NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rens16

Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Cincin couple

"Kamu kenapa sih dari tadi cemberut aja?!" Nita mendelik kesal terhadap Doni yang sejak tadi terlihat uring-uringan itu.

"Nggak papa!" Doni memilih masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di sana.

Acara pernikahannya dengan Nita yang diselenggarakan dari pagi hingga malam hari itu membuat badan Doni.merasakan capek yang luar biasa.

Belum lagi tekanan pihak keluarga besarnya yang tak begitu setuju Doni melepas Amel dan menikahi Nita.

Tapi nasi telah menjadi bubur dan Doni harus bertanggung jawab secara penuh karena kehamilan Nita karena ulahnya.

Tekanan itu semakin besar tatkala tadi keluarganya melihat kedatangan Amel bersama suaminya yang menurut mereka tidak cocok dengan Amel itu.

Mereka bersungut-sungut karena Doni melepas Amel yang kaya raya dan memilih Nita yang pengangguran dan tak memiliki pekerjaan tetap itu.

"Kamu masih mau makan nggak, Don?" tanya Nita sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar.

"Kamu aja yang makan, aku masih kenyang banget!" Doni menjawab sambil tidur miring membelakangi Nita.

"Ya udah kalau kamu masih kenyang, aku mau makan lagi, anak kamu masih butuh nutrisi!" ucap Nita lalu kembali ke meja makan untuk menyantap makanannya.

Bisa dibilang Nita itu perempuan acuh yang tak mempedulikan mau diperlakukan seperti apa oleh orang lain yang penting dia tetap menikah sama Doni.

Orang tua dan keluarga besar Doni tak menerimanya dengan baik juga tak masalah bagi Nita, yang penting Nita punya suami yang bisa memenuhi kebutuhannya dan anaknya kelak.

***

Revan dan Amel kembali bergumul, namanya jiwa anak muda dan ini baru pengalaman pertama bagi Revan, jadi bukan hal aneh kalau Revan jadi ketagihan melakukan aktivitas itu lagi dan lagi.

"Udah, Be!" Amel menggeleng pelan saat Revan masih belum melepaskannya padahal Amel sudah kelelahan diajakin bercinta dengan berbagai gaya itu.

"Sebentar, aku belum selesai!" Revan mengecup bibir Amel yang megap-megap itu sambil melanjutkan gerakannya mendaki puncak kenikmatan.

Begitu Revan telah mencapai puncaknya, dia pun mencabut senjatanya dan bergulir lalu memeluk Amel dengan sayang.

"Aku besok mau ke Bandung!" ucap Amel sambil memejam.

"Mau ngapain?" tanya Revan.

"Meeting sama klien!" jawab Amel.

"Mau aku temenin?" tanya Revan.

"Kamu nggak sibuk emang?" tanya Amel.

"Nggak sih, masih ada Abel sama Eza yang stand by!" jawab Revan.

"Oh iya, aku hampir lupa!" Amel bangkit sambil menutupi tubuhnya dengan selimut lalu meraih tasnya dan mengambil kotak di dalamnya.

"Cincin kita udah jadi!" Amel menyerahkan kotak itu kepada Revan.

Dengan hati-hati Revan membuka kotak itu dan melihat dua cincin couple yang didesign oleh Amel.

"Suka nggak?" tanya Amel was-was, pasalnya Amel tidak mengajak Revan berdiskusi sebelum mengeksekusi cincin pernikahan mereka.

Revan menarik tangan Amel lalu memasangkan cincin itu di jari manis Amel.

"Cantik!" Lalu Revan mencium punggung tangan itu lembut.

Revan menyodorkan jarinya dan tanpa kata meminta Amel memasangkan cincin itu di jari manis Revan.

"Harusnya masangin cincin itu pas moment romantis, dinner atau apalah gitu, ini mah di atas kasur dalam keadaan bugill lagi!" Amel mengomel dengan lucu sambil memperhatikan tangan besar Revan yang masih berada dalam genggamannya.

"Ini lebih romantis dari pada sekedar makan romantis, Ney! Jarang orang masangin cincin ke jari pasangannya kayak kita gini!" Revan terkekeh lalu berlalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Amel tersenyum menatap pesona sang suami yang memang tampan itu. Amel menatap jari manisnya dan tersenyum lebar, bayangan hidup berumah tangga yang manis jelas tergambar di matanya.

Klunting! Sebuah notifikasi dari mobile bankingnya berbunyi. Amel bergegas meraih ponselnya dan memeriksa notifikasi itu.

Amel berdiri dan memakai piyama tidurnya lalu mencari Revan yang sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.

"Ini kenapa kirim uang ke aku lagi?" tanya Amel sambil menunjukkan bukti mutasi yang tertera di sana.

"Kan buat ongkos cincin couple kita ini, Ney!"

"Dibilangin nggak usah juga!" sahut Amel.

"Aku nggak mau dinafkahi perempuan, harga dirilah!" ucap Revan santai.

Amel tertawa. "Padahal nafkah sepuluh juta perbulan itu udah cukup lho, Be!" tegur Amel.

"Beneran cukup atau dicukup-cukupin?" tanya Revan.

"Cukup!" Amel mengangguk dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Mau makan lagi nggak?" tanya Amel sambil mencari panci, Amel ingin makan mie instan setelah energinya habis digempur Revan tadi.

"Kamu mau masak apa?" tanya Revan dari depan televisi sini.

