Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Perasaan
“Ada perasaan yang bukan untuk disangkal, bukan pula untuk dikejar dengan tergesa. Ia hanya perlu dijaga—hingga Allah sendiri yang menuntunnya pada waktu terbaik.”
—Celine Chadia Cendana—
Langit sore itu tampak seolah ikut memendam rahasia. Awan berarak pelan, berwarna jingga keemasan, seakan dunia sedang belajar menahan napas. Di balik cahaya yang lembut itu, ada dua hati yang sama-sama gelisah—namun memilih diam sebagai bahasa.
Celine berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangan diri sendiri yang terasa asing. Senyum yang biasa mudah ia ukir, kini terasa berat, seolah bibirnya memikul beban seribu gunung. Tangannya menggenggam ujung cardigan, diremas hingga kusut, seakan kain itu adalah satu-satunya tempat ia bisa melampiaskan kegundahan.
Sejak hari itu—sejak ia menyadari detak jantungnya berubah setiap kali nama Aldivano terlintas—Celine mulai menjaga jarak.
Bukan karena benci. Bukan pula karena marah.
Melainkan karena takut.
Takut pada dirinya sendiri.
Takut pada perasaan yang tumbuh seperti badai di musim kemarau—datang tanpa aba-aba, menghancurkan ketenangan yang selama ini ia rawat dengan susah payah.
“Celine, kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” gumamnya lirih pada bayangan di cermin. “Kenapa cuma dengar suaranya saja, jantungmu seperti ingin meloncat keluar dari dada?”
Ia memejamkan mata, menghela napas panjang. Napas yang terasa seperti ditarik dari dasar samudra, berat dan penuh tekanan. Dalam hatinya, ada perang besar—lebih riuh dari ribuan genderang, lebih bising dari sorak stadion.
Aldivano adalah sosok yang selama ini ia anggap aman. Sosok abang. Sosok yang tak mungkin melukai. Sosok yang selalu berdiri di garis yang jelas.
Namun kini, garis itu kabur.
Dan ketakutan terbesar Celine adalah jika ia melangkah terlalu jauh, lalu jatuh tanpa pegangan.
Aldivano merasakan perubahan itu sejak hari pertama.
Perubahan yang begitu halus, namun menusuk seperti jarum es. Cara Celine membalas pesan yang mulai singkat. Senyum yang tak lagi lama bertahan. Tatapan yang kini sering menghindar, seolah matanya menyimpan ribuan rahasia yang tak ingin dibaca.
Di kafe miliknya, Aldivano duduk termenung. Cangkir kopi di depannya sudah dingin, namun tak disentuh sedikit pun. Pikirannya berkelana, berputar-putar seperti kompas yang kehilangan arah.
“Ada yang berubah,” gumamnya pelan.
Kalimat itu jatuh dari bibirnya seperti daun kering—ringan, namun sarat makna.
Reina, yang kebetulan datang untuk menemui Aldivano membahas acara kampus, memperhatikannya dari kejauhan. Ia mengenal raut itu. Raut seorang lelaki yang pikirannya sedang berantakan, meski wajahnya tetap terlihat tenang.
“Bang Aldi,” sapa Reina hati-hati, duduk di seberangnya. “Kopinya keburu dingin.”
Aldivano tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke mata. “Iya. Lupa.”
Reina mengernyit kecil. “Soal Celine?”
Aldivano terdiam. Detik itu, jantungnya berdetak keras, seolah ingin memecahkan tulang rusuk. Ia tak menyangka pertanyaannya akan seblak itu.
“Kelihatan banget, Bang,” lanjut Reina pelan. “Bapak tenang, tapi mata bapak ribut.”
Aldivano terkekeh kecil, getir. “Sejelas itu, ya?”
Reina mengangguk. “Celine juga berubah. Tapi… mungkin bukan menjauh karena nggak peduli.”
Kalimat itu seperti setitik air di padang pasir. Aldivano menatap Reina, matanya menyiratkan harap yang ditahan mati-matian.
“Menurut kamu?” tanyanya.
Reina ragu sejenak, lalu berkata, “Menurut aku, Celine lagi takut sama perasaannya sendiri.”
Kata-kata itu menghantam Aldivano lebih keras dari ombak yang menghancurkan karang. Ia bersandar, menghembuskan napas panjang, seolah beban di dadanya tiba-tiba berlipat ganda.
“Kalau begitu… apa yang seharusnya aku lakukan?” suaranya rendah, hampir berbisik.
