NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja Yang Terlalu Cepat

Kehidupan sering kali memberikan peringatan dalam bentuk bisikan sebelum akhirnya meledak dalam bentuk teriakan. Bagi Donny, peringatan itu adalah nyeri di dada kiri yang kian sering singgah di tengah rapat direksi atau saat ia menggendong Arkan. Ia mencoba menyembunyikannya di balik senyum tenang dan botol obat yang ia simpan rapat di laci terkunci. Namun, Katya—yang kini telah tumbuh menjadi wanita dengan intuisi yang tajam—mulai menyadari perubahan itu.

Puncaknya terjadi pada suatu sore di perayaan ulang tahun ke-60 Arman. Rumah masa kecil Katya dipenuhi dekorasi sederhana dan tawa keluarga. Di tengah acara potong tumpeng, Donny yang sedang berdiri di samping mertuanya tiba-tiba terhuyung. Gelas di tangannya jatuh, pecah berantakan di lantai marmer—sebuah pertanda pecahnya ketenangan yang selama ini mereka jaga.

"Donny!" teriak Arman, menangkap tubuh sahabatnya sebelum menyentuh lantai.

Katya yang sedang menggendong Arkan di sudut ruangan, merasa dunianya seketika melambat. Ia menyerahkan bayinya pada Resti dan berlari menghampiri suaminya yang sudah pucat pasi dengan keringat dingin membanjiri pelipis.

"Mas! Mas Donny, lihat aku!" suara Katya bergetar, namun ia mencoba tetap tegar seperti nama yang disandangnya.

Donny dilarikan ke rumah sakit pusat. Diagnosis dokter kali ini jauh lebih serius daripada sekadar kelelahan kronis. Jantung Donny, yang selama puluhan tahun menanggung beban stres korporasi dan rasa bersalah masa lalu, kini mulai mencapai batas fungsionalnya. Ia harus menjalani operasi bypass jantung yang sangat berisiko mengingat adanya riwayat komplikasi sebelumnya.

---

Di ruang tunggu yang dingin, Katya duduk sendirian di bangku kayu. Arman menghampirinya, duduk di samping putrinya dan merangkul bahunya yang berguncang.

"Ayah... Katya takut," bisik Katya. "Kenapa ini terjadi saat semuanya sudah mulai membaik? Arkan bahkan belum bisa memanggilnya 'Papa' dengan jelas."

Arman menarik napas panjang, matanya menatap kosong ke dinding rumah sakit. "Dulu, Donny selalu bilang padaku bahwa dia ingin menebus setiap detik hidupnya yang sia-sia sebelum mengenalmu. Dia bekerja terlalu keras untuk memastikan kamu dan Arkan tidak akan pernah kekurangan, bahkan jika dia tidak ada lagi. Dia sedang mencuri waktu dari takdirnya sendiri, Ya."

"Tapi Katya nggak butuh harta itu, Yah! Katya cuma mau dia."

"Ayah tahu. Tapi itulah cara Donny mencinta. Dia pria yang memberikan segalanya karena dia merasa tidak pernah cukup baik untukmu."

Saat itulah, muncul rintangan baru yang tak terduga. Di tengah kondisi Donny yang kritis, dewan komisaris Adiwangsa Group yang dipimpin oleh faksi oposisi lama mulai bergerak. Mereka merasa ketidakhadiran Donny adalah celah untuk melakukan kudeta kepemimpinan. Mereka menekan Katya untuk menandatangani pengunduran diri Donny dengan alasan "ketidakmampuan medis".

Seorang komisaris senior, Pak Bramantyo, mendatangi Katya di rumah sakit. Pria itu adalah sekutu lama Sandra yang masih menyimpan dendam terselubung.

"Katya, Nak," ujar Bramantyo dengan nada simpati palsu. "Kami semua mendoakan Donny. Tapi perusahaan tidak bisa menunggu jantung seseorang pulih. Kami butuh pemimpin yang bugar. Tandatangani surat ini, dan kami akan memberikan kompensasi yang sangat besar untuk masa depanmu dan anakmu."

Katya menatap surat itu, lalu menatap pintu ruang ICU tempat Donny terbaring lemah. Amarah yang dingin mulai merayapi nadinya. Ia teringat bagaimana Donny dulu melindunginya dari fitnah Sandra. Sekarang, gilirannya menjadi perisai.

"Pak Bram," Katya berdiri, suaranya terdengar begitu berwibawa hingga beberapa suster menoleh. "Anda bicara soal kompensasi seolah-olah suami saya sudah tidak bernyawa. Selama jantung Donny Adiwangsa masih berdetak, dia adalah pemimpin sah perusahaan ini. Dan selama saya masih menyandang namanya, saya tidak akan membiarkan satu pun burung pemakan bangkai seperti Anda merusak apa yang sudah dia bangun dengan darah dan air mata."

"Kamu masih hijau, Katya! Kamu tidak tahu cara menghadapi pasar saham yang anjlok!" gertak Bramantyo.

"Pasar saham bisa pulih, tapi harga diri tidak," balas Katya tajam. "Silakan keluar. Dan katakan pada yang lain, jika mereka berani melakukan rapat tanpa persetujuan saya sebagai pemegang kuasa, saya akan membawa ini ke jalur hukum yang paling menyakitkan."

