NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya setuju untuk batal

Mereka sendiri juga bingung kenapa tiba tiba Indira memutuskan perjodohan ini, padahal sebelumnya Indira terlihat setuju setuju saja soal ini, dan sama sekali tidak mendengar penolakan dari Indira. Namun tiba tiba Indira memutuskan persoalan ini tanpa berpikir panjang, dan bahkan memutuskannya sendiri tanpa melibatkan keluarga.

Ternyata permasalahan ini berasal dari keponakannya sendiri yang membuat Indira tersinggung, dan memilih untuk membatalkan perjodohan ini karena hal itu. Padahal mereka sendiri juga tau bahwa masih banyak orang yang mengantri untuk bisa memiliki Indira, namun mereka membuang kesempatan yang telah mereka dapatkan itu.

"Terus ini enaknya bagaimana? Dari evaluasi ini, keponakanku akan belajar, biar tidak ada kesalahpahaman selanjutnya," Tanya Lelaki itu.

Terlihat bahwa lelaki itu tetap kekeh untuk menjadikan Indira sebagai keponakannya, ia seperti tidak mau mendengar bahwa perjodohan itu dibatalkan oleh Indira, dan masih berusaha untuk membujuk Indira. Namun Indira sendiri sudah tidak mau melanjutkan perjodohan itu, dan ingin segera mengakhirinya.

"Gimana Nak? Ayah nurut sama kamu," Ucap Yono sambil mengusap puncak kepala Indira.

"Nggak mau lanjut, Ayah. Indira nggak mau pernikahan ini," Ucap Indira.

Kedua orang tua Indira menjelaskan mengenai masalah yang terjadi diantara mereka berdua, dan dari perkataan kedua orang tua Indira hal itu mampu membuat Sugik terpojok dan tidak bisa berkata apa apa. Ia sendiri juga menyadari akan sikapnya itu, dan memang benar apa yang dikatakan oleh mereka.

"Apa benar yang dikatakan mereka soal gula dan kopi itu?"

"Lah dia nggak mengatakan apapun kok sebelumnya, jadi aku nggak tau kalo seperti itu, Pakde. Dira sendiri tidak mengatakannya," Jawab Sugik.

"Gimana mau bilang? Dia sudah terluka sejak awal," Ucap Yanti.

"Maksudnya bagaimana?"

"Bukankah itu perjanjian sejak awal sebelum mereka berangkat?" Tanya Yono.

"Dira sendiri yang lama disana jadi Ibuku sudah terlanjur pergi pengajian, jadi sayangkan kalo datang nggak bertemu dengan Ibuku?" Ucap Sugik.

"Dia lama karena menunggu ucapanmu, katanya kesana mau minta restu sama kami berdua untuk melamar Dira, tapi tidak ada ucapan apapun waktu itu. Dira hanya menunggu hal itu, sampai akhirnya dirinya lelah dan mengajakmu pulang,"

Indira hanya menguji keberanian dari lelaki itu untuk bilang kepada Ibunya bahwa dirinya ingin melamar anaknya, namun ternyata lelaki itu sama sekali tidak memiliki keberanian apapun. Hal itulah yang juga menjadi keraguan didalam hati Indira, dan dirinya tidak ingin melanjutkannya.

Bilang begitu saja kepada orang tuanya sudah tidak berani, lantas bagaimana kedepannya nanti? Apakah dirinya bisa diandalkan kalo Indira dalam masalah? Apakah dia bisa jadi penengah dalam setiap masalah yang Indira hadapi? Dan masih ada begitu banyak keraguan keraguan didalam hati Indira, sehingga Indira tidak mau melanjutkannya.

Seandainya dilanjutkan pun itu tidak akan baik bagi Indira, apalagi menikah bukan hanya waktu setahun dan dua tahun saja, namun seumur hidup. Bagaimana bisa dirinya tinggal dengan orang seperti itu? Dari kelihatannya saja lelaki itu sudah bersikap patriarki, dan yang ada dirinya akan bernasib sadis nantinya.

