Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pitter Dan Air Mata
Siang itu di kantin SMA Garuda, suasana sedang sangat santai. Zayden sedang berkumpul dengan anggota inti gengnya.
Amy duduk di sebelah Zayden, mendengarkan percakapan mereka yang penuh dengan istilah aneh.
"Bos, si Knalpot lagi rewel nih, harus ganti oli," lapor Dio sambil mengunyah mendoan.
"Si Baut juga udah karatan, butuh disikat," tambah Hendi.
Amy mengerutkan kening. "Kalian bicara apa? Knalpot? Baut? Itu nama teman-teman kalian?"
Zayden tertawa sambil mengacak rambut Amy. "Bukan, Sayang. Itu nama-nama junior kesayangan anak-anak. Nama panggilan motor atau... barang rahasia mereka. Kayak Dio, dia manggil motornya si Knalpot. Kalau si Hendi, dia manggil kunci inggris keberuntungannya si Baut."
Zayden lalu keceplosan sambil nyengir lebar. "Nah, kalau aku punya yang paling spesial. Namanya Pitter. Dia yang paling kuat nahan beban hidup semalam."
Mendengar nama itu, wajah Amy mendadak berubah. Memori malam panas di kamar mandi itu kembali muncul. Zayden menyebut nama Pitter saat ia sedang dalam kondisi tidak sadar.
"Pitter?" tanya Amy, suaranya mulai meninggi. "Zayden, dari semalam kamu sebut nama Pitter terus. Siapa dia? Kenapa dia spesial banget buat kamu?"
"Pitter itu... ya Pitter, My. Dia selalu ada sama aku ke mana pun aku pergi," jawab Zayden santai, mencoba menahan tawa yang mulai mendesak di tenggorokan.
"Berarti dia cewek? Samaran buat selingkuhan kamu?!" tuduh Amy. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu bilang kamu cuma sayang sama aku, tapi kamu punya Pitter yang selalu ada sama kamu? Dia disembunyikan di mana?!"
Zayden tertegun melihat Amy yang mulai menangis sesenggukan. "Eh, My? Kok nangis? Pitter itu bukan cewek, sumpah!"
"Bohong! Bawa aku ketemu Pitter sekarang! Aku mau lihat secantik apa dia sampai kamu bangga-banggain!" Amy memukul dada Zayden.
"Kamu jahat! Pitter itu pasti pacar rahasia kamu kan? Nama samaran biar aku nggak tahu!"
Melihat Amy yang benar-benar cemburu buta pada diri sendiri, Zayden meledak dalam tawa. Ia tertawa sampai memegangi perutnya, bahkan air mata sampai keluar dari sudut matanya.
"Hahaha! Aduh... sakit perut aku, My! Hahaha!" Zayden tertawa terpingkal-pingkal sampai terjatuh dari kursi kantin.
"Tuh kan! Kamu malah ketawa! Mana Pitter?! Pertemukan aku sama dia!" Amy makin histeris, membuat seisi kantin menoleh.
"Sayang... Pitter itu... dia lagi di tempat rahasia. Dia nggak bisa keluar sembarangan, apalagi di sekolah. Dia malu kalau kena sinar matahari langsung," ucap Zayden sambil menyeka air mata tawanya.
"Tempat rahasia? Di apartemen kamu? Kamu kurung dia?!" Amy menutup mulutnya, ngeri. "Zayden, kamu psikopat ya?"
Zayden mencoba menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendekat ke telinga Amy. Dio dan yang lainnya hanya bisa melongo melihat bos mereka tampak seperti orang gila.
"Sayang, dengerin dulu," bisik Zayden dengan nada yang sangat rendah tapi masih menahan tawa.
"Pitter itu nggak bisa aku kenalin secara formal kayak kenalin ke Papa kamu. Pitter itu... sebutan aku buat Aset masa depan aku yang ada di balik celana ini. Si junior yang semalam kamu ajak main pas lagi kena obat itu."
Amy terdiam. Matanya yang basah berkedip beberapa kali. Otaknya yang jenius butuh waktu tiga detik untuk memproses informasi tersebut.
Satu...
dua...
tiga...
"ZAYDEN!!!" Amy menjerit sambil menutup wajahnya yang kini merah padam sampai ke telinga. Ia ingin menghilang dari muka bumi sekarang juga.
"Hahaha! Makanya, kamu jangan cemburu sama Pitter. Dia setia banget sama kamu, My. Buktinya semalam dia tetep sabar meski udah Tegang' maksimal demi nunggu waktu yang sah," goda Zayden sambil menaik-turunkan alisnya.
"Aku benci kamu! Aku benci Pitter! Jangan sebut nama itu lagi!" Amy segera berlari meninggalkan kantin sambil menutupi wajahnya, sementara Zayden kembali tertawa puas diikuti sorakan "Pitter! Pitter!" dari teman-temannya yang baru sadar siapa itu Pitter.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