---

Operasi Donny berlangsung selama delapan jam yang menyiksa. Katya menghabiskan waktu dengan berdoa dan menyusui Arkan di sela-sela kegelisahannya. Ketika lampu ruang operasi akhirnya padam, dokter keluar dengan wajah yang sulit dibaca.

"Operasinya berhasil, Nyonya. Tapi..." dokter itu terdiam sejenak. "Kondisi Pak Donny masih kritis. Beliau masuk dalam masa koma induksi. Kita harus menunggu setidaknya 48 jam ke depan untuk melihat apakah tubuhnya mampu merespons."

Katya diperbolehkan masuk ke ruang ICU dengan pakaian steril. Pemandangan itu menghancurkan hatinya. Pria yang dulu begitu tegap, kini tampak kecil di antara tumpukan kabel dan mesin yang mengeluarkan bunyi ritmis yang menyakitkan.

Katya duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Donny yang terasa dingin. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya.

"Mas... Mas harus bangun," bisiknya, air mata menetes di punggung tangan Donny. "Arkan baru saja bisa merangkak hari ini. Dia mencarimu. Dia ingin menarik rambutmu seperti biasanya."

Katya terisak, dadanya sesak oleh rasa cinta yang meluap. "Mas ingat kan, nama Katyamarsha? Mas yang memberinya. Mas yang bilang aku adalah pelindung. Tapi aku nggak bisa melindungi siapa pun kalau Mas nggak ada di sampingku. Aku nggak butuh Adiwangsa Group. Aku nggak butuh harta. Aku cuma mau pria yang dulu membawa martabak ke teras ayahku."

Tiba-tiba, monitor di samping ranjang menunjukkan fluktuasi. Jempol Donny bergerak sedikit—sangat tipis, namun Katya merasakannya. Itu adalah tanda perlawanan. Pria itu sedang bertempur di alam bawah sadarnya, ditarik kembali oleh suara wanita yang menjadi pusat semestanya.

---

Tiga hari kemudian, Donny membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Katya yang tampak sangat lelah namun bersinar dengan kelegaan yang luar biasa.

"Katya..." suaranya nyaris tak terdengar, terhalang alat bantu napas yang baru saja dilepas.

"Jangan banyak bicara dulu, Mas," Katya mencium tangannya. "Semua sudah baik-baik saja. Aku sudah membereskan urusan kantor. Pak Bramantyo sudah kutendang keluar."

Donny mencoba tersenyum, meski hanya sudut bibirnya yang sedikit terangkat. "Istriku... singa betinaku."

"Tidurlah lagi, Mas. Aku di sini. Nggak akan ke mana-mana."

Namun, di tengah pemulihan Donny, sebuah rahasia lain terungkap. Zaky, asisten Donny, datang membawa sebuah berkas rahasia yang selama ini disimpan Donny di deposit box pribadi. Berkas itu berisi tentang asuransi jiwa senilai fantastis yang ternyata sudah disiapkan Donny atas nama Katya dan Arkan sejak mereka baru menikah.

Namun yang mengejutkan adalah lampirannya: sebuah surat wasiat yang menyatakan bahwa jika sesuatu terjadi pada Donny, perusahaan harus dikelola oleh sebuah dewan amanah sampai Arkan berusia 25 tahun, kecuali jika Katya memilih untuk melikuidasinya dan hidup tenang di luar negeri. Donny telah menyiapkan "pintu keluar" bagi Katya jika beban menjadi istrinya terasa terlalu berat.

Katya membaca dokumen itu dengan air mata yang kembali mengalir. Donny benar-benar memikirkan kebebasannya, bahkan saat pria itu memikirkan kematiannya sendiri.

"Mas," ujar Katya saat mereka hanya berdua di kamar perawatan. "Aku sudah baca surat wasiat itu. Kenapa Mas menyiapkan 'pintu keluar' buat aku?"

Donny menatap langit-langit, suaranya sudah sedikit lebih kuat. "Karena saya sadar, menikahi saya adalah beban bagimu. Kamu harus menghadapi fitnah, penyakit saya, dan masa tua saya yang membosankan. Saya ingin kamu punya pilihan untuk pergi jika kamu lelah."

Katya menggeleng tegas. Ia merobek dokumen wasiat itu di depan mata Donny. "Aku nggak butuh pintu keluar, Mas. Karena bagiku, kamu bukan penjara. Kamu adalah rumah. Dan orang tidak pernah mencari pintu keluar dari rumahnya sendiri."

Bab 19 ditutup dengan momen haru di mana Donny menarik Katya ke dalam pelukannya di atas ranjang rumah sakit. Mereka menyadari bahwa senja mungkin datang lebih cepat karena perbedaan usia mereka, namun mereka akan memastikan bahwa cahaya senja itu adalah yang paling indah sebelum malam tiba. Namun, mereka belum tahu bahwa ujian terakhir tentang integritas Donny akan muncul dari masa lalu yang jauh lebih lama—tentang asal-usul kekayaan awal Adiwangsa yang ternyata melibatkan ayah Katya dalam cara yang tak terduga.

1
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!