Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Malas Ribut
Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara wajan dan aroma bawang tumis.
Raisa bergerak cepat di dapur sempit, tangannya lincah mengiris bawang, cabai, dan tempe. Minyak panas mendesis, seolah ikut melampiaskan sisa kesal yang masih mengendap di dadanya sejak pagi di pasar. Ia memasak dengan gerakan agak kasar—sendok kayu diketuk-ketukkan ke pinggir wajan, seakan semua kekesalannya ikut diaduk bersama bumbu.
Bu Rika muncul di ambang pintu dapur sambil merapikan jilbabnya. Kemeja kerjanya sudah rapi, wajahnya bersih, tapi ada garis lelah yang tak pernah benar-benar hilang.
“Raisa,” panggilnya pelan.
Raisa menoleh sekilas. “Iya, Mak?”
Bu Rika melangkah masuk, suaranya diturunkan seperti takut didengar tembok. “Kalau nanti … kamu ketemu lagi sama anaknya Pak Kades itu… kamu yang sopan, ya. Mak minta jangan cari perkara baru.”
Raisa mendengus kecil sambil mengaduk sayur. “Kenapa sih, Mak? Aku gigit dia juga nggak.”
Bu Rika mendekat, nada suaranya lebih serius. “Dia itu anak majikan Mak. Dan usianya juga jauh di atas kamu. Kamu masih 19 tahun, Nak.”
Raisa mematikan kompor dengan hentakan kecil. Ia menoleh, alisnya naik. “Terus kenapa kalau dia lebih tua? Lebih tua nggak bikin orang otomatis bener, kan, Mak. Terus ... memangnya yang lebih muda harus terus mengalah, begitu?"
Bu Rika terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Mak cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Orang kaya, orang berkuasa … hidup mereka beda dengan kita, Nak.”
Raisa menyeringai tipis. “Justru karena beda, aku nggak mau tunduk. Mak, ingat slogan Raisa ... ‘Miskin Bukan Berarti Lemah'.”
Bu Rika menatap anaknya lama, lalu menggeleng pelan. “Kamu ini keras kepala banget. Mak ini kerja di rumah orang tuanya, kalau sampai Mak dipecat gara-gara kamu ribut lagi sama anak Kades. Kita nggak punya uang buat kebutuhan hidup, Nak.”
Raisa mengangkat bahu. “Kalau nggak keras, dari dulu aku udah diinjek-injek. Apalagi waktu aku masih sekolah.”
Bu Rika tak membalas. Ia hanya merapikan tas kerjanya, lalu berkata, “Mak berangkat dulu. Jangan lupa makan, dan antarkan rantang buat bapakmu.”
Raisa mengangguk. “Iya.”
Sebelum melangkah keluar, Raisa menyelipkan satu kalimat santai, seolah itu hal sepele. “Mak, nanti siang aku mau cari kerja lagi. Bosen di rumah.”
Bu Rika berhenti. Ia membuka dompet kecilnya, mengeluarkan selembar uang lusuh.
“Nih,” katanya sambil menyodorkan. “Dua puluh ribu. Buat ongkos, atau jajan dikit. Jangan maksa diri.”
Raisa menerima uang itu, menatapnya sebentar. Dadanya menghangat, meski gengsinya membuat ia tidak berkata banyak.
“Makasih, Mak.”
Bu Rika tersenyum tipis, lalu pergi.
Rumah kembali sunyi, hanya ada suara sendok dan kipas angin tua. Raisa makan cepat, lalu berganti pakaian. Siang itu ia memilih kemeja sederhana dan celana bahan hitam—rapi, tapi tetap sederhana.
Tak lama kemudian, ia mengisi keranjang sepedanya dengan rantang kecil berisi nasi dan lauk.
“Aku antar bekal buat Bapak dulu,” gumamnya pada diri sendiri.
Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Raisa mengayuh sepeda menuju sawah. Angin siang menyapu wajahnya, membuatnya sedikit lebih tenang. Di pematang, ayahnya terlihat membungkuk, tubuhnya berlumur lumpur, mencangkul dengan ritme lambat.
“Bapak!” teriak Raisa.
Ayahnya menoleh, wajahnya langsung berubah cerah. “Lho, kamu.”
Raisa menyerahkan rantang. “Makan dulu, Pak.”
Ayahnya tersenyum lebar. “Anakku ini … rajin.”