"Kan sudah diwakilkan, anggap saja dia bilangnya ke Pakdenya terus kita sampaikan kepada keluarga anda," Bela lelaki itu yang tidak mau disalahkan.

"Iya tau itu, tapi Dira ingin dengar sendiri langsung dari mulutnya tanpa lewat mulut orang lain, tapi nyatanya apa? Dia sama sekali tidak mengatakan itu kepada kami yang notabenenya sebagai orang tua Indira," Ucap Yanti.

"Kami akan merevisi hal ini, dan dipastikan kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mumpung semuanya tengah berkumpul, mari membahas hal selanjutnya mengenai hubungan keduanya,"

Lelaki itu mencoba untuk menenangkan suasana yang sedikit memanas disana, ia terus berusaha untuk menyatukan keduanya dalam hubungan pernikahan. Entah apa tujuannya dan maksudnya tetap kekeh mempertahankan Indira untuk dijadikan sebagai menantu dari saudaranya.

Pandangan orang orang sekitar mengenai Indira yang sudah mandiri sejak kecil, hal itu membuat banyak para orang tua berebut untuk dijadikan sebagai menantunya. Karena mereka berpikir bahwa Indira bisa diandalkan kedepannya, dan tidak mudah mengeluh seperti para wanita pada umumnya.

"Apanya yang dilanjut? Saya tidak mau melanjutkannya," Ucap Indira.

"Loh kamu tidak bisa memutuskan begitu saja, semuanya sudah kesepakatan sejak awal loh, lagian kesalahan yang dilakukan oleh keponakan saya tidak terlalu fatal dan semuanya masih bisa diperbaiki lagi."

"Memang bisa diperbaiki, namun keyakinanku sudah tidak bisa diperbaiki,"

Hanya suara dari lelaki itu saja yang bisa terucap, namun Sugik sendiri pun tidak bisa berkata kata lagi dan bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri atas kesalahan yang telah ia lakukan karena menyinggung perasaan Indira. Entah hal apa yang telah membuatnya merasa nyaman dengan Indira, dan dia pun merasa tidak mau kehilangan Indira namun ia sendiri juga tidak bisa berbuat apa apa.

"Sekarang maunya apa? Sikap seperti apa yang kamu inginkan? Biar keponakanku bisa berubah, tanpa perlu memutuskan perjodohan,"

"Tidak ada, dan aku juga tidak mau lanjut."

"Tapi..."

"Kalau anda memaksa untuk tetap adanya perjodohan ini, dikemudian hari pernikahan ini gagal, apakah anda bisa bertanggung jawab atas diriku? Dan bertanggung jawab didepan Allah?" Tanya Indira dengan nada serius.

Jika lelaki gagal dalam berumah tangga, mereka tidak akan kehilangan apapun. Namun jika wanita yang gagal berumah tangga maka ia akan kehilangan segalanya, banyak cacian dan hinaan yang mereka dapat, banyak tuduhan tuduhan yang menyakitkan yang mereka terima, dan bahkan ia harus menanggung beban itu seumur hidupnya.

"Mohon maaf sebelumnya, kalo perlakuan keponakan kami telah menyinggung perasaan kalian, namun dia sama sekali tidak bermaksud mengatakan hal itu. Mohon di maklumi, dirinya belum mengerti apa apa," Jawab lelaki itu.

"Umurnya tidak lagi muda, dan seharusnya dirinya juga sudah paham hal itu. Saya yang paling muda disini juga paham melakukan itu, kenapa dia belum mengerti?" Tanya Indira.

"Dia kan belum berumah tangga sebelumnya, jadi wajar dia masih belajar dalam berumah tangga,"

"Lah saya kan juga belum berumah tangga, tapi saya paham soal hal seperti ini,"

"Kamu kan perempuan, jadi lelaki juga butuh diarahkan oleh perempuan?"

"Terus yang jadi kepala rumah tangganya siapa? Lelaki apa perempuan? Kenapa jadi perempuan yang memimpin? Yang benar yang mana? Perempuan yang memimpin apa lelaki yang memimpin?"