Reina tersenyum lembut. “Jangan mengejar dengan langkah besar. Celine itu seperti rusa di hutan—kalau dikejar, dia lari. Tapi kalau dibiarkan merasa aman, dia akan mendekat sendiri.”
Aldivano terdiam lama. Kalimat itu menancap di benaknya, berputar seperti doa yang tak henti dibaca.
Hari-hari berikutnya, Aldivano memilih diam yang penuh makna.
Ia tak lagi mengirim pesan setiap pagi. Tak lagi mencari alasan untuk bertemu. Bukan karena menyerah—melainkan karena menghormati.
Namun diam Aldivano bukan diam yang kosong. Ia tetap ada. Selalu ada. Dalam jarak yang ia jaga dengan hati-hati, seperti menjaga api agar tetap menyala tanpa membakar.
Di sisi lain, Celine justru semakin gelisah.
Ketika pesan Aldivano tak lagi datang, ada bagian dalam dadanya yang terasa runtuh. Seolah hatinya adalah bangunan megah yang tiba-tiba kehilangan tiang penyangga.
“Kenapa dia nggak nyari aku lagi?” batinnya resah.
Ia meneguk air putih berulang kali, namun tenggorokannya tetap terasa kering. Rasa kehilangan itu datang seperti tsunami—diam-diam, lalu menghantam tanpa ampun.
Alya dan Nadhifa memperhatikan perubahan itu dengan seksama. Mereka bertiga duduk di sudut kafe kampus, namun Celine lebih banyak melamun.
“Cel,” panggil Alya pelan. “Kamu sadar nggak sih, sejak Bang Aldi nggak sering muncul, kamu jadi murung?”
Celine tersentak. “Apa? Enggak. Biasa aja.”
Nadhifa menatapnya lekat. “Kamu bohong. Bohongnya kelihatan sampai ke ubun-ubun.”
Celine mendesah. “Aku cuma lagi capek.”
“Capek karena menghindar, atau capek karena kehilangan?” tanya Alya tajam namun lembut.
Kalimat itu seperti petir yang membelah langit dada Celine. Jantungnya berdegup kencang, seakan ingin meloncat dan mengakui semuanya tanpa izin.
“Aku… aku cuma nggak mau salah langkah,” ujarnya akhirnya, suara bergetar. “Aku takut. Takut kalau perasaan ini nggak seharusnya ada.”
Nadhifa meraih tangan Celine. “Takut itu wajar. Tapi lari dari perasaan sendiri cuma akan bikin kamu kelelahan.”
Celine menunduk. Matanya berkaca-kaca. Di dadanya, detak jantungnya kini tak lagi sekadar berubah—ia berteriak, menuntut kejujuran.
Malam itu, Celine duduk sendirian di kamarnya. Lampu redup, hanya cahaya bulan yang menembus jendela. Ia membuka ponsel, menatap nama Aldivano yang tertera di layar.
Tangannya gemetar.
Ia teringat semua hal kecil—cara Aldivano mendengarkan, caranya menahan diri, caranya hadir tanpa memaksa. Semua itu menumpuk di dadanya, membentuk rasa yang tak lagi bisa disangkal.
“Aku bukan menjauh karena nggak peduli,” bisiknya pada sunyi. “Aku menjauh karena terlalu peduli.”
Air mata jatuh, satu per satu, seperti hujan yang akhirnya tumpah setelah lama ditahan langit.
Aldivano, di tempat yang berbeda, sedang bersujud. Doanya panjang, penuh jeda. Dalam sujud itu, ia menitipkan segala resahnya pada Allah.
“Jika perasaan ini baik, dekatkanlah dengan cara-Mu,” ucapnya lirih. “Jika tidak, tenangkan hatiku.”
Doa itu terasa seperti pelukan yang tak terlihat—hangat, menenangkan.
Pelajaran dari kisah mereka bukan tentang siapa yang mendekat lebih dulu, atau siapa yang paling berani mengakui. Melainkan tentang adab dalam mencinta.
Bahwa cinta bukan soal memiliki secepat mungkin, tapi menjaga agar tak melukai. Bahwa jarak bukan selalu tanda pergi—kadang ia adalah bentuk paling jujur dari kepedulian.
Dan bahwa perasaan, sekuat apa pun ia berteriak, tetap harus berjalan beriringan dengan iman dan kesabaran.
Karena pada akhirnya, cinta yang baik tak membuat hati gelisah berkepanjangan. Ia menenangkan. Ia mendekatkan pada Allah. Dan ia tahu kapan harus melangkah—dan kapan harus menunggu.
