Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Era – Sang Elang yang Terbang Tinggi
Dua minggu setelah tragedi debat itu, kampus masih gempar. Gavin mengurung diri, kabarnya bisnis ayahnya bener-bener diperiksa intensif gara-gara spill gue di podium. Rizky? Dia mengundurkan diri dari pemilihan karena malu, integritasnya dipertanyakan oleh seluruh senat.
Gue? Gue lagi berdiri di lobi gedung Rektorat dengan koper kabin di samping gue dan map berisi berkas Full Scholarship ke National University of Singapore (NUS) hasil rekomendasi Pak Burhan. Proyek riset kemarin bukan cuma formalitas, itu tiket emas gue buat ninggalin drama ini.
"Odelyn!"
Suara itu. Gue menoleh. Gavin berlari ke arah gue, penampilannya berantakan—kemejanya nggak disetrika, matanya cekung. Dia nggak lagi kelihatan kayak pangeran kampus. Begitu sampai di depan gue, dia berhenti, napasnya tersengal.
"Lo beneran mau pergi?" tanyanya dengan suara serak.
Gue membetulkan letak tali tas gue. "Kesempatan nggak datang dua kali, Vin. Dan gue nggak punya alasan buat tetep di sini."
"Gue... gue udah minta maaf lewat chat, lewat surat... gue tahu gue brengsek," Gavin mendekat, mencoba meraih tangan gue tapi gue mundurin langkah. "Tolong kasih gue waktu buat perbaiki semuanya. Gue bakal benerin urusan keluarga gue, gue bakal jadi cowok yang lo mau."
Gue tersenyum, tapi kali ini senyum tulus yang menyakitkan. "Vin, lo telat. Di masa lalu, gue nungguin kalimat itu sampai nangis darah. Tapi di masa sekarang? Gue bahkan nggak butuh lo buat sekadar jadi penonton di hidup gue."
Tiba-tiba Rizky muncul dari arah berlawanan. Dia membawa sebuah buku catatan kecil, milik gue yang tertinggal saat diskusi terakhir. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dan tenang, meski ada gurat kesedihan di sana.
"Olyn," Rizky menyerahkan buku itu. "Gue cuma mau balikin ini. Dan gue mau bilang... makasih. Karena lo, gue sadar kalau ambisi gue selama ini bikin gue jadi orang yang nggak jujur sama diri sendiri."
Gavin menatap Rizky dengan benci, tapi kali ini dia nggak punya tenaga buat berantem. Mereka berdua berdiri di sana, menatap gue—wanita yang pernah mereka remehkan, wanita yang pernah mereka perebutkan, dan sekarang wanita yang melampaui mereka semua.
"Gue berangkat ya," ucap gue singkat.
Gue berjalan melewati mereka berdua tanpa menoleh lagi. Di depan gerbang kampus, sebuah mobil hitam dari kedutaan sudah menunggu gue. Gue masuk ke dalam, memakai kacamata hitam, dan melihat lewat spion—dua sosok cowok itu makin mengecil dan akhirnya hilang saat mobil berbelok.
Gue menarik napas dalam. Paru-paru gue terasa sangat lega. Asma gue nggak kambuh, GERD gue tenang. Seolah-olah beban masa lalu gue bener-bener udah lunas terbayar.
Dua tahun berlalu. Singapura menjadi saksi transformasi total gue. Odelyn yang dulu dikenal sebagai cewek udik berkacamata kotak kini telah menjelma menjadi Senior Consultant muda di sebuah firma audit dan restrukturisasi bisnis ternama di Marina Bay.
Gue nggak lagi pakai kemeja flanel. Sekarang, power suit dan tas kerja desainer adalah identitas gue.
Suatu pagi, bos gue di firma, Mr. Chen, memanggil gue ke ruangannya. "Odelyn, ada satu perusahaan dari Indonesia yang sedang mengalami krisis finansial hebat akibat skandal pajak dan salah urus manajemen. Mereka butuh restrukturisasi total atau mereka akan bangkrut dalam tiga bulan. Ini datanya."
Gue membuka map biru itu. Jantung gue berdesir sesaat saat membaca nama perusahaannya: G-Corp Holding. Perusahaan keluarga Gavin.
Ternyata, kehancuran yang gue mulai di podium debat dua tahun lalu berbuntut panjang. Ayah Gavin terseret kasus hukum, dan sekarang Gavin—yang dipaksa dewasa oleh keadaan—ditunjuk menjadi CEO darurat untuk menyelamatkan sisa-sisa kejayaan keluarganya di Singapura.
"Mereka nggak tahu siapa yang akan menangani kasus mereka," lanjut Mr. Chen. "Tim kita akan melakukan audit rahasia dulu sebelum pertemuan pertama besok pagi."
Gue tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Destiny has a funny way of bringing people back together, doesn't it?"
Keesokan harinya, di ruang rapat mewah yang menghadap langsung ke arah patung Merlion, gue duduk membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar.
Pintu terbuka. Langkah kaki yang terburu-buru terdengar masuk. Gue mengenali langkah itu. Berat, namun sedikit ragu.
"Selamat pagi. Saya Gavin, dari G-Corp. Saya dengar firma Anda adalah yang terbaik untuk menyelamatkan perusahaan kami," suara itu terdengar jauh lebih berat, lebih lelah, namun masih memiliki sisa-sisa kesombongan yang dulu.
Gue perlahan memutar kursi kerja gue.
Gavin mematung. Tas kerja di tangannya hampir saja terjatuh. Matanya melebar, menatap gue yang sedang duduk dengan kaki menyilang, mengenakan kacamata hitam berbingkai emas yang perlahan gue turunkan ke ujung hidung.
"Selamat pagi, Mr. CEO," ucap gue dengan suara yang tenang namun penuh otoritas. "Silakan duduk. Kita punya banyak hal untuk dibahas... termasuk kenapa perusahaan lo punya 'lubang' sebesar ini di laporan keuangannya."
Gavin nggak bisa bicara. Dia menelan ludah dengan susah payah. Di depannya bukan lagi Odelyn yang dia cintai atau dia sakiti; di depannya adalah algojo yang memegang surat mati atau hidup perusahaannya.
"O-Odelyn?" bisiknya gemetar.
"Di ruangan ini, panggil saya Ms. Odelyn," balas gue dingin sambil melemparkan berkas audit ke meja. "Dan jangan berharap gue bakal kasih lo kemudahan cuma karena kita punya... 'sejarah' di masa lalu. Justru karena sejarah itu, gue tahu persis di mana lo biasanya nyembunyiin kesalahan."