NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:195.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Sebulan berlalu.

Rumah itu kini terasa lebih ringan. Tidak ada lagi bisik-bisik kampus, tidak ada panggilan mendadak ke ruang dekan, tidak ada tatapan penuh prasangka.

Langit cerah, udara terasa segar. Kaisar berdiri di depan cermin dengan kemeja rapi dan jas sederhana yang pas di tubuhnya. Wajahnya terlihat lebih dewasa dibanding sebulan lalu.

Shelina berdiri tidak jauh darinya, tatapannya penuh kebanggaan.

“Deg-degan?” tanyanya lembut.

Kaisar tersenyum tipis. “Sedikit.”

“Sedikit atau banyak?”

“Lumayan banyak,” akuinya jujur.

Shelina mendekat, merapikan kerah jasnya dengan telaten. Sentuhannya lembut, penuh perhatian.

“Kamu sudah melewati yang lebih sulit dari ini,” ujarnya.

Kaisar menatapnya.

"Yang lebih sulit?" Ia teringat hari ketika mereka berdiri di hadapan dekan. Di hadapan yayasan dan di hadapan keluarga.

Dan mereka tetap memilih bertahan.

“Benar juga,” gumamnya.

Shelina tersenyum. “Sidang skripsi hanya soal teori. Hidup kita kemarin itu praktik langsung.”

Kaisar tertawa kecil.

“Terima kasih sudah ada,” katanya pelan.

Shelina mengangguk. “Aku akan selalu ada.”

Ia menepuk dada Kaisar pelan.

“Percaya sama diri kamu. Kamu pintar, kamu kerja keras. Dan kamu pantas lulus hari ini.”

Kaisar menatap wanita di depannya dengan rasa hangat yang sulit dijelaskan.

“Kalau aku lulus, hadiahnya apa?”

Shelina mengangkat alis tipis. “Kamu mau apa?”

Kaisar tidak menjawab, dia justru mendekat sedikit. Lalu mengecup pelan kening Shelina.

“Doanya aja cukup,” katanya.

Shelina terdiam sesaat, hatinya menghangat.

“Semoga sidangnya lancar. Semoga semua jawabanmu jelas. Dan semoga hari ini jadi awal baru.”

Kaisar menarik napas dalam.

“Aku lulus untuk kita.” Shelina tersenyum bangga menatap suami berondongnya itu.

Sidang akhir skripsi adalah garis terakhir Kaisar sebagai mahasiswa. Setelah hari ini, statusnya akan berubah. Tidak lagi sekadar anak kampus yang sering bikin onar bersama gengnya.

Kini ia berdiri di ambang kelulusan. Setelah sarapan sederhana bersama Shelina, Kaisar berdiri sambil meraih tasnya.

“Aku berangkat ya.”

Shelina mengangguk, lalu berdiri ikut mengantarnya sampai teras.

“Jangan tegang. Jawab yang kamu tahu. Kalau nggak tahu, jangan sotoy,” ucapnya tenang, khas dosen killer yang masih melekat.

Kaisar tertawa kecil. “Siap, Bu Dosen.”

Shelina menyipitkan mata pura-pura galak. “Cuti, ingat.”

“Siap, Ibu Rumah Tangga sementara,” balasnya menggoda.

Shelina memukul pelan lengannya. Belum sempat suasana menjadi terlalu manis terdengar suara motor berhenti di depan pagar.

Bima, Sakti, dan Alex sudah berdiri di luar, lengkap dengan jaket kebanggaan mereka. Namun, kali ini tidak ada aura berandalan seperti dulu.

Begitu melihat Shelina berdiri di teras, mereka langsung refleks berdiri lebih tegap.

“Selamat pagi, Miss Shelina!” sapa mereka hampir bersamaan.

Shelina menahan senyum.

“Pagi.”

Nada suaranya tetap tenang, berwibawa, meskipun kini statusnya bukan lagi dosen aktif.

Bima berbisik pelan ke Sakti, tapi cukup terdengar, “Aura dosen killer-nya masih ada, anjir.”

Shelina mengangkat alis.

“Kalian bilang apa?”

“Tidak ada, Miss!” jawab mereka cepat.

Kaisar menggeleng geli melihat tingkah sahabat-sahabatnya.

“Kalian ini,” gumamnya.

Alex melirik Kaisar. “Hari terakhir jadi mahasiswa, bro. Gimana rasanya?”

Kaisar menghembuskan napas panjang.

“Campur aduk.”

Sakti menyeringai. “Kalau lulus, traktir.”

“Kalau nggak lulus?” tanya Kaisar balik.

“Ya tetap traktir. Buat penghiburan,” sahut Bima santai.

Shelina menyela pelan, “Dia lulus.”

Semua langsung diam, nada yakin itu bukan sekadar dukungan. Itu seperti vonis final.