Mereka pun hanya bisa diam mendengar ucapan dari Indira, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Indira saat ini. Seharusnya lelaki yang lebih paham soal hal seperti ini apalagi lelaki itu sudah sangat dewasa, namun kenapa dirinya masih belum paham mengenai hal tersebut sehingga menjadikan Indira ragu soal itu.

Lelaki itu bahkan tidak berani untuk menatap kearah Indira sekarang, dan rasanya ia seperti telah merasa bersalah kepada Indira. Namun, lelaki itu masih ingin melanjutkan perjodohan ini karena ia sudah tertarik dengan Indira, dan bahkan ingin memiliki Indira yang memang anaknya cantik dan baik menurutnya.

Indira sendiri ingin memiliki lelaki yang mempunyai pendirian tersendiri, tegas dalam hal apapun untuk mengambil sebuah keputusan, bertutur kata lembur dan manis kepadanya, dan juga lebih hebat daripada dirinya dalam hal apapun. Dari semua apa yang dia inginkan itu, sama sekali tidak ada dalam sosok Sugik, sehingga ia tidak mau lagi melanjutkan perjodohan ini.

"Kalo sudah seperti ini, kami ikut keputusanmu saja, Dira. Kalo nggak mau dilanjut ya sudah," Ucap Ana.

Rasanya mereka seperti tidak bisa berkata kata lagi, dan terlihat suami Ana beberapa kali berdecak kesal mendengarnya. Ia sendiri tidak menyangka bahwa Sugik yang mereka percayai jauh berbeda dengan temannya, meskipun dirinya adalah anak dari teman akrabnya namun sifat dan sikapnya sangat jauh berbeda.

"Kalo itu maumu jangan menyesal nantinya, udah dapat yang kaya masih saja belum puas, mau cari laki laki kayak gimana lagi cobak? Udah dapat yang kaya, dewasa, dan pendiam gitu kok masih nggak mau," Ucap Suami Ana.

Harta bukanlah sebuah patokan untuk kebahagiaan seorang manusia, meskipun mereka banyak harta bukan berarti mereka adalah orang yang paling bahagia. Percuma jika Indira menikah dengan orang kaya sekalipun jika kehidupannya tidak bahagia, lantas akan menjadi sia sia pernikahan itu yang akan membuatnya tertekan serasa ia telah menjadi budak yang dibeli oleh mereka.

Sudah begitu banyak kisah pengalaman dari orang orang sekitarnya, lebih baik hidup sederhana namun bahagia untuk menjalani kehidupannya daripada hidup bergelimang harta namun tidak bahagia. Apalagi yang kaya adalah lelakinya, bisa bisa Indira hanya akan dianggap beban oleh mereka, dan menganggap bahwa Indira hanya menghabiskan uang mereka.

Entah mengapa Pakdenya itu masih tetap beranggapan bahwa Indira yang telah bersalah, meskipun dirinya sendiri juga sudah mendengar semuanya dengan jelas dan sudah mengetahui bahwa yang bersalah adalah Sugik. Lelaki itu terus saja membela anak dari temannya, dan ia sangat berharap bahwa ia dan temannya itu bisa menjadi satu keluarga nantinya.

Temannya sendiri itu juga sudah lama meninggal dunia, dan lelaki yang tersisa didalam rumah itu hanya ada Sugik saja. Sehingga bagaimana pun juga yang terus diandalkan hanyalah Sugik, Sugik hanya memiliki satu orang Adik dan dirinya adalah anak pertama didalam keluarga itu.

"Sudahlah Pak, ini sudah menjadi keputusan dari Indira," Ucap Ana.

"Hemm terserah kalian,"

Mereka pun tidak bisa memaksa Indira apalagi Indira sudah sangat yakin untuk menolaknya, jika pihak perempuan yang menolak maka bisa dipastikan bahwa hubungan itu tidak bisa dilanjutkan. Oleh karenanya tidak ada yang bisa mengubah pendirian Indira, kecuali Indira sendiri yang berniat untuk merubahnya.

