NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Realitas yang Bergeser

Adrian ngerasa kayak lagi tidur di dalem kolam susu yang anget. Rasanya nyaman banget, saking nyamannya dia sampai nggak mau bangun. Nggak ada rasa sakit di bahu, nggak ada pegel-pegel karena jatuh ke jurang, bahkan suara dengungan menara kristal yang tadi bikin kuping mau pecah udah ilang total. Yang ada cuma sunyi yang tenang banget, kayak lagi pake noise cancelling headphone paling mahal di dunia.

Pelan-pelan, dia nyoba ngebuka matanya. Hal pertama yang dia liat bukan langit Malabar yang merah atau kabut gunung yang tebel. Dia ngelihat langit-langit ruangan yang warnanya putih mutiara, halus banget tanpa ada sambungan semen satu pun. Cahaya di ruangan itu nggak berasal dari lampu, tapi kayak keluar dari dindingnya sendiri lembut dan nggak bikin silau.

"Udah bangun, The Shark?"

Suara itu bikin Adrian kaget dan langsung nyoba buat duduk. Tapi pas dia gerak, dia baru sadar kalau dia nggak lagi tiduran di kasur biasa. Dia melayang! Badannya ada di dalem semacam tabung kaca horizontal yang isinya udara bertekanan khusus, bikin dia ngerasa nggak punya bobot sama sekali.

Di depan tabung itu, berdiri Aris pria setelan jas hitam yang tadi jemput dia pake helikopter. Tapi kali ini dia nggak pake jas lengkap, cuma kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Dia lagi megang tablet transparan yang isinya barisan kode biru yang terus jalan.

"Gua... gua di mana?" tanya Adrian. Suaranya kedengeran aneh, kayak bergema langsung di dalem kepalanya sendiri. "Selamat datang di 'The Hive', Adrian. Secara teknis, kita ada di kedalaman dua ratus meter di bawah permukaan laut, di suatu tempat yang nggak bakal bisa ditemuin pake GPS paling canggih sekalipun," jawab Aris sambil ngetik sesuatu di tabletnya.

Adrian ngelihat ke tangannya. Pergelangan tangan kirinya, tempat dia nyuntikkin cairan bening itu, sekarang nggak ada bekas luka sama sekali. Tapi pas dia fokus ngelihat kulitnya, dia bisa ngelihat ada aliran cahaya tipis banget, warna putih keperakan, yang ngalir di bawah pori-porinya ngikutin aliran darah.

"Lu beneran nyuntikkin itu, kan?" Aris senyum tipis. "Gua sempet taruhan sama tim gua kalau lu bakal ragu. Ternyata insting survival lu emang gila. Cairan itu bukan cuma antivirus, Adrian. Itu adalah update sistem terakhir buat otak lu."

Adrian turun dari tabung melayang itu. Begitu kakinya nyentuh lantai, lantainya kerasa empuk kayak karpet tapi bentuknya padat. Dia jalan ke arah dinding kaca besar di ujung ruangan. Pas dia ngelihat ke luar, jantungnya nyaris copot. Di balik kaca itu, bukan pemandangan kota atau hutan, tapi lautan biru gelap yang dalem banget.

Ada ikan-ikan aneh yang ngeluarin cahaya sendiri lewat di depan matanya. "Malabar itu cuma taman bermain, Adrian," Aris jalan nyamperin dia, berdiri di sampingnya sambil ngelihat ke arah laut. "Bokap lu itu emang jenius, tapi dia terlalu obsesi sama teh. Dia pikir energi dunia bisa dikendaliin lewat tanaman. Padahal, kuncinya itu ada di manusianya sendiri. Di lu."

"Terus nyokap gua? Yang ada di video call itu... dia masih hidup?" tanya Adrian mendesak. Aris diem sejenak. Dia ngetik sesuatu di tabletnya, terus sebuah proyektor hologram muncul di tengah ruangan. Muncul sosok wanita yang persis banget sama nyokap Adrian. Dia lagi duduk di kursi taman, kelihatan sehat dan cantik kayak sepuluh tahun yang lalu.