Dalam diam itu, Aldivano dan Celine sama-sama belajar:
bahwa Allah tak pernah salah menanam rasa—yang perlu dipelajari manusia hanyalah cara merawatnya.
***
Pagi itu, rumah keluarga Cendana terasa berbeda.
Bukan karena perabot baru, bukan pula karena hidangan di meja makan lebih mewah dari biasanya.
Melainkan karena kehadiran mereka—para sepupu—yang datang membawa tawa, suara langkah, dan aura hangat seperti matahari yang masuk melalui jendela terbuka.
Suasana rumah mendadak ramai, riuhnya seperti pasar pagi yang penuh warna. Tawa bersahutan, obrolan berlapis-lapis, dan aroma kopi yang menguar seolah menyatu dengan rasa rindu yang lama terpendam.
Calvin berdiri di ruang tengah, menyambut kedatangan sepupunya dengan pelukan singkat namun hangat. Senyumnya merekah, seperti anak kecil yang menemukan kembali mainan lamanya.
“Gila, rumah jadi hidup begini,” katanya sambil menepuk bahu Draven.
Draven tersenyum tipis. Senyum yang tenang, dewasa, dan penuh wibawa—seperti laut yang tampak diam, namun menyimpan arus kuat di bawahnya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, dan sorot matanya tajam namun penuh perhatian. Ia bukan tipe lelaki yang banyak bicara, namun sekali membuka suara, kata-katanya seperti anak panah—tepat sasaran.
“Memang harus begitu,” jawabnya singkat. “Rumah tanpa keluarga itu seperti langit tanpa bintang.”
Celine turun dari tangga dengan langkah cepat begitu melihat Draven. Wajahnya seketika berseri, senyumnya melebar seperti bunga yang akhirnya disiram setelah lama kering.
“Kak Drav!” serunya.
Draven langsung membuka tangan. Celine berlari kecil dan memeluknya tanpa ragu, seperti anak burung yang kembali ke sarangnya. Draven mengusap kepala Celine perlahan, gesturnya lembut—seolah Celine masih gadis kecil yang dulu sering ia gendong.
“Masih manja,” ucap Draven, nada suaranya hangat seperti selimut di pagi dingin.
“Namanya juga adik kesayangan,” sahut Celine sambil terkekeh.
Namun di balik senyum dan canda itu, Draven memperhatikan.
Matanya menelusuri wajah Celine dengan seksama, seperti seorang dokter yang memeriksa pasien tanpa alat—mengandalkan insting dan pengalaman.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sorot mata Celine tidak sepenuh dulu. Senyumnya cepat muncul, namun juga cepat meredup. Dan ada jeda-jeda kecil dalam tawanya—seperti lagu yang nadanya sedikit meleset.
Draven menyimpannya dalam diam.
Tak lama kemudian, ponsel Celine berdering. Wajahnya berubah seketika, cemasnya muncul seperti awan gelap yang menutupi matahari.
“Aku harus ke kampus,” katanya tergesa. “Ada keperluan mendadak.”
Mommy Chailey mengangguk. “Hati-hati ya, Sayang.”
Celine mencium tangan Mommy Chailey, lalu menoleh ke Draven. “Maaf ya, Kak. Baru datang, aku malah pergi.”
Draven tersenyum lembut. “Tugas dulu. Kakak di sini aja.”
Celine pergi dengan langkah cepat, meninggalkan rumah yang kembali dipenuhi suara—namun bagi Draven, justru terasa sunyi.
Sunyi seperti hutan setelah hujan reda.
Begitu pintu tertutup, Draven duduk di ruang keluarga. Ia bersandar, melipat tangan, pandangannya lurus ke depan. Calvin yang sejak tadi sibuk menuang minum, memperhatikan perubahan itu.
“Kok tiba-tiba serius?” tanya Calvin, setengah bercanda.
Draven menoleh. Tatapannya menusuk, seperti cahaya lampu sorot di panggung gelap.
“Cal,” ucapnya pelan. “Kamu tahu aku ke sini bukan cuma buat liburan.”
Calvin terdiam. Gelas di tangannya berhenti bergerak.
“Ada apa?” tanyanya hati-hati.
Draven menghela napas, napasnya berat seperti angin sebelum badai. “Aku mau bicara soal Aldivano.”
Nama itu jatuh di udara seperti batu ke permukaan air—menimbulkan riak yang langsung terasa.