Raisa hanya tersenyum tipis. Setelah memastikan ayahnya makan, ia pamit.
“Jangan lama-lama panas-panasan ya Pak,” katanya.
Ayahnya mengangguk. “Kamu juga hati-hati di jalan.”
Raisa kembali mengayuh sepeda, kali ini menuju arah pasar. Jalanan desa siang itu lebih lengang. Matahari memantul di genangan sisa hujan, membuat permukaan jalan licin di beberapa bagian.
Di sisi lain desa, Krisna baru saja keluar dari bangunan tua yang akan dijadikan klinik. Ia berdiri sebentar di depan pintu, menatap bangunan itu dengan ekspresi serius—membayangkan ruang periksa, ruang tunggu, aroma antiseptik menggantikan bau kayu lapuk.
“Kita bisa mulai renovasi minggu depan,” kata Pak Wijaya tadi sebelum pergi.
Krisna mengangguk, lalu melangkah menuju mobil yang diparkir agak ke depan.
Dan pada saat itulah—di tikungan kecil dekat bangunan itu, Raisa muncul dengan sepedanya.
Ban depan sepedanya mendadak melewati batu kecil. Setang goyah. Tubuh Raisa ikut oleng, keranjang depan berayun liar.
Matanya membesar.
“Awas! Minggir!” teriak Raisa sambil melambaikan tangan, suaranya nyaring memecah udara siang.
Krisna yang baru melangkah refleks menoleh. Dalam sepersekian detik, ia melihat gadis itu—kemeja sederhana, rambut panjang terikat asal, wajah tegang, sepeda tua yang nyaris kehilangan keseimbangan.
Raisa.
Tanpa pikir panjang, Krisna melangkah cepat ke depan, tangan terulur. Sepeda itu hampir menabraknya, tapi Krisna menangkap setangnya tepat waktu. Tubuh Raisa terdorong ke depan, nyaris jatuh—dan berhenti dengan jarak sangat dekat dari dada Krisna.
Jantung Raisa berdegup keras.
“Woy—!” napasnya memburu. “Mas ini kenapa berdiri di tengah jalan sih?! Kalau mau bunuh diri jangan di sini?!
Krisna masih memegang setang sepeda. Tatapannya tajam, fokus. “Siapa bilang saya mau bunuh diri. Kamu yang ngebut di tikungan.”
“Eh jangan salahkan saya. Saya nggak ngebut! Ini jalan licin!” Raisa membentak balik, mencoba menarik sepedanya.
Krisna tidak langsung melepas. “Seharusnya bawa sepeda itu pelan-pelan aja. Untung ada saya, kalau enggak kamu sama sepedanya udah jatuh di sini."
Raisa menatap tangannya yang masih menggenggam setang, lalu menatap wajah Krisna. Tatapan mereka bertabrakan—dingin bertemu api.
“Lepasin,” kata Raisa ketus.
Krisna melepas perlahan. “Lain kali hati-hati."
"Mmm."
Raisa menarik sepedanya, berdiri tegak. Dadanya naik turun, rambut halus di pelipisnya basah oleh keringat.
“Kita ketemu lagi, Mas,” katanya sinis. “Berasa kecil desanya, ya.”
Krisna menatapnya tanpa ekspresi. “Sepertinya begitu.”
Raisa mendengus. “Santai aja, Mas. Saya nggak mau ribut lagi. Hari ini lagi capek.” Ya, Raisa teringat akan pesan ibunya. Kalau tidak, mulutnya sejak tapi sudah merepet kayak bebek.
Krisna mengangguk tipis. “Bagus, saya juga nggak punya energi buat ladenin bocah kayak kamu. Tapi, ingat kamu masih punya urusan dengan saya.”
“Mmm.”
Mereka berdiri saling berhadapan beberapa detik—dua orang dari dunia berbeda, sama-sama keras kepala, sama-sama membawa beban hidup yang tak terlihat.
Raisa akhirnya mendorong sepedanya maju, melewati Krisna tanpa menoleh lagi. Tapi jantungnya masih berdetak terlalu cepat.
Sementara Krisna berdiri diam, menatap punggung Raisa yang menjauh. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa aneh—bukan marah, bukan lega.
Sesuatu yang mengganggu.
Dan sekali lagi, tanpa ia minta, hidup mempertemukan mereka di tempat yang sama.
Klinik yang belum jadi. Dan kisah yang jelas belum selesai.
Bersambung ... 💔🔥
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