Memaksa seorang wanita untuk menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai adalah dosa besar, sehingga tidak ada yang mau mengambil resiko atas pertanggung jawaban itu di akhirat nantinya. Indira sudah memutuskan untuk membatalkan perjodohan itu, dan mereka hanya bisa menurut apa yang menjadi keinginan Indira.

"Kalo begitu kami pamit dulu, jika ada perubahan maka segera beritahu kami," Ucap Pakde dari Sugik.

"Iya," Jawab Yanti.

Mereka pun akhirnya pamit undur diri dari tempat itu, semua orang langsung bubar dari sana dan hanya tersisa Yono dan Indira saja disana, karena semuanya tengah mengantarkan kepergian dari dua orang lelaki tersebut. Indira pun tersenyum puas karena usahanya tidaklah sia sia, dan dirinya benar benar tidak mau melanjutkan perjodohan itu.

"Gitu aja takut, kalo ada apa apa kamu harus berani mengungkapkannya sendiri, jangan mau dipaksa paksa orang lain. Kamu harus bisa punya pendirian sendiri," Ucap Yono ambil mengusap lembut kepala Indira.

"Iya Yah," Jawab Indira.

Indira sendiri mendengar bahwa Pakdenya saat ini tengah ngedumel atas keputusan dari Indira sendiri, mendengar itu membuat Indira merasa sangat bersalah dalam keluarga tersebut. Indira sudah ditampung oleh mereka dan dibiarkan tinggal bersama mereka, namun Indira sudah menyakiti hati mereka dengan cara tidak menerima perjodohan itu.

Indira benar benar tengah dihampit oleh dua hal yang sangat menekan perasaannya, yang pertama menerima perjodohan yang sama sekali tidak ia inginkan dan yang kedua menolak perjodohan itu namun dimarahi oleh semua orang. Hidupnya sudah sangat hancur karena keluarganya sendiri, dan Indira sendiri juga tidak ingin hancur untuk kedua kalinya.

Indira tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak ia mau, ia hanya akan menikah dengan seseorang yang ia cintai. Hidup dengan orang yang mencintaimu dan juga kamu cintai akan terasa indah pengorbanannya, berbeda jauh jika menikah dengan seseorang yang tidak dicintai maka pengorbananmu akan kamu anggap sebagai hal yang sangat berat.

Begitupun juga dengan lelaki, bekerja karena tanggung jawab dan bekerja karena cinta sangatlah berbeda. Jika hanya sekedar bertanggung jawab maka ia akan menganggap pasangannya sebagai beban yang sering kali menghabiskan uang miliknya, namun jika bekerja karena cinta maka ia akan mengusahakan apapun demi kebutuhan pasangannya terpenuhi.

1
Lee Mba Young
syukurin indira jd wanita bloon banget di peras laki mau mau saja hnya dng modal mulut manis 🤣. tipe tipe wanita kl dah di nikahi walau laki selingkuh gk akn mau di ceraikan.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
Lee Mba Young
kasih lah uang dira kamu gk kasian ma pacar tercintamu itu gk Ada rokok. 🤣😄🤣🤣🤣.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
Riskejully: wkwkw...🤭🤭🤭
total 1 replies
Lee Mba Young
ceweknya tolol, bucin nya smp tulang 🤣
Riskejully: hustt... tulangnya masih proses remuk
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
maaf ya thor saya sampai dsinibaja baca nya soalnya gak suka sama karakter cwe nya🙏🙏🙏
Riskejully: Iya kak nggak papa, silahkan cari novel yang lain🙏
total 1 replies
Ifah Al Azzam Jr.
bisa gak Thor Indira nya di bikin pintar jgn bodoh banget bikin malu aja jd perempuan seakan² mudah dibodohin...
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
Riskejully: Hallo kakak, terima kasih sudah mampir 🙏
Sebenarnya agak malu sih dalam nulis novelnya soalnya itu masa bodoh"nya... Alhamdulillah sekarang sudah nggak lagi seperti dulu 🤭
total 1 replies
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!