Sarah kemudian berdiri, menjelaskan aspek legalitas baru. "Kita sudah mendaftarkan air Oetimu sebagai Hak Guna Komunal. Artinya, sampai kapan pun, air ini tidak bisa dijual kepada perusahaan swasta mana pun tanpa persetujuan seratus persen warga desa. Kita telah memagari desa ini dengan hukum yang lebih kuat dari pagar kawat berduri mana pun."
Namun, di tengah keriuhan rencana masa depan, Jonatan menyadari satu hal. Integrasi teknologi dan sosial yang ia bangun memiliki kerumitan yang luar biasa. Ia harus memastikan warga yang selama puluhan tahun hidup dalam pola pikir "bertahan hidup" kini bisa beralih ke pola pikir "mengelola".
Sore harinya, Jonatan membawa tim teknis kecilnya—para pemuda desa yang kini ia latih menjadi operator sistem—ke sumur utama. Garis kuning yang kemarin diputus kini diganti dengan plakat kayu sederhana bertuliskan: “Air Ini Milik Rakyat Oetimu, Dijaga oleh Keringat dan Kejujuran.”
Jonatan membuka laptopnya, menghubungkannya ke modul kontroler utama. Di layar, ia bisa melihat grafik aliran air yang stabil. "Theus, lihat ini. Sensor kelembapan di ladang Ambu Lolo baru saja mengirim sinyal. Tanahnya sudah cukup basah, jadi katup di sana otomatis menutup. Kita menghemat dua ratus liter air hanya dalam satu jam terakhir."
Matheus menggelengkan kepala takjub. "Dulu kita berkelahi hanya untuk satu jerigen, Jon. Sekarang mesin ini tahu kapan harus berhenti sendiri."
Malam harinya, Oetimu mengadakan perayaan syukur. Tidak ada musik yang hingar-bingar, hanya suara petikan sasando yang lembut dan aroma jagung bakar yang memenuhi udara. Jonatan duduk di teras bengkelnya, menatap kearah ladang-ladang yang kini terlihat lebih hijau di bawah cahaya bulan.
Sarah menghampirinya, membawa dua cangkir kopi panas. "Tujuan utama kita di Bab 1 sudah tercapai, Jon. Air sudah mengalir, musuh sudah jatuh. Apa langkah selanjutnya untuk sang 'Insinyur Oetimu'?"
Jonatan menyesap kopinya, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "PT Tirta Abadi memang mundur dari sini, tapi mereka masih punya proyek di desa-desa lain di seluruh NTT. Model Oetimu ini harus menjadi virus, Sar. Kita harus menyebarkan teknologi ini. Besok, aku ingin kita mulai menyusun manual penggunaan sistem ini dalam bahasa daerah yang mudah dimengerti. Kita akan kirim anak-anak muda kita ke desa seberang sebagai konsultan air."
"Kau mau jadi guru sekarang?" Sarah tersenyum menggoda.
"Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi 'Markus-Markus' baru yang lahir di tanah ini hanya karena orang desa tidak mengerti teknologi," jawab Jonatan serius.
Tiba-tiba, Pak Berto mendekat dengan langkah yang sudah lebih tegak. Perban di kepalanya sudah dilepas, menyisakan bekas luka yang akan menjadi tanda kehormatan baginya. Ia menatap Jonatan dengan bangga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Jon," suara Pak Berto berat. "Tadi sore, saya lihat anak-anak Nekmese mandi di bawah kran sampai puas. Mereka tidak lagi takut airnya habis. Sepanjang hidup saya, itulah pemandangan paling indah yang pernah saya lihat."
Jonatan memeluk ayahnya. "Ini baru awal, Bapa. Kita akan buat tanah ini tidak hanya basah, tapi juga makmur."
Bab 35 ditutup dengan pemandangan dari ketinggian bukit. Lampu-lampu dari sistem panel surya Jonatan terlihat berkelap-kelip di sepanjang lembah, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Oetimu bukan lagi desa yang terlupakan dan kering. Ia telah bermetamorfosis menjadi mercusuar kedaulatan air.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara pompa yang bekerja dengan ritme yang teratur—sebuah detak jantung baru bagi sebuah peradaban yang bangkit dari dahaga. Jonatan tahu, tantangan di depan masih banyak; dari pemeliharaan alat hingga godaan politik baru. Namun malam ini, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia bisa tidur tanpa harus bermimpi tentang sumur yang kering.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian