Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Menghitung Hari Menuju Perpisahan
Setelah kepulangan dari luar kota, hubungan Daviko dan Saliha benar-benar berubah drastis. Tidak ada lagi percikan emosi yang meledak-ledak. Rumah itu kini berjalan dengan sangat teratur, namun terasa hampa. Daviko benar-benar membuktikan ucapannya untuk bersikap profesional dan tidak lagi menekan Saliha dengan perasaan cintanya.
Kesibukan Daviko di kesatuan Rindam juga sedang di puncak-puncaknya. Sebagai perwira, ia seringkali harus berangkat saat fajar menyingsing dan baru kembali ke rumah ketika jam dinding sudah menunjukkan angka sebelas malam. Jadwal yang padat itu seolah menjadi pelarian bagi Daviko agar ia tidak perlu berlama-lama berada di satu ruangan dengan Saliha, wanita yang masih ia cintai namun kini terus menolaknya.
Pagi itu, Saliha sedang menyiapkan sarapan di meja makan bersama Bi Tita. Ia tampak segar dengan longdress berwarna pastel yang membuatnya terlihat semakin cantik dan bercahaya.
Meski hatinya sedang gundah, Saliha tetap menjaga penampilannya dan kesehatannya. Ia tidak ingin terlihat lemah. Namun, sorot matanya tidak bisa berbohong, ada kesedihan yang mendalam di sana.
Langkah kaki tegap terdengar dari arah tangga. Daviko turun dengan seragam loreng yang sudah rapi dan baret yang terselip di pundak. Pria itu tampak gagah, namun wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
"Selamat pagi, Pak. Kopinya sudah siap," ujar Saliha dengan nada bicara yang sangat formal.
Daviko menghentikan langkahnya sejenak, melirik ke arah meja makan. "Terima kasih. Aku tidak sempat sarapan, ada apel pagi yang harus aku pimpin."
Daviko menyesap kopi hitam rendah gula itu dalam diam. Saliha berdiri tidak jauh darinya, menunggu jika ada instruksi lain. Dulu, dalam situasi seperti ini, Daviko pasti akan mencari celah untuk menggoda Saliha atau setidaknya menatap mata Saliha dengan intens. Tapi sekarang, Daviko hanya menatap cangkirnya.
"Kaffara bagaimana?" tanya Daviko singkat.
"Kaffara sehat, Pak. Semalam tidurnya nyenyak. Berat badannya juga naik lagi bulan ini," jawab Saliha.
"Syukurlah. Terima kasih sudah merawatnya dengan sangat baik. Aku berangkat dulu. Tolong jaga dia baik-baik," ucap Daviko. Ia langsung meraih tas kerjanya dan melangkah keluar rumah tanpa menoleh lagi.
Saliha menarik napas panjang. Rasanya sesak. Ia merasa seperti orang asing di rumah pria yang pernah menjadi dunianya. Sikap datar Daviko justru membuat Saliha semakin merasa bersalah. Ia merasa telah membunuh keceriaan Daviko. Namun, di sisi lain, sikap dingin itu justru memantapkan tekad Saliha untuk pergi.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Saliha tetap menjalankan tugasnya sebagai pengasuh yang sempurna. Ia memastikan gizi Kaffara terpenuhi, jadwal bermainnya teratur, dan kebersihan bayi itu terjaga.
Bi Tita sering memperhatikan Saliha dengan tatapan bingung. "Mbak Saliha, Bibi lihat Mbak sekarang rajin sekali beres-beres lemari. Barang-barang Mbak juga kok kayaknya sudah mulai dirapikan ke dalam koper?"
Saliha tersentak, namun ia berusaha tenang. "Iya, Bi. Biar lebih rapi saja. Lagipula, masa kontrak saya tinggal sebentar lagi, kan?"
Bi Tita menghela napas sedih. "Bibi bakal kangen sekali sama Mbak. Den Kaffara juga pasti bakal kehilangan Mbak. Apa Mbak nggak kasihan sama Den Viko? Dia sekarang kayak robot, Mbak. Berangkat pagi, pulang malam, nggak pernah lagi Bibi dengar dia tertawa."
Saliha terdiam. Perkataan Bi Tita seperti sembilu yang menyayat hatinya. Tentu saja ia kasihan. Tentu saja ia sedih. Bayangan harus berpisah dengan Kaffara adalah hal yang paling menakutkan baginya. Ia sudah menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri. Dan berpisah dengan Daviko? Itu adalah patah hati yang sengaja ia ciptakan sendiri.