"Pengen makan mie kuah!" jawab Amel

"Ya, aku mau juga, pakai telur mata sapi ya, Ney!" teriak Revan lagi.

"Pedes nggak?" tanya Amel.

"Cabenya satu aja!"

Amel pun cekatan memasak mie instan dengan telur mata sapi itu untuk dirinya dan suaminya.

Selama sepuluh menit Amel berjibaku di dalam dapur lalu satu mangkuk mie kuah tersaji di depan Revan.

"Kok cuma satu?" tanya Revan.

"Aku jadiin satu, kita makan barengan aja, biar romantis kan kita baru aja pakai cincin couple!" jawab Amel sambil tersenyum lebar.

"Lebih romantis pas kita di atas ranjang tadi sih daripada makan mie begini!" sahut Revan sambil melorot dan duduk di karpet berhadapan dengan Amel dan terhalang meja dengan semangkuk mie di atasnya.

Amel tertawa pelan lalu mulai memasukkan sesendok mie ke dalam mulutnya.

"Enak, laper-laper gini makan yang kuah-kuah bikin nikmat ya!" ucap Amel saat Revan gantian memasukkan mie ke dalam mulutnya.

"Makan yang banyak, habis ini kita lembur lagi!" ucap Revan setelah menelan makanannya.

"Uhuk! Uhuk!" Amel terbatuk dan meraih gelas berisi air putih itu lalu menenggaknya.

"Omes!" omel Amel dengan mata melotot.

"Halal ini, wajar dong omes terus!" Revan menjawab dengan santai.

Amel melengos pelan, rasanya wajahnya terasa memanas karena kemesuman suaminya yang di atas rata-rata itu.

Semangkuk mie instan itu tandas juga akhirnya, mereka masih bertahan di ruang tamu itu sambil duduk berdempetan.

"Besok berangkat ke Bandungnya jam berapa?" tanya Revan.

"Agak siang aja, kita bawa mobil, sekalian kita jalan-jalan menikmati suasana kota Bandung!" jawab Amel.

"Bulan madu?" tanya Revan.

Amel mengerucutkan bibirnya kesal, sejak mereka memakai cincin couple itu, Revan sering mengungkapkan hal-hal absurd.

"Anggep aja gitu!" Amel memilih mengangguk.

Revan mengotak-atik ponselnya dan menunjukkan beberapa hotel rekomendasi dari orang-orang.

"Ini bagus ya, Ney?" tanya Revan.

"Bagus sih, tapi ini adanya di Lembang, jauh banget sama pusat kota!" jawab Amel.

"Kamu nggak mau nyobain nginep disini?" tanya Revan lagi.

"Bukan nggak mau tapi terlalu jauh dari kotanya, aku nggak bisa lama-lama stay di sananya, lusa sore mau ada meeting sama klien baru!" jawab Amel lagi.

"Oh ya udah kita nginep di kota aja, yang penting kita bulan madu!" sahut Revan.

"Kamu tuh yang dipikirin bulan madu terus, padahal sekarang juga hampir tiap hari bulan madu!" celetuk Amel.

"Mau nyobain sensasi lain, seperti...um, misalnya bercintaa di balkon gitu!" ucap Revan.

"Dih ogah, aku takut ketahuan orang!" Amel bergidik membayangkan aktivitas panasnya jadi konsumsi publik.

"Aku juga nggak suka bagian penting kamu dilihat orang lain, cukup aku aja yang lihat dan tahu, orang lain nggak boleh!"

Amel tertawa lagi. Hidup bersama Revan memang baru beberapa waktu lamanya, ternyata Amel baru tahu kalau Revan itu sebenarnya enak buat diajak mengobrol.

Revan pandai, pengertian dan dewasa. Dia juga berusaha memahami Amel dengan cara yang manis dan baik.

Meskipun kalau lagi ngambek bikin Amel pusing tapi secara keseluruhan memang Revan lebih menyenangkan dibanding pasangan Amel sebelumnya.

Revan memiliki jiwa provider dan memiliki harga diri yang cukup tinggi, buktinya dia berusaha memberikan nafkah terbaik untuk Amel meskipun untuk sebagian orang, nilai sepuluh juta itu bukan nominal yang besar, tapi Amel sangat bersyukur dalam hal itu.

"Jadi karena kita udah pakai cincin couple, nggak salah kan Ney kalau kita bulan madu sekali lagi?"

Belum sempat Amel mengomel tapi Revan sudah mengangkatnya dan masuk kembali ke kamarnya untuk melakukan aktivitas penuh kenikmatan itu.

Pada dasarnya memang keduanya sedang berada dipuncak performa mereka kan jadi wajar sih kalau mereka terus mencoba dan mencoba.

1
irma hidayat
mudah2an suatu saat feri menyesal
Rens16: Semogq 😍
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang mengharu biru.,semangat buat para perintis
Rens16: Terima kasih buat bintang limanya 😍
total 1 replies
irma hidayat
cerita bagus
Rens16: Terima kasih 😍
total 1 replies
irma hidayat
yg keterlaluan sebenarnya kamu fery ayah yg gapantas jadi ayah, anak sendiri diabaikn
Rens16: Kita sikat yuk kak 💪🤣
total 1 replies
Soviani
jangan lama2 up nua
Rens16: oke 🤣
total 1 replies
Rini
lnjutt
Rini
lnjutt😍😍
Rens16: Siap 💪
total 1 replies
Rini
lnjuttt
Rini
lamjuttty👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!