"Itu adalah Ibu lu, versi 2.0," kata Aris. "Nyokap lu yang asli emang udah meninggal secara biologis. Tapi sebelum dia pergi, dia mindahin seluruh kesadarannya, memorinya, sampai emosinya ke dalem jaringan ini. Dia adalah sistem operasi yang ngerawat lu dari jauh selama ini. Dialah yang ngirim pesan ke ponsel lu, dialah yang jagain lu pas lu lagi bangkrut di Jakarta."

Adrian ngerasa dengkulnya lemes. Dia duduk di kursi melayang yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Jadi selama ini... gua cuma proyek eksperimen? Hidup gua, karir gua di Jakarta, kejatuhan gua... semuanya udah diatur?"

"Kejatuhan lu itu satu-satunya hal yang nggak kita rencana," Aris ngerutin dahi. "Itu murni karena bokap lu panik. Dia tahu kelompok Bunga Lili udah mulai nyium proyek ini, makanya dia sengaja bikin lu bangkrut supaya lu lari ke Malabar. Dia mau lu 'aktif' di tempat yang dia anggap paling aman. Tapi dia nggak tahu kalau pengacaranya sendiri, si Baskara, udah lama dibeli sama pihak lawan."

Adrian mijet keningnya yang mulai pening. "Terus gimana sama warga desa? Sekar? Mereka baik-baik aja kan?" "Sistem Grounding yang lu aktifin tadi bener-bener berhasil. Jaringan biru di saraf mereka udah mati total. Mereka sekarang cuma ngerasa kayak habis bangun dari tidur yang lama banget. Desa Malabar selamat, walaupun puncak gunungnya sekarang udah rata sama tanah karena ledakan energi tadi."

Adrian narik napas lega. Seenggaknya dia nggak ngebunuh orang-orang yang udah baik sama dia. Tapi ada satu hal yang bikin dia penasaran. "Wanita bermasker itu... dia bilang gua bakal jadi budak sistem kalau gua nyuntikkin cairan itu. Kenapa sekarang gua ngerasa biasa aja? Gua nggak ngerasa dikendaliin sama siapa pun."

Aris ketawa lepas. "Itu karena dia nggak tahu kalau lu itu Administrator tingkat tinggi. Sekarang, bukan sistem yang ngendaliin lu, tapi lu yang punya akses buat 'ngobrol' sama semua teknologi di sekitar lu. Coba lu fokus, liat lampu di ruangan ini."

Adrian nyoba fokus. Dia mandangin dinding putih yang bercahaya itu. Tiba-tiba, di dalem kepalanya, muncul barisan data: Luminositas 40%, Suhu 22 Derajat Celcius, Status Otomatis. Cuma dengan mikir "Redup", cahaya di ruangan itu langsung mengecil sesuai kemauan Adrian.

"Gila..." gumam Adrian.

"Lu sekarang adalah bagian dari jaringan itu, Adrian. Lu bisa denger apa yang 'diomongin' sama mesin. Lu bisa liat data yang lalu lalang di udara. Lu itu manusia pertama yang punya koneksi 6G langsung di dalem otak lu tanpa butuh alat apa pun."

Adrian jalan muterin ruangan itu. Dia ngerasa aneh, tapi sekaligus ngerasa powerfull. Dia ngerasa kayak dapet indra keenam yang selama ini ketutup. Tapi di tengah kekagumannya, pintu ruangan terbuka otomatis. Seorang wanita muda dengan pakaian asisten medis masuk dengan terburu-buru. "Pak Aris, ada transmisi masuk dari permukaan. Sinyalnya berasal dari koordinat Malabar."

Aris ngerutin dahi. "Malabar? Bukannya semua komunikasi di sana udah kita cut?"

Wanita itu ngegeleng. "Ini pake frekuensi darurat lama milik keluarga Dirgantara. Dan... mereka minta bicara sama Pak Adrian."