"Ini yang terbaik buat semua orang, Bi," gumam Saliha lirih.
Di pikiran Saliha, Daviko sudah tidak mencintainya lagi. Daviko sudah lelah. Dan bagi Saliha, pergi adalah cara agar Daviko bisa mendapatkan wanita lain yang lebih pantas, wanita yang tidak punya beban masa lalu yang memalukan sepertinya. Saliha ingin Daviko bahagia, meskipun kebahagiaan itu tidak bersamanya.
Setiap malam, sebelum tidur, Saliha selalu menandai kalender. Sepuluh hari lagi. Sembilan hari lagi. Delapan hari lagi. Setiap kali ia mencoret angka di kalender, dadanya terasa nyeri. Ia mulai membayangkan bagaimana hari terakhirnya di rumah ini. Apakah ia akan sanggup melangkah keluar dari gerbang tanpa menoleh ke belakang?
Sementara itu, di kesatuan Rindam, Daviko juga sedang berperang dengan batinnya. Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak gila karena merindukan Saliha. Setiap kali ia ingin pulang cepat, ia selalu teringat pesan mamanya untuk memberi Saliha ruang. Daviko takut jika ia terlalu sering muncul, Saliha akan merasa tertekan dan semakin membencinya.
Aku akan membiarkan dia pergi kalau itu yang dia mau, janji Daviko pada dirinya sendiri. Namun, setiap kali janji itu terlintas, hatinya terasa seperti diremas.
Suatu malam, Daviko pulang lebih awal dari biasanya, sekitar pukul sembilan malam. Ia mendapati Saliha sedang duduk di ruang tengah, melipat baju-baju Kaffara sambil sesekali mencium aroma baju bayi itu.
Daviko terpaku di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan rasa haru yang luar biasa. Saliha terlihat begitu damai, begitu cantik dengan cahaya lampu ruang tengah yang lembut.
Saliha menyadari kehadiran Daviko dan segera berdiri. "Bapak sudah pulang? Mau saya siapkan makan malam?"
Daviko menggeleng pelan. Ia berjalan mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar dua meter dari Saliha. "Tidak perlu. Aku sudah makan di kantor. Aku hanya ingin mengecek Kaffara sebentar."
Daviko melangkah menuju kamar bayi, namun ia sempat berhenti sejenak di samping Saliha. "Kontrakmu akan berakhir dalam seminggu, Saliha. Apakah kamu sudah menyiapkan semuanya?"
Saliha menunduk, meremas ujung bajunya. "Sudah, Pak. Barang-barang saya sudah hampir selesai dikemas."
Daviko menarik napas pendek, seolah pasokan udara di ruangan itu tiba-tiba hilang. "Baiklah. Tapi, apakah kamu tidak tertarik untuk memperpanjang kontrak ini?"
Pertanyaan Daviko sontak membuat jantung Saliha berdetak hebat. Ia merasa kalau Daviko masih ingin menahannya dengan dalih perpanjang kontrak.
"Saya... tidak ambil kontrak itu lagi, Pak. Saya...."
"Baiklah. Aku sudah menyiapkan semua hakmu, termasuk uang transportasi dan bonus atas dedikasimu selama ini. Aku juga sudah membuatkan surat referensi kerja. Kamu bisa mengambilnya besok di ruang kerjaku."
Potong Daviko tanpa jeda, nada bicaranya menyiratkan kecewa yang dalam tapi berusaha ditahan. Setelah itu, Daviko pergi dari hadapan Saliha tanpa berkata apa-apa lagi.
"Terima kasih, Pak," suara Saliha bergetar. Namun percuma, tidak terdengar Daviko yang sudah menjauh.
Saliha menatap kepergian Daviko sedih. Ingin rasanya ia berlari laku berkata kalau ia ingin perlanjang kontrak itu.
Saliha kembali ke kamarnya dengan perasaan yang hancur. Ia benar-benar merasa sudah tidak ada tempat lagi bagi dirinya di hati Daviko. Semua perhatian dan cinta yang dulu pernah Daviko tunjukkan seolah sudah menguap tak berbekas.
Nyesek gak sih? Duh...lanjutannya gimana nih?
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