Bima langsung angkat tangan. “Kalau Miss sudah bilang lulus, berarti aman.”

Kaisar menatap Shelina.

Ada kebanggaan di sana. Ada keyakinan yang membuatnya merasa lebih kuat.

“Aku berangkat,” ucapnya lagi, kali ini lebih mantap.

Shelina mengangguk.

“Hati-hati.”

Kaisar melangkah turun dari teras. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sebentar.

Tatapan mereka bertemu. Lalu ia berjalan ke arah sahabat-sahabatnya. Mesin motor dinyalakan. Geng Kobra yang dulu dikenal pembuat masalah kini mengantar salah satu anggotanya menuju sidang akhir.

Menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, Shelina berharap sidangnya lancar.

Hari itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya.

Banyak mahasiswa berkumpul di sekitar gedung sidang. Ada yang membawa bunga, ada yang menunggu giliran, ada pula yang sekadar memberi dukungan.

Di antara keramaian itu Riko berjalan memasuki area kampus.

Beberapa minggu lalu ia sempat diskors karena kasus perusakan mobil Shelina. Setelah melalui proses panjang, ia akhirnya meminta maaf secara langsung. Shelina, dengan sikap profesionalnya, memilih memaafkan dan mencabut tuntutan disipliner tambahan.

Hari ini ia datang bukan untuk membuat masalah.

Namun, begitu langkahnya mendekati gedung utama, tatapannya langsung menangkap satu pemandangan yang membuat rahangnya mengeras.

Bima tertawa keras. Sakti menepuk bahu Kaisar. Alex bahkan terlihat bercanda ringan dengannya. Hubungan mereka yang sempat retak kini terlihat utuh kembali.

Riko mengepalkan tangan di saku jaketnya.

“Enak banget hidupnya,” gumamnya pelan.

Salah satu anggota Meteor yang berdiri di sampingnya ikut menoleh.

“Itu dia yang sidang hari ini, kan?”

“Iya,” jawab Riko singkat. Tatapannya masih tertuju pada Kaisar.

Ada rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang. Riko menghela napas kasar, lalu mengumpat pelan.

“Beruntung banget lo.”

Di sisi lain, Kaisar sama sekali tidak menyadari tatapan itu.

Ia sedang tertawa kecil ketika Bima berkata, “Kalau lulus nanti jangan sombong ya, Sarjana.”

“Belum tentu lulus,” jawab Kaisar santai.

“Miss Shelina udah bilang lulus,” sahut Sakti. “Itu udah kayak stempel dari langit.”

Kaisar tersenyum tipis mendengar nama istrinya disebut.

Riko melihat itu, dan entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Ia memang sudah meminta maaf pada Shelina. Ia memang sudah mengakui kesalahannya. Tapi melihat Kaisar berdiri di titik ini tetap membuatnya tidak senang.

“Sudahlah,” ucap salah satu anggota Meteor pelan. “Masalah lo sama dia udah selesai, kan?”

Riko terdiam.

“Iya,” jawabnya akhirnya.

Tapi matanya masih menyiratkan sisa api yang belum benar-benar padam. Ia memalingkan wajah, mencoba bersikap biasa. Namun, sesekali tatapannya tetap kembali ke arah Kaisar.

Sementara itu, di rumah, jam dinding baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Baru beberapa jam sejak Kaisar berangkat.

Biasanya, Shelina menikmati waktu tenangnya. Membaca jurnal, merapikan rumah, menyeduh kopi tanpa gangguan.

Sebulan terakhir pun ia baik-baik saja dengan ritme barunya.

“Kenapa rasanya sepi banget sih?” gumamnya pelan. Padahal ini hanya beberapa jam, dia melirik ponselnya.

Tidak ada pesan baru, Shelina menghela napas, lalu membuka chat Kaisar.

[Udah mulai belum?] Tiga menit kemudian.

[Jangan lupa minum air kalau gugup!] Lima menit kemudian.

[Kamu deg-degan nggak?] Ia menatap layar, belum satupun dibalas.

Shelina mengerucutkan bibir.

“Sidang, kali,” ia menegur dirinya sendiri. Namun, tetap saja, jemarinya kembali mengetik.

[Kapan pulang?] Begitu pesan terkirim, ia langsung menyesal.

“Kenapa aku kayak istri posesif gini sih…”

Biasanya ia yang paling tenang. Paling rasional dan paling tidak rewel. Tapi hari ini, rasanya seperti ada ruang kosong yang terlalu terasa. Ia bangkit dari sofa, berjalan ke dapur. Membuka kulkas, tidak jadi mengambil apa-apa.

Berjalan lagi ke kamar, merapikan selimut yang sebenarnya sudah rapi.

“Ya ampun, Shelina…” ia menghela napas panjang, dia duduk di tepi tempat tidur.