Aris ngelihat ke arah Adrian, terus ngangguk. Dia mindahin transmisinya ke layar hologram besar di depan Adrian. Begitu layarnya nyala, Adrian ngelihat pemandangan yang bikin dia kaget. Itu adalah interior rumah panggung di Malabar yang udah berantakan. Dan yang ada di depan kamera bukan Sekar atau warga desa.

Itu adalah Bokapnya.

Bokapnya yang asli, bukan robot yang dia liat di lab. Dia kelihatan tua banget, jenggotnya tumbuh liar, dan bajunya kotor. Tapi matanya masih punya semangat yang sama.

"Adrian... kalau kau bisa denger ini, jangan percaya sama Aris," bisik bokapnya. Suaranya putus-putus kena static. "Tempat yang kau tempati sekarang... itu bukan penyelamatan. Itu adalah penjara. Aris bukan pengacara ibumu, dia adalah..."

BZZZZTTT!

Sinyalnya tiba-tiba ilang, diganti sama logo Bunga Lili perak yang muncul di layar.

Adrian langsung noleh ke arah Aris. Ekspresi Aris yang tadinya ramah dan santai, sekarang berubah jadi sangat dingin. Dia pelan-pelan narik tabletnya, lalu sebuah senyum kecil yang nakutin muncul di bibirnya.

"Bokap lu itu emang selalu tahu cara ngerusak suasana ya," kata Aris pelan.

"Aris... apa maksud omongan bokap gua?" Adrian mundur, nyoba buat fokus ke sistem pintu supaya bisa kebuka. Tapi kali ini, sistemnya nggak ngerespons. Seolah-olah ada 'tembok' api yang ngelindungin akses komunikasinya.

"Adrian, dengerin gua," Aris jalan mendekat, suaranya pelan tapi penuh ancaman. "Bokap lu itu orang kuno. Dia pikir teknologi ini harus disembunyiin dari dunia. Tapi kami? Kami pengen dunia maju. Dan buat maju, kita butuh pemimpin yang nggak punya keraguan. Kita butuh lu sebagai pusat dari sistem baru ini."

Tiba-tiba, dinding kaca yang ngarah ke laut mulai retak. Bukan karena tekanan air, tapi karena ada sesuatu dari luar yang lagi nyoba buat masuk. Sebuah kendaraan bawah air berukuran kecil, warnanya hitam pekat, nabrak kaca itu berkali-kali.

"Apa itu?!" teriak Adrian.

"Tim penyelamat dari pihak lawan," Aris narik sebuah alat dari sakunya, semacam pemancar gelombang. "Sayangnya, mereka telat. Adrian, waktunya buat pindah ke fase selanjutnya. Tidur lagi ya, sebentar aja."

Aris neken tombol di alatnya, dan tiba-tiba gas berwarna ungu keluar dari ventilasi ruangan. Adrian ngerasa badannya lemes lagi, kepalanya berat banget. Dia nyoba buat tetep sadar, nyoba buat 'ngomong' sama sistem pertahanan ruangan, tapi semuanya kerasa jauh banget.

Pas dia udah mau jatuh pingsan, dia denger suara ledakan keras. Kaca besar itu pecah, dan air laut mulai masuk dengan deras ke dalem ruangan. Di tengah kekacauan air yang masuk, Adrian ngelihat sosok seseorang pake baju selam item nerjang masuk dan narik tangan dia.

Sebelum matanya bener-bener ketutup, dia sempet ngelihat wajah di balik masker selam itu. Itu Sekar. Tapi gimana caranya Sekar bisa nyampe ke dasar laut? Dan kenapa dia punya peralatan selam secanggih itu? Adrian ngerasa air laut yang dingin mulai nenggelamin dia, dan semuanya jadi gelap lagi.

Siapa sebenarnya Aris, dan benarkah dia bekerja untuk organisasi yang berbeda dari yang dia ceritakan? Bagaimana Sekar bisa menemukan fasilitas rahasia di bawah laut dan dari mana dia mendapatkan teknologi untuk melakukan misi penyelamatan yang mustahil itu? Dan yang paling penting, apa sebenarnya yang mau dikatakan bokap Adrian sebelum sinyalnya diputus?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!