Calvin mengernyit. “Aldivano? Kenapa dengan dia?”
Draven menegakkan duduknya. “Celine berubah.”
Kalimat itu pendek, namun tajam. Seperti pisau yang langsung menembus inti.
“Dia kelihatan baik-baik aja,” jawab Calvin, meski nada suaranya tak sepenuhnya yakin.
Draven menggeleng pelan. “Tidak. Senyumnya sekarang seperti kaca—indah, tapi rapuh. Tawanya seperti lilin—menyala, tapi mudah padam.”
Calvin terdiam.
Draven melanjutkan, suaranya rendah namun penuh tekanan.
“Aku kenal adikku. Aku tahu kapan dia bahagia, kapan dia berpura-pura. Dan sekarang… dia sedang menahan sesuatu.”
Calvin mengusap tengkuknya. “Kak Drav… Aldivano itu orang baik.”
“Aku tidak bilang dia jahat,” potong Draven cepat. “Justru karena itu aku ingin tahu.”
Ia menatap Calvin tajam.
“Apa hubungan Aldivano dengan Celine?”
Pertanyaan itu menggantung, berat seperti awan hitam yang siap menurunkan hujan.
Calvin menghela napas panjang. “Mereka udah nikah."
"Tanpa sepengetahuan, Celine?” ulang Draven.
“Belum secara resmi,” lanjut Calvin. “Tapi… ada rasa. Setidaknya dari satu pihak.”
Draven menyipitkan mata. “Dari siapa?”
Calvin ragu sejenak, lalu berkata jujur, “Aldivano dan mungkin.. Celine, sebentar lagi.”
Draven terdiam.
Ia bangkit berdiri, berjalan pelan ke jendela. Tangannya masuk ke saku celana, pandangannya jauh, seperti menimbang sesuatu yang besar.
“Dan Celine?” tanyanya tanpa menoleh.
Calvin menggeleng. “Belum sadar sepenuhnya. Atau mungkin… sadar, tapi takut.”
Draven tertawa kecil—bukan tawa senang, melainkan tawa getir.
“Tipikal Celine.”
Ia berbalik. “Lalu Aldivano melakukan apa?”
“Menjaga jarak,” jawab Calvin. “Bukan menjauh. Tapi memberi ruang.”
Draven terdiam lagi. Kali ini lebih lama.
“Hm,” gumamnya. “Berani juga dia.”
“Berani?” Calvin mengangkat alis.
“Tidak semua lelaki mampu menahan diri,” kata Draven. “Banyak yang memilih menekan. Memaksa. Mengejar.”
Ia menatap Calvin.
“Kalau Aldivano memilih menunggu, berarti dia tahu risikonya.”
“Risiko apa?” tanya Calvin.
Draven menjawab pelan, namun tegas.
“Risiko kehilangan.”
Sore merambat pelan, seperti waktu yang sengaja diperlambat agar percakapan itu selesai dengan jujur. Draven akhirnya duduk kembali.
“Aku hanya ingin satu hal,” katanya. “Pastikan Aldivano tidak bermain-main.”
Calvin menatapnya lurus. “Aku jamin. Kalau dia berniat buruk, aku sendiri yang akan berdiri paling depan.”
Draven mengangguk.
“Bagus.”
Ia menyandarkan punggung, suaranya melunak.
“Celine itu seperti porselen. Kuat kalau dijaga, hancur kalau jatuh.”
Calvin tersenyum kecil. “Dan Aldivano bukan tipe orang yang menjatuhkan.”
Draven menatap langit senja dari balik jendela. Warna jingga menyelimuti wajahnya, membuat garis wajahnya tampak lebih lembut.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku ingin bertemu Aldivano.”
Calvin terkejut. “Serius?”
Draven tersenyum tipis.
“Sebagai kakak. Aku hanya ingin melihat mata lelaki yang mungkin suatu hari akan memegang tangan adikku.”
Kata-kata itu menggantung di udara, berat namun penuh makna.
Di luar sana, Celine berjalan di kampus tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan tentang dirinya. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas, seperti burung kecil yang terkurung di sangkar sempit.
Ia tak tahu bahwa di rumah, seorang kakak sedang berdiri tegak—seperti perisai—memastikan bahwa jika hatinya harus terluka, maka itu bukan karena kelalaian orang-orang yang mencintainya.
Dan tak satu pun dari mereka tahu, bahwa takdir sedang menyusun langkahnya pelan-pelan, seperti penulis sabar yang tak pernah tergesa menyelesaikan cerita.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...