Wajah Shelina langsung berubah, saat ponsel bergetar, dia dengan cepat mengangkatnya.

“Halo?”

Di seberang sana terdengar suara Kaisar yang sedikit terengah tapi ceria.

[Sidangnya udah selesai.]

Shelina langsung berdiri.

“Gimana?”

[Aman.] Satu kata itu cukup membuat dadanya terasa ringan.

Shelina tersenyum lebar tanpa sadar.

“Kamu lulus?”

Terdengar tawa kecil.

[Pasti, tinggal revisi minor. Kata penguji, bagus.]

Shelina menutup mata sejenak, lega.

“Aku tahu.”

[Kok kamu kayak yang lebih deg-degan dari aku?]

Shelina terdiam sebentar. Lalu akhirnya mengaku dengan suara lebih lembut dari biasanya.

“Aku bosan di rumah.”

Kaisar tertawa kecil.

[Baru beberapa jam, loh.]

“Aku tahu.”

[Kamu kangen ya?]

Shelina langsung menjawab cepat, “Nggak.”

Hening satu detik.

“Sedikit.”

Kaisar tertawa lebih lepas.

[Nanti aku pulang cepet.]

“Sekarang juga nggak apa-apa.”

[Shel…]

Ia tersenyum di ujung telepon.

[Iya, pulang.]

Shelina menggigit bibir menahan senyum.

“Cepet.”

[Siap, Bu Istri.]

Telepon ditutup.

Shelina menatap layar ponselnya beberapa detik. Lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Ternyata yang berubah bukan hanya status Kaisar sebagai mahasiswa. Tapi juga dirinya, dia yang dulu nyaman sendirian kini mulai rewel hanya karena suaminya pergi beberapa jam.

1
Aji Priatun
suka
Raisha
maaf Thor,aku kok agak bingung sama kalimatnya ya, yg nyetir kan kaisar tp kok kalimatnya aneh gitu?🤔..."tangan kiri tetap memegang stir tp tangan kanan tak pernah benar² melepaskan jemari selina",gitu kan ya? emang bisa tangan kanan pegang tangan orang yg duduk di sebelah kirinya,apa gak susah nyetirnya? kalo setir mobilnya sebelah kiri,lha itu baru bisa & masuk akal...Maaf ya,kalo aku salah
Raisha: terimakasih kak author🙏😃
total 2 replies
Nani Te'ne
suka
Nanik Arifin
sampai end Arman g keluar kata maaf tuk Kaisar & menjelaskan semuanya ?
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
Eka
tjor lel.aska lanjit tjor ku tunggu jangan lama2
Aisyah Alfatih: udah tamat ya kak 🙏 Aksa nikah di novel sebelah di eps terakhir 🙏
total 1 replies
nuraeinieni
happy ending,,,,trimakasih thor,karyanya bagus,,,di tunggu karya barunya.
nuraeinieni
syukurlah ibu dan bayinya selamat,,,selamat kai,shel sekarang sdh jadi orang tua
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
cepat banget tamatnya, sist? aksa aja belum nikah.
Aisyah Alfatih: nikah di sebelah kak, 🤭🙏 udah aku bagi info...
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah bahagia semuanya
Naufal Affiq
semua karya kakak tamat
Aisyah Alfatih: tgl 3 rilis karya baru ya kak 🙏
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah selamat
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
tidak sepenuhnya tamat kan, sist?
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
alhamdulillah... semua selamat
SLina
thor bonchap dong 😊
Aisyah Alfatih: nanti di pikirkan ya kak, ini masih bingung 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
alhamdulilah semuanya sudah berdamai dan bahagia, makasih thor sudah melanjutkan cerita ini sampe tamat, sehat selalu untuk othornya di tunggu novel selanjutnya
Fenty: g chapter ni Thor?
aksa kan belum nikah
total 3 replies
Teh Euis Tea
duh sampe deg degan aku bacanya takut shelina ga ada umur, syukurlah selamat 22nya
Nanik Arifin
klo Aksa yg salah besar aj bisa minta maaf, apa kau masih dg egomu, Arman ?
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara
Nanik Arifin
emang murni itu Ken ego kamu, Man. Aksa hanya berusaha membuat Kaisar bertindak terkendali & dewasa. atau... itu titipan pesanmu, Man... kebencian yg dibungkus kearifan & kepatuhan Aksa membuatnya berpikir itu usahamu merendahkan Kaisar darah dagingmu. Krn bungkusmu tll rapi, Aksa pikir itu logis. Ayah yg ingin mendidik anaknya mjd lebih baik
SLina
lanjutannya mana thor?
Aisyah Alfatih: udah update ya kak, udah tamat di bab 56🙏
total 1 replies
SLina
ipar y sgt keren.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!